
Mereka menjalankan pancingan sesuai rencana Milady.
Skak Mat Tiga Langkah...
Biarkan Meilinda ambil langkah awal sebagai pion Ratu. Untuk membuka jalan bagi Ratu, yaitu Dimas, berjalan ke e4.
"Gun, saya menjalani kondisi sebagai kekasih kamu tanpa melihat latar belakang. Hubungan kita berjalan dengan baik, pekerjaan kamu berjalan lancar. Tidak seharusnya kamu menggunakan saya untuk hal ini, kamu tahu kebelakangnya tidak akan bertahan lama..." sahut Meilinda.
"Memangnya kamu pikir selama ini berapa banyak tekanan yang kudapatkan dari Garnet Grup? Hm? Dari kakak kamu? Dari keponakan kamu?"
Gunawan mulai terpancing untuk lebih terbuka mengenai hal pribadi, tidak lagi berbicara mengenai untung rugi tambang.
Pion Raja mulai maju, menghadang pion Ratu.
Namun...
Pak Dimas..." sapanya. "Pertama kali saya berjumpa dengan Anda, saya sudah tahu kalau moment ini akan tiba dengan cepat. Terima kasih Anda datang di saat yang tepat sehingga saya bisa bergerak cepat menyesuaikan diri."
"Sama-sama." balas Dimas.
Gunawan tidak mengenal Dimas, mereka hanya pernah bertemu sekali saja di Lembang. Dan Gunawan tidak tahu kalau lidah Dimas sangat berbisa.
"Seberapa besar Anda mencintai istri dan anak-anak Anda?" Sang Ratu mulai menyebarkan aksinya.
"Anda mengancam saya?!" tanya Gunawan.
"Saya hanya bertanya. Keingintahuan saya cukup besar, karena sebagai sesama pria, saya tidak mengerti maksud anda memperistri tapi tidak dikawin secara sah."
"Hm... Yang anda maksud, istri saya yang mana? Saya punya tiga istri, dan punya 9 anak. Saya mencintai semuanya." sahut Gunawan. Ia malah mengakui aibnya. Mungkin ia ingin merasa lebih hebat dari Dimas.
Pion lawan sudah maju...
"Anda banyak tanggungan keluarga yah Pak Gunawan, seharusnya Anda tidak mengeluarkan kalimat sarkasme ke Boss kalau masih ingin digaji besar. Anda butuh uang untuk membiayai semuanya kan..."
"Wah wah wah... Khas keluarga Bataragunadi. Kehabisan ide, mau berniat mengancam keluarga saya, heh?! Saya tidak seperti mantan suami Meli yang terima-terima saja ditindas oleh Sebastian sampai sekarang. Saya akan bawa pengancaman ini ke pihak berwenang."
"Saya tidak mengancam Pak Gunawan. Saya hanya ingin tahu. Anda terlalu berpikiran pesimis..."
Gunawan menatap Dimas dengan dingin.
Dimas menyeringai.
Pion lawan sudah dimakan. Jalan Ratu terbuka, Ratu bergerak maju ke arah Raja...
"Pak Gunawan... 6 dari anak Anda adalah perempuan. Apa tidak terpikirkan oleh Anda kalau di masa depan mereka akan disakiti laki-laki seperti Anda menyakiti Meli? Dan anda memiliki 3 istri yang semuanya anda sangat cintai, apa tidak terbayang seandainya mereka... Merasa tidak diperlakukan dengan adil oleh Anda?"
"Saya menemui mereka secara berkala, nafkah juga sama rata. Kalau Anda mau tahu Pak Dimas, Meli yang lebih dulu merayu saya. Saya bahkan tidak membuka pakaian saya." ia menyeringai licik.
Meilinda gemetar di pelukan Dimas.
Pegangannya merenggang. Dimas malah semakin memeluknya dengan erat.
Nyatanya masa lalu Meilinda yang kelam tidak mempengaruhi Dimas. Pria itu tetap maju mencintai dirinya.
"Yang Anda lakukan ke Meli itu tidak adil, bagaimana anda bisa bilang kalau istri-istri Anda, yang sama-sama wanita dengan Meli, merasa diperlakukan adil? Mereka bahkan tidak saling tahu." kata Dimas.
Gunawan tegang.
"Dari kalimat Anda, Pak Dimas, menyiratkan kalau anda akan membocorkan mengenai keberadaan mereka satu sama lain... Yah, saya sudah bersiap-siap. Kalau mereka minta bercerai, saya malah dengan senang hati menalak mereka."
Ratu menyamping ke h5 dan menyergap Raja lawan.
"Ooooh... Langsung saja talak 3 kalau begitu. Anak-anak ikut aku."
Ratu bergerak diagonal ke samping, mengalahkan Raja Lawan.
Mitha muncul dari pintu belakang Gunawan.
"Mitha...? Kok kamu..."
Skak Mat!
Gunawan langsung gemetar.
Mitha maju dan menatap sinis Gunawan.
"Aku udah curiga saat kamu bersikeras membuat akta pisah harta. Waktu itu alasan kamu untuk perjanjian pinjaman bank, Ternyata untuk persiapan ini... Mau menalak kami bertiga, atau salah satu saja?" sahut Mitha.
"Sudahlah, talak saja kami bertiga... Toh kami masih bisa cari makan sendiri yah Mbak?!" sahut Atika.
"Betul... Kami baru saja menandatangani kontrak kerja dengan Garnet Grup. Aku mulai minggu depan kerja di Garnet Hotel sebagai manager operasional. Mbak Atika kerja di Garnet Retail sebagai supervisor. Kalau Mbak Mitha?" kata Maya.
"Pak Sebastian memberiku jabatan untuk bidang usaha Garnet Grup yang baru, akan bergerak di sektor perhiasan. Bahan kami akan ambil dari Garnet Mining yang saat ini dikuasai Johan's Company. Itu loh... Perusahaan kamu yang pemegang saham terbesarnya adalah aku. Waktu kamu mendirikannya kan pinjam uang dari aku lima milyar yah! Masih pakai namaku juga untuk menghindari pajak, karena nama kamu sudah terdaftar sebagai pejabat Garnet Mining, kan?!"
Gunawan pucat...
"Mitha, kamu ngga bisa begitu dong! Ada undang-undangnya."
"Loh...sudah sah secara hukum perdata loh kalau Johan's Company itu milik aku. Salah sendiri kenapa bawa-bawa namaku, tapi malah mengkhianatiku?!"
"Aku melakukannya untuk kalian semua!!!" teriak Gunawan. "Gaya hidup kalian yang suka hedon, sosialita, memaksaku untuk mencari duit lebih banyak! Seharusnya kalian bisa mengatur keuangan lebih bijak jangan semua dibebankan padaku!!"
"Heh!!! Siapa yang selingkuh di belakang kami, hah?!" Atika maju menghadang suaminya. "Barang branded yang kami miliki kan menyesuaikan gaji dan jabatan kamu, yang suka kamu pamerkan dengan gembar-gembor itu! Kalau kami tahu ternyata semua itu dari hasil deviden saham Mbak Mitha, kami tidak akan menerimanya!"
Kami melihat Gunawan langsung pucat diserang ketiga istrinya.
Lalu ia menatap Dimas, bersiap menyerang pria itu.
Saat itu tongkat golf Sebastian teracung didepan leher Gunawan.
"Heh baji**ngan..." suara Pak Sebastian rendah dan penuh dendam. "Urusan kita belum selesai..."
"Sebastian..." Gunawan menatap Pak Sebastian dengan ketakutan. "Ada perjanjian kerja yang telah kita sepakati bersama, kamu tidak bisa begitu saja memecat aku...
"Iya, sayangnya begitu. Tapi... Saat ini istri kamu sudah menjadi karyawanku, dan dia pemilik sah perusahaan yang kamu gadang-gadang adalah milik kamu itu, jadi secara teknis, Mitha adalah atasan kamu mulai sekarang... Kalau ia masih mau menerima kamu, yah. Itu terserah dia sebagai Boss..."
Mitha menyunggingkan sebelah senyumnya.
"Saya pastikan kali ini ia akan bekerja dengan benar Pak..."
"Mitha..." Gunawan menatap Mitha dengan penuh pengharapan.
Terbayang satu persatu wajah keluarganya,
wajah adik-adiknya...
Dan bayangan akan masa depan mereka.
Selama ini mereka adalah keluarga terhormat.
Yang Gunawan lupa....
Mereka menjadi terhormat karena keluarga bataragunadi.
"Tolong beri aku kelonggaran... sudah berapa lama kita bersama? Aku memang berkhianat tapi aku tidak menelantarkan kalian kan?! Kamu tahu kan kalau aku masih harus memberi nafkah ayah ibuku? Adik-adikku? Plis Mitha."
"Kali ini aku yang akan memberi kamu nafkah. Jadi perintah pertamaku... Serahkan semua copy master video itu." Mitha menengadahkan tangannya.
"Mitha..."
"Serahkan, Gun..." Mitha berujar dengan tegas. "Semuanya, tanpa sisa..."
Gunawan menarik napas panjang.