Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Man's Night Out



"Lo sendiri gimana? Lo mau nikah sama Trevor? Nikah ngga sesimple itu loh...lo kan tahu sendiri."


"Apapun gue lakukan agar jauh dari orang tua gue. Gue ngga bisa kabur begitu aja seperti Kak Yori...Tapi gue butuh hidup bebas." desis Milady.


Selena menghela napas.


"Oke, sekarang hal lain." Kata Selena. Mereka digiring penata rambut untuk mencuci rambut. "Gue udah ngga sedih lagi masalah jodoh-jodohan ini. Paling juga nanti Trevor yang nolak. Gue udah siap-siap kabur ke Kazakhstan kalau sampe kejadian..."


"Iya tapi kayaknya keselnya masih tersisa. Apalagi bokap lo, dia bakalan lebih kesal lagi kalau dibatalkan. Dia ngga tahu kalau lagi jadi bahan iseng temennya sendiri..." sahut Milady.


"Hei... Menurut lo... Gue perlu minta keterangan dari Bu Meilinda ngga sih?"


"Eh... Katanya sih...Dimas dan Bu Meilinda barusan putus..."


"Hah!! Masa?!"


Milady mengangguk. "Pak Sebastian seneng banget tuh dengernya... Dia kan antara benci tapi cinta sama Dimas."


Selena mengetuk-ngetuk bibirnya.


"Paling nanti nyambung lagi..." desis Selena. "Gue pasrah aja lah. Ngga direstuin nikah ya kita kawin lari!"


"Kawin lari yaa... Bukan nikah lari. Ngga bakalan ada juga yang mau nikahin lo kalo bapak lo masih sehat dan ngga restu... Lo ke luar negeri juga judulnya cuma bisa kumpul kebo."


"Ya kalo udah terlanjur hamil anak Bram ya mau ngga mau bokap gue ngerestuin lah..."


"Hush... Jangan sampe kejadian deh. Tipe kayak Bram pasti bakalan cari jalan damai..." sahut Milady.


*****


"Terus ini ngapain Boyokethek disini?" dengus Sebastian. Di depannya sudah ada Dimas yang menyeringai sambil mengapuri ujung tongkat billiard.


"Saya kesini karena undangan Denmas Tresno mangkelin..." sahut Dimas sambil menunduk.


"Kamu masih takut yah berduaan aja sama ayah kamu sendiri." desis Sebastian ke Trevor.


"Hehe..." sahut Trevor hanya cengar-cengir. "Aku ngga terlalu pinter main billiard..."


"Dia takut dibully..." gumam Dimas.


Ctarr!!


Masuk bola strip nomor kecil. Lalu mereka menunggu semua bola terdiam.


"Di bully sama saya maksudnya?" desis Sebastian.


Ctarr!!


Masuk bola solid angka muda dari Dimas.


Lalu mereka terdiam.


Giliran Sebastian, bola 8 dan bola miliknya sejajar.


Lalu dia berdecak.


Dimas menyeringai, ingin tahu aksi si Rubah perak.


Lalu Sebastian menghela napas dan... Melakukan jumpshoot.


Bola strip miliknya melangkahi bola nomor 8 dan bergulir perlahan masuk ke lubang.


"Anj**y..." desis Dimas terkesima. "Bokap lo lentik euy..." sahutnya ke Trevor.


Sebastian terkekeh sinis sambil menyeruput kopi.


Selama beberapa saat, mereka melakukan banyak teknik, Sebastian Vs Dimas. Dan setelah setengah jam, Dimas merasa posisi bolanya terjebak.


"Boleh break ngga?" tawar Dimas.


"Ya jelas ngga boleh lah..." kekeh Sebastian.


"Ck..ah! Gawat dah..." desis Dimas.


Ia berkacak pinggang sambil berpikir manuver tembakan apa lagi yang akan dikeluarkannya.


"Kalau yang ini masuk, saya kasih 1 orang untuk membantu kamu di divisi SKAI."


"Heh..." desis Dimas. "Boleh... Deal yah Pak."


Dan Dimas melakukan Masse.


Bola terakhir miliknya masuk ke lubang setelah bola putih berputar melengkung.


Sebastian mengernyit.


"Dasar licik... pura-pura be**go lagi. Mulut kamu manis banget yah..."


"1 orang untuk jadi anak buah saya."


"Iya, Boyo. Saya hubungi Garnet Hotel nanti..." decak Sebastian.


Lalu menyerahkan tongkat billiard ke Trevor. "Lanjutkan." perintah Sebastian. Kelihatannya dia mulai bosan.


"Jadi... Kamu putus sama Meli karena apa?" Tanya Sebastian ke Dimas sambil bersandar ke meja bar dan menyeruput kopinya, lalu memotong ujung cerutunya dengan pisau khusus yang selalu dibawanya di balik jaketnya.


Trevor menunduk dan memasukkan bola strip terakhir.


Tersisa bola 8.


Pertarungan terakhir makin sengit.


"Jago juga lu Trev...katanya tadi ngga mahir..." Sindir Dimas.


"Bokap ngerjain Abstrak sampai interpretasi. Nah gue mahir bagian daftar pustaka dan hardcopy..."


"Lo pikir ngerjain skripsi..." Dimas mengapuri lagi ujung tongkatnya. Tapi dia paham bahwa maksud Trevor adalah dia terbiasa melanjutkan perjuangan Ayahnya yang memang sudah dirancang dengan indah, dia tinggal mengurusi bagian penyelesaian. "Saya putus sama Meli karena masalah status. Dia orang kaya, saya orang biasa. Dia kaum berkuasa, saya hanya hamba sahaya..."


Ctarr!!


"Hamba sahaya..." Ulang Sebastian sambil terkekeh sinis. "Waktu saya lebih muda dari kamu, saya pernah dipenjara karena mencuri mie instan gara-gara Meli menangis kelaparan."


semua terdiam.


lalu menatap Sebastian dengan kaget.


Pria berambut putih itu hanya merentangkan tangannya. "Saya pernah bilang ke kamu kalau dulu kami juga bukan orang kaya, kan?"


"Ayah...serius?"


Sebastian tersenyum. "Tanya kakek kamu. Meli mungkin tidak ingat karena masih kecil...Ayah saya, Hans, adalah penggemar tanaman. Itu karena dulu ia hanya bisa merebus daun dan rumput. Hanya itu yang kami punya. Kami kaum terbuang yang dibenci negara karena ideologi dan prinsip yang dipegang ayah saya. Tidak ada yang mau membantu kami, tapi tidak ada juga yang bisa membunuh kami. Jadi kami antara hidup dan mati."


"Jadi, saya harus putus kuliah karena tidak ada biaya. Saya menjual apa pun yang kami punya, sampai ke buku dan pakaian... saat tidak ada lagi yang bisa dijual, harga diri pun sudah habis, akhirnya saya mencuri di kompleks perumahan orang kaya. Namun...masuk penjara malah memutar balikkan dunia saya."


Sebastian menyesap kopinya.


"Saya bertemu dengan orang yang mereka sebut......tahanan politik. Indo Prancis. Dan tadinya profesinya adalah pelobi antar negara. Namanya Baskara Beaufort... ia membantu saya jadi seperti sekarang ini."


Dimas menarik napas.


"Ayah Alex?"


Sebastian mengangguk.


"Alex sering bilang dia benci ayahnya karena selalu menghalangi kesuksesannya. Apapun yang Alex lakukan tidak pernah didukung oleh ayahnya."


"Saya pikir itu hal yang wajar." desis Sebastian. "Mana ada seorang ayah rela melihat putranya mengalami hal menyakitkan. Kamu pikir saya di posisi ini hanya menunggu dan cuan turun dari langit? Beberapa kali saya hampir mati, berurusan dengan mafia, berurusan dengan hal yang di luar nalar, terlibat dalam dunia militer antar negara, salah taktis sedikit nyawa saya bisa melayang. Ya kalau hanya nyawa saya sendiri mendingan, yang ini sampai nyawa seluruh keluarga saya bisa hilang... karena itu Baskara meminta Alex untuk berhenti melebihinya."


"Apa Alex tahu hal itu?"


"Itu urusan keluarga mereka. Baskara mau bilang atau tidak itu terserah dia. Kita tidak boleh ikut campur." sahut Sebastian. "25 derajat ke kanan." ia menginstruksikan Trevor untuk memukul dengan sudut tersebut.


Ctarr!!


Bola terakhir masuk.


Poin ditutup.


"Kenapa ayah baru cerita sekarang...?" tanya Trevor.


Sebastian menghela napas.


"Karena di sini sudah ada Boyo yang datang tanpa diundang, sekalian saja ayah bilang... Karena keputusan ayah mengenai penerus kerajaan Bataragunadi baru saja ditetapkan."


"Dan itu..." Trevor menatap Sebastian dengan waspada. "...bukan aku, kan?!"


Sebastian terdiam.


Dia menunggu reaksi anaknya.


Trevor juga diam.


Dia berusaha menyelami pikiran ayahnya.


Lalu...


"Yess!!!" sorak Trevor akhirnya. "Kalo bukan gue, berarti elo, Bro...dahlah tidur nyenyak gue!"


"Mak...maksudnya...gue, gitu? Wooooo enggak enggak enggak, ketinggian levelnya!! Ngga bisa gue ngga bisa!!" seru Dimas sambil melambaikan tangannya dan langkahnya mundur teratur.


Sebastian mengernyit.


Anak jaman sekarang...


maunya bersenang-senang...


Dikasih tampuk kepemimpinan bernilai triliunan, maunya malah jabatan biasa-biasa saja...


Silver Fox berdecak.


"Gue baru putus dari Meli, ngga ada lagi hubungannya sama Bataragunadi dan keturunannya!!" tambah Dimas sambil beranjak menuju kasir.


"Tangkap." perintah Sebastian sambil menunjuk Dimas dengan dagunya.


Trevor menangkap kerah baju Dimas dan menariknya mendekat.


"Anjr**** Trevor! Lo jangan makan temen begini dong!!" ronta Dimas.


"Sori, bro... ini juga demi kebebasan gue...hehe." Dia menahan Dimas ke depan Sebastian dan kepulan asap dari cerutunya.


Sebastian menyeringai puas dengan Dimas dan kekuatiran di wajah bocah ingusan itu. "Kamu pion andalan saya. Sejak kamu pertama kali melangkahkan kaki di rumah saya, saya pasang telinga dan mata saya terhadap kamu. Dan juga kakak kamu... Seakan takdir berbicara kepada saya, relasi kamu ternyata cukup luas... lalu poin terbesarnya adalah, saya mengenal ibu kamu dengan baik. Jadi... saya pastikan, terlepas dari hubungan kamu dengan Meli, saya akan ikat kamu untuk meneruskan tahta."


"Saya menolak." desis Dimas.


"Keluarga kamu jadi jaminan."


"Ngga usah becanda."


"Kapan saya becanda?"


"Bapak ngga mungkin bisa menyakiti ibu saya."


"Saya pastikan kalau kamu menolak, seluruh keluarga ayah kamu, trah Sandro di Italy akan kehilangan pekerjaannya selama saya hidup. Dan biasanya...orang 'jahat' seperti saya berumur panjang..."


Dimas terpaku.


ia memucat...


Sebastian Batargunadi dan semua kelicikannya...


Sudah sejak lama ia sadar kalau menjatuhkan diri ke lumpur dengan bermain perasaan terhadap Meilinda, namun ternyata akibatnya bisa lebih besar, dengan atau tanpa Meilinda, dia sudah terjatuh ke lubang hitam.