Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Baper Sergap (4)



Orang itu...


Ayumi mengernyit saat melihat seseorang seakan berlari menuju bagian tersembunyi di balik lemari di ruangan ujung. Wanita itu dengan ragu menajamkan pandangannya yang tersembunyi di balik masker. Jarak pandangnya terbatas, tapi ia sangat yakin melihat seseorang masuk ke balik lemari buku di sudut sana.


Seluruh ruangan kini terselimuti gas air mata. Hanya pasukan Garnet Agency dan Ayumi yang tahan terhadap serangan.


Sebelumnya Arman juga telah memikirkan kesehatan Milady mengenai pengaruhnya terhadap gas air mata yang akan mereka luncurkan ini. Namun akhirnya disepakati karena tampaknya ruangan Milady akan sangat tersembunyi, maka kelihatannya pengaruh gas air mata tidak akan sampai ke ruangan Milady disekap.


Lagipula sepertinya para gangster sangat hati-hati memperlakukan Milady, terbukti karena mereka sudah menyisir semua ruangan di bangunan utama dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Diamond.


Diamond adalah kode untuk Milady.


Dalam hal ini, Ayumi mengakui intuisi Arman cukup hebat.


"Ares..." panggil Ayumi. Namun suara Ayumi teredam suara senjata. Earpiecenya tidak menangkap suara apapun... Area tempatnya berdiri tidak ada sinyal.


Itu berarti material bangunan tempatnya berdiri sekarang berbeda dengan ruangan lain.


Ayumi menoleh ke samping lagi, ke arah orang yang tadi menghilang. Kalau ia nekat mengejarnya, berarti ia akan berpisah untuk sementara demgan Arman.


Sudahlah...


Lagipula aku di sini untuk membantu.


Pikir Ayumi sambil mengikuti orang yang berusaha kabur tadi.


Ruangan lain menuju ke arah basement... Ada dari balik lemari.


Ayumi melepas sebelah sepatunya dan meletakkannya di depan lemari rahasia.


Lalu masuk ke dalam...


Seketika ruangan langsung senyap. Earpiecenya tidak menangkap suara obrolan, juga tidak mendengar suara tembakan.


Tembok beton? Di kaki gunung?!


Entahlah...


Yang jelas sinyal satelit tidak sampai kemari.


Lorong panjang menuju ke bawah, perlahan undakannya menurun.


Ada beberapa pintu di samping kanannya.


Ayumi melepaskan masker dan earpiecenya, lalu menempelkan telinganya ke pintu pertama.


Suara orang mengobrol... dan kokangan senjata.


Duh...


Tidak ada ruang untuk dirinya sembunyi kalau mereka keluar dari sana. Pikir Ayumi sambil menengok ke kanan dan kiri mencari celah.


Ayumi segera ke pintu nomor dua.


Suara laki-laki dan suara wanita.


Latief...


Ayumi mendengar suara wanita memanggil nama si laki-laki itu.


"Ah!" desis Ayumi. Itu tampaknya Rady-San!


Sekarang, bagaimana caranya masuk?!


Taruh sepatu dulu untuk meninggalkan jejak...


"NAHH!!!" seseorang membekap mulut Ayumi dari belakang. "Akhirnya Nona Jepang datang juga!!"


Pria besar, hitam, gemuk, dengan banyak tato.


Juga berbau busuk.


"Masuk sana!! Ketemu sama Sri Ratu!!" pria itu mendorong pintu dan melemparkan Ayumi ke dalam.


Bruakk!!


Ayumi mengaduh sambil berguling perlahan ke samping.


Luka-luka cambuk di punggungnya belum kering benar, luka operasi di pahanya semakin sakit karena efek pain killer sudah semakin habis, belum tangannya yang barusan terkilir karena membantu Arman, dan sekarang harus di lempar ke lantai sampai sikut dan lututnya sobek akibat benturan.


"Ayumi?" tanya Milady kebingungan.


"Hei... Rady-San." kernyit Ayumi menahan sakit dengan senyum dipaksakan.


"Ayumi Sakurazaka... Jadi di luar sudah semakin genting yah..." ujar Latief.


"Udah belom nostalgianya, Hah?! Ayo kabur kita cepetan!!" seru Jeko ke Latief.


Pria itu menggeret Ayumi ke arah berlawanan dan masuk ke pintu rahasia lainnya.


Latief membopong Milady mengikuti Jeko.


"Kita mau kemana?" tanya Milady.


Latief hanya menghela napas sambil tersenyum masam.


Pria itu bungkam.


Ayumi menjatuhkan masker oksigennya di arah pintu rahasia.


*****


Keadaan di Kantor Garnet Grup.


Ipang menyeruput kopinya sambil membaca draft rancangan konferensi pers buatan Dirga sambil mengernyit.


"Mas Dirga..." desisnya.


"Hm?" sruupppttt... Dirga juga menyeruput kopinya.


"Kok bahasanya bagus banget yak... Kalah Pak Arman." Ipang menyeringai


"Serius si Arman kalah?!" Dirga menegakkan duduknya, merasa bangga.


Ipang mengangguk.


"Keren Mas... Saya sebagai orang awam jadi lega bacanya, rasanya bisa meredakan kepanikan publik, tapi juga Mas Dirga tetap dapat meyakinkan adanya kinerja pemerintah yang intens."


"Yah... peristiwa sebesar ini kan tidak seharusnya diketahui banyak orang..." Dirga membetulkan seragamnya yang kusut sambil berdehem.


Ipang mengangguk setuju.


"Jadi..." cowok itu melanjutkan ketikannya untuk diACC James Rutherfort sebagai pengganti sementara Sebastian dan Arman tidak di tempat.


"Sebenernya ada masalah apa sih?"


Dirga menatap Ipang dengan tertegun.


"Serius lo nanya itu?" dengus Dirga.


Ipang mengangguk. "Memang ada apa Mas?"


Wajah polos Ipang membuat Dirga mengernyit.


Saat ini Malik Adara juga sudah dalam perjalanan menemui Sebastian bersama Atmana Hadiprasetyo.


Dan Ipang bahkan belum mengetahui apa yang terjadi...


"Gue kasih tau, tapi lu jangan heboh."


Kata Dirga sambil merendahkan suaranya.


Ipang menoleh ke kiri dan kanannya.


Kosong.


Reny sedang di ruangan James, dan karyawan yang lain sedang menjauhi area Direksi karena jengah dengan kehadiran Dirga dan Rama.


"Istri Bigboss Diculik Mafia Yakuza." Bisik Dirga.


"Waduh... Gawat dong ya mas." desis Ipang.


Dirga mengernyit. "Ya iya lah gawat..."


"Kasihan juga ya Bigboss... Kok bisa terlibat sama Yakuza segala..." Ipang melanjutkan ketikannya.


Dirga hanya berpangku tangan melihat reaksi Ipang.


Sedetik...


Dua detik...


Tiga det...


"KAK LADY DICULIK MAKSUDNYA?! KOK BISA!!!!!" Ipang menjerit sambil berdiri.


"Buffernya lama juga..." desis Dirga.


Ipang mencengkeram kerah Dirga.


"Dia diculik di mana?! Gimana bisa sampai begitu?! Ini semua berhubungan?! Jangan bilang Pak Arman kesana dalam misi penyelamatan!!"Ipang benar-benar panik. Gemetaran dan Pucat.


"Iya. Lu doa'in aja semua lancar." Dirga melepaskan tangan Ipang dengan rasa maklum yang tinggi.


"Kepolisian sudah turun tangan kan?!"


"Kami tidak diizinkan turun tangan oleh Pak Sebastian."


"Jadi... Pak Arman yang kesana?"


"Iya. Dan juga, bokap lo sekarang dalam perjalanan menuju kantor Segneg untuk membicarakan hal ini."


"Nyokap gue??"


"Kayaknya ngga dikasih tau biar ngga panik, kakak perempuan lo yang satunya juga masih belum tahu."


"Astaga..." Ipang duduk sambil mengusap wajahnya. "Astaga... Kak Lady..." dia menutup wajahnya dengan tangan.


Dirga menghela napas.


"Bro... Lu istirahat dulu deh. Ngga usah maksain kerja..." sahut Dirga.


"Astaga...Tuhan..." Ipang mulai terisak.


"Sini... Gue ceritain detailnya." desis Dirga sambil memeluk bahu Ipang memberikan kekuatan.


*****


Ayumi meronta sekuat tenaga membebaskan diri dari ikatan tali tambang yang melingkari tubuhnya ke pohon.


Kalau hanya ia yang menjadi tawanan, ia tidak akan meronta sebegitu kuatnya.


Masalahnya...


Milady dalam bahaya.


Kini Latief dan Jeko sedang berkelahi. Mereka sedang bersitegang mengenai siapa-yang-akan-membunuh-siapa.


Latief melindungi Milady sekuat tenaganya. Sedangkan Jeko sepertinya sangat bernafsu untuk menggerayangi Milady.


Wanita itu memang sangat cantik.


Di gunung yang berkabut saja, ia bagaikan dewi.


Bersinar dan menakjudkan.


Bukannya Ayumi iri.


Malah lebih ke rasa kuatir.


Karena sepertinya Latief sudah kepayahan menghadapi Jeko yang dari tadi sulit tumbang.


Kemana sih si Ares mesum itu?! Masa ngga sadar kalau aku dari tadi ngga ada di sampingnya?! Mulutnya saja yang manis romantis... Nyatanya dia memang Bakayarou! (bodoh-idiot)


Umpat Ayumi dalam hati.


"Errgh!!" Ayumi meringis karena tangannya tergores kulit pohon yang ia gunakan sebagai pisau untuk mengiris tambang yang mengikatnya.


Sudahlah...


Luka badan bisa sembuh selama imun tetap kuat. Masalahnya kalau mengkhawatirkan luka, bisa-bisa ada nyawa yang melayang!


Jadi Ayumi tidak peduli tangannya sudah berdarah-darah, yang ia pikirkan hanya meraih Milady yang juga terikat di pohon satunya dan membawanya pergi dari sini.


Karena kehamilannya, Milady sepertinya dalam kondisi yang lemah.


Terlihat sang dewi sudah menunjukan tanda-tanda akan pingsan. Wajah cantiknya pucat dan pandangannya mulai tidak fokus.


Tadinya mereka di keluarkan dari markas dan diikat di sini karena menunggu transportasi udara dari rekan mereka yang lain. Jeko dan Latief akan membawa Ayumi dan Milady ke markas yang lebih aman.


Namun...


Tiba-tiba mereka mendapat kabar kalau kantor pusat klan Yamaguci Ito di Kanagawa mendapat serangan mendadak dari Klan Yamaguchi-Gumi.


Habis-habisan...


Perang gangster


Klan antar klan...


Sedangkan entah bagaimana, tidak ada bantuan dari Sumiyoshi-Kai sebagai Ketua Klan Pusat naungan Yamaguci Ito.


Ayumi juga mendengar, Yamaguci Ito tewas ditembak dan Hari Fadil melarikan diri.


Sudah pasti tidak akan ada bantuan transportasi dari rekanan, semua sibuk kocar-kacir.


Dan saat itu Jeko mulai panik dan bertekad melakukan tindakan pelecehan terhadap Milady sebelum membunuh wanita itu.


Juga...


Ayumi mendengar kalau lokasi mereka saat ini adalah lokasi yang sama dengan...


Kasus pembunuhan 30 tahun yang lalu.


Ternyata saat itu, Jeko juga yang melakukan aksi itu.