Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Permisi... Anak Magang Mau Lewat



"Apa saja yang mereka tanyakan?" Sebastian berdiri di depan jendela menghadap laut, dengan handuk tersampir di pinggangnya, dan ponsel di telinganya.


Milady memperhatikannya sambil memakan eskrim vanillanya. Wanita itu baru selesai mandi bersama Sebastian, dan kini dengan rambut tergerai berantakan, memakai kemeja Sebastian dan sandal hotel. Duduk di pinggir ranjang.


Sebastian baru saja menelpon Arman. Ia mendapat laporan kalau Irwan Hartawi dan Atmana Hadiprayitno datang berkunjung. Namun... Mencari Arman.


Suatu hal yang sangat tidak biasa.


"Hanya begitu saja?" tanya Sebastian ke Arman. "Oke, pastikan semua terkendali."


Dan Sebastian mengakhiri teleponnya.


Lalu duduk di pinggir ranjang di sebelah Milady dengan kening berkerut.


"Ada masalah?" tanya Milady sambil melingkarkan lengannya ke pinggang Sebastian dan menjadikan bahu pria itu sebagai tempat bertumpu dagunya.


Sebastian menoleh ke arah bahunya dan mengecup ringan bibir Milady.


Rasa manis eskrim vanilla ditambah dengan lembutnya bibir wanita itu membuatnya langsung melupakan kegalauannya.


"Bukan hal besar." sahutnya sambil menghujani Milady dengan kecupan-kecupan ringan di bagian lain tubuhnya, membuat wanita itu terkikik geli dan berusaha menghindar namun malah terjerebab ke ranjang.


"Kamu mau bulan madu?" tanya Sebastian sambil membuka handuknya dan merayap ke tubuh Milady


"Hmh..." Milady mendesah saat Sebastian menjilati bagian dalam pahanya. "Kita harus bilang dulu ke orang-orang kalau kita sudah menikah, jadi aku mudah ambil cuti untuk honey mo..." lalu berikutnya hanya lenguhan yang keluar dari mulutnya. Sebastian sedang mengerjainya dengan lidahnya.


"Jadi besok ke kantor?" beberapa menit kemudian setelah Milady mencapai puncaknya dan terengah-engah dengan lemas, Sebastian menegakkan tubuhnya dan menggeret tubuh wanita itu supaya menempel padanya, lalu memasukinya.


Pekikan tertahan Milady, suara indah yang jadi favorit Sebastian sejak dulu. Namun Milady sudah tidak sanggup memprotesnya. Babak kesekian sudah dimulai lagi.


Gerakan Sebastian lembut, namun langsung menuju intinya. Terasa sangat pas seakan memang diciptakan untuk Milady.


*****


Ini Gawat...


Ipang menatap hasil IPK Semester ini.


Sumpah, ini gawat banget... Batinnya sambil tertegun.


angka 2,35 di barisan IPKnya.


"Anj*rit..." umpatnya.


Regulasi di kampusnya... Ketua BEM harus mempertahankan indeks prestasi minimal 3,00 di akhir semester. Dan ini baru tengah semester... Jadi ia punya waktu 3 bulan untuk memperbaiki nilai.


Dalam waktu 3 bulan...


Itu waktu yang sangat singkat.


Ini sih bakalan kena jewer kanan-kiri... Kanan Kak Yori, Kiri Kak Lady.


Jangan sampai mereka tahu deh...


Pinjem laporan IPK punya sapa yak?! Buat dicapture... Pikir Ipang...


Ia menoleh ke kanan... Faisal, 3,8.


"Bedeuh..." desis Ipang sambil melirik temannya itu dengan sinis.


"Apa bray?"


"Ngga papa..." Ipang berpikir lagi. 3,8 terlalu drastis. Pasti langsung ketahuan mengakalinya.


Lalu ia melirik ke kirinya.


Tenny, 2.55.


"Sama aja parahnya..." desis Ipang.


Tenny mengernyit. "Lo lebih parah Pange..."


"Jangan panggil Pange, suka diplesetin..." desis Ipang.


Lalu dia mikir lagi.


Dan menoleh ke belakang.


Handri, 1.70.


"Buset, jauh lebih lebay..." sahut Ipang.


"Dia mah tenang-tenang aje, kuliah cuma buat cari kesibukan..." sahut Tenny ke arah Handri.


"Ngga juga bro... Kalo begini mah gue bisa di-DO... Mau taroh di mana muka pacar gue." sahut Handri.


"Lo semua tuh niat ga sih kuliah?" kata Faisal sinis.


Semua menatapnya dengan tajam.


"Kita gebukin aje gimana, biar isi otaknya ngegelinding...?" desis Ipang.


"Yuk."


"Kuy..."


"Lo yang pada bego kenapa gue yang digebukin?!" balas Faisal sambil siap-siap lari.


"Kunyuk..." desis Ipang.


"Pake joki lo ye!" tuduh Tenny


"Woy jangan lari! Traktir woyy enak aje bagus sendiri!!" sahut Handri.


Mereka berlarian di sepanjang koridor kampus sampai akhirnya berlabuh di kantin outdoor.


"Panaaasss..."Ipang mengipasi lehernya dengan tangan.


"Udah tau terik pada lari-larian. Pantes IPK lo pada kebakaran..." sungut Faisal.


"Diem lo impostor..." keluh Ipang.


"Apa kita mau belajar kelompok?" Gumam Handri.


"Belajar kelompok... Kayak anak SD." sahut Ipang.


Semua ikutan terkekeh nakal menanggapi Tenny.


"Serius ini parah banget, gue bisa dipecat jadi ketua BEM, lebih parah, dipecat jadi adek..."


"Gue malah seneng dipecat jadi adek, kakak gue macam dajjal..." sahut Handri.


"Kakak lo cantik-cantik sih... Belum nemu gue yang kayak mereka tampangnya. Langka sumpah. Padahal nyokap lo biasa aje, bokap lo rada ganteng sih... Tapi tetep levelnya masih biasa...."


"Lo bertiga anak adopsi ya?!"


"Kacrut..." desis Ipang. "Kalo gue dipecat jadi adek, semua keuangan berhenti, Laptop kamera disita, hape diganti jadi model jadul. Gue ga bisa eksis di dunia maya cuy! Dan lebih parah, warisan dibekukan..."


Ketiga temannya terkekeh.


"Baru kali ini gue denger warisan tuh dari kakak, bukan dari bo-nyok..." kata Handri.


"Kakaknya wanita karier semua soale, sosialita hedon..." sahut Tenny.


"Awas lu pada ngayalin kakak gue, gue santet..."


"Beuhhhh... Sister complex." sungut Tenny.


Lalu semua hening menikmati kopinya.


Ipang mengaduk kopi dengan bungkusnya.


Faisal menyeruput sedikit lalu mendesah bilang "Haaa...h..."


Tenny membenturkan cangkir kopinya ke meja perlahan untuk menurunkan ampasnya.


Dan Handri menaruh beberapa seduh ke piring kecil dan meniupnya, lalu menyeruputnya dari lambar.


Lalu mereka bertiga menghela napas.


"Gimana caranya dalam tiga bulan gue bisa naik jadi 3.5?" tanya Ipang.


"Hm... Kursus di Ruang Guru."


"Serius woy..."


"Bobo sama dospem."


"Ini lagi kayak setan..."


"Lo ikutan aja program magang, kalo dari perusahaannya rekomendasi bagus, langsung naik 1 poin katanya..." Kata Faisal.


"Ohyaa??!" seru mereka bertiga.


Faisal mengangguk.


"Mata kuliah apa yang sksnya paling gede di semester ini?"


"Hm... Pasar Modal dan Manajemen Keuangan."


"Nah, lo magang tuh di perusahaan yang punya unit treasury. Kalo di kampus kita peraturannya, makin bonafit perusahaannya, makin gede nilai yang lo dapet..."


"Tapi kan ngajuin magang di perusahaan bonafit susah banget, bisa-bisa cuma mimpi..."


Dan di sinilah Ipang terdampar.


Gedung Garnet Grup, Divisi Treasury.


Direktur : James Rutherfort


Pria dengan wajah mirip Keanu Reeves, namun lebih angkuh. Menatap Ipang dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.


"Kamu diterima magang di sini hanya karena kamu adik Milady. Saya ngga biasa menerima anak magang, soalnya kerjanya nyusahin aja..." desis James.


Ipang mengerucutkan bibirnya karena keki.


Baru juga hari pertama, udah kena sindir.


"Dan lagi kamu magang untuk memperbaiki nilai. Jadi kamu ngga serius kuliah dong ya, kayaknya tiap harinya cuma main-main..." omel James.


Ipang langsung menerapkan sikap :


Masuk telinga kiri


Keluar telinga kanan


Tok tok...


Pintu ruangan James diketuk dari luar.


"Masuk." sahut James.


Arman melongok dari luar.


"Panggil saya, Pak?"


"Sini, Man..." James melambaikan tangan menyuruh Arman mendekat.


Arman dan Ipang saling bertatapan.


Ada ahjussi (paman korea)... Pikir Ipang


Kayak kenal sama ni bocah... Pikir Arman.


"Taro aja ni anak di Divisi Kamu daripada ngegangguin saya." sahut James.


Arman menaikan alisnya.


"Eh?" tanyanya. Lalu ia menerima file dari James dan membacanya sekilas.


"Tapi pak... Bukannya dia magang buat mata kuliah pasar modal?"


"Iyaaa... Nanti saya kasih rekomendasi, tapi tempatinnya di divisi kamu aja, di sini semua sibuk, ngga ada yang bisa ngajarin." sahut James.


"Yah... Pak..." keluh Arman.


"Hitung-hitung bantuin kamu bikin kopi." sahut James sambil mengibaskan tangannya menyuruh mereka berdua keluar.


"Hah?" desis Arman dan Ipang berbarengan.