
12 jam di ruang interogasi, 25 pertanyaan, 5 orang penyidik, semua untuk 1 orang saksi...
Membuat Dirga hampir pingsan...
Dia merasa sangat capek, sampai tidak bisa berkutik.
Ia merasa semua sudah disetting...
Semuanya...
Dan ia sedang jadi bagian dalam drama yang diciptakan oleh...
Pria ini.
Sebastian Bataragunadi.
Pertanyaan terpaksa diakhiri sebelum selesai, saat Ketua Komisi III DPx xx Atmana Hadiprasetyo datang bersama Komjen Pol ke kantor pusat BNN dan menggeret Sebastian dari ruang interogasi, lalu mereka terlibat pertikaian di ruang tertutup.
Dirga hanya bisa mendengar tawa Sebastian dari dalam ruangan itu.
Di saat seperti ini...
Pria berambut putih berjanggut panjang dengan mata setajam elang seolah sudah melihat semua tragedi di dunia ini, sempat-sempatnya tertawa lepas, menanggapi Ketua Komisi III.
Sementara Pak Atmana berteriak-teriak marah dan atasan Dirga, Pak Irwan Hartawi hanya menimpali Pak Atmana dengan jawaban diplomatis.
Apa hubungan ketiganya...?
Mereka terlihat begitu erat bagaikan teman lama.
Dirga tampak begitu frustasi.
Sampai semangkuk indomie kornet keju diantarkan ke depan mukanya.
"Makan dulu kali, bro..." desis Rama. "Gue tau lo suka ini, ngga usah jual mahal."
"Gue ngga tau harus ngapain."
"Ya udah lah... lo kan udah lakuin tugas lo. Ngga harus nangkep penjahat biar diakui kayak Arman, kan?! Akhirnya dia terpelosok juga..."
Dirga mendengus mendengar kata-kata Rama.
Benar juga sih.
Yang penting dia sampai sekarang masih sehat-sehat saja.
Jadi ia memakan indomienya.
"Enak?" tanya Rama melihat Dirga yang makan dengan lahap.
"Ini indomie paling enak seumur hidup gue." sahut dirga dengan mulut penuh.
Untung gue pesenin dua porsi... Batin Rama.
"Konglomerat dan segala kontroversinya..." desis Rama.
Dirga mengernyit.
"Keluarga lo juga termasuk golongan mereka." Ujar Dirga.
"Keluarga gue, guenya orang biasa aje... Kecipratan dikit doang..." ia menunjukan tag heuer di pergelangan tangannya.
"Gaya lo selangit... Sini buat gue aje."
"Laahh!!"
Dirga melepas jam tangan Rama dan mengenakannya di tangannya.
"Lo kan bisa dapet lagi, lungsuran Pak Gerald. Dia bosen, dikasih lo paling!"
"Ambil dah sana, sebagai wujud kepedulian gue terhadap kerjaan lo... Berusaha nangkep dedemit, hehehehe..." kekeh Rama.
Lalu mereka berdua tertegun menatap pintu di depan mereka.
Di dalam masih ada Pak Sebastian, Pak Ketua Komisi III dan Pak Komjen Pol.
"Kayaknya temenan tuh tiga-tigaan..." Desis Rama.
"Lo tau ngga gue ngebayangin apa."
"Gue tau."
"Kenapa lo tau?!"
"Lo terlalu gampang ditebak."
"Coba, apa yang gue bayangin?"
"Aoi Sora."
"An**jrit..."
Rama terkekeh.
"Ya udah gue nyerah, apa sih yang lo bayangin? Lo orangnya kelewat baperan soalnya." sahut Rama.
Dirga menghela napas.
"Mereka, bro... Orang-orang yang ada di ruangan itu." Dirga menunjuk ruangan tertutup di depan mereka. "Suatu saat kita mungkin akan ada di posisi yang sama. Teman lama, dengan konflik yang mirip. Kayak lingkaran setan. Siapapun pemerannya, ceritanya bakalan sama aja..."
"Hooo..." desis Rama. "Bisa jadi, sih... Gue ogah jadi Pak Sebastian. Titik. Hehe..." sahut Rama sambil beranjak. "Habisin, gue traktir pake sisa lemburan tuh. Besok kan gajian lagi kita..."
"Jam tangan lo puluhan juta, cuma bisa traktir gue indomie." sungut Dirga.
"Yang penting niatnya, bro..."
*****
Beberapa hari setelahnya...
"Hei, Mas Yan..." goda Milady lewat video call.
Sebastian hanya menatapnya sambil tersenyum masam.
"Akhirnya operasional dibekukan ya..." tanya Milady.
"Iya... Biar Yamaguci kalang kabut kehabisan stok barang. Aku kan ngga bisa transaksi yang berhubungan dengan obat-obatan untuk sementara."
"Kalang kabut dong dia."
"Kayaknya iya. Dia datang ke kantor Pusat Garnet Grup di Jepang cari aku katanya, kantor diobrak abrik, kubilang kantor ditutup aja dulu sementara."
"Kamu ngga papa cabang Jepang ditutup? Ngga rugi? Aktivitasnya bagaimana?"
"Aku sewa gedung Jarvas, biar mereka kerja di sana dulu sementara."
"Berapa orang karyawan di sana?"
"Karyawan tetap sekitar 1500 orang."
"1500 kamu ungsikan ke gedung Jarvas?!"
"Gampang lah itu... Ngga bakalan ada yang mau bikin aku bangkrut, karena menguntungkan sih. Aku banyak invest di sana, sampe ditawarin jadi warga negara..." Sebastian mengernyit, tentu saja ia ditawarkan jadi warga negara, ia terlalu banyak tahu soal kebobrokan dibaliknya. Banyak negara yang menawarinya jadi warga negara...
Milady menyeringai mendengarnya.
"Tumben kamu video call... Ini baru hari kamis loh." kata Sebastian.
"Iya... Kangen Mas Yan." Milady terkikik.
Hening...
Lalu menunduk agak lama.
Dan ia terkekeh perlahan.
"Sebastian..."
"Hm..."
"Mau dipanggil Mas Yan, ngga?" pancing Milady.
"Aku harus jawab apa, memangnya?" Sebastian balik bertanya.
"Aku ngga seperti wanita lain yang beda-beda jawabannya. Aku lebih simple." kata Milady.
Sebastian mengangguk.
"Aku yang terlalu rumit yah..." Pria itu mengakui.
"Iya... Kamu menyembunyikan banyak hal." kata Milady.
Wajah Sebastian tampak ragu.
"Milady... Menjadi istriku tidak semudah menjadi istri orang lain..."
"Aku bisa jadi kekasih kamu, kenapa tidak bisa jadi istri?"
"Akan ada banyak hal yang kamu ketahui, yang di luar nalar, saat kamu jadi istriku. Dan kamu tidak bisa lari... Kamu akan terikat selamanya denganku."
"Istri kamu yang dulu bisa bertahan padahal kalian tidak saling mencintai, aku lebih tinggi levelnya, jadi aku optimis bisa." Kata Milady.
Wajah Sebastian berubah serius.
"Aku menikah dengan Ratna karena bisnis. Dan saat itu aku masih pemula, belum terlibat banyak hal..."
"Berapa usia pernikahan kalian?"
"Sekitar setahun... Tapi aku akrab dengannya sepanjang waktuku di sekolah menengah... Bukannya ingin, tapi kalau tidak terlihat akrab, ayahku dan ayahnya pasti bertanya."
"Kalian bercerai karena apa?"
Sebastian tampak enggan menjawab.
"Kalau aku cerita kamu harus berjanji untuk tidak merubah perasaan kamu terhadapku."
Milady mengangkat alisnya.
"Apa hubungannya denganku?" tanya Milady.
"Kamu janji dulu." tekan Sebastian.
Milady menghela napas.
"Apa sih Sebastian..." keluhnya.
"Aku serius..." desis Sebastian.
"Iya, Oke... Aku janji. Aku tetap sayang kamu." desis Milady akhirnya.
Posisi duduk Sebastian menjadi tegang.
"Ratna dan aku menikah saat aku keluar dari penjara. Aku mulai banyak relasi berkat Baskara Beaufort... Aku dianggap penerusnya, sepeninggal dia ke Perancis, jadi aku semakin mudah mendapat investor. Aku dan Ratna sebenarnya tidak saling menyukai... Dia punya pacar di SMA, pacarnya Ratna temanku juga, dan kami bertiga mengetahui posisi masing-masing."
"Oke..." Milady menyimak.
Sebastian mengelus janggut putihnya, berusaha mengingat masa lalu.
"Dan saat kami menikah, ia selingkuh dengan pacar sejak SMAnya itu."
"Terus apa? Kamu bikin bangkrut keluarga pacarnya? Segitu dendamnya kamu karena diselingkuhin?" sindir Milady.
"Aku ngga dendam... aku malah bersyukur pernikahan ini kandas. Tapi, Ratna yang minta sendiri..."
"Maksudnya?"
Sebastian menghela napas, ia bagaikan dihadapkan pada pilihan sulit. Ia sadar kalau menceritakan ini, kemungkinan terburuk Milady akan meninggalkannya terasa nyata.
Namun ia harus mengutarakan kebenaran.
"Tadinya aku tidak tahu, kalau perubahan sifat Ratna terhadap Trevor juga adalah karena tekanan dia harus terikat denganku dan meninggalkan kekasihnya. Ia dilanda depresi karena kekasihnya akhirnya menikah dengan wanita lain... Lalu dia menganiaya Trevor. Kupikir ia sudah tidak ada hubungan lagi dengan kekasihnya, nyatanya bertahan lama. " Sebastian mulai bercerita
"... Saat Trevor mulai kuliah di Amerika, Ratna mencariku. Dia bilang dia akan melepas hak atas Trevor padaku sepenuhnya di hadapan pengacara, dan tidak akan mengganggu kami lagi, tidak akan mendekati kami bahkan, kalau aku bisa membuat bisnis kekasihnya dan keluarga kekasihnya bangkrut. Rupanya, saat aku bertanya ke Ratna, kekasihnya lebih memilih keluarganya dibanding Ratna..."
"Oke..." desis Milady. Another Drama, pikir wanita itu.
"Aku saat itu menyambut baik penawarannya. Yang penting bagiku, Ratna tidak menganggu Trevor. Jadi aku mengiyakannya..."
"Dan kamu bikin bangkrut keluarga kekasihnya Bu Ratna." sambung Milady.
Hening...
"Aku meminta orang lain melakukannya. Dia, pacar Ratna, memiliki pinjaman di Bank untuk bisnisnya... Pemilik Banknya adalah temanku. Aku berusaha terlibat sesedikit mungkin. Namun pada akhirnya itu semua sebenarnya salahku..." desis Sebastian. "Kupikir hanya berdampak sedikit ke bisnisnya... Ternyata sampai merambah ke seluruh keluarganya..."
Milady mengernyit karena mengingat keadaan keluarganya sendiri.
"Bangkrut karena sitaan Bank bisa membuat satu keluarga tersiksa. Aku merasakannya sendiri, Sebastian... sampai ibuku jadi gila gara-gara hal itu!" sahut Milady.
"Iya..." gumam Sebastian. "Aku minta maaf..."
"Kenapa jadi kamu yang minta maaf?!"
Sebastian diam.
Sedetik-dua detik mereka terdiam
"Sebastian?" Panggil Milady.
Wanita itu merasakan perasaan yang tidak enak, seketika...
Hati kecilnya berujar kalau ia tidak harus mendengar cerita ini.
Ia tidak harus terlibat dalam cerita ini.
Ia tidak harus tahu, daripada merasa sakit.
Namun, ia ingin dengar hal yang sebenarnya terjadi.
Sepedih apapun...
Kalau itu bisa mendekatkannya ke arah Sebastian...
"Milady... Aku mengenal pacar Ratna sejak SMA. Kami... Kami satu geng. Saat Ratna dan dia selingkuh, aku malah merasa lega. Aku memilih mengalah bersama Trevor pergi jauh... Namun Ratna terus terusan meneror Trevor, saat ia merasa depresi kepada kekasihnya..."
"Sebastian. Siapa..."
Sebastian diam.
Ia memandang Milady dengan nanar.
"Maafkan aku." gumamnya perlahan.
"Sebutkan namanya... Nama kekasih Bu Ratna, teman satu geng kamu, orang yang kamu bikin bangkrut..." Milady mulai gemetar.
"Aku..."
"Sebutkan Sebastian!!" jerit Milady.
Sebastian menarik napas berat. Lalu menghembuskannya dengan segala penyesalan di hatinya.
"Malik Adara."