Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Let The Game Begin (7)



Kantor BNN


"Mana?" Sebastian menengadahkan tangan ke Danu saat mereka melewati pintu masuk. Danu menyerahkan alat kecil ke tangannya.


"Bilang ke operator besarkan speakernya." desis Sebastian.


Sebastian langsung menyeruak masuk ruangan Irwan Hartawi sambil mencengkeram leher pria setengah baya yang kaget itu.


Irwan tidak mengira akan mendapatkan serangan di siang bolong. Sementara beberapa karyawan dan staff yang tadinya berusaha menghalang-halangi Sebastian dan Danu untuk masuk, tidak mampu menghentikan gerakan Sebastian.


Karya ini adalah karya original milik Septira Wihartanti.


"Lepaskan, Pak..." Desis Dirga dengan suara rendah sambil siaga meraba kantong pistol di pinggangnya, ke arah Sebastian.


Ia tidak serta merta mencabutnya karena masih ragu kalau Sebastian adalah sebuah ancaman. Apabila ia sambil mencabut dan mengacungkannya, berita acara yang harus ia hadapi bisa-bisa sangat merepotkan, belum apabila Sebastian mengajukan tuntutan ini-itu.


"Bagaimana nama kamu bisa ada di daftar, Irwan?" tanya Sebastian langsung ke inti pembicaraan.


Ia tidak suka basa-basi.


Irwan membelalakan mata menatap orang yang sudah dikenalnya sepanjang karier di dunia politik itu sebagai 'Berkeley Modern' atau beberapa pakar menyebutnya juga sebagai Legenda Treasury.


Dan Irwan... Sangat paham maksud pertanyaan Sebastian.


Ia belum mampu menjawab Sebastian, Ia butuh menenangkan diri dulu.


Karier puluhan tahunnya sedang terancam... Keluarga besarnya sedang diambang jurang kemunduran.


Sebastian mengetahui namanya ada di daftar... Itu berarti Ayumi Sakurazaka sudah ada dalam genggamannya.


Pertanda... Akhir kedigdayaan Irwan Hartawi.


"Bisa kita bicara secara privat?" desis Irwan.


Sebastian melepaskan cengkerannya dengan mendorong Irwan. Irwan limbung ke belakang namun masih bisa menahan posisi berdirinya.


"Tolong tinggalkan kami." desis Irwan ke karyawan-karyawannya yang berdiri di depan pintu.


"Kamu tetap di sini." sahut Sebastian ke Dirga.


"Saya... Pak?" Dirga ragu, ia menatap Sebastian dan Irwan bergantian.


Irwan mengangguk memberi persetujuan.


Dirga pun akhirnya berdiri mengambil posisi di depan pintu, berjaga sebisanya dengan jengah.


Danu masuk ke ruangan dan menutup pintu.


"Istriku ditawan Yamaguci." sahut Sebastian.


Irwan menarik napas. Tegang...


"Yamaguci Ito atau Yamaguchi-Gumi?" suaranya serak.


"Kamu tahu yang mana..." Geram Sebastian.


Irwan menarik napas lagi. Ia merasa ruangan itu sangat sesak, padahal luasnya hampir 40m2.


"Maaf Yan..." desisnya. "Itu sudah berlangsung lama sekali."


Jeda agak lama. Semua menunggunya berbicara.


"...Kamu tahu tidak mudah untuk menaikkan karierku sebagai..." Irwan tidak melanjutkan kalimatnya dan terduduk dengan lesu dikursi kerjanya.


"Apa yang terjadi selama ini? Kamu tahu semua... Arman sedang mencari Milady menyisir pegunungan, aku kehilangan puluhan milyar Yen untuk mengadu domba Yakuza agar saling berperang, dan lagi... Si Bang*sat Hari Fadil... Kamu melindunginya selama ini?!"


"Istrinya ada di tempat kamu Yan..." Irwan melirik Danu. Istri sah Hari Fadil, Sarah Fadil, bekerja di Garnet Bank sebagai Kepala Divisi Pendanaan. "Dan Gunawan Ambrose masih keluarga kamu." Seakan ia ingin memperlihatkan kalau wajar ia melindungi Hari Fadil karena orang-orang yang ada di dalam daftar juga dalam perlindungan Sebastian.


"Permainan apa lagi ini, hah?!" sungut Sebastian.


"Sebastian..." Irwan duduk menghadap Sebastian dengan tegang, namun menatap tajam ke arah Sebastian.


"Kamu berada di puncak rantai makanan sudah terlalu lama. Sudah saatnya kamu turun. Walaupun taring seekor Megalodon bisa bertahan kuat puluhan ribu tahun, namun tubuhnya tetap akan membusuk dimakan zaman..."


Sebastian berdiri menantang Irwan di depannya.


Danu berdiri di sebelah Dirga, mengambil posisi waspada.


"Aku... dan Hari Fadil... Diutus Yamaguci Ito, mengincar formula baru, obat anti depresan yang sedang dikembangkan Garnet Med. Karena itu kami membuat berita miring mengenai keterlibatan narkotika di dalamnya. Tugasku, tadinya, adalah mengeluarkan pernyataan BNN bahwa obat itu jenis yang berbahaya. Aku mendekati petugas Lab, juga orang-orang yang terlibat, reporter, kejaksaan, untuk membuat kamu ditangkap... Namun... Rama Bagaswirya selalu di sekitar kami."


Terdengar tarikan napas Dirga.


Sejak awal ia memang curiga kenapa Rama ditugaskan untuk mengawal mereka menangani kasus ini, padahal Rama memiliki konflik internal dengan para pemainnya.


Sialan si Kolonel Hedon, berani-beraninya ia menyembunyikan ini semua dariku... mana masih sempat mesem-mesem pula!


Umpat Dirga dalam hati.


"Entah bagaimana dia mendapatkan izin resmi untuk mendampingi BNN atas kasus kamu. Ia selalu ada di sekitar kami untuk ikut memperhatikan. Alhasil, aku akhirnya merasa kalau ia sejak awal curiga akan settingan... Malam itu... Dia memergokiku sedang berdiskusi dengan Kepala Lab, Adeline, untuk mengeluarkan laporan palsu. Ia merekam semuanya, dan mengirimkan rekamannya ke Neneknya. Aku akhirnya menyerah... Saat keluarga Bagaswirya memanggilku secara pribadi."


"Sejak awal kamu tahu kalau tidak ada kandungan narkotika di obat itu."


"Iya, aku tahu kamu tidak akan berbuat securang itu. Tapi... Untuk itulah aku diangkat ke posisi ini, ke instansi ini. Untuk menjatuhkan kamu."


"Tidak lebih baik daripada saat di kepolisian dan merancang... Eksekusi Nelson dan Ershad."


Reflek, Danu langsung maju dengan emosinya dan bermaksud menyerang Irwan. Namun Dirga berhasil mencegahnya.


Nelson dan Ershad adalah Kepala Garnet Security periode Awal yang menghilang setelah mengawal Khamandana Rusli. Mereka bertiga belum ditemukan sampai sekarang.


"Hm... Keluar juga boroknya yah. Ceritakan semuanya, baru kamu boleh bunuh diri..." desis Sebastian sambil duduk di tepi meja kerja Irwan.


Terlihat tangan Irwan terkepal gemetaran, tanda pertahanan emosinya.


"Sekitar 30 tahun yang lalu, peredaran narkotika di kepolisian sangat gencar. Kami memasoknya dari Yamaguci Ito. Para pemainnya... Aku, Hari Fadil dan... Diptar Handal."


"Astaga..." Dirga merasa lututnya langsung lemas.


Irwan melirik Dirga, lalu kembali menunduk, menerawang, menceritakan segalanya


"Lalu kami tertekan oleh ancaman terkuak oleh Baskara Beaufort. Saat itu kamu baru mendirikan Garnet Agency, Dengan Nelson dan Ershad sebagai komandan regu. Khamandana Rusli adalah klien pertama kamu..."


Sebastian mengangguk lalu menatap Danu. "Saat itu Papa kamu mengajukan permohonan mengenai penyelidikan aktivitas mencurigakan di dekat vilanya."


Irwan melanjutkan ceritanya. "Karena basecamp kami di pegunungan, dimana sangat dekat lokasinya dengan villa Khamadana... Maka cepat sekali ketahuan oleh mereka bertiga. Aku saat itu tidak berada di lokasi, harus ke Amerika untuk studi banding. Jadi yang melakukan eksekusi adalah Hari Fadil dan Diptar Handal. Terus terang... Aku tidak tahu apapun. Aku hanya tahu kalau kami kepergok. Itu saja.


"Jangan bohong kamu..." desis Sebastian menuduh Irwan.


Irwan menarik napas dengan jengkel. "Sudah ngga ada gunanya berbohong..." umpat Irwan.


"Lalu... Hal lainnya terjadi. Khamandana Rusli sebelum investigasi dan kematiannya mengirimkan pesan melalui surat ke daerah Dieng... Isinya selain surat berisi petunjuk kordinat adalah narkotika yang ia temukan di sekitar basecamp. Surat itu dikirimkan ke temannya sesama pendaki gunung universitas... Namanya Fredy Anumerta. Istrinya bernama Surti."


"...itu... Orang tua angkat Arman..." gumam Dirga.


"Ya. Benar... Orang tua Ares Manfred." Irwan menipiskan bibirnya karena geram. "Kebetulan... Mereka cucu partai komunis, jadi Diptar dengan mudah melakukan skenario penangkapan... untuk melenyapkan kordinatnya. Setelah itu keadaan menjadi jauh lebih mudah." Irwan menatap Sebastian.


"Itu bukan sekedar penangkapan... itu eksekusi mati di tempat..." ralat Sebastian.


Irwan mengacak-acak rambutnya. "Iya. kamu benar... lalu karierku naik, aku berteman dengan kamu, bisnis kita lancar... Aku juga merasa kasihan dengan Ares, jadi aku mengangkat kariernya di kepolisian. Paling tidak... Bisa mengurangi rasa bersalahku. Sampai... Diptar terjerumus kasus korupsi dan dipanggil KPK..."


"Laporan kasus atas Diptar, dilaporkan oleh Baskara Beaufort. Baskara bersahabat dengan Khamadana Rusli, ia masih mencari sahabatnya. Dan ia mencurigai kami... Kalau ia tidak bisa menangkap kami dengan tuduhan peredaran narkotika, setidaknya salah satu dari kami bisa dijebak dengan tuduhan korupsi... Aku berusaha hidup lurus setelah kematian Fredy dan Surti, Hari Fadil baru saja masuk dunia politik, dan Diptar mengancam Hari, akan menguak kejahatan yang kami lakukan kalau ia tidak dibebaskan. Dan saat itu... Peran Ares kami rancang..."


Sebuah senyum getir di bibir Irwan Hartawi, sang Komjen Pol Kepala BNN... Tanda menyerahkan diri...


"Namun... kami tidak menyangka Ares akan... menghabisi Diptar saat itu juga."


Irwan tahu suatu saat akan terkuak secara cepat. Saat ia melihat anak buah Yamaguci Ito di acara pernikahan minggu lalu... Ia langsung pulang dan bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk.


Hari ini adalah harinya...


Sungguh, tadi pagi, tidak ada satupun pikiran buruk..


Untung saja ia sempat berpamitan dengan istrinya.


"Setelah kematian Diptar tadinya kepolisian mengeluarkan perintah keras untuk Ares dibui, namun Baskara berhasil melindunginya. Kami semakin meradang... Akhirnya hanya bisa memecat Ares. Aku sebenarnya sudah bertekad untuk tidak lagi ikut campur dalam masalah ini..."


Irwan meminum air di dalam gelas, seteguk... dua teguk... tenggorokannya sangat kering...


"Aku merasa semakin terlibat dengan kamu dan Baskara, semakin kalah kami.... Namun Hari dan Yamaguci Ito semakin emosi saat mengetahui kalau Baskara dan kamu... Memenjarakan Tadashi Sakurazaka. Saat itulah... Rencana meracuni Baskara Beaufort digagas."


Sebastian menarik napasnya.


Matanya panas...


"Baskara... Meninggal karena serangan jantung. Ada 4 ring yang sudah dipasang..." suara Sebastian bergetar.


Irwan menatapnya nanar "Kami membayar dokter di rumah sakitnya untuk menyisipkan narkotika jenis baru yang berfungsi untuk merusak kinerja jantung..."


DUAGG!!!


"Bang*sat kamu!!" pekik Sebastian sambil menerjang Irwan. "Baji*ngan!! Pecundang!!"


Kata-kata makian dan sumpah serapah sembari ia meninju tubuh Irwan berkali-kali seakan kabur oleh angin dan buram dalam pandangan.


Semuanya bagaikan gaung tak jelas... Saat orang-orang di ruangan itu hanya bisa termangu sambil mengingat masa lalu...


Danu dan Dirga tidak bereaksi... Mereka hanya berdiri dengan perasaan jijik saat menatap Irwan yang babak belur dihajar Sebastian.


Orang-orang yang berkumpul di depan ruangan Irwan Hartawi juga hanya bisa termangu...


Termasuk Atmana Hadiprasetyo yang dari tadi sudah datang... Duduk lesu di kursi sekitar sambil meneteskan air mata.


Tidak ada yang bereaksi...


Semua mendengarkan cerita Irwan Hartawi lewat pengeras suara yang sengaja dipasang oleh Sebastian di kerah baju Irwan saat ia tadi mencengkeram leher Irwan.


Tidak ada yang menghentikan Sebastian memukuli Irwan, semua merasa kejahatan yang dilakukan Irwan Hartawi sudah sangat besar.


Termasuk...


Di lain tempat, di dalam heli milik Garnet Oto.


Arman dan Ayumi mendengarkan pengakuan Irwan melalui satelit.