Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
First Fight



Hari-hari berjalan seperti biasa, seharusnya.


Namun, Sebelumnya...


Tadi malam...


Ayumi berjalan dengan langkah percaya diri dan wajah muram tanpa senyumnya.


Itu bukan wajah yang biasa ia tunjukan, biasanya ia menunjukan wajah ramah sumringah khas wanita Jepang polos yang kalem. Sebaliknya, wajah muram ini...


Adalah ia yang sebenarnya.


Sejak ia mengetahui siapa kedua orang tuanya, dan kenyataan kalau ia sangat menyayangi mereka, dan harus kehilangan mereka sekaligus dalam waktu seminggu.


Bukan karena penyakit tua ataupun bencana alam...


Tapi karena...


Ayumi masih menyalahkan Sebastian untuk itu.


Sejak itu wajah muramnya mulai terbentuk. Ia sudah lama tidak bisa tersenyum secara tulus.


Ayumi sebenarnya bukan pemakai narkoba, tidak seperti kedua orang tuanya.


Ia mengenal Yamaguci sejak ia sekolah dasar.


Saat itu kedua orang tuanya mengenalkan Yamaguci sebagai saudara jauh mereka yang akan membiayai semua pengeluaran keluarga, termasuk biaya pendidikan Ayumi.


Saat Ayumi masuk ke Sekolah Menengah, ia mulai menyadari kalau Yamaguci bukan hanya seorang pengusaha obat influenza paling paten di Jepang, namun memiliki kehidupan lain yang dekkat dengan dunia kriminal. Selain pengusaha, 'paman angkat'nya itu juga adalah salah seorang petinggi Yakuza.


Dan saat akhirnya ayahnya berhasil menjadi orang kepercayaan Sebastian di Garnet Grup cabang Jepang, Ayumi bertemu dengan Trevor.


Ia dan Trevor selalu bersama kemana-mana. Mulai dari kuliah, bergaul dengan teman-teman, bolak-balik Jakarta-Tokyo, sampai saat Trevor bekerja, bahkan hampir saja pria itu dipindahkan ke cabang Tokyo untuk bisa lebih dekat dengan rumah Ayumi sampai...


Kejadian itu merubah semuanya.


Ayumi menyesal ia memberikan obat ayahnya untuk Trevor.


Ia sebenarnya tahu itu sejenis narkotika, namun kata ayahnya, itu masih aman untuk pengobatan.


Ternyata hasilnya fatal.


Itu obat dosis tinggi dan narkotika paling efektif untuk penghilang rasa sakit. Formula baru yang dikembangkan Yamaguci dan sedang dalam uji coba.


Ayahnya sedang mencari kelinci percobaan... Dan Ayumi memberikannya ke Trevor.


Ayumi menghela napas.


Saat ini ia hanya bisa berlindung ke Yamaguci.


Hanya Yamaguci yang mau menerimanya.


Jadi,


Apapun yang Yamaguci minta, Ayumi akan menurutinya dan memperlakukannya seakan pria itu orang tua kandungnya.


Sekaligus...


Membalas dendam ke Sebastian


Ayumi melangkahkan kakinya dengan langkah penuh keyakinan ke area gedung di atas tebing pinggir pantai.


Ia menyerahkan tasnya ke bagian pemeriksaan dan masuk ke alat deteksi.


"Hei... Ada GPS di tas kamu." sahut salah seorang anggota.


Ayumi mengangkat alisnya dan berbalik menghampiri pria muda berbadan kurus, penuh tato.


"GPS?" tanya Ayumi.


Anggota itu mengacungkan pistol ke dahi Ayumi.


"Kamu mata-mata polisi, hah?!" tanya anggota itu.


Anggota geng yang lain langsung mengerubunginya dengan pandangan mengancam.


"Bukan." sahut Ayumi tegas. Ia menghampiri tasnya.


Itu tas yang Rady-san kirimkan...


Wanita itu... Umpat Ayumi sambil menghela napas berat.


"Di sebelah mana GPSnya?" tanya Ayumi.


"Di bagian logo."


"Bisa dibongkar?"


"Ya."


"Coba bongkar, lalu laporkan ke Yama-dono."


Ayumi menunggu di depan alat deteksi. "Aku tidak akan kabur kemana-mana, sebagai jaminan."


"Ada apa?" Yamaguci datang dan menghampiri Ayumi. Ia memang sudah menunggu kedatangan Ayumi, namun CCTVnya menunjukkan kalau Ayumi tertahan di bagian pemeriksaan.


Semua anggota menundukkan wajahnya menghormat saat melihat Yamaguci.


"Calon istri Trevor mulai membuat ulah..." sahut Ayumi sambil menunjuk tasnya.


Yamaguci tersenyum sinis.


"Dia bukan hanya calon istri pacar kamu... Dia juga memiliki hubungan mesra dengan Sebastian."


"Hubungi Hari Fadil..." desis Yamaguci ke salah satu anggota. Lalu memberi kode ke Ayumi supaya masuk ke dalam ruangannya.


*****


Trevor datang dengan langkahnya yang lebar menuju ke ruangannya.


Ia menatap Milady dengan tajam dan memberi kode untuk masuk ke ruangannya.


Milady langsung merasa ada yang tidak beres.


Ada apa lagi, ini...


Dan saat Milady masuk ke ruangan Trevor, Pria itu langsung mendesak Milady ke dinding.


"Kamu berada di pihak siapa sebenarnya, hah?" desis Trevor dalam. Suaranya penuh kebencian.


Milady hanya menatapnya.


Ia tahu suatu saat Trevor pasti akan bertanya.


Dan Milady sudah mempersiapkan jawabannya.


Mungkin sekaranglah saatnya.


"Aku di pihak Sebastian."


Trevor menatapnya tajam.


"Kamu juga..." desisnya sinis.


"Iya." sahut Milady tegas.


"Kenapa semua orang mudah sekali dimanipulasi ayahku?"


"Kenapa kamu mudah sekali dimanipulasi Ayumi?"


Brakk!!


Trevor menonjok tembok di samping Milady, menunjukan kekesalannya.


Milady memejamkan mata karena shock, walaupun ia sudah memprediksi kalau Trevor pasti akan sangat marah. Namun ternyata saat menghadapi kenyataan, tetap saja ia kaget dan kakinya terasa lemas.


"Padahal kamu yang paling aku percaya di sini..." Ujar Trevor. "Dan sekarang kamu juga berkhianat? Bagaimana dengan perjanjian kita?! Hah?!"


"Kamu bohong..." gumam Milady.


"Apa? Aku bohong? Bohong bagaimana maksud kamu?"


"Kamu selama ini tidak percaya aku, tidak percaya ayahmu... Satu-satunya orang yang kamu percaya hanya Ayumi. Benar kan?!"


Trevor terdiam.


"Trev... Aku dan Sebastian saling mencintai. Kami tidak bisa bersama, karena kamu. Kami mengorbankan cinta kami, karena kamu... Tapi kamu malah berpaling dari kami, dan selalu berkiblat ke Ayumi. Kurang apa lagi pengorbanan kami?"


Milady menegakkan berdirinya dan menghela napas.


"Kamu pasti tahu dari GPS yang aku pasang di tas Ayumi. Dia pasti melapor padamu... Sekarang, kamu kan merasa paling pintar... Coba, kamu lacak keberadaan GPS itu terakhir. Aku berani bertaruh... Pasti ada di kantor pusat Yakuza klan Yamaguci di Enoshima..." desis Milady sinis, lalu meninggalkan Trevor keluar dari ruangan pria itu...


*****


Dengan gemetar Milady mengangkat mug kopinya ke bibirnya dan menyesapnya perlahan.


Ini pertengkaran pertamanya dengan Trevor...


Jadi, walaupun sudah diprediksi sejak awal ia memutuskan untuk memihak Sebastian, tetap saja Milady merasa sangat terpukul.


Saking kesalnya Pria itu sampai menonjok tembok di samping Milady, Trevor pasti awalnya sangat mempercayainya...


Milady bisa merasakan rasa marah yang Trevor rasakan sekarang, sekaligus kesedihannya.


Setitik air jatuh di tengah gelas, bersatu dengan hitamnya kopi.


Air matanya...


Seharusnya bukan aku yang sedang menangis... Pikir Milady.


Namun bagaimana... Ia hanya seorang wanita tak berdaya.


"Rady-Chan..." sebuah elusan di punggungnya menyadarkan Milady.


Eiichi menatapnya sambil tersenyum masam.


"Y...ya...?" Milady menghapus air matanya.


"Pak Trevor minta kutemani ke Beaufort Tech... Sepertinya masalah GPS yang kamu pasang di tas. Aku sudah minta izin ke Boss-Sama."


"Iya... Pergilah. Aku akan di sini, memback up pekerjaan kalian."


"Tapi kamu tak apa, kan?"


Milady mengangguk.


"Jangan kuatir... Ini hanya...shock. Ini pertama kalinya kami bertengkar..."


"Pak Bram sudah datang. Dia cari kamu. Sebaiknya kamu tidak menemuinya dengan wajah seperti itu, nanti dia banyak tanya..." sahut Eiichi.


Milady mengangguk, mencoba meyakinkan Eiichi.


*****