
Starbucks coffee Ueno Onshi
Duduk di tepi jendela raksasa, ditemani dengan kopi dan laptopnya, Milady Adara yang asik memandangi bunga sakura yang mekar sempurna.
Tangannya menopang dagu dan bibirnya tersenyum tipis mengagumi keindahan alam, bukti kebesaran Yang Kuasa.
Terbayang dirinya memakai gaun putih, di bawah pohon sakura, mengikat janji sehidup semati dengan cinta sejatinya.
Atau dirinya bergandengan tangan menyusuri taman dengan kelopak sakura berguguran sambil mengawasi anak-anaknya berlarian...
Bukannya seperti sekarang, bekerja bersama Trevor yang sibuk mengomeli anak buahnya...
Milady mendengus saat Pria itu akhirnya kembali duduk setelah beberapa menit sibuk mondar-mandir sambil menggerutu.
"Gawat nih..." Sahutnya.
"Apaaaaa..." Desis Milady agak malas menimpali Trevor.
"Ijinnya baru keluar besok. Itupun hanya untuk memasuki area. Izin membangun entah kapam mereka keluarkan..."
"Ya bagus dooong... paling enggak kita ada progres."
"Kupikir bisa hari ini."
"Ya Ampun Trev... Pikirmu, dirimu nih siapaaaaaaa... Bukan ayahmu toh?! Ya terima sajaaaaa..." Desis Milady.
"Iya yah... Kenapa aku jadi gusar begini?!" Desis Trevor sambil menyeruput espressonya.
"Kamu tuh gugup karena keberadaan Ayumi diujung mata..."
"Iya ngga usah disebut dong. Aku juga tahu..."
"Ya udah sana temuin, aku bisa balik sendiri ke hotel..." Sahut Milady.
Trevor terdiam.
"Sakuranya indah ya..." kata Pria itu sambil menyeringai.
Milady berdecak.
Cara berdalih yang sudah out of date...
Trevor sekarang sedang kalang kabut. Pikir Milady.
Baru kali ini Milady melihatnya seperti itu.
Biasanya ia lebih tegas dan lebih tenang.
Kalau menyangkut Ayumi, diri Trevor menjadi tak terkendali.
"Apa? Mau ditemani?" Pancing Milady.
Trevor melipat tangan di dadanya, lalu matanya menerawang memandang keluar jendela.
Entah apa yang ia lihat.
Yang jelas bukan taman di depan mereka.
Beberapa gadis Jepang berulang kali berpura-pura mondar mandir di sekitar mereka. Mereka sibuk melirik ke arah Trevor, memperhatikan semua tingkah laku pria itu.
Orang Jepang biasanya antipati dengan orang asing.
Tapi jenis yang seperti Trevor, susah untuk diacuhkan.
Wajah tampan, rahang tegas, mata tajam berwarna madu dan hidung mancung.
Kulit coklatnya yang eksotis menambah kerupawanannya. Apalagi, sosoknya yang tinggi dengan posturnya yang ideal.
Milady bertanya-tanya...
Bagaimana rupa Sebastian waktu muda dulu...
Mungkin terlihat lebih manly dibanding Trevor. Karena cara Trevor menatap orang lain, lebih lembut dan penuh perhatian.
Cara Sebastian menatap orang lain, penuh kewaspadaan dan rasa curiga.
Ah!
Kenapa Milady jadi membandingkan mereka?
Tidak ada yang sebanding, semua dengan ciri khas masing-masing...
"Panggil dia kesini." Desis Milady akhirnya.
"Kesini?"
Milady mengangguk.
"Dekat, kan?"
"Iya, dekat..."
"Lalu...?"
"Dia belum tahu aku di Jepang."
"Kalau dia tidak berbuat salah, dia akan senang dengan kejutan, kalau ia berbuat salah ia pasti marah dan menuduh kamu sidak."
"Hm..."
"Apa? Kamu takut kemungkinan yang kedua? Berapa lama sih kalian saling mengenal? Lebih lama dari aku kenal kamu kan?"
"Hm... Oke. Aku panggil dia..."
Dan Trevor menyambar ponsel di depannya.
Ayumi Sakurazaka.
Berparas manis khas Jepang, kulit putih bersih bersinar, mata besar, hidung bangir, rambut panjang dan bibirnya mungil merekah.
Ia menatap Trevor dengan mata berbinar, seakan pria itu adalah dunianya.
Untuk seukuran wanita Jepang, postur Ayumi termasuk ideal. Ia mengenakan gaun terusan bermotif floral yang serasi dengan musim semi.
"Mikaeru!" Sapanya saat ia tiba di restoran.
Trevor menatapnya dengan terpana.
Sejak kapan wanita ini menjadi begitu manis?
"Kamu di sini? Tidak birang-birang, aku bisa jemputto di kuukou."
Bahasa Indonesia Ayumi lumayan lancar. Walaupun tidak dapat mengucapkan huruf L dan diganti menjadi R, Ia bersikeras untuk belajar agar bisa berkomunikasi dengan Trevor lebih mudah.
Trevor sendiri tidak bisa bahasa Jepang.
Dan dia duduk di sebelah Trevor sambil memperhatikan wajah pria itu dengan berbinar.
"Surprise..." Sahut Trevor.
Oke,
Dia senang...
Jadi bagaimana sekarang...
"Aku kesini untuk bekerja. Aku bersama Milady. Kamu baik-baik saja kan?"
Ayumi Mengangguk.
"Aku baik. Kemarin sudah ke dokter dan kondisi semua baik." Ayumi mencari ponselnya di tas tangannya. Setelah mendapatkannya dia menscroll gambar dan memperlihatkan hasil USG janinnya.
Trevor menatapnya tanpa ekspresi.
Setelah beberapa saat menscroll, ia menyerahkan kembali ke Ayumi.
Wanita itu menatap Trevor dengan dahi berkerut. Ia menyadari keanehan kekasihnya.
"Kamu tidak senang..." Sahutnya menyimpulkan.
"Hm... Aku juga mau bertanya sama kamu..." Desis Trevor sambil mengambil ponselnya di saku celana.
Lalu memperlihatkan foto investigasi dari Milady.
Ayumi menarik napas.
Lalu wajahnya berubah pucat.
"Siapa mereka?" Tanya Trevor.
Pertanyaan sederhana.
Dengan jawaban sulit.
*****
Milady berjalan-jalan di sekitar taman, ia memberi waktu Trevor untuk berdua dengan Ayumi di restoran.
Di tangannya terdapat crepes manis dengan toping eskrim yang dihiasi lembaran emas.
Sendirian...
Milady menatap sekelilingnya.
Lalu ia tidak tahan lagi.
Ia duduk di bangku terdekat.
Dan menyambar ponselnya.
"Hm?" Sahut Sebastian dari seberang.
"Temani aku. Tega banget membiarkan aku jalan-jalan sendiri..." Desis Milady.
"Ngapain kamu jalan-jalan? Kerja dong... Jangan buang waktu."
"Ck..." Milady berdecak. "Izin baru keluar besok, Pak. Jadi hari ini setelah mengunjungi kantor cabang, kami memutuskan untuk makan siang di Taman Ueno." Milady berbicara dengan bahasa resmi.
Sebastian berjalan mendekat dan mencium pipi wanita itu.
Lalu menangkup eskrim dengan mulutnya.
"Enak?"
"Biasa aja."
"Hehe..." Milady mendekat dan menjilat tetesan eskrim di sudut bibir pria itu.
"Gimana main mata-matanya? Seru?!"
Sebastian duduk di samping Milady.
"Nanti malam ke hotelku ya." Desis pria itu.
"Hm... Enggak ah, aku mau berendam di onsen, sama Trevor."
"Oh... Ya udah, aku jadi pesan Kabuki kalo begitu."
"Kabukinya calon istri kamu juga?" Sindir Milady.
Sebastian menghela napas.
Lalu menatap pohon sakura yang berjajar di depan mereka.
"Sebastian..." Milady meraih tangan pria itu. "Aku hanya menjalankan keinginan kamu..."
"Hm..." Desis Pria itu.
"Trevor sedang terguncang. Kamu lihat sendiri wajah Ayumi saat diperlihatkan foto-foto itu."
"Iya."
"Iya apa?"
"Setelah urusan kamu sama Trevor selesai, hubungi aku." Sebastian beranjak berdiri.
"Mau kemana?"
"Kerja."
"Kerja?"
"Sudah ngga ada urusan di sini..."
"Iya maksudku kerja ya dimana? Di Jepang? Atau kamu pulang?"
"Hm... Nanti juga tau." Desis Sebastian.
Dan pria itu meninggalkan Milady sendiri lagi.
Milady bisa melihat Sebastian masuk ke Roll Roycenya yang diparkir di ujung jalan.
Para bodyguardnya berjaga di sekitar mobil.
Milady menghela napas...
Kenapa kalau bersamanya, Sebastian berubah menjadi kekanak-kanakan...
Jadi karena ia bosan, Milady memutuskan untuk kembali ke restoran.
Mudah-mudahan Trevor sudah selesai dengan Ayumi. Karena ia ingin menghabiskan waktu untuk bekerja sendirian di cafe, lalu kembali ke hotel.
ia juga tidak mengharapkan Trevor ada di hotel bersamanya. Bahkan mereka memesan kamar yang berbeda.
Tapi seperti biasa, Milady suka melihat wajah cemburu Sebastian.