
"Mas..." Milady menghampiri Sebastian yang sedang termenung menatap langit hitam.
Malam ini langit bersih tanpa awan, terlihat bintang di kejauhan.
Wanita itu melingkarkan lengan rampingnya ke sekeliling pinggang Sebastian dan mengecup punggung tegap itu perlahan.
"Hm?" tanya Sebastian sambil menoleh ke belakang dan menangkup tangan mungil Milady.
"Kamu mikirin apa?" tanya wanita itu.
"Hemmm..." Sebastian menghela napas.
"Coba tebak..." sahutnya
"Kamu mikirin... Bajuku terlalu seksi buat kupakai ke nikahan Dimas."
"Oh, kamu sadar rupanya..."
"Habis alisnya ngernyit begitu..."
"Aku sekarang tidak memikirkan hal itu, tapi kebetulan kamu bahas." Sebastian membalikkan tubuhnya menghadap Milady dan menangkup kedua pipinya.
"... Cemburunya seorang suami ke istrinya akan kekal saat cintanya semakin besar... Kamu harus tahu itu." bisik Sebastian.
"Aku ngga bisa terlalu melarang kamu ini-itu... Kamu sudah dewasa, kamu berpijak di atas kaki sendiri. Sudah bisa berpikir hal baik dan buruk. Jadi aku harap kamu tahu sendiri, bagaimana cara menjaga kehormatan aku sebagai suami, di depan semua orang."
Sedikit banyak perkataan Sebastian membuat Milady terhenyak.
Hanya karena sepotong gaun, yang menurut Milady tertutup, namun membuatnya terlihat cantik... Tapi ternyata menurut Sebastian, Milady akan menggoda laki-laki lain?!
"Jadi menurut kamu gaunku tidak pantas kukenakan?" Milady bertanya agar ia tidak terlanjur salah paham.
"Gaun itu sangat pantas kamu kenakan. Kamu terlihat cantik. Sampai-sampai aku berharap kamu tidak dilihat pria lain."
Ah...
Itu masalahnya...
Alih-alih merasa marah, Milady malah merasa tersipu.
Sebastian dan keromantisan tahun 80an... Zaman saat Milady bahkan belum direncanakan untuk dilahirkan. Namun kenapa begitu jujur sampai-sampai Milady merasa melambung tinggi...?
"Wah... Kalau begitu... Aku serahkan ke kamu saja mengenai pakaian yang akan kukenakan."
"Tidak bisa begitu."
"Loh? Gimana, coba...?" Milady malah merasa bingung sendiri.
"Kesannya aku yang mengekang kamu."
"Jadi, apa yang kamu mau?"
"Rasa pengertian..."
"Ha?" Milady makin merasa bingung. Ia sampai-sampai memiringkan kepalanya saat menatap Sebastian. Menjadi manusia dengan IQ tinggi ternyata belum cukup jenius untuk menebak dengan benar mengenai keinginan seorang Sebastian.
"Jadi selama ini aku belum mengerti kamu?" tanya Milady.
"Apa permintaanku berlebihan?" Sebastian malah balik bertanya.
"Mas, jangan bertele-tele. Bilang saja maunya apa..."
"Aku sudah sebutkan keinginanku barusan."
"Dengan bahasa yang lebih sederhana." sambung Milady mulai kesal.
Sebastian menghela napas.
"Kalau kamu benar-benar sayang padaku, pasti kamu akan mengerti"
"Sekarang aku ngga mengerti, apa itu tandanya aku kurang sayang sama kamu, begitu?!" Milady makin merasa kesal.
"Kenapa kamu malah bersikap begitu?"
"Kamu duluan yang memancingku."
"Aku mancing apa sih?!"
"Sudahlah... Aku pusing sama permainan kata-kata kamu. Yang lugas dong kalau mau request sesuatu. Kita ini sudah suami istri, jangan pakai teka-teki!" sahut Milady sambil menepis tangan Sebastian.
"Lady..." tegur Sebastian.
"Aku pakai gaun itu, atau kamu pilihkan. Titik." seru Milady dari kejauhan. Ia sudah merasa jengah dengan tingkah Sebastian.
Kenapa malah ngambek?!
Pikir Sebastian.
Salahnya dimana?!
Aku kan cuma ingin dia berpikir sendiri mengenai gaun yang pantas dikenakan. Kalau dia benar-benar sayang padaku dan memikirkanku, seharusnya dia sudah tahu mau pakai yang mana...
Kenapa malah jadi kesal?
Ah wanita...
Berapa pun usia mereka
Sampai kiamat juga sepertinya mereka makhluk yang paling sulit dihadapi...
Keluh Sebastian dalam hati.
Tapi... kenapa tadi mereka malah membicarakan gaun, pada akhirnya terjadi pertengkaran suami-istri yang menguras tenaga seperti ini?!
Padahal tadinya, Sebastian sedang memikirkan Trevor dan Mitha...
*****
Trevor mencibir menatap Bram yang tidur nyenyak dalam perjalanan menuju Dubai.
Terlentang di kursi bisnisnya, berselimut dan tampak senyum menyebalkan dari balik kumis tipisnya yang dipotong membentuk siluet maskulin.
Bukan,
Bukan masalah Bram dengan selimut hangat berlogo Emirates nya... Bukan...
Tapi karena dia berada di tengah-tengah antara Trevor dan Mitha!
Batin Trevor.
Sementara Trevor dapat melihat di ujung sana Mitha dengan Mukenanya sedang melakukan sholat sambil duduk dekat jendela.
Apa sih susahnya tukar tempat?! Toh sama-sama berada di area tengah!
Umpat Trevor dalam hati.
Mereka bertiga saat ini dalam perjalanan menuju Moskwa, namun transit dulu di Dubai.
Lama perjalanan Jakarta-Dubai sekitar 8 jam dan mereka memesan tiket first class. Satu deretan ada 4 sofa besar. 2 di dekat jendela kanan-kiri, dan 2 lagi berdempetan di tengah.
Diantara kursi itu memang dihalangi pintu dengan tinggi menyentuh atap, namun bisa dibuka untuk berkomunikasi dengan orang sebelah.
Saat ini seluruh pintu dibuka, karena belum saatnya tidur dan karena area firstclass hanya ada mereka bertiga, kalau ditutup terasa sangat sepi.
Tidak, kalau diukur dengan logika, Bram memang tidak salah mengambil kursi berdempetan di tengah dengan Trevor. Sudah sesuai etika dan kaidah yang berlaku. Biar Mitha yang di ujung dekat jendela, duduk sendiri, dipisahkan dengan koridor untuk orang lewat dan pramugari berlalu lalang.
Namun... Kenapa juga sampai posisinya berada di tengah?!
Jadi dengan helaan napas kesal, Trevor berdiri.
"Mau kemana bro?" terdengar suara serak Bram.
Trevor memukulnya dengan bantal.
"Kayaknya lo tadi tidur, kunyuk..."
"Sst jangan teriak-teriak dong... Nanti ganggu orang lain..."
Trevor melayangkan pandangan ke sekitarnya. Sepi...
"Mau gue loncat kesana-sini paling yang protes cuman elo!" seru Trevor.
Bram terkekeh.
Lalu menggeliat.
"Gue kan cuma nanya dirimu itu mau kemana... Kok malah diomelin..." desisnya disela-sela geliatannya.
"Mau mandi." gumam Trevor sambil membawa peralatan mandi ala first class yang memang disediakan di sana lengkap dengan kimono handuknya.
"Mandi apa'an malem-malem begini?! Mandi hadas besar?!" seru Bram.
Trevor langsung menimbun tubuh pria itu dengan selimut.
Ia melirik Mitha, masih mengaji seusai sholat.
Tapi positif, wanita itu mendengar teriakan Bram, terlihat dari rona merah pipinya.
Trevor disediakan waktu 5 menit untuk mandi, karena air terbatas, pesawat tidak bisa membawa banyak air karena akan menambah beban. Kamar mandi di Area first class lumayan luas, berukuran 3 x 2, walaupun tetap lebih luas kamar mandi di kamarnya. Dengan shower dan toilet terpisah. Kalau kondisi penuh, Pramugari memberinya kabar kalau kamar mandi sudah bisa digunakan. Namun saat ini hanya ada mereka.
Dibawah guyuran shower, bisa langsung mati otomatis saat waktu 5 menitnya habis, Trevor menghela napas.
Kenapa sih aku...?
Kenapa rasanya otakku penuh dan ruwet?!
Kenapa rasanya perutku terasa diaduk kalau melihat wanita itu?!
Pikir Trevor.
Baru kali ini ia merasa begini...
Dulu, waktu pendekatan dengan Ayumi, bahkan tidak begini rasanya.
Ayumi yang mendekatinya lebih dulu waktu itu, mereka terbiasa berdiskusi mata kuliah yang sama, dan sangat sering bertemu. Mulanya Trevor ragu saat berdekatan dengan lawan jenis, tapi ternyata ia bisa menyentuh Ayumi sesering yang ia bisa.
Lalu sentuhan demi sentuhan yang datang setelahnya, berubah menjadi perasaan sayang dan saling membutuhkan, akhirnya berakhir di atas ranjang.
Yang ini sangat berbeda dengan yang dulu...
Yang ini...
Menggugah libidonya sebagai laki-laki.
Bukan dipaksakan.
Juga perasaan lega karena ternyata di dunia ini masih ada wanita yang Trevor anggap bukan ancaman seperti Mitha. Ia hampir saja berpikir akan melajang saja selamanya seusai hubungannya dengan Ayumi. Karena rasa sakit hatinya dikhianati dengan orang yang sangat ia percayai melebihi Ayahnya sendiri, meninggalkan trauma yang begitu besar sampai-sampai merambat ke Milady yang tadinya tampak bagai malaikat bisa terlihat seperti lebah yang bisa menusuknya.
Padahal itu Milady...
Orang yang dekat dengannya.
Apalagi kalau wanita lain?! Pasti keadaannya akan lebih parah...
Namun saat dekat dengan Mitha... Kenapa seakan semua wanita di dunia ini menghilang, dan hanya ada sosoknya di mataku?!
Batin Trevor.
Airnya mati.
Trevor menyalakan interkom memanggil pramugari.
Terdengar ketukan di pintu.
"Maaf Pak Trevor, waktu mandi bapak sudah habis." salah satu pramugari di Emirates adalah wanita Indonesia dan mengenal mereka.
"Nyalakan lagi, pakai saja jatah Bram."
"Eh... Anu... Bapak sudah izin Pak Bram?"
"Ngga usah izin."
Terdengar tarikan napas si pramugari.
"Baik pak." sahut wanita itu kemudian.
Dan airnya nyala lagi.
Biar saja si Bram ngga bisa mandi besok pagi.
Batin Trevor kesal.