
Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, Milady menangis.
Kesal
Malu
Sedih
Semua campur aduk jadi satu.
Ia menangisi kepolosannya
Ia juga menangisi kebodohannya.
Tangannya kini tidak terasa sakit lagi, namun masih merah dan kesemutan.
Apa yang ia cari?
Sekali lagi... Cinta Sebastian?
Milady yang dulu menolaknya, dan kini Milady yang berharap kembali?!
Ada satu masa Milady berharap Sebastian benar-benar egois.
Agar seperti kata pria itu tadi... Kalau ia egois, Milady pasti sudah jadi istrinya.
Astaga...
Bagaikan melambung mendengarnya,
Sekaligus tenggelam sedalam-dalamnya.
Milady kalah...
Dari Trevor.
Porsi Trevor di hidup Sebastian jauh lebih besar.
Apa sih yang aku harapkan?! Milady mengomeli dirinya sendiri.
Sudah jelas Sebastian akan lebih condong memilih ke darah dagingnya. Hampir seluruh jiwa raganya ia curahkan untuk Trevor.
Milady bukan siapa-siapanya, hanya masa lalu yang kelam penuh aib.
Aku harus kuat...
Desis Milady ke dirinya.
Hiduplah dengan dagu terangkat. Setelah ini jangan ada lagi harga diri yang jatuh.
Ia sudah menyepakati harganya.
Ia sudah menerima tawaran untuk menjadi istri Trevor.
Ia harus bertindak profesional.
Semua ini bukan untuk Trevor.
Tapi untuk dirinya...
Coba lihat keuntungan apa yang akan ia dapatkan setelah menikahi Trevor.
Status terpandang sebagai istri seorang Bataragunadi.
Semua akan menghormatinya, menunduk padanya, segan padanya, ia akan memiliki kuasa.
Tinggal terpisah dari ayah ibunya.
Hak kepemilikan atas semua aset Trevor, yang jumlahnya triliunan.
Ia tidak perlu lagi bekerja di kantor.
Lalu...
Sebuah kebebasan, yang dijanjikan oleh Trevor.
Ia juga akan minta tinggal terpisah dari Sebastian.
Yang penting, saat pernikahan itu terjadi, harta Trevor tidak akan jatuh ke Ayumi. Semua akses istimewa, tertutup untuk Ayumi.
Jadi,
Ia akan berdiskusi dengan Trevor malam ini.
Mengenai pergerakan selanjutnya.
*****
"Eh...siang Pak!" Arman menunduk hormat ke sosok Sebastian yang melewatinya dengan muram. Ia cukup kaget karena Bigbossnya sudah kembali ke Indonesia begitu cepat. Apakah kali ini ia akan kembali ke luar negeri dalam sehari seperti kemarin?
"Saya ganti nomor akses yah..." gumam Sebastian sambil mengutak-atik sensor di depan pintu ruang kerjanya.
3 0 0 9 9 2
Arman mengernyit.
Rangkaiannya seperti tanggal lahir, tapi itu bukan tanggal lahir Sebastian.
"Hapalkan di luar kepala." sahut Sebastian.
"Baik pak..."
"Yang tahu nomor ini hanya kamu, Bu Fani untuk kepentingan bersih-bersih, dan Bu Lady, mengerti?!"
"Oh, Bu Lady juga Pak...?"
Sebastian tidak menjawab. Pria itu sudah langsung masuk ruangannya sebelum Arman bertanya lebih lanjut.
Lalu ia menjatuhkan tubuhnya di kursi kulit tebal di depan mejanya.
Capek...
Rasanya lelah...
Apa saja sih yang ia lakukan hari ini? Ada deal apa sampai ia merasa lebih tua 10 tahun?
Ah iya, kotak P3K.
Perihnya semakin terasa sekarang...
Sebastian menuju sudut ruangan dan meraih rak diatas hidrant. Kotak P3K yang sekarang jarang ia buka. Mudah-mudahan tidak ada obat yang kadaluarsa, seharusnya Arman sudah memeriksa isinya sesuai checklist standar kelengkapan ruangan
Mana antiseptik...
Lalu kapas...
Sebastian membuka jasnya, lalu menggulung kemejanya.
Bagian lengan kemejanya penuh darah. Untung saja tidak menetes keluar.
Kapan terakhir ia terluka...?
Mungkin...sudah sekitar 6 - 7 tahun lalu saat ia ke Lybia dan Qatar untuk kepentingan bisnis pengeboran minyak.
Mereka diserang militan di tengah-tengah transaksi. Luka dan nyawa yang dipertaruhkan bisa jadi sepadan dengan hasilnya. Kehilangan nyawa diderita oleh pihak lawan, ia hanya menderita luka gores.
Ia harus kembali berlatih untuk mempertajam intuisi combat. Sebagai seniman martial arts, semua gerakan krav maga sudah ia hapalkan di luar kepala.
Namun yang harus dilatih kembali adalah insting menyerang.
Ah, Milady...
Luka ini belum seberapa dibanding bayangan yang selalu menghantui Sebastian setiap malam.
Saat dimimpinya Milady bertukar cincin dengan Trevor, dan Trevor mengecup dahi Milady.
Mimpi yang sangat buruk baginya.
Karena kemungkinan besar akan jadi kenyataan.
Lalu interkomnya menyala.
Sebastian mengangkatnya sambil membebat lukanya dengan kasa.
"Ya?" sapanya.
"Pak, ada paket dari Bu Lady." sahut Arman.
Mungkin outfitnya yang dipinjam Milady kemarin.
"Bawa masuk." desis Sebastian sambil menempelkan perekat.
Tak lama Arman masuk sambil membawa tas kertas.
"Permisi pak." sahutnya. Dan ia terpaku saat melihat kumpulan kapas bernoda darah diatas meja Sebastian dan terlihat Sebastian baru saja selesai membebat lukanya.
"Bapak... kenapa?" tanya Arman.
"Dicakar kucing..." desis Sebastian.
"Hah?"
"Taruh disitu... sana balik kerja." sahut Sebastian.
"Eh... Perlu dipanggilkan dokter Pak?"
"Saya bukan anak kecil, kegores sedikit minta diobati di rumah sakit..." geram Sebastian.
Arman berdehem. kegores 'sedikit' tapi sampai menghabiskan setengah botol antiseptik. Arman memutuskan tidak mendebat Sebastian.
"Baik Pak... Maaf. Saya... permisi." lalu Arman keluar dari ruangan Sebastian setengah berlari.
Seorang Sebastian... Bisa-bisanya dicakar kucing sampai berdarah-darah.
Kucing termanis yang pernah dilihatnya, bermata coklat mempesona dengan lidah sesensitif ular berbisa... Kegemarannya merayu dengan menggosokkan tubuhnya ke arah Sebastian, meminta untuk dibelai. Tapi saat Sebastian mengelusnya, ia mengerang marah dan mencakar...
Sebastian meraih tas kertas dan mengeluarkan isinya. Ia akan menggantung kemeja dan meletakkan ikat pinggangnya ke laci.
Wangi deterjen yang biasa ada di binatu...
Lalu sebuah kain terjatuh.
Sebuah dasi...
Dan...
Sebastian membesarkan matanya, ia meraih kain tipis transparan berbentuk segitiga berwarna pink.
Disertai dengan kartu dengan tulisan tangan.
"Semua sudah aku cuci di binatu. Aku titip yang satu ini di lemari. Jangan sampai robek...love."
Umpat Sebastian.
Ia meninju pintu lemarinya.
Bisa-bisanya wanita itu bertingkah saat mereka sedang gencatan senjata!!
Sebastian menghela napas mengatur ritme jantungnya.
Lalu melipat kain tipis itu dengan rapi, dan meletakkannya di laci lemarinya.
Entah akan ia apakan benda itu.
Lalu ia duduk di kursinya kembali.
Membereskan kapas bernoda darah yang berserakan.
Dan berubah pikiran...
Ia menghampiri lemarinya kembali.
Membuka lacinya,
Meraih kain tipis itu.
Dan memasukkannya ke saku bagian dalam suitnya.
"Arman, bilang James saya pulang cepat." desis Sebastian melalui interkom.
"Baik Pak." balas Arman.
*****
Ruangan kerja Sebastian yang sebenarnya, ada di dalam rumahnya, bersebelahan dengan ruang kerja ayahnya yang rapi.
Ruang kerjanya...
Yah... Jauh dari kata rapi.
Kertas dan dokumen berceceran, terdapat mini golf di dalam dan samsak tinju.
Lalu rak buku besar dengan buku yang urutannya sudah tidak sesuai lagi dengan edisinya saking seringnya di bolak-balik.
Tapi menurut Sebastian, nyaman sesuai kelasnya sendiri.
Ia tidak bisa menyimpan banyak dokumen di kantor karena banyak bisnis rahasia yang tidak boleh diketahui oleh para karyawannya.
Rahasia negara ini dan rahasia negara lain, yang ia butuhkan untuk kepentingan bisnisnya.
Karena saat ini Beaufort membatasi pergerakan mereka untuk tidak terlalu ikut campur di dalam politik, mungkin itu keinginan terakhir Baskara untuk Alex, Baskara terlalu banyak tahu urusan negara sehingga ia tidak ingin keselamatan anaknya terancam, sementara Alex adalah anak muda penuh ambisi yang obsesif sehingga Baskara kuatir Alex akan terjatuh ke lubang hitam. Sementara Sebastian, sudah masuk lubang hitam lebih dulu daripada Baskara , jadi segala urusan confidentiality diserahkan ke Garnet Grup.
Boneka pemerintah?
Tidak juga...
Sebastian lebih dari itu...
Ia bisa memilih pekerjaan.
Mungkin sebagai boneka, ia akan mengumpankan Jarvas Co. Milik Gerald Bagaswirya.
Lagipula nenek Gerald adalah aset negara, mereka lebih cocok untuk kegiatan 'dalam'. Urusan 'packaging' biar Garnet yang maju.
Sebastian tinggal menanamkan saham agar Jarvas bisa berada di urutan ketiga Top Gainer bursa saham, dan Gerald bisa lebih leluasa bertindak.
Lalu sekarang...
Tinggal urusan pribadinya.
Yang lebih sulit dari permainan catur.
Milady bukan pion catur yang bisa Sebastian atur sesukanya. Pergerakannya tidak bisa diprediksi.
Sama seperti...
Si boyo itu. Bergerak seenaknya.
Untung saja ia jatuh cinta dengan Meilinda, jadi tinggal menyentil sedikit emosi adiknya, si Boyo akan patuh.
Tapi Milady berbeda.
Wanita itu tidak disetir siapa-siapa.
Dan ia memegang kartu AS Sebastian.
Sebastian menjatuhkan jasnya di sofa terdekat, lalu menghempaskan dirinya di pinggir ranjang, membuka satu demi satu kancing kemejanya dan menghela napas.
Apa sih yang terjadi barusan... Pikirnya.
Terlalu banyak kejadian yang diluar nalarnya.
Ia tidak pernah buang-buang waktu bolak balik Jakarta-Jerman, hanya dalam waktu 3 hari!
Untuk... Seorang wanita!
Yang bahkan bukan miliknya...
Lalu pria itu merebahkan dirinya di ranjang.
Ia perlu tidur...
*****
Yori Hainez, single, berusia 30 tahun, pengusaha restoran, tomboy, anak pertama keluarga Adara yang sangat sayang terhadap kedua adiknya.
Hari ini dia mengarahkan mobilnya ke parkiran proyek Coastview.
Setelah meninggalkan SIMnya pada security proyek di depan, lalu menyebutkan kata kunci sakti "saya kakak Milady"
Dan disambut dengan kalimat "Oh kakaknya Bu Lady, silahkan masuk bu. Saya hubungi Pak Arran yang akan menemani ibu."
Ia pun menghentikan mobilnya dan keluar, lalu berdiri sejenak memandang ke arah lautan yang airnya...yah memang tidak bisa disebut biru, lebih ke abu-abu. Tapi yang namanya laut, menurut Yori, tetaplah menakjudkan.
Karena...
Laut bisa menelan semuanya kalau Sang Pencipta murka.
Laut adalah pengikut Tuhan yang setia.
Bukti kebesaranNya.
Sekaligus menenangkan manusia dengan suara desiran ombaknya,
Dan mengingatkan manusia, kepada siapa mereka harus menyembah...
Laut dan Gunung, sama-sama luar biasa, menurut Yori.
Ia menyukai keduanya...
Jadi,
Kini saatnya melihat-lihat hadiah dari Milady.
Mungkin ia dan Samantha akan merancang desain yang berbeda dari restoran yang lama. Terus terang Yori tidak terlalu menyukai konsep yang terlalu 'manis'... Kalau tema yang di mall adalah Rivendale, boleh jadi tema yang disini adalah Shire, kota para Hobbits... Atau Hogwart sekalian.
Lebih keren kalau suasananya gothic sekalian, tapi tetap elegan.
Kita lihat saja bagaimana tampilannya.
Dari kejauhan, Yori bisa melihat seseorang berjalan ke arahnya.
Bukannya dia senang melamun, tapi pria itu benar-benar...
Manis...
Dan sangat tinggi.
Rautnya memang sedikit muram. Tapi type laki-laki berwajah kearifan lokal, berkulit sawo matang, dengan struktur tubuh seksi ala import begitu, lumayan jarang.
Apa dia bintang laga?
"Bu Yori?" Sapa pria itu.
Suaranya halus dan intonasinya lembut.
Milady versi laki-laki. Itu yang tersirat di benak Yori.
"Bu?" Panggil pria itu.
"Ah! Hai, saya Yori..." Yori mengulurkan tangan untuk menjabat pria itu.
"Nama saya Arran, saya penanggung jawab proyek di sini."
"Ya Pak Arran."
"Panggil Arran saja bu.."
"Kalau begitu, panggil saya Yori saja. Dipanggil dengan sebutan 'ibu' membuat saya merasa lebih tua 10 tahun..."
Arran memiringkan kepalanya sambil menatap Yori. Terlihat dia sedang menilai penampilan wanita itu.
Wanita ini...katanya kakak Milady. Pikir Arran.
Tapi dia terlihat jauh lebih muda dari Milady.
Yori memakai kaos tanpa lengan berwarna hitam dengan celana panjang baggy banyak kantong dan sepatu doc mart. Ada tindik di alisnya dan beberapa di telinganya.
Dan... Ada tatto di lengan atas.
Lady rocker... Pikir Arran.
"Oke...Yori." Desis Arran. "Lot kamu di gedung utama di tengah. Pemandangan langsung ke laut jadi agak panas kalau di beranda. Tapi kalau di dalam ruangan tetap sejuk karena jendela sudah dilengkapi dengan anti surya." Desis Arran sambil berjalan ke dalam area mall.
Yori mengikuti Arran dengan memperlebar langkahnya. Tinggi tubuh mereka memang terasa signifikan. Yori tidak setinggi Milady, ia hanya 168cm, dan tulang tubuhnya lebih besar. Bahunya agak lebar dan rahangnya agak persegi sehingga lebih cocok bergaya maskulin dibanding feminin.
"Kami sudah diinstruksikan untuk balik nama, boleh nanti saya pinjam identitas kamu untuk notaris yah?"
"Boleh... atau kita sama-sama saja ke notaris? Kapan kamu ada waktu?" Tanya Yori.
"Hm... Notaris kami juga berkantor di area sini, jadi bisa kita urus hari ini juga, sebenarnya. Bagaimana?"
Yori menatap Arran dengan mata berbinar.
"Makasih Mas Arran!" Serunya. Lalu ia merogoh dompet di saku belakang celananya dan menyerahkan KTP dan NPWPnya dengan bersemangat. Mereka bahkan belum melihat Lot-nya.
Arran tersenyum tipis melihat tingkah Yori yang ekspresif.
"Panggil Arran saja..." Pria itu memperhatikan kartu identitas Yori, "Karena kita seumuran."
*****