
Milady berjalan sambil mengikuti Sebastian dengan langkah ragu.
Ia sedang memikirkan Susan.
Juga sedang memikirkan kehidupan Sebastian.
Milady... Hanya orang awam kebanyakan. Hanya wanita kantoran biasa, dan hanya warga negara biasa.
Sehari-harinya kehidupannya berjalan normal seperti wanita lain. Bersenang-senang dan bekerja tanpa beban, bisa pergi kemana saja tanpa ada rasa kuatir.
Tapi...
Sosok di depannya ini...
Milady mengerti bahwa kesuksesan yang Sebastian dapatkan selama ini diperoleh dengan perjuangan.
Tidak bisa diperoleh semudah menjentikkan jari.
Walaupun ia peroleh dengan menjentikan jari pun, pasti akan ada yang dikorbankan...
Entah itu nyawanya, keluarganya, orang-orang yang disayanginya...
Sebastian bisa mendapatkan apapun yang ia mau, barang-barang berkualitas yang ia suka, dengan proses administrasi yang dipermudah.
Namun, ada harga yang harus dibayar mahal untuk itu.
Bagaimana Sebastian melaluinya selama...30 tahun? Bisa jadi 40 tahun lamanya? hidupnya yang keras dan setiap hari mendapatkan teror...
Bagaimana Sebastian bisa tidur nyenyak dengan segala kekuatiran yang mengancamnya dan keluarganya?
Malam ini...
Milady merasa hidupnya dijungkirbalikkan dengan sangat drastis?
Setelah ia mengenal... Pria ini.
Ini bukan hanya tentang cintanya, bukan hanya tentang perasaan mereka berdua.
Hidup Sebastian yang penuh lika-liku, akan menjadi bagian dari hidupnya juga, pada saat Milady memiliki perasaan khusus padanya...
Fotonya, dengan Sebastian.
Di Jepang...
Mungkin saat di taman Ueno? Saat Sebastian mencium pipinya di depan umum.
Dan...
Setingkat Yakuza sedang menerornya.
Mereka benar-benar ada di dunia nyata.
Bukan hanya di film atau novel mafia.
Mereka benar-benar ada...
Dan kini Milady sedang merasa ketakutan...
Milady menghentikan langkahnya.
Kakinya tiba-tiba terasa lemas.
Di otaknya tersirat bayangan-bayangan buruk, seperti hal-hal yang akan dilakukan para gangster terhadap wanita seperti dirinya...
Atau ancaman terhadap keluarganya...
"Kenapa?" tanya Sebastian sambil menoleh ke belakang.
Milady menggigit bibirnya dan menatap Sebastian.
Raut wajahnya tampak kuatir.
"Hm?" tanya Sebastian lagi, meminta penjelasan mengenai raut wajah Milady.
"Aku..." Milady mengangkat bahunya sekilas, lalu tersenyum dipaksakan. "Aku takut..."
Suaranya terdengar gemetar.
Sebastian menghela napas berat.
Ini yang ia tidak ingin lalui.
Orang-orang yang disayanginya, merasa ketakutan. Bukan padanya, tapi pada pekerjaannya, pada kehidupannya.
Karena itu, ia tidak ingin Trevor terlibat dan meneruskan perusahaannya.
Sama seperti Baskara yang mengambil segala macam cara agar Alex tidak meneruskan jejaknya.
Obsesi untuk kaya memang bagus.
Tapi cara untuk mendapatkan kekayaan itu, bisa mengancam hidup orang lain.
Sebastian dan Baskara sudah terlanjur mengambil langkah lebih tinggi, dan mereka menyesalinya.
Seharusnya mereka membatasi pergerakan mereka di dunia bisnis.
Bukankah tujuan awal mereka hanya untuk kesejahteraan keluarga?
Kenapa malah jadi melenceng untuk kesejahteraan negara?
"Tidak perlu takut. Mereka hanya menggertak agar aku takluk. Tapi mereka tidak akan menemukan apapun padaku. Seluruh formula disimpan oleh keluarga Bagaswirya." desis Sebastian.
"Apa begitu pentingnya formula itu?"
"Bagiku, tidak. Untukku, kondisi Trevor lebih penting. Kalau suatu saat ia sudah bisa mengatasi mentalnya sendiri, aku tidak membutuhkan obat itu lagi. Namun... Bagi pedagang narkotika seperti Yakuza, Triad, dan Mafia, hal itu penting karena bisa langsung menambah cuan dan kuasa mereka."
Sebastian menghampiri Milady dan mengelus pipi wanita itu.
"Ini sebabnya..." suara Sebastian terdengar seperti keluhan sekaligus penyesalannya.
"...ini sebabnya aku tidak bisa memperistri kamu..." desisnya. "Kamu lebih aman kalau bersama Trevor. Karena bukan dia yang akan menjadi penerus kerajaanku nanti."
Milady membelalakkan matanya.
"Apa...maksud..." Milady tidak sanggup meneruskan kalimat selanjutnya.
"Ini bukan tempat yang tepat untuk membahasnya..." sahut Sebastian sambil menatap ke sekeliling mereka. "Yang jelas... Selama ini aku mengurungkan niatku untuk memiliki kamu seutuhnya, karena tidak ingin melihat kamu seperti ini... Kamu sekarang tahu kan, kita hanya sebentar bertemu di taman itu, kamu sudah dijadikan objek untuk menggertakku."
Jemari Sebastian menyusuri bibir Milady. Wanita itu masih menatapnya dengan pandangan sedih yang menyayat.
"Misi kita terhadap Trevor, hanya tambahan... Yang utama bagiku adalah kamu dan Trevor ada di tempat aman."
"Dan... Bagaimana dengan kamu?" tanya Milady.
"Pak Sebastian." Arman menghampiri Sebastian. Mengalihkan perhatian Sebastian dari Milady.
Arman membisikkan sesuatu pada Sebastian.
Sebastian tersenyum lembut pada Milady.
"Aku pernah menghadapi yang lebih parah..."
Dan pria itu meneruskan jalannya ke arah auditorium.
*****
Arman menemukan Yazaki Eiichi sedang di desak oleh Trevor di salah satu area samping mall.
Ya Ampun, malam ini rasanya melelahkan.
Kenapa semua anggotanya terdesak sih? Memangnya aksi mereka cukup menarik perhatian atau bagaimana yah... Keluh Arman sambil menghampiri Trevor setengah berlari.
"Malam Pak, ada masalah?" tanyanya ke Trevor.
"Tidak ada, kami hanya mengobrol." sahut Trevor sambil menatap Arman dengan tatapan sinis.
"Kalau begitu, saya ingin Yazaki ikut kami, karena ayah anda sudah akan pulang."
"Eiichi tetap di sini." sahut Trevor.
Arman memicingkan mata, lalu menyeringai. Ia berusaha sabar.
"Tidak bisa, Pak. Kami membutuhkannya untuk mendampingi Pak Sebastian."
Trevor tertegun memandang Arman sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Selain bekerja di kantor ayah, sebenarnya kalian itu mengambil sampingan apa, sih? Jelas sekali kalian bukan karyawan biasa. Terutama kamu yang selalu berjaga di depan kantor ayah..."
"Pak Trevor bisa saja..." kekeh Arman. "Tapi bapak salah sih..." sahutnya.
"Salah dimana?" tanya Trevor.
"Justru... pekerjaan kami di Garnet yang malah part-time..." Arman mencondongkan tubuhnya sambil berbisik dan menyeringai penuh arti.
Trevor menatapnya dengan emosi yang tertahan. Namun ia tidak bisa membalas ucapan Arman.
Ayahnya... Selalu penuh rahasia.
Terutama padanya...
Jadi, Trevor memutuskan sejak lama untuk tidak terlalu ikut campur.
Dan akhirnya Trevor memutuskan menyerah saja dan berjalan berlalu dari situ.
"Yazaki-San... Lain kali kamu bisa lebih berhati-hati supaya tidak terlalu menarik perhatian..." Arman berbicara dengan Eiichi sambil berjalan ke posisi Sebastian saat ini.
Eiichi mengikutinya sambil memperbaiki kerah kemejanya yang tadi dicengkeram Trevor.
"Anooo... Saya baru kali ini diserahi tugas sebagai bodyguard. Jadi sepertinya saya sedikit terlalu bersemangat." sahut Eiichi.
"Untuk Pak Trevor, karena kamu bekerja bersamanya setiap hari, lain kali dia tanya, bilang saja silahkan tanyakan sendiri ke ayahnya. Saya pikir kalau kerja kamu bagus, dia akan menyerah sendiri."
"Baik, Pak Arman."
"Ah iya... Susan Off Duty yah."
"Ha? Nani ga okotta?!" Seru Eiichi kaget.
Arman menatap Eiichi dengan pandangan bertanya.
"Eer... Apa yang terjadi?" Eiichi memperbaiki kosakatanya.
"Kelihatannya dia terlibat hubungan pribadi dengan salah satu anggota keluarga Diamond..."
"Hm... Bukankah itu menyalahi aturan?"
"Iya, makanya Boss minta dia dinonaktifkan untuk sementara."
"Jadi ada peluang dia akan kembali, kan?"
"Mungkin."
Eiichi merasa ia tidak perlu bertanya lebih jauh lagi, karena sudah melewati ranah pekerjaannya.
*****
Beberapa hari setelahnya...
Eiichi menenteng tas kertas berisi donat dan kopi yang ia beli dari cafe di lantai bawah gedung sambil bersiul-siul dan melangkah dengan ringan.
Bekerja di Indonesia, menurutnya sangat menyenangkan, ternyata.
Budaya kerja di sini sangat santai, walaupun tetap bekerja dengan serius. Semua makanan dari berbagai negara tersedia, bahan baku dan perlengkapan rumah tangga sangat murah.
Istri Eiichi sekarang tidak bekerja, mereka disewakan apartemen di dekat kantor oleh Boss-Sama, dan sekarang Noriko sedang gemar mencoba berbagai macam masakan.
Juga, warga negara di sini ramah-ramah.
Istrinya yang awalnya sama sekali tidak bisa bicara bahasa Indonesia, sekarang sudah pandai ceplas-ceplos diajari ibu-ibu saat beli sayuran di pasar.
Dan yang paling Eiichi suka, ia tidak harus kerja sampai larut malam.
Ia mulai kerja jam 9, dan bisa pulang jam 17.
Eiichi dulu memang tinggal di Indonesia, namun untuk bersekolah. Ia baru kali ini merasakan bekerja, bahkan untuk perusahaan sebesar Garnet Grup, semua dijalani dengan santai.
Yang penting target tercapai tepat waktu. Tidak harus forsir tenaga...
"Eiichi-San..." Sapa Ayu, si Operator lantai 20 sambil menunduk.
"Hai Ayu-San... Lagi makan apa?"
"Bubur kacang ijo. Mau? Kebanyakan buat Ayu soalnya... "
Eiichi mendekat dan mengamati mangkuk Ayu. Perutnya langsung bergejolak lapar.
"Mau tukar? Aku bawa donat."
"Asik... Setengah-setengah yah. Ayu ambil mangkuk satu lagi..."
Dan jadilah kini Eiichi dengan mangkuk berisi bubur kacang ijo porsi setengah dan donat yang dipotong setengah, sarapan berkualitas.
"Rady-Chan, Good Morning!" sapa Eiichi riang.
"Hai Ei-Chan. Laporan kamu yang sudah kureview ada di email yah." Milady sudah lebih dulu standby di mejanya. Wanita itu memang terkenal suka datang pagi-pagi, dan langsung bekerja. Lalu pukul 9 ia baru mulai sarapan, karena menunggu Trevor datang. Biasanya mereka sarapan bertiga dengan Bram.
"Oke, oke..." Eiichi menyalakan komputernya sambil membuka gelas kopi. Lalu meletakkkan salah satu gelas di meja Milady.
"Wah, makasih yaaa..." sahut Milady dengan senyumnya yang khas. "Hari ini Noriko masak apa?"
"Dia baru belajar ayam goreng ala Korea dan kimchi. Jadi kayaknya itu yang ada di kotak bentoku."