Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Tomodachi



Ayumi menelan ludahnya saat menghirup aroma masakan dari dapur kecilnya. Aroma konbu, rumput laut, jamur shitake kesukaannya yang selalu tersedia di kulkas dan wangi bumbu miso...


Orang Indonesia juga bisa masak masakan Jepang? Pikir Ayumi takjud.


Karena penasaran, Ayumi menghampiri Milady dan mengintip dari balik lengan wanita itu.


"Coba rasakan, sesuai selera kamu ngga? Aku tidak pake sake dan mirin, karena kamu lagi hamil..." Desis Milady sambil meletakkan sesendok kuah ke piring kecil dan menyodorkannya ke Ayumi.


Ayumi menyesapnya sedikit.


Lalu senyum terukir di wajahnya.


Pipinya berubah memerah.


"Oiishi ne... Enak dan hangat..." gumam Ayumi.


"Nanti aku tuliskan resepnya."


"Kamu persis seperti ibuku..." Desis Ayumi sambil melambaikan tangannya diatas panci agar bisa membaui uap wanginya.


"Dan... Tidak ada bau-bau aneh yah..."


"Iya, aku ngga pakai bawang putih." kata Milady.


"Ah, iya...indera penciumanku sensitif sekari sekarang..."


"Kalau tidak doyan masakan asin, usahakan makan buah. Aku bikin jus alpukat."


"Jusu Arupukat....?" Ayumi mengernyit tidak mengerti.


Milady mengangguk.


"Abokado Jusu..." jelas Milady


"Eh? Abokado bisa dibuat Jusu?"


"Bisa, kasih air sedikit, gula sedikit, lelehkan coklat dan balurkan diatas jusu."


Terlihat mata Ayumi berbinar.


"Aku masukan kulkas, tadi..." Milady menuju ke arah kulkas, dan mengambil mug berisi Jus Alpukat. "Coba deh..."


Dan mata Ayumi semakin bersinar setelah mencobanya.


Jadi, sambil makan berdua, mereka mengobrol mengenai keadaan Ayumi saat itu.


"Kok kamu waktu itu tidak izin sama Trevor kalau ke host club?" Tanya Milady.


Ayumi menyesap supnya, lalu mendesah lega. Wangi dan kehangatan sup membuat hatinya lebih tenang.


"Yah... Sudah pasti tidak diizinkan. Tapi aku butuh perampiasan untuk menghibur diri..." Desis Ayumi. "Kamu tahu kan Ayah Mika seraru mengharangi kami bertemu... Jadi, seterah Mika menemukan tempat sembunyi yang aman dan tidak terracak, sudah pasti aku tidak bisa kemana-mana..."


"Dengan siapa kamu kesana?"


"Jadi, karena tidak ada kesibukan, aku memutuskan untuk benkyo asing. Aku terhubung dengan seorang wanita Braziru yang tinggar di Jepang lewat aprikasi chat onrine O**me TV. Dia mengajariku bahasa Supanyoru dan akhirnya dia birang ingin mencoba masuk ke hosu curobu (host club) tapi tidak berani. Aku menawarinya untuk menemaninya. Ragipura sudah sejak lama tidak ada detektif Pak Sebastian yang mondar-mandir." Cerita Ayumi.


Milady langsung diliputi perasaan aneh.


Hatinya seketika tidak tenang...


"Lalu...bagaimana bisa ada kejadian itu..." Tanya Milady lagi.


Ayumi menyendokkan beberapa suap alpukat ke mulutnya.


"Aku kenar dua orang ini dari hosu. Mereka disana rank 1 dan 2. Tampan dan ramah. Mereka sampai sekarang masih bergantian menemuiku... Katanya... Mereka bersedia bertanggung jawab seandainya seterah bayi ini rahir dan tes DNA keruar hasirunya, siapapun ayahnya, akan menikahiku. Tapi... Karena aku ketakutan, semua terjadi begitu cepat dan aku sangat mencintai Mika... Jadi aku berbohong, bilang kalau ini anak Mika." Kata Ayumi.


Matanya menerawang dan suaranya gemetar.


Ia sedang menahan tangis.


"Semua... Terjadi begitu cepat... " isaknya.


Milady menarik napas dalam-dalam.


Ayumi masih lebih beruntung karena kedua pria yang diduga menghamilinya bersedia bertanggung jawab. Di luar sana ada banyak korban perkosaan dan pelecehan yang ditinggal sendirian, berjuang sekuat tenaga demi hidupnya dan bayinya.


Walaupun begitu, tetap saja nasib Ayumi sangat malang.


Ia sampai sejauh ini hanya untuk Trevor yang kini malah menolaknya...


"Sudahlah Ayumi, kita lihat sisi baiknya. Kedua laki-laki itu masih mau bertanggung jawab..." Desis Milady sambil mengelus lengan Ayumi.


"Aku rasa... Setelah hubunganku dan Mikaeru berakhir. Mungkin ayah Mika tidak akan menggangguku ragi... Jadi aku akan bisa mencari pekerjaan..." Desis Ayumi sambil mengangkat bahunya.


"Aku akan coba bantu kamu untuk urusan yang satu itu...."


"Terima kasih..." Ayumi mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya, namun kesedihannya masih tampak jelas terlihat. "Rady... Kenapa kamu sangat baik padaku?"


Milady menghela napas.


"Entahlah... Mungkin karena Aku korban bully. Jadi... Aku merasa kita senasib."


"Orang secantik kamu korban buri?"


Milady terkekeh.


"Kesannya hidupku sempurna, yah?"


"Iya. Kamu kaya raya, kamu bahkan akan menyandang caron istri Mika, seorang Bataragunadi seperti Pak Sebastian mengakui kamu untuk jadi keruarga mereka. Kamu adarah wanita yang beruntung Rady..." Desis Ayumi.


"Tidak seindah itu, Ayumi..." Milady menggeleng. "Tidak seindah yang kamu bayangkan..."


Sebuah Bel berbunyi, mengalihkan perhatian mereka dari cerita miris.


"Oh, mungkin itu Yuki atau Eiichi... Biasanya mereka mengantarkan makan siang atau snack untukku..."


"Ooh... Laki-laki dari host itu?"


"Iya." Ayumi beranjak dari duduknya.


"Siapa tadi namanya? Yuki dan....?"


"Eiichi."


Senyum Milady sirna.


Pandangannya mengikuti tubuh Ayumi yang menghampiri pintu.


"Kyō wa ogenkidesuka?" (Bagaimana kabarmu hari ini?) Seorang laki-laki menyapa Ayumi dari depan pintu.


"Daijobudesu, Tomodachi to tabete ita..." ( Sehat-sehat saja, sedang makan dengan teman...) Kata Ayumi sambil mempersilahkan laki-laki itu masuk ke dalam apartemen.


Mereka bertatapan.


Milady dan Eiichi.


Keduanya tegang.


Namun Milady cukup tahu diri untuk tidak berbuat keributan lebih dalam.


Wajahnya babak belur.


Seketika Milady diliputi rasa emosi.


Dan ia memejamkan mata, menghitung sampai sepuluh.


Sembari menimbang, apakah ia harus ikut campur, atau tidak.


Eiichi menatapnya dengan waspada.


Pria itu tidak ingin Milady mengungkap identitasnya, terlihat dari wajahnya kalau ia mewanti-wanti Milady untuk berpura-pura mereka baru saja saling kenal.


"Hai, Watashi no namaeha Yazaki Eiichidesu..." Eiichi mengulurkan tangannya ke arah Milady, sambil tersenyum lemah.


Ia tampak sangat capek.


Bajunya masih baju dari semalam.


Apakah ia belum pulang semalaman? Bagaimana dengan istrinya? Dan seharusnya ia sedang bekerja di cafe sekarang, bukan?!


"Hai... Milady Adara." Milady menyambut uluran tangan Eiichi.


Bahkan di pergelangan tangannya terlihat guratan kemerahan, tampaknya bekas ikatan tali tambang.


"Mirady..." Ulang Eiichi sambil menunduk.


"Just call me Lady."


"Ra..." Eiichi menunduk. Tampak ia ingin sekali bercerita banyak pada Milady. Namun, ia kini sibuk menahan air matanya. "Rady-San..."


Suara Eiichi tampak gemetar.


Milady menarik napas berat.


"Naze anata no kao wa son'nani kega o shite iru nodesu ka? Anata wa futatabi tatakau nodesu ka?" (kenapa muka kamu luka-luka begitu? kamu berkelahi lagi?) Tanya Ayumi sambil mempersilahkan Eiichi duduk di kursi ruang makan.


"Sakuya kuraianto to no jiken ga arimashita..." (Ada insiden dengan klien tadi malam.)


"Anata wa hosutodesu, anata wa gaiken no sewa o suru hitsuyō ga arimasu." ( Kamu kan host, seharusnya kamu menjaga penampilan kamu.)


Milady duduk di depan Eiichi sambil mengernyit prihatin.


"Hai. Jikai wa motto chūi shite kudasai." (Iya, lain kali akan lebih hati-hati.) Kata Eiichi menanggapi Ayumi. Namun matanya masih menatap Milady dengan sayu dan sedih.


"Tabete kudasai, koreha Rady no ryōridesu..." (Silahkan dimakan, ini Rady yang masak...."


"Oh...Radi wa ryōri hitodesu?


Arigatō gozaimashita..." (Oh, Rady yang masak? Terimakasih...) Eiichi menunduk ke Milady.


Lalu selama 10 menit berikutnya mereka bertiga makan dalam diam.


"Aku ke kamar mandi sebentar yah Rady, aku suka tidak kuat menahan buang air keciru sekarang..." Kata Ayumi sambil buru-buru ke toilet yang ada di dalam kamar.


Sepeninggal Ayumi, Eiichi langsung menggenggam tangan Milady.


"Rady-chan, apapun yang terjadi kamu jangan sekali-kali ke Boss-Sama. Aku tidak tahu ada hubungan apa dengan kalian, tapi aku percaya sama kamu. Tolong jangan ambil tindakan apapun, demi aku dan istriku..." Sahut Eiichi cepat.


"Eiichi-San..."


"Aku akan ceritakan semuanya, dengan cepat sekarang..." Eiichi menatap kamar Ayumi. Wanita itu masih ada di dalam kamar mandi.


"Semua gara-gara rubah tua licik itu kan?!" Geram Milady dengan merendahkan suaranya.


"Kami bertiga dibayar sangat mahal untuk hal ini. Aku, Yuki dan Susan. Susan sengaja menghubungi Ayumi dari Om**e TV, berpura-pura sebagai teman dari Brazil, dan mengajaknya ke club host tempat aku dan Yuki berada. Kami...." Eiichi menatap kamar mandi yang kini ada suara flush. "Kami memberi Ayumi obat bius dan memperkosanya saat ia tidak sadar. Tapi Yuki tidak keluar di dalam. Aku tidak begitu sadar karena setengah mabuk, jadi sepertinya janin yang dikandung Ayumi adalah anakku. Boss-sama menjanjikan kami imbalan besar apabila salah satu dari kami bersedia menikahi Ayumi, termasuk tunjangan anak dan pekerjaan tetap di Garnet Grup. Tapi sepertinya tadi malam dia marah karena hubungan kita dinilai cukup akrab."


"Dia yang melakukan ini pada kamu?"


"Anak buahnya, atas suruhannya... Kamu diam saja. Aku tidak ingin istriku kenapa-napa..."


Dan mereka memisahkan diri berlagak seperti biasa.


"Oishī Rady no ryōri desuka?" (Enak kan masakan Rady?) Tanya Ayumi sambil menyeringai.


Tampak wajahnya berseri dan sudah tidak pucat lagi.


"Enak... Rady-San berbakat masak." Kata Eiichi dengan bahasa Indonesia.


"Eiichi-San bisa bahasa? Sejak kapan?" Ayumi tampak senang.


"Aku 4 tahun berkuliah di Jakarta." Sahut Eiiichi.


"Ya, Ampuun ini kebeturan sekari!!" seru Ayumi Riang.


Milady hanya diam sambil menyeruput supnya, berharap tidak tersedak.


*****


"Sudah kembali?" Tanya Trevor saat Milady duduk di kubikelnya sambil terkulai lemas.


"Dia pucat, dan lemah. Kalau kamu mau tahu... Tapi tadi aku memasak untuknya. Saat kutinggal dia sudah mulai ceria. Dan kedua orang yang ada di foto, bersedia menikahi Ayumi saat nanti bayinya lahir akan dicek DNAnya..." Gumam Milady dengan mata masih menerawang.


Ia tidak tahu apalagi yang akan ia lakukan.


Ternyata...


Ternyata Sebastian sangat jahat dan licik.


Dan saat ini ada perasaan takut pada diri Milady.


Eiichi memintanya untuk diam. Milady sebenarnya juga sangat marah ke Eiichi. Tapi Milady sudah diwanti-wanti untuk tidak ikut campur.


Dan ia akan mengikuti saran Eiichi.


Namun...


Kalau ia bertemu Sebastian...


Ia tidak yakin akan bisa menahan semua amarahnya.


"Terima kasih..." Desis Trevor.


"Untuk apa?"


"Untuk memeriksa keadaannya..."


Milady menghela napas.


"Butuh saranku?" Tanya Milady.


"Tidak perlu..." Sahut Trevor. "Lalu... Hari ini Mata-mata ayah tiba-tiba banyak di sekitar kita. Nanti malam kalau kamu mau membuat kesal ayahku, adalah saat yang tepat."


Milady menoleh sambil menatap Trevor.


"Aku akan membuat dia kesal..." Sahut Milady dengan mata berkilat. "Kamu siap-siap!" Desis wanita itu.


Trevor mengangguk.