Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
We Are Family (1)



"Lagi ngomongin apa?" Arman menghampiri Eiichi dan Ayumi yang terlihat sedang bersenda gurau di area ruang kesehatan kantor Garnet Security Agency.


"Ah, Boss-Kun sudah ke mobil buat simpan peralatan?" Tanya Eiichi.


"Baru dari sana." Sahut Arman, Dia terlihat mengamati Eiichi dan Ayumi. "Tumben kalian berdua... Akrab." Arman menaikan sebelah alisnya sambil tersenyum curiga.


"Iya... Kan 'teman lama'..." Kata Eiichi sambil mengerling, mencoba membuat Arman cemburu.


"Hem..." Hanya itu balasan Arman.


Lalu ponsel Eiichi berdering.


Tertera huruf hiragana di bagian depan layarnya, nama istrinya, Noriko.


"Duh... Pasti bakalan ngomel lagi nih." Desis Eiichi.


"Bawain aja martabak... Paling udah seneng dia. Tapi ngga usah ngomong kalo bawa oleh-oleh. Bilang aja otw pulang..." Kata Arman.


"Yang ini?" Eiichi menunjuk kotak martabak yang belum tersentuh isinya.


"Iya."


"Oke oke..." Lalu ia mengangkat teleponnya. Terdengar suara Noriko mengomel dengan suara melengking. Eiichi memasukan satu kotak martabak manis ke kantong plastik dan buru-buru pergi dari sana.


"Kamu... Terlihat terbiasa sekali yah menghadapi wanita..." kernyit Ayumi.


"Yah... Begitulah."


"Dalam hal membohongi..." Sambung Ayumi.


"Hei..hei..hei... Hati-hati kamu kalo ngomong. Bisa-bisa fitnah! Itu bukan bohong, itu namanya merayu, diplomasi..."


"Jadi itu artinya bawain martabak yang kamu bilang tadi pagi... Untuk merayuku."


Arman berdecak karena merasa terpojok.


"Yah... Aku sih berharap kamu mau menungguku sampai sore... Tapi malah maksain pulang."


"Kamu ngga bilang apa-apa, dan lagi ada tumpangan gratis. Terus aku harus gimana?"


"Ya memang kamunya aja lagi sial..."


"Terus..."


Ayumi menajamkan indera penciumannya, dia mengendus lengan Arman.


"Parfum wanita... Dari cewek yang rambutnya highlight pirang. Yang se ksi itu suka pakai buku mata palsu..." Maksud Ayumi adalah Janet.


"Hah? Hm.. Masa sih..." Arman mulai salah tingkah sambil menciumi kemejanya sendiri.


Ah iya


Benar juga...


Kenapa si Medusa ini bisa ingat parfum Janet sedetail itu?! Pikir Arman.


"Katanya ke atas mau ngomong sama Trevor, ternyata mengurusi kerja sambilan juga ya..." Sindir Ayumi dengan raut wajah sinis.


"Enggak, ini cuma peluk dan ciuman aja..."


Lalu Arman diam.


Ia memejamkan matanya karena menyesali kata-katanya barusan.


"Maksudku..."


"Iya aku ngerti kalau itu bukan urusanku. Kita bertindak profesional aja kan." Potong Ayumi.


"Eh, bukan itu..."


"Jadi kalau aku tetap berhubungan sama Mika, bukan urusan kamu juga kan ya?!" Desis Ayumi sambil beranjak mau pulang.


"Ha? Kok jadi kesitu? Apa tuh maksudnya 'berhubungan' ?!"


"Berhubungan ya berhubungan, Bakayarou..." Gumam Ayumi sebal sambil berjalan menuju lift.


"Eh, Loh? Mbak Ayu mau kemana?" Mitha keluar dari mushola saat Ayumi lewat di depannya.


"Mau pulang." Desis Ayumi pendek. Ia agak mengomel.


"Lah kok cepet aaamat?!"


"Ngantuk dan capeknya makin terasa waktu bertemu si komandan baka."


"Lagi ngambek, Mbak mitha." Sambung Arman sambil menyusul Ayumi.


Trevor keluar dari Mushola di ujung satunya.


Ia mengernyit.


Selama ia mengenal Ayumi, wanita itu belum pernah marah, ngambek ataupun mengomel.


Ayumi jenis wanita sabar yang selalu ceria, lebih sering tersenyum dan berlaku lembut.


Namun...


Kenapa Ayumi 'yang ini' tampak begitu 'hidup'...?


Seakan bagaikan seorang aktris yang sedang berakting, lalu sutradara berteriak Cut! Ia pun menjelma menjadi orang lain, dirinya sendiri...


"Ndak baik loh pulang sambil ngambek... Mending ngopi-ngopi duluuu calm down duluuu... Biar nanti di rumah tinggal tidur kan nyenyaaak jadinyaaa..." Mitha mesem-mesem ceria.


"Gimana aku ngga sebal kalo si Bakayarou ini baunya seperti habis masuk dari club kabuki?!"


"Loooh???" Mitha mengendus kemeja Arman, pria itu langsung mundur ke belakang.


"Itu cuma salam perpisahan." Gumam Arman.


"Mas Arman ini gimana sih... Kalo Mbak Ayu wanginya kayak parfumnya Mas Trevor, situ juga mikir kan?!" Mitha menunjuk dada Arman sambil berlagak manyun.


Semua malah diam menatap Mitha sambil berpikir.


Sebenarnya Mitha ini sudah tahu sampai sejauh apa sih?


*****


"Udah dong ngambeknya... Kan udah dijelasin tadi..." Keluh Arman.


Ayumi berjalan di depannya dengan cepat, muka ditekuk dan bibir cemberut.


Belum ada wanita yang ngambek terhadapnya selama ini.


Belum pernah...


Sehebat itu dia memperlakukan wanita.


Ini pertama kalinya.


Karena mungkin baru kali ini ia menjalin hubungan yang tidak main-main.


Namun tetap saja, sebenarnya ikatan di antara mereka rapuh.


Mereka tidak saling mencintai tapi sudah bersikap seperti layaknya suami-istri.


Apa adanya, cemburu, saling bertengkar, bahkan berakhir di ranjang.


Lumayan lebih pusing dari pada menghadapi kakek ubannya si Ipang.


Keluh Arman.


Contohnya sekarang...


Mungkin Sebastian sudah tidur jam segini, dengan Milady yang selalu memaklumi tingkah suaminya, memeluknya dengan rasa sayang.


Sedangkan yang ini...


Masuk apartemen, menyalakan mesin kopi, memasukan semua londry ke mesin cuci, mandi... Semua dilakukan dengan menghentak-hentak.


"Ares cepat mandi! Mesin cucinya mau kuputar!!" Serunya dari dalam kamar mandi.


Jarak mereka kurang dari 3 meter, untuk apa sih teriak-teriak... Keluh Arman.


Arman menghela napas dan membuka seluruh pakaiannya, mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi dengan malas.


Berjalan ke shower dan men-jepret- bokong Ayumi dengan handuknya.


"Baka..." Gerutu Ayumi sambil mencubit pinggang Arman.


"Ish! Itu masih clekit bekas ketembak..." Arman menghindar.


Lalu mereka mandi dalam diam, memikirkan rencana ke depannya.


"Eh, besok aku mendampingi Pak Sebastian ke Kebun Binatang di daerah Bogor. Tolong pagi-pagi siapkan..."


"Ikut."


"Ha?"


"Ikut..." Ayumi menoleh ke arahnya dengan mata berbinar. "Aku ikut boleh ya? Terakhir ke Zoo waktu SD..."


"Aku kerja."


"Ya kamu kerja aja... aku berkeliling."


"Ngga ah. Ntar kebanyakan ngambeknya."


"Ikut."


"Ngga."


"Ikut. Ikut. Ikut. Ikut..."


"Berisik Medusa, inget umur dong! Kamu itu udah 33 tahun, ngapain ke Kebun Binatang?!"


*****


Dan di sinilah mereka berada... Sekarang.


"Aku mau pelihara itu di apartemen..." Ayumi membelalakkan matanya saat melihat petugas kebun binatang melakukan Tiger Show. "Aku mau satu yang penurut, kuat, jago berkelahi, tapi mulutnya tidak seperti Ares..."


Milady terbahak mendengar Ayumi.


"Lebih mudah diurus ya dari pada Mas Arman?"


"Benar sekali..." Sahut Ayumi dengan mata masih terpaku ke depan.


"Dan baunya ngga seperti Ares, bau sales parfum wanita. Sudah pasti ngga ada kemeja bekas lipstik juga, kan...." Desis Ayumi.


Milady menatap Ayumi dengan tertarik.


"Wooo... Terus gimana sehari-harinya dia?" Tanya Milady penasaran.


"Jadi, kalo pagi Ares biasanya..."


"HaaASUh!"


Arman bersin dengan tangan menutupi kedua mulutnya.


"Perasaan badan segar... Kenapa bersin yak?!" Keluhnya sambil mengusap hidungnya.


"Makanya... Jangan berantem pas hujan-hujanan! Masuk angin kan jadinya..." Sahut Sebastian sambil mengendarai mobil mini golf.


"Apa alergi 'dompet kosong' ya..."


"Ngopi sana..."


"Benar juga belum ngopi. Ya udah Pak, itu ada cafe berhenti di situ dulu."


"Kamu nyuruh saya nyetir ke sana?!"


"Ya terus saya jalan ke sana gitu? Kan jauh..."


"Kamu ini makin kurang ajar ya lama-lama..." Sungut Sebastian, tapi dia belokkan juga mobil mini golfnya di depan cafe.


"Enak juga disetirin si Boss... Hehehe..." Desis Arman