
Dan mengenakannya.
Ukurannya sangat pas!
"Sampai ukuran kakiku kamu hafal." Desis Ayumi takjud.
Ia melihat dirinya di cermin.
Sepatu yang cantik, membuat kakinya yang kurus terlihat lebih indah.
"Suka?" Bisik Arman.
"Hehe." Hanya itu respon Ayumi.
Dan perlahan wanita itu mendorong Arman dengan lembut, menjauhinya sambil menyeringai menggoda.
"Duduk di situ." Bisiknya sambil menunjuk tengah ranjang.
"Mau apa?" Tanya Arman.
Ayumi kembali menggigit bibirnya yang sensual.
Dan berjalan menjauh, ke arah tv.
Lalu mensetting ponsel Arman untuk dihubungkan ke speaker tv.
Mencari lagu yang ia suka di platform.
Lalu memutarnya.
Wanita itu tersenyum ke arah Arman saat nada pertama didendangkan.
Lalu perlahan... ia melepas gaunnya ke atas.
Wow...
Cantiknya...
Arman mendesah terkesima.
Ia masih saja terpukau akan keindahan Ayumi.
"Jangan bergerak." Bisik Ayumi.
Lalu wanita itu terkekeh dan membalik tubuhnya membelakangi Arman, dan meliuk-liukan tubuhnya perlahan, mengikuti alunan lagu.
"Hei, Счастье мое..." (Sayang / cintaku) Desah Ayumi.
Arman benar-benar terpaku memperhatikan Ayumi.
Sampai ia akhirnya sadar kalau harus menjawab panggilan Ayumi beberapa detik setelahnya.
"Da, Зайчик?" (Ya, kelinciku?) Tanya Arman.
"Hari ini aku ulang tahun." Kata wanita itu.
Sial...
Pikir Arman.
Dia lupa.
Bagaimana bisa aku melupakan ulang tahun wanita kesayanganku?!
"Aku tahu kamu lupa, Bakayarou." Dengus Ayumi. "Tapi... Aku sudah mendapat banyak hadiah hari ini." Ia mengangkat jari manisnya.
"Yah..." Keluh Arman.
Tetap saja, ia benar-benar merasa payah!
Padahal ulang tahun wanita lain ia ingat.
"Jadi, aku mau kasih kamu hukuman karena melupakan ulang tahunku." Desis Ayumi sambil membuka lemari Arman.
Dan mengambil salah satu dasi pria itu.
Arman langsung menatapnya waspada.
"Aku ngga suka ini." Gumamnya.
"Aku tidak peduli, Ares... Bisa-bisanya kamu lupa ulang tahunku." Sahut Ayumi sambil memposisikan dirinya ke belakang Arman.
Arman hanya diam, karena dia mengakui kalau dia keterlaluan.
Dia juga diam saat Ayumi menariknya untuk berbaring lebih ke tengah.
"Aku minta hadiah lagi..." rajuk Ayumi.
"Ck." Desis Arman. "Kenapa kamu pilih dasi itu?"
"Karena aku tahu, ini dari hadiah dari Sebastian-Sama. Yang termahal dari semua benda milik kamu. Kamu tidak akan merusaknya."
Sial! Sial! Sial!
Kenapa dia benar?!
Umpat Arman dalam hati.
Dan kenapa aku tidak bisa menolak?!
Umpatnya lagi.
Ayumi mengikat kedua tangan Arman di headboard ranjang yang terbuat dari rangkaian besi hitam.
"Jangan ikat mati, dong sayang. Nanti dasinya lecek!" Keluh Arman.
"Sekali lagi, Ares... Tunggu, apa itu ungkapan yang sering dikatakan Mosuu? Hm..." Ayumi menghentikan gerakannya sambil mengernyit. "Ah! Iya. BODO AMAT."
"Ck!" Decak Arman.
Awas si Moses nanti kalau ketemu aku lagi!
Geramnya dalam hati.
Dan Ayumi berlutut di atas Arman sambil bergerak perlahan mengikuti alunan music.
"Sayang..." Arman mulai tegang sepenuhnya. "Sayang, cium aku." Desisnya.
"Nanti." Desis Ayumi.
"Sayang, please..." Arman mengerang frustasi.
"Nanti." Sahut Ayumi lagi sambil menyeringai.
Ia membuka kancing kemeja Arman satu persatu dengan gerakan lambat.
"Katanya kamu resign dari pekerjaan impian kamu." Gumam Ayumi sambil menelusuri tubuh Arman dengan bibirnya.
"Kenapa?" Tanya wanita itu lagi sambil memainkan lidahnya di dada Arman.
Pria itu mengerang.
"Cium aku." Desah Arman.
"Nanti."
"Eergh!" Geram Arman.
Astaga ikatannya kencang sekali!
Keluhnya putus asa.
"Jawab dulu pertanyaanku, nanti aku kasih reward." Ujar Ayumi.
"Hemh... Pekerjaanku menghalangiku untuk mencari kamu." Arman mengakui.
Ayumi menghentikan aktivitasnya.
"Wah... Kejutan. Aku terharu. Oke, ini rewardnya."
Dan ia menurunkan resleting celana Arman.
Beberapa detik kemudian, sensasi hangat dari lidah wanita itu membuat Arman seakan terbang ke langit ke berapa entahlah.
"Ayumi, sayangku... Aku mau keluar." Kata Arman di sela-sela desahan.
"Ah?" Ayumi menghentikan belaian lidahnya. "Tumben."
"Aku sudah lama ngga bersama wanita." Arman agak sewot saat mengakuinya. "Numpuk di dalam bikin emosi! Puas kamu..." Umpatnya.
"Hehe." Ayumi terkekeh senang.
Sangat senang, lebih tepatnya.
"Kalau mau keluar... Di dalam saja ya?" Ayumi menegakkan tubuhnya dan membuka sisa pakaiannya.
Tapi sepatunya masih ia kenakan.
Seksi...
Dan sangat memikat.
Fantasi liar yang jadi kenyataan!
Batin Arman.
"Aku... Sudah melepas alat kontrasepsinya." Bisik Ayumi sambil tersenyum menggoda.
Arman tertegun.
Di hadapannya sekarang adalah dewi.
Tercantik menurutnya, melebihi wanita-wanita yang berkeliaran dalam hidupnya selama ini.
Dewinya tidak sesuci dewi dalam mitologi, namun begitu mudah memikatnya untuk menerjunkan diri dalam pesona.
Rasa yang disajikan wanita ini tidak terlupakan.
Saat tubuh mereka menyatu, yang ada hanya kabut putih yang memabukkan.
Di sekitar mereka buram, hanya ada mereka berdua.
Hanya ada perasaan cinta yang kuat.
"Ah..." Arman merasakan suatu pelepasan yang tidak terkendali.
Tidak tertahankan.
Sambil mengerang, ia menyeringai.
Dan tubuhnya menghentak wanita itu untuk masuk lebih dalam.
Setelah itu hanya ada peluh dan engahan.
"Wajah kamu saat dipuncak, baru kali ini aku lihat." Desis Ayumi. "Tersenyum? Kamu benar-benar gila."
Arman terkekeh sambil berbaring dan memejamkan matanya.
Kelegaan yang tiada tara.
Terlebih, karena mereka sudah menikah, rasa bahagianya semakin manis.
Dan dalam sekali sentakan ia terlepas dari ikatannya.
Ayumi terpekik kaget.
"Kamu merusaknya!" Pekik wanita itu.
"...bodo amat." Gumam Arman sambil meraih wanita itu.
Saatnya ronde kedua.
*****
Akhir Januari 20xx
Jakarta, Indonesia.
Trevor melangkah keluar dari ruangannya menuju ruangan Bram yang berada di ujung satunya.
Malam ini penerbangan Mitha kembali ke Indonesia. Sudah sekitar 6 bulan mereka terpisah Jakarta-Moskwa. Walaupun Trevor mengunjunginya rutin dua minggu sekali bareng anak-anak, tapi rasanya tidak nyaman hidup seperti itu.
Jadi, setelah mereka selesai membereskan berbagai masalah Gunawan, Mitha mengajukan resign dan turun dari jabatannya.
Acara serah terima jabatan antara Mitha dan Direktur yang baru, sudah berjalan kemarin lusa.
Setelah ini mereka akan melangsungkan pernikahan. Persiapan sudah diurus, waktunya dua minggu lagi.
Yang paling antusias terhadap pernikahan mereka adalah anak-anak. Three Musketeers biang rusuh, Romeo-Rizky-Raka.
Trevor menghampiri ruangan Bram karena Bram mengabarkan kalau asisten baru mereka, yang menggantikan posisi Milady, sudah datang.
Karena Arran kembali menjadi manajer proyek, pekerjaan lamanya, dan kini harus ada yang menempati posisi krusial di kantor, dengan kecepatan kerja secekatan Milady, yang mana, Arran bukan tandingan Milady.
Orang baru ini direkomendasikan oleh Sebastian.
Jadi biasanya, adalah orang dengan kemampuan khusus dan sudah profesional.
Yazaki Eiichi datang dari sudut satunya, memberi hormat pada Trevor, dengan senyuman ramah yang antusias.
"Boss Mika! Ohayou." Sapa Eiichi.
"Pagi. Kamu semangat banget, tumben!"
"Iya, akhirnya ada yang menggantikan Rady-San. Semoga pekerjaan kita cepat selesai, saya bosan merasa kewalahan terus, belum pekerjaan dari agency."
"Hm. Sudah seharusnya kamu memilih salah satunya kalau merasa kewalahan begitu, Yazaki."
"Iya, tapi saya suka dua-duanya. Bagaimana dong?"
"Kamu bisa lempar koin."
"Hm."
Eiichi membuka pintu ruangan Bram sambil tersenyum simpul penuh arti.
Salah satu yang membuat Eiichi begitu bersemangat pagi ini, adalah karena ia mengenal siapa pegawai barunya.
Sangat mengenalnya, bahkan.
Wanita berambut panjang berwarna coklat, dengan mata besar yang lentik dan bibir yang sensual menyambutnya.
Kecantikan khas perpaduan Asia-Eropa yang menakjudkan, dengan gaya pakaian yang elegan.
Trevor hari ini sudah meminum obat anti-depresannya, jaga-jaga kalau ia tidak cocok dengan pegawai barunya ini, karena ada kabar kalau ia seorang wanita cantik.
Ya, wanita ini memang cantik.
Tapi... Trevor tidak merasakan apa pun.
Membuat pria itu mengernyit merasa aneh.
"Ini Manajer Operasional Wilayah Timur." Kata Bram. "Atasan langsung kamu. Trevor Michael."
Bram juga menyeringai.
Trevor mengernyit sambil berjalan ke sebelah Bram. Dia memperhatikan wanita itu.
Aneh, sangat aneh!
Pikir Trevor.
Wanita dengan gaya seperti ini seharusnya akan membuat dadanya sesak dan mulai panik.
"Nama kamu siapa?" Tanya Trevor.
Wanita itu tersenyum.
"Nama Saya Ayumi Manfred. Apa kabar Mikaeru?"
Trevor ternganga sampai terpekik.
"A... Astaga!"
*****