Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Pizza Time



Trevor menjatuhkan diri di sofa hotel saat mereka pulang hari ini. Malam itu sudah menunjukan jam 11 waktu Jepang.


Tubuhnya capek, tapi pikirannya bersemangat.


Di benaknya terbayang jajaran cluster perumahan yang terbangun karena perjuangan ia dan timnya, dengan penjualan yang meningkat di masa depan. Dan yang lebih penting lagi, pengakuan ayah akan kemampuannya...


"Trev, aku taruh disini laptop dan datanya, satu koper. Jadi besok tinggal bawa sekaligus saja." Milady meletakkan koper silver di samping konter tv.


"Hm... Besok bangunkan jam 5 yah. Aku mau joging sebentar." Trevor masih dalam posisi setengah berbaring di sofa dengan mata terpejam.


Milady mengangguk, menggeser pintu di depan Trevor, dan masuk ke kamarnya sendiri.


Lalu...


Memeriksa ponselnya.


Dan menghela napas.


Lagi-lagi menghela napas, sudah kesekian puluh kali hari ini...


Sebastian keterlaluan... batinnya.


Lalu ia merasa pelupuknya panas.


Sudahlah, jangan menangis...


Pikirnya.


Milady mengusap wajahnya lalu mengganti pakaiannya.


Tadi dia melihat ada mesin makanan di luar. Ada gambar pizza diatasnya.


Milady tertarik mencoba dan ia berencana kesana sekarang karena perutnya sudah kelaparan.


Untuk pria dengan tubuh sebesar Trevor, ia jarang makan. Tapi sekalinya makan, porsi seakan kelaparan 3 hari. Karena Trevor tenggelam dalam kesibukannya sampai mereka melewatkan makan siang, dan Milady tidak enak mengganggunya, jadi dari pagi Milady hanya makan snack yang bisa dikunyah sambil bekerja.


*****


"Rady-chan?"


Milady menoleh karena merasa seseorang memanggil namanya dengan aksen Jepang. Ia sedang menunggu mesin makanan membuat pizzanya dan duduk di pinggir trotoar, dibutuhkan waktu 15 menit lagi sampai pizzanya matang.


Milady memicingkan matanya.


Siapa yah...?


Pria tampan berhidung mancung dengan dandanan sangat fashionable ini?


"Eh?" Milady memiringkan kepalanya masih mencoba mengingat.


"Yazaki Eiichi..." Pria itu menunjuk dirinya sendiri.


"Ha?" desis Milady tak yakin.


Eiichi yang ada di benaknya tidak bertampang pangeran seperti laki-laki di depannya ini.


"Anata ga Eiichi-sandearu koto no hitotsu no shōko ni genkyū shite mite kudasai..." Desis Milady waspada sambil memicingkan mata dan menjauh satu langkah.


(Coba sebutkan satu bukti kalau kamu benar adalah Eiichi-san)


Laki-laki itu tampak berpikir.


"Sekarang kamu pakai eyeliner waterproof kan?" Tanyanya.


Milady memekik.


"Eiichi-San!!" Jeritnya senang sambil menghampiri Eiichi dan menggenggam tangannya.


"Hahaha! Akhirnya kita bertemu juga!"


Pria itu memeluk Milady.


"Iya aku pakai yang waterproof sekarang...hueee..." Milady sampai terisak karena senang. "Kenapa tampang kamu begituuu..."


"Hehe... Aku kerja jadi host sekarang, jadi sedikit perubahan di sana-sini..."


"Hoo..." Milady menarik tubuhnya dan menatap wajah Eiichi lebih seksama.


"Ganteng sih..." Desisnya kagum


"Lumayan kan? Aku host nomor satu loh di club ku..." Dan dia menunjuk mobil sport putih yang diparkir di ujung jalan.


"Sampai bisa beli mobil... Hebaat!"


"Mobilnya hadiah dari pelangganku."


"Yah, tetap saja hebat..."


Eiichi terkekeh.


Lalu menunjuk mesin pizza.


"Kamu lagi pesan itu?"


"Iya, sebentar lagi matang sepertinya." Milady melongok timer di mesinnya. "10 menit lagi."


"Aku juga mau pesan itu, mesin pizza hanya ada 3 buah di seluruh Jepang karena termasuk teknologi baru. Aku dari kabukicho menyetir kesini buat pesan itu. Karena gerai pizza sudah tutup semua." Jelas Eiichi.


"Ayo makan sama-sama! Aku pesan dua jenis soalnya."


"Kamu pesan dua jenis pasti untuk diri kamu sendiri yah? Aku ingat kamu maniak makanan manis dan semua jenis roti..."


"Hahahahaha!! Iya kamu benar. Tapi kali ini aku berencana membaginya ke bossku di hotel kalau ia nanti bangun. Tapi kurasa sekarang aku akan membaginya dengan mu saja... Aku sudah sering memanjakan bossku soalnya."


Lalu mereka berdua akhirnya makan pizza di dalam mobil mewah Eiichi, sambil membicarakan masa lalu.


"Tragedi eyeliner luntur...hahahaha!!" Milady tergelak sambil makan pizza, mengingat masa lalu.


"Kamu dan eyeliner luntur di tangga darurat kampus."


"Aku kan waktu itu baru belajar dandan, Eiichi..." Dengus Milady.


"Tapi aku mau tanya... Jarak fakultas kamu ke fakultas international kan bisa 500 meter sendiri... Kamu jalan jauh-jauh cuma buat menangis?"


Milady mengangkat bahunya.


"Intinya aku hanya mencoba cari tempat sepi." Desis Milady. "Aku tidak menyangka kelas international masih ramai, bahkan ada yang pesta alkohol di tangga darurat segala..." Sindir Milady sambil melirik Eiichi.


"Iya...namanya juga mahasiswa perantauan, di negeri orang pula..." Kata Eiichi.


"Boleh kutanya?" Desis Eiichi.


"Kenapa waktu itu aku menangis?" Potong Milady menebak.


Lalu Milady mencoba mengingat masa lalu.


"Hm... Kamu tahu kan kalau aku bisa kuliah disana karena beasiswa dari Kementrian Pendidikan?"


"Iya, kamu masuk rekor loh, aku baru tahu kalau kamu semuda itu..."


"Iya aku masih belum punya KTP, malah... Asal kamu tahu, tidak mudah menerima sindiran dari orang-orang yang iri karena predikat yang kusandang. Mulai dari dituduh memalsukan usia, atau pakai joki, atau ayahku membayar pihak sekolah agar meluluskanku lebih cepat."


"Tapi bukankah semua record terdaftar. Di menteri pendidikan?"


"Ya tapi kan tidak disebar luaskan ke publik agar aku bisa fokus belajar, katanya. Dan tekanan yang paling menyakitkan adalah, saat orang-orang berharap banyak padaku tapi akunya tidak sesuai ekspektasi mereka..."


Eiichi mengangguk setuju.


"Okeee... Sering ada yang seperti itu. Pembunuh karakter." Sahut pria itu.


Milady menunjuk pria itu karena setuju.


"Iya. Itu. " desis wanita itu. "Aku masuk kelas program akselerasi saat Sekolah Dasar karena mereka bilang kepandaianku setara tingkat universitas, lalu lewat Program Penelusuran Bakat Skolastik aku berhasil sampai ke jenjang kuliah di usia masih sangat muda. Saat itu berbagai omongan pahit mulai kuterima dari mulai teman-teman menjauhiku, bicara pedas tentangku, menggosipkanku yang aneh-aneh, dan itu berlanjut sampai aku ke jenjang universitas."


"Aku tahu kenapa mereka bicara pedas tentang kamu..." Desis Eiichi.


"Ha? Kamu tahu?"


"Yah... Bisa langsung aku tebak sih... Dimana-mana sama saja."


"Ohya?" Milady berkacak pinggang. "Coba aku ingin dengar teori kamu."


"Haha... Iya...karenaaaa..." Desis Eiichi. "Kamu cantik."


"Ha?"


Eiichi mengangguk.


"Karena kamu cantik." Eiichi mengulangi pendapatnya.


"Apa hubungan aku cantik dengan kapasitas otakku?" Tanya Milady.


"Memang tidak ada hubungannya, dan itulah yang terjadi... Karena kamu cantik dan kamu pintar, jadi kamu sudah melampaui semuanya. Saat kamu terlalu diatas, badai menyerang lebih kencang."


"Hm..."


"Kenyataannya akan berbeda, kalau kamu tidak secantik ini."


"Hm..."


"Dulu saat SMA, murid tercantik di sekolahku bunuh diri."


"Ohya?"


"Kamu tahu kenapa? Sepeti kamu, dia cantik dan pintar. Dia masuk kategori pelajar berbakat dan dianugerahi piagam kehormatan di bidang fisika. Keluarganya rukun-rukun saja dengannya. Namun... Setelah ia menerima piagam, berbagai cercaan malah datang, dan itu dari teman-temannya sendiri... Ia di bully, di siram air got, dituduh tidur dengan kepala sekolah sampai istri kepala sekolah datang dan menghardiknya di depan banyak orang..."


Milady diam sambil mendengarkan cerita Eiichi dengan serius. Ia bahkan melupakan pizzanya.


"Bahkan..." Eiichi menunduk. Tampak raut wajah pria itu menyatakan keprihatinan mendalam. "Sampai sekarang, ia telah meninggalpun, ia masih sering dibicarakan yang buruk-buruk kalau kami reuni. Sejak itu aku tidak pernah datang lagi ke reuni sekolah..."


Milady terdiam.


Dadanya bergemuruh...


Seketika ia merasa sangat sedih, karena masa lalunya tidak jauh berbeda dengan gadis yang diceritakan Eiichi.


"Jadi, kenapa kamu menangis saat itu? Kamu juga dibully temanmu?" Tanya Eiichi.


"Hm... Kalau teman sih sudah tidak punya lagi sejak aku masuk program akselerasi."


"Mereka iri padamu..."


"Bisa jadi, aku beruntung punya keluarga yang menguatkan imanku sehingga aku tidak bunuh diri...hehe."


"Baguslah..."


"Jadi... Aku sedang dalam tahap akhir penyusunan skripsi. Dan dosen pembimbingku berkata kalau..."


Dan air mata tiba-tiba jatuh di pipi Milady.


"Rady-chan..." Eiichi menghapus air mata di pipi Milady.


"Maaf... entah kenapa... Hehe..." Terdengar tawa bernada sedih dari bibir Milady.


Eiichi menghela napas.


"Menangis saja yang puas. Kan eyeliner kamu sudah waterproof..."


"Hahahahaa bisa aja kamu..." Milady tertawa di sela-sela tangisnya.


"Katanya... Kamu benar pelajar jenius berbakat? Atau kamu ngelon**te tidur sama pejabat yayasan biar cepat lulus? Kok olah data begini saja kamu ngga ngerti..."


Eiichi diam


Milady kembali terisak. "Sama persis yang sama teman cantik kamu yah bullyannya..."


Eiichi mengangguk lemah.


"Yah... tidak ada yang tahu kalau dia sebenarnya kakak tiriku."


"Hah? Gadis itu kakak tiri kamu?"


"Iya. Ayah ibuku bercerai, dan ayahku menikah lagi dengan janda beranak satu. Anaknya itulah si gadis cantik... Ibu tiriku menangis histeris sampai mencakar-cakar dinding... Mereka..." Tampak mata Eiichi berkaca-kaca. "...mereka tidak tahu dampak yang terjadi pada keluarga kami. Seorang ibu... Yang melahirkan kamu dengan susah payah sampai mempertaruhkan nyawa agar kamu bisa hidup di dunia, betapa bangganya dia saat kakakku mendapat piagam penghargaan... Terbayang masa depan anaknya yang cerah... Semua sirna dalam satu waktu saat melihat mayat anaknya di ruang otopsi dengan anggota tubuh sudah patah di sana-sini... Karena..." Eiichi menarik napas. "Karena ucapan orang lain yang ia bahkan tidak kenal..."


Sampai beberapa saat mereka terdiam sambil menyeruput minuman hangat yang dibeli dari mesin penjual minum.


Milady bisa merasa kalau sebenarnya hubungan Eiichi dan kakak tirinya lebih daripada sekedar adik dan kakak biasa. Namun Milady tidak mengungkitnya karena itu urusan Eiichi. Kalau pria itu memang ingin cerita, pasti sudah keluar dari mulutnya sendiri.


"Aku..." Milady melanjutkan ceritanya. "...sebenarnya mengerti olah data. SPSS... Hasil dataku tidak signifikan. Dan aku sedikit berdebat dengannya. Saat itu aku mempertahankan teori bahwa ketidaksignifikansian itu diperbolehkan adanya karena data yang kuambil dari jurnal luar negeri. Belum tentu tradisi ekonomi di sana sama dengan di negaraku. Tapi rupanya dia menganggap dataku tidak layak pakai... Dan terucaplah kalimat itu."


"Lalu... Bagaimana cara kamu lulus?"


"Aku turuti saja maunya dia, aku membuat penelitian lagi, mulai dari awal. Dengan model lebih sederhana dan topik yang sudah sering dibahas oleh banyak mahasiswa. Topik sejuta umat... Terakhir, diketahui bahwa sebenarnya dosenku berencana mengambil bahan penelitianku yang diawal itu, untuk program disertasinya... Jadi ia tidak ingin ada judul yang sama. Penelitianku sudah 80% jadi. Dengan menghardikku, dia merasa kalau aku akan down dan mencari bahan penelitian lain, sehingga dia bisa pakai hasil yang sudah kucari... Aku pun masuk ke dalam jebakannya."


"Rady-chan, itu curang."


"Aku melihat sendiri skripsi awalku dijiplak sama persis, dan dipublikasi. Biar saja... Yang namanya kecurangan biar Tuhan yang atur hukumannya."


"Wooow..." Desis pria itu.


Eiichi mengelus rambut Milady, memberi wanita itu ketenangan.


(sekilas fakta, karena banyak yang tanya.


di dunia nyata, ada yang sudah jadi sarjana di Usia 17 tahun seperti Milady. Cek internet dan googling nama Rafida Helmi. Sarjana Kedokteran. Saat menjadi sarjana, usianya 17 tahun 11 bulan...)