
"Luncurkan drone." bisik Arman.
3 buah drone diterbangkan ke udara.
"Kordinat ditemukan, Pak. Jarak 50 meter. Sensor panas mendeteksi 30-40 orang..." desis Heksa.
"Mereka punya anggota di basecamp pendakian. Bisa jadi sudah mengendus kedatangan kita."
"Kabut datang, kacamata infrared standby."
Semua reflek mengenakannya.
"Njir, kacamata bikinan tiongkok ajib juga ternyata. Macam X-Men gue..." desis Moses.
"Ini pasokan dari Triad. Dari Sun Ye Oh."
"Punya salah apa Triad ke Pak Sebastian sampe ngasih beginian?"
"Salahnya banyak kayaknya..."
"Pak Arman, di saya agak ketat..." keluh Pak Kardi.
"Pak Kardi, pake kacamata dulu baru pake helm..." sahut Moses
"Saya ngga pake helm."
"Ntar kualat kamu Ses..." desis Arman.
"Dia kebanyakan makan seblak sampe botaknya mengkilat. Gue pikir helm..."
Hening...
"Penembak jitu ambil posisi." desis Arman.
"Baper 2, udah di atas nemenin Mbak Kunti nangkring."
"Sumpah, si Moses belom pernah kena tulah, di gunung berani sesumbar."
"Enggak, gue serius sekarang. Mau merinding udah bodo amat." sahut Moses.
Hening...
"Mbak kunti siapa?" tanya Ayumi.
Ngga ada yang jawab, hening lagi.
Arman hanya menyeringai penuh arti ke Ayumi.
"Fokus gengs..." sahut Arman ke earpiece.
"Baper 3 di posisi. Kayaknya salah milih pohon, agak licin."
"Lo pastiin dulu dong itu pohon beneran apa anaconda lagi nga*ceng..."
"Njir, mulutnya ngga ada yang diayak..."
"Baper 4 di... huaa!!"
Hening.
Gubrak!!
Hening.
"Chikushou..." (sial) dengus Eiichi. "Baper 4 ganti pohon. Banyak ulat bulu..."
"Yazaki... Jangan bilang barusan kamu jatoh..." sahut Arman.
"Ya Pak. Gomen-Nasai..." (maaf).
"Kemushi ga osorete iru toki, anata wa anchisukirudesu." (kamu itu pasukan pengamanan , masa ulat bulu aja takut.)
Ujar Ayumi.
"Hei hei...Yama no kemushi wa sōsēji to onaji kurai ōkīdesu! umaku ikeba sore wa atode anata ni kuttsukudeshou" (Ulat bulu di gunung sebesar sosis! mudah-mudahan nanti juga nempel di kamu!) omel Eiichi.
"Ku naon, aing henteu ngarti..." sahut Pak Kardi.
"Yen ngomong nganggo boso sing ngerteni kabehan." kata Heksa.
"Vsem, pozhaluysta, perefokusiruytes', vse ne sposobstvuyet." kata Arman.
"Yang paling aneh tuh bahasanya Pak Arman...nyat nyet nyat nyet...serasa lagi ngata-ngatain kita."
"Iya makanya saya lebih suka pakai bahasa Rusia, bisa sekalian." kata Arman.
Hening.
Kabut kembali turun.
"7 orang di depan bangunan. Penembak jitu, standby. Jalur darat, maju..." sahut Arman.
Lalu ia melepas earpiecenya, mencium bibir Ayumi sekilas, dan maju mengendap-endap ke depan menerjang kabut.
Nanti malam, aku usahakan kamu ngga pingsan.
Suara berbisik Arman masih terngiang di telinga Ayumi. Wanita itu hanya bisa terpaku tertegun.
Sial...
Batin Ayumi.
Namun entah kenapa, dadanya berdesir dan pipinya memerah.
"Aku juga punya kemampuan, kita lihat saja nanti malam kalau kita selamat..." batin Ayumi menguatkan tekad.
Jarak 3 meter.
"Penembak jitu."
"Ready."
"First shot."
Dzing!!
4 orang jatuh tanpa suara, peluru langsung menembus kepala mereka.
"Second shot."
Dzing!!
Peluru menjatuhkan orang-orang yang berjaga di luar di luar.
"Area luar aman."
"Masuk." desis Arman.
Ia menendang pintu, mengacungkan revolver dan...
Dor!
Dor!
Dor!
... menembak 3 orang.
"Cari Diamond." desisnya.
"Baper 5 dan 6 cari Diamond."
"Lindungi baper 5 dan 6."
Dor!
Dor!
Arman menangkap dari sudut matanya, seseorang menghampirinya dari arah kanan dengan cepat.
Sikut rahangnya
Tusuk tenggorokan dengan ujung tangan
Pelintir lehernya sampai jatuh ke lantai
Tinju kepalanya beberapa kali.
Satu lagi mengacungkan senjata laras pendek ke kepala Arman.
Tangkap moncong senjata, arahkan ke atas dengan cepat.
Rebut senjatanya
Tinju lehernya
Tinju kepalanya 3 kali
Puntir lehernya sampai jatuh ke lantai
Tendang kepalanya
Sadis?
Itulah teknik beladiri jarak dekat paling kejam sedunia.
Krav Maga. Tanpa aturan
Dari arah belakang seseorang menerjang Arman. Menjatuhkannya ke lantai dan
Berlutut di atas Arman sambil mencekik lehernya.
Duak!!
Pria besar di atas Arman tersentak...
Lalu ia terdiam.
Cengkeramannya di leher Arman mengendur.
Dan tubuhnya lunglai jatuh ke depan menimpa Arman.
Arman menyingkirkannya sambil mengernyit heran.
Ayumi berdiri di hadapan Arman sambil terengah-engah.
"Batang kayunya berat... Tanganku terkilir waktu memukulnya." keluh Ayumi dengan batang kayu setebal tiang listrik di tangannya.
Lalu ia menjatuhkannya sambil berlutut, mengernyit menahan nyeri di area lipatan tangannya.
Arman menyeringai senang.
"Ya Ampun, calon istriku ternyata wanita barbar..." sahutnya sambil beranjak. "Tahan dulu sakitnya, nanti di gips... Kalo kita selamat."
"Kita benar-benar harus menikah ya? Ngga bisa skip?!" keluh Ayumi lagi.
"Kenapa sih kamu ngga mau nikah sama aku?" tanya Arman.
"Kamu terlalu..." Ayumi tidak melanjutkan kalimatnya sambil mengangkat bahunya. Ia memperhatikan Arman menembaki beberapa orang di depan mereka.
"Apa? Terlalu ganteng? Terlalu manly? Terlalu... kuat?"
"Terlalu brengsek, mesum, malas, kepribadian ganda, labil dan pemarah... Untukku." sahut Ayumi sambil
"Kamu belum move on dari Trevor." dengus Arman. "Yang lembut... Menye-menye... Cowok rumahan, ngga macem-macem, nurut sama orangtua..." nada suaranya mengejek Ayumi.
Dor!
Dor!
Dua orang jatuh tersungkur karena tembakan Arman.
"Aku sebenarnya tidak terlalu mencintai Mika, yang sepertinya kamu juga sudah tahu..." Ayumi melangkahi tubuh-tubuh tak bergerak di lantai dengan hati-hati.
"Soal kepribadian ganda... Aku ngga mau yah dikata-katai sama kamu yang topengnya lebih banyak dari aku." gerutu Arman.
*****
"Ngga bisa bro, pasaran sekarang 300juta On The Road. Sudah sekalian urus BPKB, esek-esek, asuransi all risk. Hah?! Warna ijo daon? Aneh-aneh aja si pembelinya?! Warna e*ek mau ngga? Atau warna efek karat biar ga cemolong?!" terdengar suara moses lewat earphone.
"Si Boss Showroom masih aja jualan mobil." ejek Heksa.
"Ini lagi weekdays. Pak Arman, kloter mafia kedua sudah datang, hati-hati... Yang datang dua truk." desis Moses.
"Gas air mata ready?" tanya Arman.
"Baper 7,8,9 siap tembak Gas Air Mata."
"Oke gengs, masker..." sahut Arman.
"Siap!"
Semua menaikkan masker kedap udara dengan oksigen cadangan
"Luncurkan."
Dzingg!!
"Tembak yang masih maju" sahut Arman.
Dor!
Dor!
Dor!
"Sekitar setengahnya masih bertahan menerjang masuk markas."
"Oke." sahut Arman. "Terkendali."
"Pak Arman, telepon dari Ipang. line 2."
"Ck..." decak Arman. "Sambungkan."
"Napa Pange..." Sapa Arman.
"Jangan panggil Pange. Bapak di mana? Ada bunyi dar der dor lagi main game?!"
"Iya, lagi main epep, barusan beli unipin di Indojuni." dengus Arman.
"Ini... Banyak wartawan minta klarifikasi tentang Irwan ato apaaa gitu. Saya jawab emailnya gimana? Ada 5000 email masuk dalam sejam, terus di depan gedung juga banyak kerumunan reporter. Polisi juga mengeluarkan surat panggilan. Pak Sebastian belum datang. Hape Pak Arman dari tadi ngga aktif akhirmya saya cari nomer Mas Moses."
"Kenapa harus Moses..." sungut Arman.
"Dia kan juragan showroom, hapenya ngga mungkin mati. Hehehehe..."
"Di situ ada siapa?"
"Ada Reny dan Pak James."
"Maksud saya... Polisi. Di situ ada siapa?"
"Loh kok tahu ada polisi... Ada Mas Dirga sama Mas Rama."
"Loudspeakerin dong..."
" Ya Pak..."
"Pak Brigjen, jangan bilang kamu sekarang di markas mapia yakuja..." dengus Rama.
"Gue mulai ngga suka sama Bagaswirya. Bisa-bisanya tampang lo lempeng padahal lo udah tau siapa yang toxic. Mulai sekarang kita musuhan."
"Elah Pak Brigjen kayak anak teka main musuh-musuhan!"
"Awas minggir, dasar muka dua. Mana Dirga?!"
"Sambat ke kompol... Nih!" Rama kesal dan menyerahkan ponsel ke Dirga.
"Ya Man..." suara Dirga terdengar lesu.
"Udah tahu instruksinya kan?"
"Iya... Kabarin aja kalo udah selesai. Gue siapin notulen buat Ipang nih. Pak Sebastian dan Pak Danu masih diskusi di Segneg sama Presiden dan Kapolri... Gue kesini karena tadinya gue mau mencegah lo kesana, sih..."
"Telat. Gue udah dengerin semua pas dalam perjalanan kesini. Kita bergerak lewat instruksi satu orang. Elo bergerak lewat instruksi beberapa orang. Keburu Nyonya Boss ngelahirin baru jadi kali suratnya..." sindir Arman.
"Iya tapi kan izin perusahaan lo cuma buat pengamanan, tindakan lo ini bisa dikategorikan kriminal, ngga beda sama... udahlah, lo juga udah tahu." Dengus Dirga.
"Lo ke kantor gue sekarang kan cuma buat formalitas. Palingan sekarang lo lagi ngopi di meja gue." Sahut Arman.
"Nah, tuh tau. Oh iya Bro...Gue turut berduka cita."
"Iya..."
Hening, hanya ada suara tembakan sebagai latar belakang.
"Halo... pak Arman udah belom sambungannya? Ini pelanggan saya nelpon lagi." Moses mengacaukan suasana syahdu.
"Juragan Showroom ganggu aje suasana Bromance..." sahut Heksa.