Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Sebar Umpan



Dirga mencondongkan tubuh ke depan meja Arman sambil menyeringai mengancam.


"Pak Arman juga mengerti kan kalau menghalangi petugas hukum berarti juga menghalangi negara untuk memproses kebenaran...?"


Arman meyesap kopinya sambil menatap Dirga dengan pandangan kalemnya.


"Atasan saya tidak ditempat, dan lagi memangnya kalian terbiasa datang main selonong seperti ini ya?" kata Arman menyindir.


"Kalau itu untuk tahu yang sebenarnya terjadi, semua akan kami lakukan." desis Dirga.


"Memangnya kebenaran macam apa sih yang kalian cari? Saya sih maklum yah karena kalian berdua digaji dari 'kebenaran' yang kalian agung-agungkan, tapi kalau Polisi yang jelas-jelas KTPnya WNI, lahir di Indonesia, namun dipermasalahkan karena saya ngga punya darah Indonesia tapi bisa jadi Brigjen, habis itu didepak seenaknya dari kesatuan, bagi saya 'kebenaran' dalam instansi kalian itu berarti... bullshit."


Rama dan Dirga terdiam. Mereka langsung menyadari.


Ah, jadi itu yang membuat Arman sekarang ada di sini. Pikir Dirga dan Rama.


"Tapi... " Lanjut Arman. "Ternyata memang pribahasa kaum yang terzolimi akan mendapatkan yang lebih baik, itu benar... Kalau membandingkan dari pakaian kalian dan pakaian saya ya... Jadi, jangan salahkan kalau saya akan berusaha melindungi Boss saya mati-matian. Karena, dia adalah hidup saya." tampang Arman berubah dingin.


Nyali Rama langsung menciut, tapi Dirga tetap maju.


"Saya sebenarnya ngga ada waktu untuk urusan sama hidup Pak Arman. Kecuali... Bapak juga terlibat." kata Dirga.


"Ya sudah jelas saya pasti terlibat dong..." dengus Arman. "Saya kan bodyguard, asisten, sekretaris, kadang weekend juga disuruh jadi penjaga stand..." Arman tersenyum sambil bertopang dagu.


"Ah iya bener juga sih..." desis Rama.


Dirga berdecak ke arah Rama.


"Ya udah lah langsung aja. Anti depresannya buat apa'an sih? Terus ini kenapa ada anggota DPR yang bikin laporan? Boss lo ada masalah apa sama Hari Fadil?! Hah? Man, kita tuh dulu mandi bareng, kencing bareng, kadang c**oli juga bareng, masa bantuin dikit aja kaga bisa?!" sahut Dirga.


"Anjr**it..." gumam Rama.


"Kemana lo waktu gue ditendang?" balas Arman sambil berdiri agar pandangannya sejajar dengan Dirga. Ia menatap Dirga dengan dingin.


Yak, ini dia yang Dirga tunggu-tunggu dari dulu. Berhadapan dengan Arman setelah sekian lama.


Sejak di kesatuan, saking akrabnya, mereka selalu memperdebatkan segala hal.


"Mana gue tahu alasan lo keluar dari kepolisian?! Lo-nya langsung menghilang kayak ditelan bumi! Gue cari ke kosan udah raib kayak mimpi... Gue tanya semuanya malah gue dipukulin!" sahut Dirga. "Lo tanya tuh ibu kos lu, gue cari-cari elo! Sampe akhirnya gue dianggap terlalu rese gue dipindahin ke Solo! Baru disitu gue denger kalo lo kerja di Garnet!"


Dirga menarik kerah Rama supaya Pria itu berdiri lebih dekat ke Arman.


"Nih lo tanya si Letkol Hedon! Dia juga diem-diem aja!!" seru Dirga.


Lah, kenapa jadi gue... Umpat Rama dalam hati.


"Jadi... Yang gue tahu... Alasan lo didepak dari kesatuan adalah... Karena menurut Jenderal sudah terlalu banyak warga keturunan yang jadi polisi, jadi putra bangsa harus didahulukan. Kan gue bilang waktu itu ke lo, Man... Jangan terlalu menonjol. Lo-nya malah ikut-ikutan turnamen sniper... menang pula lawan Ostrali..." dengus Rama.


Terdengar decakan Arman. Sepertinya bukan itu alasan pemecatan dirinya. Gosip disebar untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya.


Lalu semua diam.


"Yang begituan kan...ngga bisa sepenuhnya hilang dari paradigma masyarakat..." tambah Rama memecah keheningan.


Tapi sia-sia karena detik berikutnya yang ada hanya keheningan lagi. Semua jadi sibuk nostalgia.


Arman lalu meletakkan amplop coklat ke atas meja.


"Ini jawaban lo." desisnya. "Lain kali ke sini bikin janji dulu. Pak Sebastian juga sudah memprediksi pergerakan Pak Hari Fadil..." Sahut Arman sambil duduk lagi di kursinya dan menyesap kopi.


"Cepetan sana jalan, jam istirahat gue udah habis..." dengusnya sambil memutar kursinya membelakangi Dirga dan Rama.


"Songongnya ngga berubah, lo..." gerutu Dirga .


"Makasih man..." desis Dirga lagi, kali ini sambil tersenyum penuh persahabatan ke Arman.


Arman hanya mendecak.


Beberapa waktu setelahnya...


Ponsel Arman berdering saat pria itu menyesap tetes terakhir kopinya.


"Ya Pak... BNN sudah ambil umpannya. Tinggal tunggu ada yang kepancing saja..." sahut Arman sambil tersenyum licik.


*****


Ipang bertopang dagu sambil menatap Susan dengan muka berseri.


Ia sangat lega mengetahui wanita itu sehat-sehat saja.


"Jadi gimana ceritanya?" tanya Ipang.


"Yah... Aku memang dinonaktifkan untuk misi kakak kamu. Tapi aku difungsikan untuk tugas yang lain. Sekarang aku kerja di Laboratorium Garnet Med."


"Memangnya kamu ada latar belakang bidang kesehatan?"


"Ada sertifikat kursus keperawatan, tapi ngga resmi. Aku ambil waktu jadi tenaga sukarelawan di Palestina."


"Kamu ternyata wanita hebat ya..."


Susan menunduk karena malu.


Ia bukan jenis wanita yang mudah tersipu, bahkan cenderung dingin. Pekerjaannya menuntutnya untuk menyingkirkan hal-hal yang berhubungan dengan emosi pribadi.


Namun kalau cowok di depannya ini mulai merayunya...


Entah kenapa ia mudah luluh.


"Sejak kapan kamu kerja jadi bodyguard?" tanya Ipang.


"Aku dilatih sejak kecil, karena orang tuaku kerja untuk Beaufort.Co dan mereka punya banyak sekali musuh. Seingatku, aku resmi jadi bagian dari Beaufort setelah membuat kamu babak belur..."


"Iya habis itu kamu lenyap."


"Aku harus pindah-pindah negara..."


"Berapa umur kamu sekarang?"


"November nanti, aku 35..."


Ipang mencibir.


Ngga kelihatan sama sekali kalau udah tante-tante. Pikirnya.


"Kenapa tampang kamu begitu? Aku awet muda yah?" tanya Susan.


Ipang menyeringai membenarkan.


"Kamu... Selama bertugas, ada menyamar juga kan?"


"Aku selalu diserahi tugas menyamar."


"Saat itu... Apa ada... "Ipang mengangkat bahunya dengan tegang. "... Yah... Laki-laki selain aku yang..."


Susan menunduk.


Lalu mengangguk.


"Ada... Beberapa... Maaf yah... Semua bagian dari pekerjaan. Tapi itu dulu, saat aku masih bekerja di bawah Beaufort. Sejak aku mulai kerja dengan Pak Sebastian, belum ada tugas semacam itu..."


"Iya... Bukannya aku mempermasalahkan hal itu sih, aku juga sebelum sama kamu melalang buana kemana-mana..." desis Ipang.


"Iya, kelihatan kok tekniknya udah jago." sindir Susan.


"Aku ngga bangga loh dipuji macam gitu..."


"Itu sindiran, bukan pujian..."


Lalu mereka terdiam sambil mengamati orang-orang berlalu-lalang disekitar mereka.


"Kamu... Mau dipanggil pake sebutan apa?" tanya Susan akhirnya.


Ipang terkekeh.


"Maunya apa? Ayang? Bebih? Darling?" tanya Ipang.


"Ipang..." desis Susan.


"Hm... Kamu sadar ngga ini pertama kalinya kamu panggil namaku?" sahut Ipang


"Iya. Sadar."


"Kenapa?"


"Aku... " lalu muka Susan memerah. "Ngga terbiasa aja..."


Ipang meraih tangan Susan dan menciumnya.


"Nanti... Aku ingin dengar kamu meneriakkan namaku..." Desis cowok itu sambil menyeringai penuh arti.


Susan menarik napas gugup