
Arman memasuki area security setelah mengantar beberapa pejabat negara tetangga ke Garnet Hotel.
Beberapa anak buahnya menyapanya sambil mempersiapkan senjata. Di ujung sana ada Bang Sa'ad yang langsung menghampirinya sambil mengulurkan tangan.
"Bro Arman." sapa pria berperawakan tinggi, gemuk, dengan kumis melintang itu.
"Bang. Makasih udah bersedia datang... Gimana seragamnya, nyaman?" Arman menjabat tangannya.
"Ngga biasa gue yang keren begini! Oke juga buat dipake kondangan!" sahut Bang Sa'ad sambil merapikan setelannya.
"Briefing sebentar yuk, berapa orang yang abang ajak?"
"Tuh, 40 orang..." Bang Sa'ad menunjuk anak buahnya yang sedang mengobrol.
Arman mengangguk puas.
"Oke, Jangan ada senjata tajam ya Bang, nanti tamu-tamunya kabur, hehe..."
"Lu pegang senjata?"
"Saya pegang bang, soalnya penembak jitu."
"Atapiloh! Ada petrus segala di sini?!"
"Ada Bang. Udah tahu daftar tamu-tamunya kan?"
"Daftarnya kagak ngarti gue bahasa engris segala!"
"Bapak tahu Pak Irwan Hartawi?"
"Ya tau lah! Sapa yang ngga kenal?!"
"Atmana Hadiprayitno?"
"Kenal! Bahaya dia, selain mantan preman, politikus, dia juga katanya backingnya mafia."
Arman mengangguk.
"Mereka berdua akan datang nanti, juga Presiden, Wakil Presiden dan keluarga masing-masing. Selain itu Presiden dan Perdana menteri dari negara-negara yang menjadi investor Garnet juga akan datang." Kata Arman.
Bang Sa'ad membeku.
"Ah! Lo becanda aje..."
"Tugas kita adalah mengamankan orang-orang yang mendekati mereka. Kita meeting sebentar ya Bang, saya mau kasih pengarahan." sahut Arman dengan senyum lembut misteriusnya.
Tiba-tiba keriuhan datang dari arah pintu masuk. Berbagai siulan berirama mesum dan cat calling menghiasi suasana.
Susan datang dengan gaya provokatifnya. Dari pakaiannya yang hanya terkancing setengah dan rambutnya yang agak berantakan, tampaknya ia mengawali tugas dengan...
Yah, pokoknya aktivitasnya bersama pacar bocah ingusannya itu.
Arman mencibir dan berdecak.
Menghampiri Susan lalu mengancingkan kemeja di bagian dada, dengan gerakan gemas dan sedikir kasar.
"Ngga usah bikin heboh, salah-salah kamu di kerubungi kumbang." omel Arman.
"Yang paling berbahaya dari semua laki-laki di sini kan Pak Arman..." sungut Susan sambil merapikan rambutnya.
Wanita itu duduk di meja sambil menyilangkan kedua kakinya, memperlihatkan pahanya yang mulus dan kecoklatan eksotis terbakar matahari.
Mata hijaunya berkilat.
Siulan dan desahan kagum para pria disana kembali bergemuruh.
Susan mengacuhkannya.
"Pak, Saya minta Tokalev dong..." sahut Susan setengah merayu.
"Off duty kamu 6 bulan, belum diijinkan Boss."
"Saya kurang percaya diri kalau ngga pegang senjata..."
"Bukannya kamu barusan pegang senjatanya Ipang yah..." sindir Ipang.
"Gitu aja ngomel... Kurang diservis yah pak? Tumben..." Susan balik menyindir.
Arman mengeluarkan SIG dari balik jasnya, lalu memeriksa kelengkapan peluru, kualitas slide (kokang) dan recoilnya .
"Ini aja, Tokalev saya sita dulu..." desisnya sambil menyerahkannya ke Susan. "Ngga usah bilang-bilang Boss. Jangan main pas kerja, banyak orang penting." sahut Arman.
"Ya sudahlah daripada ngga ada..." Susan menjilat barrel (bagian moncong) senjatanya sambil mengerling ke Arman. Tanda kalau wanita itu sedang merasa puas.
Kalau bira*hinya tidak tersalurkan, biasanya Susan agak muram.
Arman mendengus merasa iri.
*****
Adegan pernikahan Dimas sudah dijelaskan di novel Woman On Top. Adegan di sini adalah kejadian di balik layar yang dialami oleh satuan pengamanan Garnet Grup.
Masalah mulai muncul saat bagian tamu melaporkan indikasi mencurigakan dari beberapa orang.
Profesi orang-orang mencurigakan itu berbeda-beda.
Berikut perbincangan melalui Earpiece.
"Baper 2, target tampaknya menyamar menjadi tukang parkir, arah jam 2."
"Baper 3, ada lagi target mencurigakan, ajudannya Pak Samuel, Menteri P*****N."
"Boleh tanya ngga sih kenapa kode kita 'Baper'? Bawa Perasaan, maksudnya?"
"Bapak-Bapak Perkasa."
"Oh itu singkatannya. Bisa aja si Moses."
"Jangan sebut nama, nanti pencemaran nama baik."
"Baper 3, anj**y si Susan seksi abis pingin di remes."
"Eh pacarnya Susan 15 tahun lebih muda katanya. Adeknya Mbak Lady, yutuber kalo ngga salah."
"Kenapa Susan mau sama anak ileran sih? Kurang ganteng apa kita?!"
"Baper 3, Baper 5, kurangi gibah, coba perhatikan driver Perdana Menteri In**a, ada tatonya. Mana bisa sopir kenegaraan pake tato?"
"Baper 5, bisa aja Pak Arman lihatnya. Waktu muda ahli nyontek yah pak? Bisa tembus matanya lihat kunci jawaban..."
"Bukannya malah lebih cocok jadi pengawas ujian..."
"Yang ngomongin saya, ngga dapet nasi kotak yah."
"Siap Pak!! Target dikunci..."
"Ck..."
"Baper 4, saya melihat seseorang yang mencurigakan, arah jam 10... Ciri-cirinya mirip dengan salah satu orang yang kena tembak di kaki, jalannya juga agak pincang." Suara Eiichi.
"Yazaki-san, coba kamu turun, pastikan lebih dekat."
"Siap Boss-Kun."
"Baper 2, ada lagi tamu yang perawakannya kurus dan saya melihat bekas luka di area telinga. Dia tampak memperhatikan sekitar. Arah jam 12."
"Moses, periksa indikasi ada ajudan yang tidak terdapat di daftar. Sudah dihapalkan semua kan fotonya."
"Sudah hapal pak. Yang ini tidak ada di daftar."
Lalu...
"Pak! Saya sedang mengejar anak buah Yamaguci, mohon bantuan!!" suara Susan.
"Sial... Periksa GPS Susan!"
"Gedung Barat Pak, Tempat Mbak Lady!"
"Astaga..." Arman langsung beranjak dan melompati tembok untuk mengejar Susan.
"Wait... Tadi suara Susan, jadi gue ngegibahin dia denger dong?"
"Mampus lo Ses..."
"Daripada ngomongin saya, mendingan periksa ada penembak jitu di atap ngga?! Daritadi saya hujan peluru, breng**sek semua kamu!!" umpat Susan. Napasnya terdengar memburu, ia terlihat sedang berlari mengejar seseorang.
"Tuh kan dia marah..."
"Ada tuh sniper di arah jam 10, 25 meter 50 derajat arah tenggara."
Dzing!!
"Done satu. Lainnya mana, masih hujan peluru, itu."
"Gawat... Pak Arman, Mbak Lady di depan, bapak harus ngebut kayaknya."
"Saya lihat dia." Suara Arman terdengar stabil walaupun sedang berlari. "Kalian lindungi Susan saja. Sniper Yamaguci arah jam 11 dan 1, 4 orang. Habisi semua."
"Habisi maksudnya...dibunuh, gitu?"
"Mayatnya kremasi saja seperti biasa."
"Gila ini sih..." Moses menajamkan penglihatannya.
Dzing!!
"Done 2. Pak Kardi, ada satu di posisi anda itu. Jangan makan gorengan mulu, sisain."
"Pak Arman, hati-hati ada penyergap ke arah bapak dari kiri." sahut Pak Kardi.
"Pak Kardi, di kumis bapak ada remahan gorengan."
"Ah kamu nih..."
Dzing!!
Dzing!!
"Selesai 2 yah... Ini berkat kekuatan pisang molen." sahut Pak Kardi.
"Udah sepuh masih aja matanya tajem. Latihan penglihatan di mana sih pak? Tempat pole dance ya?"
"Saya itu ngga ada apa-apanya dibanding pak Arman..."
Dzingg!!
"Pak Arman jatoh!! Anjr****!!"
"Semua tetap di posisi! Jangan ada yang meninggalkan pos! Saya ngga papa." kata Arman.
"Itu sniper breng**sek ada satu lagi sembunyi di pohon!"
"Gue gibas nih! Sial..."
Dzingg!!
"Done! Nekat banget sampe masuk! Ada lagi yang nyelundup?!"
"Ya masih banyak, tapi snipernya udah habis kelihatannya..."
"Tetap di Pos." Suara Arman. "Hari masih panjang. Yang lagi lowong bisa gantian makan..."
"Bapak ngga papa?" terdengar suara Susan.
"Kamu juga kembali ke pos. Bawa dia masukan ke sel dulu. Yazaki, temani Susan."
"Ya Boss-Kun."
*****