Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
a new couple



Selena menghela napas lega sambil berjalan dengan banyak tas belanja di tangannya.


"Memang tepat gue kesini ketemu lo..." Desisnya merasa bahagia.


"Hehe... Anytime say..." Sahut Milady sambil menjilat eskrim conenya.


"Eh, dari tadi gue tuh mau tanya, cincin dan gelang di tangan lo itu, dari Trevor juga? Kembaran yah sama yang biasa ada di Jari Trevor?" Tanya Selena.


Milady hampir tersedak.


Namun ia segera mengatur napasnya.


"Bukan dari Trevor. Kebetulan aja mirip." Desisnya.


"Ooh... Baju lo juga baru yah. Tumben pakai yang kerah tinggi."


Milady mencibir.


Kenapa sih hari ini orang terpaku pada penampilannya.


"Lain kali gue pake kerudung deh, biar lebih heboh..." Desisnya.


"Ih, gue kan cuma tanya...sensi bener..." Sahut Selena. "Tapi mungkin lo bakalan lebih cantik pake kerudung."


"Hehe." Hanya itu balasan Milady.


"Hei, ingat air mancur raksasa di depan situ?" Tanya Selena dengan senyum dikulum.


Milady langsung terkakak.


"Itu konyol banget, sampai sekarang kalau ingat gue pernah jatuh di situ sampai tenggelam..."


"Dan lebih konyol lagi, akhirnya kontraktor bersedia memugar pembatas dan mengganti ubin kolam agar lebih kasar, lo tahu namanya sekarang?"


"Eh? Air mancurnya punya nama?!"


"Sini lo... Gara-gara elo nih!" Selena menariknya sampai ke depan air mancur.


The fountain of Goddess


Even Goddess willing to drown here


"Maksudnya Goddess itu..."


"Elooooooo! siapa lagi yang pernah tenggelam disini selain eloo!!"


"Hahahahahahah!!! Bisa aja Pak Sumidi!!"


Pak Sumidi adalah nama kontraktor saat itu. Milady mengecek pembangunan air mancur dan dengan sepatu stiletto dia nekat memeriksa pagar pembatas sehingga tercebur dan tenggelam disana.


Yang ia ingat, Trevor langsung menariknya saat itu. Setelah itu Milady pingsan dan tersadar di rumah sakit.


Terkadang saat bekerja di bidang property dan mengawasi pembangunan dari mulai masih jadi tanah sampai menjadi gedung raksasa, ada perasaan bagaikan seorang ibu yang melihat anak-anaknya tumbuh. Untuk semua bangunan di bawah manajemen Garnet, sedikit banyak Milady dan Selena terlibat dalam pembangunannya. Jadi mereka tahu dimana asal ubinnya, bagaimana rancangan bangunannya, mereka pesan cat dinding dimana saja, sampai berbagai permasalahan yang dihadapi.


Dan...


"Sembunyi Len!!"


Tiba-tiba Milady menarik Selena ke belakang pilar.


"Hah? Lo kenapa?"


"Sssttt..." Desis Milady sambil menutup bibirnya dengan telunjuk.


Selena mengikuti arah pandangan Milady ke depan.


"Lah... Itu bukannya..." Selena memicingkan mata. "Wow! Itu kan Arran!! Gila kenapa sekarang ganteng banget begitu!! "


Namun fokus Milady bukan ke Arran. Ia menatap wanita yang bersama Arran.


"Kak Yori?" Bisiknya tak yakin.


"Eh? Masa sih? Yori kan gayanya cuek Dy..." Selena juga ragu.


Milady juga setuju dengan Selena. Tapi sebagai seorang adik, Milady tidak mungkin salah mengenali tampang kakaknya sendiri.


"Itu Kak Yori. Gue yakin itu Kak Yori..." Bisik Milady memicingkan matanya.


"Mereka jalan! Ayo kita ikutin..." Sahut Selena heboh sendiri.


Milady menurut dan mengikuti Arran dan Yori.


Semakin diperhatikan, semakin Milady yakin kalau wanita di depannya itu adalah Yori.


Namun... Yang ini sangat feminin dan menggunakan make up.


Jadi sambil mengikuti Yori, Milady mengirimkan pesan singkat ke kakaknya itu.


"Kakak mau dikirimin brownies ngga? Kalo mau nanti sekalian lewat ojek online." Ketik Milady.


Send.


Tidak berapa lama, wanita di depannya tampak mengaduk-aduk tasnya, lalu mengangkat ponselnya.


Senyum tipis tersungging di wajahnya saat menatap ponselnya.


Lalu tampak wanita itu mengetik dengan sebelah tangan, tangan yang satunya bertengger mesra di lengan Arran.


Saat wanita itu meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas, ponsel Milady berdering. Notifikasi pesan singkat.


"Aku lagi di luar, say... Makasih udah nawarin."


Milady dan Selena saling bertatapan.


"Kak Yori... Lagi jalan sama Arran?" Ketik Milady Tembak langsung.


Selena terpekik karena Milady berbuat nekat.


Dan menyeringai.


"Hehe..." Begitu balas Yori.


Milady dan Selena mendesah saat membaca pesan singkat dari Yori. Lalu mereka terkekeh berbarengan.


"Ngga nyangka Kak Yori..." Desis Milady.


"Happy wonderful weekend kak..." Ketik Milady ke Yori.


Lalu ia menggandeng Selena untuk berlalu dari sana.


Dengan demikian ia menganggap urusannya dengan Arran selesai sampai di sini, boleh kan?


Ponsel Milady bergetar saat ia dan Selena sedang memilih jam tayang di bioskop.


"Kamu masih di mall?"


Dari Sebastian.


Milady melirik ke arah Selena, memastikan sahabatnya itu tidak melihat. Lalu mengetik beberapa patah kata.


"Masih. Mau nonton dulu."


"Sebelum pulang ketemu dulu yah, aku tunggu di sebelah mobil kamu."


"Aku selesai sekitar jam 9an."


"Oke."


Dan Milady tersenyum-senyum sendiri. Seperti...punya pacar beneran!


"Senyum-senyum sendiri... Lagi watsapan sama sapo seh..." Selena mencoba melongok.


"Sama pacar." Sahut Milady.


"Trevor? Ceile..." Desis Selena kembali cuek.


Biarlah ia beranggapan begitu.


Pikir Milady.


Sebastian terlihat bersandar di pilar lobi Mal, di sebelah mobil Milady, sambil mengutak atik ponselnya. Mall sudah sepi pengunjung, hanya ada sedikit orang yang menutup toko dan sekuriti yang berseliweran.


Milady menghampiri Sebastian sambil tersenyum.


"Hei..." Sapa Sebastian.


Ia menarik pinggang Milady dan mencium bibirnya, di tempat umum.


Walaupun sekilas, tapi Milady merasa itu hal ekstrim.


"Nanti terlihat orang..." Desis Milady.


"Yang penting ngga terlihat sama orang yang kita kenal... Lagipula sudah sepi."


Pria itu menyesap wangi parfum dari leher Milady. Dari dulu bagian tubuh Milady yang itu, menjadi hal favorit Sebastian.


"Aku boleh..."


"Enggak boleh." Desis Milady cepat.


Terdengar decakan dari bibir pria itu.


"Kita menikah dulu, baru kamu boleh."


"Kamu tahu kita ngga bisa menikah."


"Ngga bisa, atau ngga mau?" Sindir Milady.


"Aku mulai sebal kalau kamu mengungkit hal itu." Dengus Sebastian.


"Kalau sebal, jangan memulai..."


Milady mencondongkan tubuhnya untuk mencium lagi.


Sebastian kini mengecupnya dengan enggan. Kelihatannya moodnya sudah rusak.


Tapi Milady merasa senang.


Ia akan merusak mood pria ini lebih dalam lagi.


"Aku udah dapat tiket ke Jepang untuk hari Rabu." Katanya. "Aku akan kesana berdua dengan Trevor untuk mengurus administrasi izin pameran. Dalam hal ini, aku juga berkomitmen untuk meneruskan perjanjian kita."


Jemarinya menelusup masuk ke kaos Sebastian dan membelai otot perut pria itu.


"Saat Trevor menemui Ayumi dan mendapat konfirmasi bahwa itu bukan anaknya, walaupun sudah tahu, tapi Trevor mungkin akan lebih rentan secara kejiwaan. Saat itu aku akan masuk."


"Kamu akan masuk..."


"He em..." Milady mengangguk.


Sesuai dugaannya, di usia yang telah lanjut, otot perut Sebastian masih terjaga baik. Milady menyusurinya dengan sentuhan menggoda.


"Mungkin sedikit adegan mesra..." tambah wanita itu.


Lalu ia mencium pipi Sebastian.


"Terima kasih untuk hari ini, aku merasa senang dari pagi." Milady memencet alarm mobilnya dan masuk ke dalam.


"Aku cinta kamu... Hati-hati di jalan."


Dan wanita itu memundurkan mobilnya.


Meninggalkan Sebastian di gelapnya malam dan lampu mall yang mulai redup.