
Milady melangkahkan kaki ke dalam rumah Sebastian.
Seorang ibu-ibu, kelihatannya seorang pengurus rumah tangga, terlihat dari seragam yang ia kenakan, menyambutnya.
"Ibu Milady? Sudah ditunggu Pak Sebastian di ruang kerja,"
"Dimana ruangannya?"
"Lurus saja, di depan koridor belok ke kiri ke arah taman. Pintu sebelah kanan,"
"Oke, makasih. Tidak perlu mengantar saya yah bu, silahkan lanjutkan bekerja,"
"Oh baik Bu, terima kasih." Dan ia berlalu meninggalkan Milady.
*****
Sebastian masih terpaku di depan layar komputernya dengan kening berkerut. Kali ini ia memakai kacamata berbingkai hitam. Karena usia lanjut, matanya tidak bisa terlalu lama di depan layar tanpa kacamata, atau kepalanya akan pusing.
Ada kendala di perusahaan tambangnya di Rusia, sepertinya ada yang tidak beres, menurut laporan dari intelnya. Gunawan, orang yang ia tugaskan untuk mengawasi proyek, belakangan ia nonaktifkan karena masalah pribadi. Namun semua perjanjian masih atas nama Gunawan.
Lalu menurut konsultannya, bahwa batu mulia yang berasal dari tambang di Rusia hanya memiliki kadar 75%. Itu berarti kualitasnya tidak sebaik diawal.
Untuk sementara, Sebastian akan diam memantau pergerakan selanjutnya. Dirinya masih berharap semua karyawannya menunjukan keloyalan seperti awal mereka bekerja padanya. Ia akan memberikan Gunawan waktu sedikit lagi.
Milady masuk ke ruangannya dengan anggun. Mata wanita itu menyapu setiap sudut ruangan Sebastian.
Pria itu memperhatikan Milady dari atas kacamatanya.
"Wah," Milady mengamati sekelilingnya. Ia tampak terkesima. "Beda sekali yah dengan ruangan kamu di kantor. Yang ini lebih..."
"Apa?" cecar Sebastian.
"Lebih 'hidup',"
"Lebih berantakan, maksud kamu?"
Milady menyeringai.
Tapi lalu buru-buru cemberut lagi.
"Aku lagi kesal yah sama kamu,"
"Hem..." Sebastian memutuskan untuk kembali fokus ke layar komputernya yang menampilkan pergerakan saham.
Ia sudah tahu dengan pasti reaksi Milady, jadi ia memutuskan untuk tidak menggubris semua pesan singkat dari wanita itu.
Ia sedang malas mendengar omelan.
"Bukan kesal karena soal perjodohan Trevor ya, tapi karena kamu memutuskan untuk iseng mengerjainya," sahut wanita itu.
Sebastian menatap Milady lagi.
Seperti biasa, wanita ini selalu tahu maksud dibalik pergerakannya.
Sebastian tidak menjawab dan memutuskan untuk kembali fokus ke layar komputer.
"Sebastian," Panggil Milady, menuntut perhatian. "Jangan pura-pura serius, Pasar Bursa libur di hari minggu, itu laporan Jum'at kemarin yang kamu sudah analisa,"
Sebastian terkekeh.
"Suka-suka aku dong," Gumam Sebastian.
Milady berdecak mendengarnya.
Lalu wanita itu meneruskan 'aktivitas' nya, melihat-lihat ruang kerja Sebastian.
"Hm... Wawancara Imajiner dengan Bung Karno Karya Christianto Wibisono," Milady membaca satu per satu sampul buku di rak Sebastian. Pria itu memperhatikan Milady dari atas kacamatanya. "Di Bawah Lentera Merah karya Soe Hok Gie, Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, Indonesia Di Bawah Sepatu Lars. Wow, kamu punya buku-buku langka. Ini semua yang pernah dilarang beredar di Indonesia kan?!"
"Dari mana kamu tahu, kamu bahkan belum lahir,"
"Ayahku pernah cari salah satunya sampai berhutang untuk biaya perjalanan ke Amerika, akhirnya dia tidak mendapatkannya. Mungkin dia harus cari ke rak buku kamu,"
"Sepertinya dia akan tetap memilih cari sendiri dari pada ke rak bukuku,"
Milady tersenyum sinis, "Kenapa ya orang-orang takut sama kamu,"
"Kamu tanya ke aku atau lagi ngomong sendiri?" tanya Sebastian.
Milady terkekeh.
Lalu wanita itu menoleh ke belakang.
"Ruangan sehebat ini, pintunya terbuka lebar, nggak pakai kode akses?"
"Ada. Aku buka barusan, karena kamu mau masuk,"
"Hm," Milady melihat mesin pemindai sidik jari, pemindai retina mata dan kode angka.
"Kayaknya kalau di rumah kamu menghabiskan sebagian besar waktu di sini ya. Bisa jadi kamu juga yang bersihkan ruangan ini sendiri," sahut wanita itu.
Sebastian tidak menjawab, kini ia mengutak-atik ponselnya.
Trevor benar-benar tidak menghubunginya.
Bocah ini kalau sudah ngambek menyebalkan.
"Kode aksesnya berapa? 171703 lagi?" tanya Milady.
"Bukan urusan kamu," desis Sebastian.
"Siapa tahu kamu pingsan di dalam keracunan residu buku kuno, atau kena penyakit jantung dalam keadaan terkunci..."
"Ssht! Mendoakan tuh yang bagus-bagus, dong... Malah berharap aku kena serangan jantung..." keluh Sebastian.
"Aku yakin banyak sekali orang yang mendoakan kamu seperti itu..." desis Milady.
Sebastian menghela napas.
Ia sudah tidak dapat berkonsentrasi.
Bukan karena Milady terus menerus mengajaknya mengobrol, tapi karena...
Penampilan wanita itu...
Membuat birahinya meningkat.
Kaos putih polos, celana jeans ketat, sepatu flat, rambut diikat ke atas, dan make up natural.
Ia memperlihatkan leher belakangnya...
Anak-anak rambut terlihat keluar dari kaitannya.
Rambutnya ikal, tidak panjang tapi juga tidak pendek.
Dan...
pinggulnya...
"Sebastian?"
Sebastian agak tersentak mendengar namanya dipanggil.
Milady memiringkan kepalanya di ujung ruangan menatapnya dengan raut muka jahil khasnya.
Sebastian mengernyit, mengingat-ingat topik yang sedang mereka bahas barusan.
Ah iya, ini tentang kode akses.
"Kamu pikir aja sendiri..." sahut Sebastian.
"Aku pikir...sendiri...? Hm...?" Milady mengernyit.
Sebastian duduk sambil membuka kacamatanya.
Dan memperhatikan reaksi Milady.
Beberapa saat kemudian wanita itu keluar, lalu menutup pintu raksasa dari baja itu.
"Sebastiaaan, retina dan sidik jari pleeaaasssee...." Rajuk Milady dari luar.
Sebastian berdecak sambil mengetikkan sesuatu di keyboardnya, lalu kode retina dan sidik jari terbuka.
Terdengar kode akses angka dipencet dari luar.
Dan Milady mendorong pintu baja itu ke dalam.
Ia menatap Sebastian dengan terperajat.
"Astaga!! Beneran ITU kode aksesnya?! Ngga ada kode lain?! Disini ada 6 rangkaian kode angka itu berarti bisa lebih dari sejuta kemungkinan, kenapa kamu malah pilih rangkaian yang itu?!" Seru Milady.
Pipinya memerah, ia terlihat malu.
"Karena tidak akan ada yang menyangka..." Desis Sebastian.
Sudah pasti orang akan mencoba-coba masuk ruangannya dengan mencoba beberapa kode akses. Yang pertama kali dicoba adalah tanggal lahir Sebastian, lalu tanggal lahir orang-orang terdekatnya, lalu nomor rumahnya, namun siapa yang menyangka kalau kode aksesnya adalah tanggal lahir Milady... orang yang benar-benar orang lain.
"Ck..." Decak Milady. "Kita harus benar-benar rapi menutup rapat rahasia kita atau ruangan kamu bisa dibobol maling. Langsung jadi konglomerat dia, jual satu saja barang dari sini..." Milady sedikit mengumpat.
Sebastian menyeringai.
"Ada dua lagi orang yang tahu sih, tapi sudah disumpah mati."
"Ohya?"
Sebastian mengangguk, "Aku bikin sama dengan kode akses di kantor. Si Arman dan tukang bersih-bersih tahu."
"Jadi yang masuk goa keramat ini hanya sedikit orang yah..."
"Keluargaku bebas keluar masuk, ada coretan Trevor di dinding waktu dia belajar menggambar kalau kamu perhatikan..." Sebastian menunjuk salah satu dinding dengan dagunya.
Milady menoleh ke belakang dan memperhatikan guratan crayon anak kecil. Ada gambar superman tapi dengan nama. "Superdad, SebasMan!"
Wanita itu terkekeh.
"Kamu orang lain pertama yang masuk..."
"Orang lain pertama yang masuk..." Ulang Milady. Ia membelai guratan crayon Trevor. "Sebentar lagi, mungkin 'anak kita' yang coret-coret dinding ini."
Duag!!
Dengkul Sebastian reflek membentur bawah meja.
Milady meliriknya dengan senyum Licik.
Sebastian membungkuk sambil mengaduh, ia berusaha tidak terlihat Milady.
Sial!
Apa maksudnya 'anak kita'...
Benar-benar provokatif!!
Terdengar kekehan Milady yang di telinga Sebastian terasa menyebalkan.
"Minggu lalu ada yang bilang ngga mau ketemu aku lagi... Sekarang sudah ngomongin anak."
"Aku ngga bilang ngga mau ketemu kamu lagi. Aku bilang, itu saat terakhir aku mau makan sama kamu. Oh iya, luka cakaranku udah sembuh?"
"Bakalan berbekas seumur hidup." Gerutu Sebastian
"Begitu saja mengeluh..." Decak Milady.
"Siapa?" Balas Sebastian.
"Aku baru nyakar di lengan loh... Belum di punggung... Atau di bahu..."
Terlihat senyum licik kembali menghiasi wajah Milady.
"Ini ngga gratis, yah..." Sebastian mengangkat bekas luka di lengannya yang masih memerah, belum sepenuhnya kering.
"Aku sudah divaksin kok..." Lalu wanita itu mengangkat sebelah tangannya membentuk cakaran kucing. "Miaw..." Dan mengeong.
"Atau... Kamu punya diabetes?" Wajahnya langsung berubah kuatir. Kalau Sebastian memang memiliki penyakit itu, sudah pasti luka darinya akan menjadi sangat berbahaya.
"Untungnya, tidak." Kata Sebastian.
Milady menghela napas lega.
Sebastian berdiri dan duduk bersandar di pinggir meja, di depan Milady.
"Sini, kamu..." Desisnya.
Milady menurutinya mendekat.
"Ya, Tuan Besar..." Sahut Milady.
"Begini... Nyonya Besar..." Balas Sebastian. Ia menyilangkan kedua tamgannya di dada. "Apa maksud Anda mengirimkan pakaian dalam kepada saya? Mau titip laundry atau bagaimana?"
Sebastian mengernyit.
"Sekarang giliran saya yang bertanya yah, Ndoro..." Sahut Milady.
"Apa maksud Kanjeng Gusti berusaha menjodohkan Tuan Muda dengan Nona Muda yang lain? Apakah Ndoro tidak berkenan dengan saya? Atau... Saya mau dijadikan permaisuri saja sekalian?"
"Hm..." Gumam Sebastian.
"Boleh?"
Milady terdiam.
Lebih tepatnya, mereka terdiam beberapa saat.
Lidahku berbicara sendiri! Umpat Sebastian dalam hati. Tapi entah kenapa ia tidak merasa menyesal mengucapkannya.
Apa dia sedang mempermainkan aku lagi? Kurang ajar... Oke, aku ikuti saja permainannya! Pikir Milady.
Milady mendekat sampai paha mereka bersentuhan.
"Kamu kan ngga perlu izinku untuk mendekat... biasanya juga begitu." Desah Milady.
Tangan Milady menyentuh paha Sebastian, lalu mengelusnya perlahan.
Pria itu hanya menatapnya nanar.
"Yah, tapi sayang sih... Karena Trevor sudah mulai luluh padaku."
Dan Milady memperlihatkan cincin berlian baru di jemarinya yang biasanya polos tanpa perhiasan. Trevor membelikannya cincin tunangan minggu lalu.
Raut wajah Sebastian langsung berubah.
Dari lembut, sekarang menjadi geram.
Lalu menatap Milady tajam.
"Lepaskan." Perintahnya.
"Cincin ini? Kenapa?!"
"Lepaskan... Atau aku yang lepaskan." Geramnya.
Milady menjauh.
"Coba saja lepaskan." Tantang Milady.
"Jangan mulai..." Geram Sebastian sambil menangkap tangan Milady, lalu menarik wanita itu untuk mendekat kembali.
"Aku akan lepaskan kalau kamu beri gantinya..." Desis Milady.
"Oke..."
Mata Milady terbelalak.
"Hah? Oke?"
Sebastian tersenyum tipis dan membuka laci di dekatnya.
Lalu menyerahkan...
Kotak perhiasan berwarna hitam. Ukurannya tapi lebih besar.
Milady menatap pria itu dengan waspada.
"Kamu nekat... Kalau aku ganti, apa yang akan kukatakan ke Trevor?!" Keluh Milady.
"Entahlah... kamu bisa katakan kalau hilang, atau kamu mau simpan dulu... terserah."
"Kamu serius...?!"
"Pakai yang dari aku, atau ngga usah pakai apapun." geram pria itu sekali lagi.
Milady terpekik.
Ya Ampun... Ternyata Sebastian yang sebenarnya gampang ngambek dan kekanak-kanakan.
Ditambah Bossy dan sifat arogannya membuat Milady ingin mencakarnya sekali lagi!
Batin Milady.
Dia sedang cemburu.
Lebih baik aku menurut daripada masalahnya merambat kemana-mana.
Pikir wanita itu.
Namun sekali lagi, pikiran jahilnya keluar.
"Hm... Aku pakai dari kamu dengan satu syarat."
"Apa lagi?"
"Aku minta cium."
"Oke."
Milady tertegun.
Tunggu... Pikir Milady
Seperti ada yang salah...
"Aku minta ciumnya di bibir, loh!" Kata Milady menekankan keinginannya.
"Iya." Jawab Sebastian.
Loh...?
Kok cepat sekali responnya?!
Tunggu...
Jangan terpancing, Milady. Pasti ada akal bulus lainnya...!
Dia kan licik!
Desis Milady ke dirinya sendiri.
Yah, tapi dia jatuh cinta sama si rubah licik berbulu perak ini.
Entah ekornya ada berapa, mungkin lebih dari sembilan... Biangnya siluman rubah, mungkin.
"Jangan berdalih lagi yah kamu, kali ini aku seriu...s...." Dan Milady ternganga saat kotak itu dibuka.
Ya Tuhan, cantik sekali...!!
Sepasang cincin dan gelang safir!
Tidak terlalu besar, dan terkesan sederhana, tapi sangat sesuai dengan keinginan Milady, dibandingkan dengan milik Trevor yang warnanya hanya putih dan bermodel monoton, yang ini seakan dibuat untuk dirinya khusus.
"Cincinnya sepasang denganku." desis Sebastian memperlihatkan cincin di jari manisnya, berlambang keluarga Bataragunadi, dengan batu safir.
"Trevor dan ayah juga pakai." tambahnya. "Dan lagi, batu safir sudah umum digunakan dimana-mana jadi kurasa kalau kamu pakai tidak akan mencolok."
Sebastian meraih cincin itu dari kotaknya dan memasukkannya ke jari tengah kanan Milady.
"Pas..." Desis pria itu.
"Aku ngga pernah bilang ukuran jari tengahku."
"Sekali lihat aku sudah tahu ukuran kamu."
"Kamu pengalaman juga yah ternyata? Seperti terbiasa memberikan kado perhiasan untuk wanita..." Telisik Milady.
"Tidak juga, hal itu bisa diperhitungkan secara probabilita sebenarnya...."
Milady mendengus. Merasa kesal tapi salut dan senang.
Campur aduk...
Lalu Sebastian mengambil gelang safir dari kotaknya dan mengalungkannya di pergelangan tangan Milady.
Bahkan ukurannya bisa pas...
Sial, Sebastian...! Umpat Milady.
Semakin lama dibiarkan, semakin pria itu terlihat keren...
Dan semakin Milady hanyut dengan suasana romantisnya...
Pria itu meloloskan cincin dari Trevor dan memasukkan ke kotak perhiasan. Lalu meletakkan semuanya ke laci meja.
Ia menggenggam tangan Milady dan mengangkatnya...
Lalu mengecup punggung tangan wanita itu.
"Seandainya..." desisnya. "Seandainya kamu benar-benar bisa jadi milikku... Aku akan berhenti mencari dan beristirahat dari pekerjaanku saat ini, menghabiskan masa tua bersama kamu..."
Milady menatap pria itu dengan...
Entahlah bagaimana menggambarkannya.
Sebastian terasa lebih tua, lebih muram...
Apa yang terjadi padanya...
"Mungkin menyepi ke gunung, atau tempat favorit kita berdua, dimana hanya ada kita, tidak terganggu siapa-siapa..." pria itu menatap Milady dengan menerawang.
"Hanya ada kamu dan aku... Mungkin Milady kecil. Beberapa Milady junior..."
Milady terkesiap.
Daripada senang, ia lebih merasa sedih.
"Sebastian..." isak Milady. Rasanya tenggorokannya kering dan matanya panas...
"Kamu... Tidak tahu betapa aku mencintai kamu... Dari dulu... Dan saat kamu menghilang, kamu langsung mengganti semua kontak kamu... Duniaku langsung buram." Sebastian menunduk memperhatikan jemari Milady yang ada dalam genggamannya.
"Dan saat kita bertemu lagi, aku bahkan harus merelakan kamu untuk orang yang..." Sebastian menarik napas panjang.
"Lelah rasanya..." tambahnya.
"Seandainya kamu milik orang lain, kamu pasti akan kurebut paksa. Aku culik dan aku asingkan ke ujung dunia... Tapi yang ini..."
Trevor adalah dunia Sebastian.
Cinta sejatinya sebagai seorang ayah...
Dan ia sangat kuatir karena menurutnya Trevor sedang terjerat cinta seorang ular berbisa.
"Sebastian... Kalau ada... Wanita lain selain aku, yang bisa Trevor dekati, supaya bisa melupakan Ayumi...?"
"Aku akan meraih kamu." jawab Sebastian cepat. "Tapi aku belum menemukan orang lain lagi..."
Kalau begini caranya, Milady harus meminta konfirmasi dari Ayumi. Bagaimana sebenarnya perasaannya ke Trevor.
Siapa para laki-laki yang ada di foto detektif itu... Yang sering keluar masuk apartemen Ayumi...
Dan benarkah Ayumi memiliki dendam tersembunyi kematian kedua orangtuanya kepada Sebastian...
Milady mengelus rahang Sebastian.
"Kali ini saja kamu bersikap egois... Untuk diri kamu... demi kita...?" desis Milady.
"Aku ngga bisa." Sebastian menunduk. "Kalau terjadi sesuatu pada anak itu... Aku akan menyesal. Bagaimana tanggung jawabku ke Tuhan?"
"Jadi... Kamu lebih memilih mengorbankan perasaan kamu. Mengorbankan aku..."
"Maafkan aku..." desis Sebastian.
Pria itu menatap lurus ke mata Milady. Penyesalan yang ia rasakan, kesedihan yang ia rasakan, kegundahan hati yang melandanya, semua terlihat nyata dari tatapannya.
Milady merasa perih...
Sakit di dada...
Sesak...
Dan Sebastian menariknya ke dalam pelukannya.
"Maaf... Aku..."
Pria itu berbisik di antara leher Milady.
"Hanya sampai pernikahan kalian saja... Bolehkah aku memiliki kamu...?"