
Senin yang tenang...
Arman dengan hidupnya yang dibuat lebih sederhana, keluar dari pantry sambil mengaduk kopi.
Di atas mejanya sudah ada banyak amplop berbagai warna, surat dan dokumen untuk Boss Besarnya.
Ia sekilas membaca surat paling atas yang bercap Private and Confidential.
Rata-rata kiriman untuk Sebastian memang tulisannya Private and Confidential, atau Fragile seperti paket online shop, atau Top Secret seperti di film- film genre action.
Lalu ia terkekeh melihat alamat pengirimannya.
Dari Yakutia, timur laut Rusia.
Disana adalah lokasi tambang berlian besar. Garnet Mining dapat beroperasi di sana dengan syarat output Berlian yang mereka hasilkan hanya 70% dari perusahaan lokal.
Ini pasti yang masalah Gunawan Ambrose... Cepat juga respon mereka, Pikirnya.
Padahal baru tadi malam Arman meminta dokumen, sesuai perintah Sebastian.
Tak lama, terdengar bunyi interkom di mejanya.
"Corsec Unit, dengan Arman." sapa Arman ke seseorang dari interkom.
"Pak Armaaan..." suara genit Yani, operator lantai lobi.
"Ya sayang..." goda Arman. Namun wajahnya tetap lempeng.
"Ada tamu di ruang tunggu prioritas lantai bawah, namanya Pak Irwan Hartawi. Dia... Dari BNN. "
Dia lagi dia lagi... Keluh Arman."Bilang ke Pak Komjen Pol, Boss lagi cuti."
"Dia cari Pak Arman."
Arman langsung tersedak kopinya.
"Pak?" tanya Yani.
Arman menyelesaikan batuknya dan mengusap dagunya yang basah dengan kopinya.
"Bilang aku lagi...pingsan." Padahal Arman sudah berusaha menghindari yang satu ini dari kemarin Pak Komjen datang ia sengaja tidak turun ke lobi.
Kenapa sekarang malah datang kesini? Saat Bossnya tidak ada ,dan mencarinya pula Keluhnya.
Tapi ia sudah duga suatu saat semua akan tahu kalau dirinya ada di bawah perlindungan Sebastian.
"Iiih becanda muluuuu, cium niiih." Goda Yani. "Aku udah bilang kalau Pak Arman ada di atas."
Dasar cewek be**go... Umpat Arman. Lain kali ia akan bilang ke tim pelatihan karyawan supaya para operator diberi pendidikan cukup biar ngga terlalu polos.
"Yah, aku baru mau pergi nih sayang, dia kan ngga ada janji ketemu aku..."
"Pak Komjen datang sama Pak Kompol." sahut Yani.
Ya Ampun... Dia dateng sama Dirga. Keluh Arman.
Pria tampan ala oppa Korea yang wajahnya tampak 20 tahun lebih muda itu menarik napas menahan emosi.
"Ya sudah... Kamu sediakan kopi juga buat aku di ruang tunggu prioritas. Aku turun ke bawah sekarang." Akhirnya Arman menyerah.
"Oke Pak Arman. I love youuu..."
Dan sambungan terputus.
Arman berdecak kesal.
Berpura-pura baik dan selalu tersenyum, ada batasnya juga.
Dan saat ini moodnya langsung anjlok. Ia bahkan tidak bisa melatih senyumnya.
Ia pikir hari ini bisa bermalas-malasan di meja kerjanya, sambil nonton netflix, mumpung Boss lagi cuti seminggu. Malah ia jadi pengganti Boss.
"Arman!"
Astaga... Apa lagi, sih... Keluhnya saat seseorang memanggilnya dari kejauhan.
James, Direktur Treasury, datang menghampirinya dengan wajah kuatir. James memang selalu tampak kuatir. Apalagi sejak Pak Stephen, rekannya, dipindah ke Garnet Bank.
"Boss tuh cuti apa sih? Stochastic lagi oversold ini! Kita harus rebound!" serunya panik.
Arman tidak terlalu mengerti pergerakan saham, jadi hanya bisa bilang,
"Iya Pak, itu akibat rumor narkoba kemarin. Besok juga naik lagi... Ini udah hampir selesai kok kasusnya. Mau sekalian nemenin saya ketemu pak Komjen Pol di lantai bawah?" tanya Arman.
"Orang BNN ada di bawah?"
Arman mengangguk.
Arman menjulurkan lidahnya mengejek pria itu. Lalu menekan tombol lift sambil mengutak-atik ponselnya.
Yazaki Eiichi mengiriminya gambar Dari tik tok mengenai aplikasi face app. Arman terkekeh sendiri melihatnya.
Lalu membalas pesan Eiichi dengan tulisan : dasar gendeng.
Biar saja Yazaki-San membuka google translate untuk menterjemahkan artinya, pikir Arman.
Sebagai Kepala Divisi Corporate Secretary, Arman cukup populer. Karena pekerjaannya berhubungan dengan semua unit. Ia memiliki akses untuk mengetahui segala yang patut diketahui. Para sekretaris Direksi yang tersebar di seluruh grup ada di bawah yuridiksinya.
"Pak Arman, Selamat Pagi." Janet, salah satu sekretaris untuk Komisaris Utama bertemu dengannya saat lift berhenti di lantai 15.
"Pagi." Arman hanya meliriknya sekilas dan kembali sibuk dengan ponselnya.
Janet memasuki lift dan pintu lift menutup.
*****
Arman keluar dari lift sambil merapikan dasinya dan mengusap bibirnya yang sedikit memerah terkena lipstik Janet. Lalu berjalan dengan langkah ringan ke arah ruang tunggu prioritas lobi.
"Pak Arman, selamat pagi..." sapa Reny sambil mengerling padanya.
Arman menyeringai.
"Bros kamu miring..." sahutnya mengingatkan Reny. Bros Reny terletak di atas dadanya.
"Pak Arman..." Yani menyapanya sambil menyerahkan kartu akses ruang tunggu. "Kopi bapak sudah siap di meja ya pak, para tamu sudah saya siapkan juga lengkap dengan snacknya."
"Good..." desis Arman.
"Saya ngga dapet reward nih pak?" Yani menatapnya dengan pandangan penuh arti.
"Nanti malam kamu ke atas ya, di tempat biasa..." bisik Arman.
Yani terkikik...
Dasar cewek-cewek jab**lay... Umpat Arman dalam hati sambil membuka pintu ruang tunggu.
"Selamat pagi bapak-bapak yang terhormat..." Sapa Arman, setengah menyindir, saat masuk ke ruang tunggu.
Dirga mendecak melihat Arman.
Duduk di sofa, Irwan Hartawi dan Atmana Hadiprayitno di sana.
Arman menghela napas. Yani tidak bilang kalau ada Ketua Komisi III DPx xx juga di sini.
Arman semakin kesal. Ia berpikir akan memberi cewek itu pelajaran nanti malam, mungkin mengikatnya dengan rantai dan mengerjainya sampai pingsan.
Kedua pria baya ini memiliki hubungan yang erat dengannya di masa lampau.
"Ares... Apa kabar?" sapa Irwan Hartawi. Pria itu tampak lega melihatnya.
"Kabar saya lumayan." gumam Arman. "Lebih baik daripada dulu, yang jelas." tambahnya.
Pak Irwan menghela napas.
"Kami berdua mencari-cari kamu selama ini, tidak disangka ternyata kita begini dekat."
"Begitu ya Pak... Selama ini saya ngga kabur kemana-mana, di sini saja. Kata Boss saya, sudah saatnya saya keluar kandang, karena itu dia menyuruh saya ke BNN kemarin. Kayaknya akan ada kehebohan sebentar lagi..."
Pak Irwan dan Pak Atmana saling berpandangan.
"Dengar Ares... Kami..." Pak Irwan menghentikan kalimatnya karena Pak Atmana menyentuh bahunya.
"Ares... Kami tidak melupakan masa lalu walaupun tetap melangkah ke depan. Kami hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja." Kata Pak Atmana.
Keduanya adalah atasan Arman dulu. Mereka yang mengangkat Arman, mereka juga yang menjatuhkannya.
"Oh, bukannya memastikan kalau saya sudah mati, ya?" seringai Arman menghiasi wajahnya yang tampak innocent.
"Kamu mengeksekusi terdakwa yang saat itu menjabat sebagai ketua majelis tanpa perintah, kami tidak ada jalan lain selain..."
"Dia memenggal kedua orangtua saya di depan mata saya sendiri!!" seru Arman keras sambil berdiri dan menggebrak meja.
Kesabarannya sudah habis.
Dirga sampai berdiri dan menyentuh senjatanya untuk kemungkinan terburuk.
"Bagian mana yang saya harus merasa bisa memaafkannya? Dan saya juga heran, siapa yang mengeluarkan perintah agar saya memimpin penyergapan? Seakan memang sudah dirancang supaya saya bertindak sendiri." Arman merendahkan suaranya.
Ia kembali duduk, mengatur napasnya supaya tenang.
Ruangan seketika hening.
"Yah...sudahlah." detik berikutnya, Arman kembali dengan topeng yang biasa dipakainya. Ramah, supel dan tampak tanpa beban. "Sekarang... ada yang bisa saya bantu?"