
"Itu mereka datang..." Sebastian menggerakkan dagunya, menunjuk dua sosok wanita yang dari tadi menjadi pusat perhatian kaum lelaki di sekitar mereka, dan sedang menuju ke arah Sebastian dan Arman.
"Jangan beritahu Asse dulu, kita tidak ingin suasana damai hari ini terganggu kan? Tunggu 'orang saya' mengabari..." Kata Sebastian dengan suara rendah.
"Ya Pak..." Desis Arman lemah. Terus terang, kini perasaannya campur aduk dan ia masih kaget.
Apalagi saat ia melihat Ayumi...
Kenapa saat ini wanita itu begitu berseri?
Dengan senyuman menanggapi candaan Milady, matanya menyipit dan pipinya memerah.
Begitu... Manis.
Apakah Ayumi tahu hal ini?
Dilihat dari tingkah lakunya yang mencoba segala cara untuk mencelakai Sebastian, sepertinya Ayumi belum mengetahui identitas sebenarnya dari orang tuanya...
Sebastian dan Arman juga belum mengetahui konspirasi macam apa yang terjadi sebenarnya.
Apakah bijak mengetahui kebenaran di balik kisah ini? Bagaimana kalau malah mengancam keselamatan semuanya?!
Yang jelas... Karena kematian Yamaguci Ito lah identitas Tadashi yang sebenarnya terkuak.
Jadi cepat atau lambat akan ada pihak yang mencari Ayumi.
Jangan sampai negara mereka dituduh menyembunyikan 'saksi', dan Ayumi dinyatakan sebagai DPO. Efeknya bisa jadi lebih parah dan merambat kemana-mana.
Juga akan berdampak buruk bagi bisnis Sebastian.
Milady langsung mengambil tempat favoritnya.
Pangkuan Sebastian.
Diiringi dengan seringai bahagia Pria berambut putih itu yang langsung memeluk istrinya dengan penuh rasa syukur.
Ayumi memperhatikan mereka.
Lalu ingatan wanita itu sesaat kembali ke masa lalu.
Sering ia pergoki Otousan dan Okaasan-nya berdansa di tengah malam, saat Ayumi seharusnya sudah tertidur. Alunan lagu mellow berbahasa Jepang mengiringi gerakan mereka.
Di akhir lagu, biasanya Otousan akan mencium dahi Okaasan.
"Kalian selalu mesra ya..." Kata Ayumi, wajahnya tampak iri, tapi lebih ke salut dengan hubungan kedua insan berbeda umur ini.
"Kalau kamu mau duduk di pangkuan Mas Arman, kita juga ngga protes kok..." Goda Milady.
"Duduk di pangkuan Ares?!" Ayumi perlahan melirik Arman.
Pria itu terlihat sedang menyangga dagunya sambil menatap Ayumi sambil menyeringai.
Ayumi menjulurkan lidah ke arah pria itu.
"Yang ada, aku diseret ke dalam mobil setelah itu, dan ngga kembali lagi ke sini..." Sambung Ayumi.
"Kehidupanku ngga melulu soal 'itu' kali..." kata Arman sedikit protes.
"Sejak kapan?"
"Sejak dihajar 'Boss-Sama'..."
"Lihat saja nanti malam..." Dengus Ayumi.
"Hm..."
Ayumi melirik Arman. Pria itu kini menatapnya dengan sendu.
"Apa maksudnya 'Hm'...?!" Tanya Ayumi, sedikit sewot.
"Hm..."
"Ngga jelas." Dengus Wanita itu.
"Ngomong-ngomong... Kamu dan Mas Arman dari tadi di sini Mas? Katanya kamu beli saham di sini, kok ngga berkeliling?" Tanya Milady.
"Aku cukup melihat berapa persen pengunjung yang tersenyum untuk bisa tahu aku berinvestasi di tempat yang tepat." Kata Sebastian.
"Beda ya kalau sudah pakar..."
"Itu karena pengalaman, sayang..." Sebastian mencium bahu Milady.
Beberapa wanita melewati meja mereka sambil cekikikan. Hari Sabtu cukup banyak pengunjung dari Jakarta dan kota lainnya, dan untuj saat ini kebetulan kebanyakan dari mereka adalah karyawan suatu perusahaan yang mengadakan gathering.
Para wanita itu melirik ke arah Arman, beberapa dari mereka melempar senyum menggoda, salah satu bahkan mengerling.
Arman otomatis membalas mereka dengan senyuman.
Namun ia sadar kalau di sebelahnya ada seseorang yang memperhatikannya lekat-lekat.
Dan terang-terangan menunjukan ketidaksukaannya.
Senyum Arman langsung menghilang.
"Kenapa kalau dengan wanita lain kamu begitu romantis dan terlihat baik, sedangkan denganku kamu sangat menjengkelkan?!" Tanya Ayumi sewot.
"Sepertinya kamu menganggapku siluman..." Kata Ayumi sambil menggeser mug kopi Arman ke depannya, dan menyeruputnya sedikit.
"Kalau butuh kopi tuh pesen sendiri sana!" Sahut Arman sambil merebut Mugnya.
"Ngantri... Malas." Ayumi kembali menggeser mug Arman ke depannya.
"Aku anti berbagi kalau soal kopi." Arman merebut kopinya lagi.
"Kalau aku adalah Janet, kamu akan kasih kopinya?"
Arman diam.
Sebastian dan Milady fokus ke Arman menunggu jawaban.
"Itu lain soal." Sahut Arman kemudian.
Lalu pria itu bersandar ke kursinya dan menggeser kopi di depannya ke Ayumi.
Ia mengalah...
Membuat Ayumi menjadi badmood saat itu juga. Entah kenapa.
Dipikirannya langsung mengambil kesimpulan : Jadi benar kalau Ayumi adalah Janet, Arman akan memberikan kopinya.
Lalu rengutan Ayumi semakin terlihat.
Sebastian dan Milady melirik kedua pasangan di depannya dengan geli.
"Kita jalan sedikit ya. Saya mau bicara dengan Asse..." Kata Sebastian sambil menepuk bo kong Milady dengan lembut.
"Oh... ada hal penting?" Tanya Milady.
"Aku sudah lama tidak bicara dengan anak Tadashi." Sebastian melayangkan pandangan penuh arti ke Arman.
Arman hanya menghela napas.
"Baiklah...karena keadaannya mulai kondusif ya." Desis Milady sambil berusaha berdiri dari pangkuan Sebastian.
Arman berdiri sambil membantu Milady beranjak, dengan meraih tangan wanita itu. Milady otomatis memeluk lengan Arman, saat Arman meraih tas Milady dan menyampirkannya di bahunya.
"Mas Yan, aku dan Mas Arman jalan duluan ya." sahut Milady sambil menarik Arman.
Sebastian menatap pemandangan itu sambil berkacak pinggang.
"Astaga... Harus kuapakan si Cassanova ini?!" Gerutunya.
"Sekarang mengerti kan bagaimana perasaan saya..." Sungut Ayumi sambil meraih tasnya dan mengalungkannya asal-asalan di bahunya. "Coba bayangkan tadi pagi saat menuju ke sini, Boro-boro bawain tas saya, yang ada malah saya yang bawain tasnya, dan jaketnya, dan senjatanya, belum termasuk bekalnya ..." Omel Ayumi sambil mulai berjalan keluar cafe.
*****
"Asse... Kamu tahu bagaimana kali pertama Tadashi mengenal Yamaguci Ito?" Tanya Sebastian saat mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak yang menurun.
Di depan mereka tampak Milady dan Arman melahap jajanan hot dog sederhana sambil bercanda.
Entah bagaimana, Sebastian tidak cemburu.
Padahal seharusnya pemandangan di depannya lumayan membuat hati panas.
Arman sangat cocok bersanding dengan Milady.
Keduanya berparas menawan, dan memiliki senyuman memikat.
Bagaikan Putri dan Pangeran di negeri dongeng...
Namun,
Sikap Arman yang memperlakukan Milady dengan begitu romantis lah yang membuat Sebastian tenang.
Itu berarti Arman memperlakukan Milady seperti wanita kebanyakan.
Itu berarti, Milady bukan orang yang special di mata Arman.
Beda halnya dengan wanita Jepang manis di sebelahnya ini.
Perlakuan Arman pada Ayumi akan membuat tercengang bagi orang-orang yang mengenal Arman.
Karena pria itu memperlakukan Ayumi begitu dingin.
Sampai-sampai orang akan berpikir kalau Ayumi berbuat kesalahan yang tidak dapat ditolerir oleh Arman.
Namun malah sebaliknya.
Sikap Arman ke Ayumi adalah bentuk kasih sayang yang apa adanya. Kenyamanan pria itu yang sejujurnya, selayaknya dia yang sebenarnya.
Biasanya memang seorang bayi lebih cengeng ke ibunya daripada ke orang lain, sampai-sampai orang menghakimi si ibu tidak pandai mengurus anak.
Namun sebenarnya malah sebaliknya.
Saking si anak merasakan nyaman yang amat sangat terhadap ibu mereka, mereka menunjukan diri mereka apa adanya.
"Saya tidak tahu... Maaf. Saya mengenal Yamaguci-Dono sejak kecil. Walaupun memang tidak terlalu akrab, hanya 'say hai' kalau bertemu, tapi orang tua saya selalu mendahulukan Yamaguci-Dono diatas kepentingan semuanya." kata Ayumi.
Sebastian memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya, ia memandang ke arah puncak pegunungan di depannya.