Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
The Business



Karangan bunga dari emas datang lagi. Namun ukurannya lebih kecil dari yang waktu itu.


Ah iya, ini sudah hari jum'at... Desis Milady.


Masalahnya karangan itu datang saat di sekitarnya banyak orang karena mempersiapkan soft opening Coastview.


Tampak jajaran para marketing dan sales berkumpul disana dengan para Kadiv untuk briefing pagi dengan Presdir.


Kegiatan yang sebenarnya rutin dilakukan saat menjelang peresmian pembangunan proyek...


Namun kali ini...


Milady agak terganggu dengan kerumunan.


Selain ia baru saja digosipkan untuk hal-hal yang buruk, keberadaan karangan bunga mewah akan jadi bahan pembicaraan yang sudah pasti panas.


"Wah, dari Om yang mana lagi itu?"


Milady bisa mendengar para marketing dan sales bergumam membicarakan dirinya.


Trevor bertanya padanya tanpa suara 'dari siapa?'.


Milady membalasnya dengan seringai, yang mana sudah merupakan sebuah jawaban bagi Trevor. Siapa lagi kalau bukan dari manusia setengah dewa yang kini sedang mencoba berbaikan dengan Milady.


"Kelihatannya bukan dari Pak Trevor, lihat tuh Pak Trevor malah nanya..."


"Lihat tuh, kelopaknya dari emas semua, segitu tuh harga Sri Ratu, udah pasti karangan bunganya bukan dari laki-laki yang kerja di sini lah..."


Lalu terdengar cekikikan samar.


Milady membaca kartu yang tersemat di sana.


Sorry...


Hanya kata-kata itu.


Milady sudah memaafkannya. Namun sangat sulit baginya untuk bersikap seperti biasa...


Ia sangat...


Sakit hati, sekaligus malu.


Apakah ini perasaan Sebastian saat Milady menolaknya dulu?


"Wah, besar sekali yah karangan bunganya, Lady... Dari siapa?" tanya Pak Presdir mencoba berbasa-basi.


Sepertinya ia hanya memastikan kalau karangan itu bukan sogokan ataupun gratifikasi dari klien.


"Dari... Pengagum rahasia Pak. Di kartu tidak tertera namanya." jawab Milady.


"Tidak heran yah kalau Milady banyak fansnya..." sahut Wakil Presdir. Ada nada menyindir di suaranya.


"Satu kuntumnya disepuh dengan emas 22 karat... Ibu mau satu? Yang lain akan saya bagikan dengan para marketing di sini..." tanya Milady.


Semua langsung heboh dan mengerumuninya.


"Sebagai penyemangat, terimakasih atas kerja kerasnya memasarkan setiap unit di Coastview yaaa..." sahut Milady sambil mulai membagikan satu persatu kuntumnya.


Trevor dan Bram hanya menyeringai melihat aksi Milady.


Mereka berdua sama-sama membatin, padahal yang paling banyak memasarkan unit di coastview adalah Milady sendiri, saat di pameran wanita itu berkeliling membagikan brosur, padahal itu bukan tugasnya.


"Di ruangan gue masih ada satu pot tuh, ngga tau harus gue bawa kemana." desis Bram.


"Kasih aja ke Selena dan nyokap lo dah..." bisik Trevor.


"Memang itu dari siapa sih? Lady rutin dapat bingkisan setiap Jumat..." tanya Bram.


Trevor menyeringai, memberi tanda kalau ia sebenarnya tahu siapa yang mengirimkannya namun Milady memaksanya tutup mulut.


"Rahasia suami-istri, Bro... Tapi masa lo ngga tau sih itu dari siapa?!" tanya Trevor


"Suami-istri settingannya saja belom sah sudah main rahasia-rahasiaan..." sungut Bram. "Gue bukannya ngga tahu sih, gue juga punya insting. Tapi biar lebih yakin aja gue tunggu dari mulut lo berdua..." sahut Bram.


Trevor hanya menyeringai.


Ia juga tidak terlalu memahami kenapa ayahnya rutin mengirimkan hadiah untuk Milady, dan ada perjanjian apa di balik itu semua. Saat ini Trevor hanya menganggap kalau hal tersebut adalah cara ayahnya merayu seorang wanita.


*****


Tok...tok


Sebastian melirik pintu masuk ruang kerjanya yang diketuk seseorang dari luar.


Ia menatap jam dinding di dekatnya.


Pukul 9 pagi, hari Jum'at.


Lalu menekan tombol unlock.


"Masuk..." desisnya sambil tetap fokus ke laptopnya.


"Kak?" Meilinda, adiknya, mengintipnya dari balik pintu.


"Kamu di rumah? Ngga ke kantor?" tanya Sebastian.


"Sedang kurang...enak badan."


"Kurang enak badan... Biasanya kamu paksakan... Atau... Ada yang ngga ingin kamu lihat di kantor?" Pancing Sebastian.


Meilinda menipiskan bibirnya karena merasa malu. Kenapa kakaknya selalu tahu isi hatinya...? Pikir Meilinda.


Wanita yang saat ini hampir menginjak usia 45 tahun itu menghampiri Sebastian dan duduk di pinggir ranjang.


"Kakak kenapa?" Tanya Meilinda lembut.


Sebastian mengangkat alisnya.


"Itu sepertinya pertanyaan saya." sahutnya. "Kamu kenapa?"


"Hehe..." Meilinda menyingkirkan rambut putih yang menutupi dahi Sebastian sambil tersenyum lembut. "Kakak jarang sakit, loh..."


"Siapa yang bilang saya sakit? Arjuna? Dia kan cuma berpatokan pada data ambang batas... Kondisi setiap manusia kan berbeda-beda." Omel Sebastian.


(Dokter Arjuna adalah dokter pribadi keluarga Bataragunadi).


"Kalau itu terjadi sama aku, pasti kakak sudah melarang ini-itu, saat aku sudah diambang batas." gumam Meilinda.


"Iya, terus cari penyebabnya dan habisi." sambung Sebastian.


Meilinda mencibir.


Lalu wanita itu menghela napas.


Dan menunduk lalu menopang dagunya dengan tangan sambil menatap kakak kesayangannya.


"Iya... Karena saat putus dengan Gunawan, ada 'dia' di sampingku." gumam Meilinda.


"Kamu sayang sama 'dia'?" tanya Sebastian


Meilinda mengangguk. "Aku belum pernah... Bertemu laki-laki sepertinya. Segala yang ia lakukan selalu berarti bagiku."


"Kamu yakin ngga dipelet?!"


"Sepertinya...iya. Hehe..." sahut Meilinda.


Sebastian menghela napas.


"Apa saja yang sudah kamu lakukan dengannya? Kenapa kalian putus?" Tanya Sebastian.


"Kak... Dimas datang saat aku berada di titik terendah hidupku. Dia entah bagaimana, sebenarnya, selama ini selalu di dekatku. Dulu... Saat aku belum terlalu kenal, kami berdebat hampir setiap hari. Tapi pekerjaanku nyatanya selalu beres saat ia ditugaskan... Lalu... Gunawan... " Meilinda mengernyit sambil menghela napas.


"Aku dan Dimas memergoki Gunawan sudah memiliki banyak istri saat di Bandung. Seharusnya aku memang sakit hati... Tapi ternyata, aku malah merasa... Hm... Apa yah namanya..." Meilinda mengernyit. "Lebih... hidup."


"Lebih hidup." ulang Sebastian. Ada nada menyindir dalam kata-katanya.


"Iya... Seperti sedang jatuh cinta, dan bersyukur bahwa telah disadarkan dari sesuatu yang salah."


"Jatuh cinta yah..." gumam Sebastian sambil menengadahkan kepalanya.


"Kakak pasti tahu rasanya."


"Hm..." dengus Sebastian. "Kalau tahu rasanya cinta akan sesakit ini mendingan dari awal ngga usah terjun ke dalamnya..." Gumamnya.


Sebenarnya ia tidak berbicara ke Meilinda, namun ke dirinya sendiri.


Namun ucapannya terlalu keras untuk diacuhkan.


"Kakak... Sakit begini karena sedang jatuh cinta?!" Meilinda terperangah.


Sebastian tertegun.


Menyadari ia salah bicara.


Lalu berdehem.


Dan terdiam karena salah tingkah. Hanya diam sambil menatap ke arah depan, entah apa yang dilihatnya, karena malas menatap adiknya.


"Astaga kak, padahal maksudku itu ke mbak Ratna loh...!"


(Ratna adalah ibu kandung Trevor)


"Kamu tahu sendiri saya ngga pernah suka sama Ratna. Untung saja melakukannya sekali dia langsung hamil, jadi saya ngga perlu sering-sering memaksakan diri..." Omel Sebastian


Meilinda langsung terbahak.


"Astaga kakaaaaak... Baru kali ini aku lihat kakak begini! Hahahaha!!" seru Meilinda.


"Apa yang lucu, hah?!"


"Rasanya aneh melihat kakak seperti abege!"


"Huh..." dengus Sebastian. "Kembali lagi ke topik awal."


"Ngga mauuu, aku pingin tahu siapaaa..."


"Ngga usah tahu."


"Ih kakak!"


"Kamu udah ngapain aja sama Gunawan?"


Meilinda membelalakkan matanya. "Kok jadi Gunawan?"


"Iya. Gunawan. Saya ngga mau denger mengenai Dimas. Sekarang saatnya Gunawan." sahut Sebastian.


"Memang kenapa kak? Itu kan sudah masa lalu..."


Sebastian menghela napasnya. Kali ini dia menatap Meilinda dengan serius.


"Ceritakan saja... Agar saya bisa mengantisipasi kemungkinan terburuk." Sahut Sebastian.


Meilinda menatap Sebastian dengan bingung.


"Anu... Yah..." Meilinda menggosok tengkuknya. "Kami sebenarnya belum pernah bertemu langsung karena dia selalu di Rusia. Awalnya aku juga ngga tahu kalau dia sudah memiliki istri. Dia bukannya kerabat kita juga yah?!"


"Kerabat dari ipar ke ipar, jadi hubungannya sangat jauh."


"Aku bertemu di acara pernikahan..."


"Iya dibilang kerabat yah memang masih kerabat. Tapi hubungannya jauh."


"Iyah begitu..." desah Meilinda. "Kami... Yah... Beberapa kali video call."


"Dan?"


"Dan..." Meilinda mulai tegang.


Sebastian meliriknya sinis.


Lalu menggelengkan kepalanya.


"Kenapa sih kamu ngga berpikir panjang?! Yang seperti itu kan bisa direkam lalu diviralkan!" Keluh Sebastian.


"Dimas sudah memeriksa semua root yang berhubungan dengan videoku kak."


"Ya tapi kalau dia masukan ke harddisk eksternal? Ngga akan kelacak..."


Meilinda diam.


Lalu wajahnya menjadi semakin pucat.


"Jadi Dimas tahu kelakuan kamu sama Gunawan?" Tanya Sebastian.


"Iya... dia juga mengomeli aku hal yang sama dengan kakak barusan." Sungut Meilinda.


"Kakak bukannya mau menakut-takuti kamu. Tapi Gunawan mendekati kamu dengan tujuan tertentu. Dengar Meli..." Sebastian mencondongkan tubuhnya. "Saat ini keberadaan Gunawan tidak diketahui. Laporan Keuangan Garnet Mining ia manipulasi agar sampai ke titik kerugian tertinggi. Sedangkan di perjanjian terdapat klausula bahwa saat terjadi kerugian pada Garnet Mining, pemerintah Rusia akan menetralkan tanah milik mereka. Itu berarti mereka akan mencabut semua izin pengeboran Garnet di lahan mereka dan mengalihkannya ke perusahaan tambang lain. Di bawah lahan itu, terdapat banyak mineral dan berlian kuning yang melegenda. Perjanjian antara Garnet Mining dan Pemerintah Rusia adalah 50 : 50 pendapatan. Dan Gunawan... Menggunakan Garnet Mining untuk penyediaan berlian bagi Pihak Amerika."


"Rusia dan Amerika adalah musuh lama..." desis Meilinda.


"Ya. Disitulah peran Gunawan. Lewat Garnet Mining ia akan menyalurkan hasil tambang ke Amerika, lewat perusahaan yang ia dirikan sendiri sebagai perantara. Kalau itu sampai terjadi, hubungan Indonesia dan Rusia akan memburuk... Dan yang terkena dampaknya bukan hanya seluruh perusahaan saya, tapi juga hubungan kerjasama negara ini." Jelas Sebastian.


Meilinda semakin memucat.


"Apakah... Ada yang bisa kita lakukan?" tanya Meilinda.


"Saya sudah melakukan beberapa tindakan preventif... hanya perlu kamu tahu bahwa... Meli..." Sebastian mengelus pipi adiknya. "Setiap tindakan kita, diperhatikan masyarakat. Setiap nama baik yang sudah kita bangun bukan hanya untuk keluarga kita saja, tapi juga untuk negara. Jadi... Pada saat kamu sedang menggunakan perasaan kamu seperti sekarang, tolong pikirkan baik-baik. Berulang-ulang... Kakak hanya tidak ingin kamu sakit seperti ini." desis Sebastian.