
Malam itu diadakan acara makan malam bersama, karena Hans Bataragunadi, ayah Sebastian, berencana akan melakukan perjalanan umroh 3 hari yang akan datang.
Acara makan malam dihadiri 4 kepala keluarga beserta istri dan anak-anak mereka.
Sebastian, Trevor, Dimas dan Arman mengelilingi meja makan.
Dengan para istri yang sibuk di dapur tepat di sebelah meja makan, sambil membicarakan gosip viral dunia per-artisan yang terakhir booming di insta*gram.
Dan anak-anak yang heboh berlarian sambil menyenggol toples kue kering atau berebut sesuatu, seperti Romeo dan Rizky yang berebut duduk di pangkuan kakek buyut mereka -lebih tepatnya 'calon' kakek buyut mereka- tapi pada akhirnya Raka yang menang. Dan akhirnya mereka marathon nangis bersahutan.
Mitha menggendong Rizky yang mulai tantrum berputar-putar di lantai yang berserakan kue kering dan Trevor menggendong Romeo si sulung yang hampir saja meluapkan kemarahanannya dengan melakukan salto.
"Dari mana sih kamu belajar salto, haduuuh..." Omel Trevor sambil menggigit pipi Romeo.
Anak itu langsung cekikikan kegelian, tidak jadi marah.
"Eeng... Hehehe." Dimas terkekeh.
"Lu ye gara-garanye, game yang mana lagi yang ngajarin salto?!" Seru Trevor.
"Ceile brooo, Mortal Combat doaaang!" Sahut Dimas.
"Itu kan game tonjok-tonjokan." Sahut Arman.
"Kok Pak Arman tau?"
"Kadang ada manuver beladiri yang saya pelajari dari game dan film. Kakak iparnya Pak Dimas kelewat kreatif kalau diatas ring soalnya. Saya bosan kalah terus dibully."
"Gue curiga di novel ini banyak banget adegan bully. Jangan-jangan Authornya kalo ngga korban, ya yang ngebully hahahah!!"
"Langsung dicabut nyawa, lo..."
Hans Bataragunadi berdehem dan mencondongkan tubuhnya ke arah Arman.
"Kamu sekarang tinggal dimana?" Tanya Mamang Kebun.
(Mamang Kebun adalah julukan Dimas ke Hans, karena memang kegemaran pria berusia 85 tahun itu berkebun. Biasanya ia berkutat seharian menata tanaman-tanaman mahalnya di kebun yang terletak di halaman depan dan menyambung sampai ke belakang. Total luas taman sekitar 5000 meter persegi.)
"Kami masih menempati apartemen lama." Kata Arman.
Ayumi datang sambil membawa cireng bumbu rujak buatannya dan meletakkannya di depan Pak Hans.
"Wah, saya suka ini!"
"Makan nasi dong Ayah, maunya jajan terus." Sahut Sebastian.
"Iya, makanya saya belajar bikin ini biar Pak Hansu tidak jajan diluar." Kata Ayumi. "Sepertinya bapak ini tidak mau sesuatu yang bahannya terlalu berlebihan. Dia ingin yang bahannya sederhana khas jajanan. Kalau dibuat oleh chef, biasanya ada bahan-bahan yang asing di lidah kita."
Semua diam.
Berpikir.
"Hem..." Pak Hans menganggukkan kepala saat menggigit sepotong. "Ini dia. Hanya aci, sasa, bawang, dan bumbu rujak. Enak... Enak banget..."
"Mana ada gizinya." Sahut Sebastian sambil mengernyit saat memasukkan jajanan itu ke mulutnya.
"Ah! Gizi bisa dari asupan lain. Tapi rasa jalanan ini yang bikin saya nostalgia."
Dimas cengengesan.
"Sekalian ajaaa Ayumiii suruh tinggal siniii, biar bisa masakiin jajan tiap hariiii..." Dia berbisik ke Pak Hans, sekalian hipnotis sepertinya.
"Usul yang bagus! Gimana Arman? Mau tinggal di sini menemani saya?! Sekalian saja Milady di sini juga! Kan Rahwana jadi ada temannya!"
Semua diam.
"Ini alamat 24 jam kita dijejalkan masalah pekerjaan... Sekalian saja buka kantor di rumah kakek." Sungut Trevor.
"Nanti judul novelnya jadi : Bossku adalah Ayahku dan Sekretarisku adalah Mantanku, Sementara Tanteku adalah Istri Teman Baikku yang menjadi CEO di Perusahaan Ayahku." Sahut Dimas.
"Dan Tinggal Satu Atap. Terus aja sampe pingsan, Bro. 500 episode juga ngga bakal tamat !" Sahut Trevor.
Para istri menghampiri.
"Ini loh kesukaan Mbak Ayu! Martabak maniiisss ala Mitha Saraswatiii!!" Mitha dengan ceria menaruh sepiring martabak dengan taburan serutan coklat matcha di tengah meja.
"Eh, sama ini." Dan sebatang lilin di tengahnya.
"Selamat ulang tahun Mbak Ayuuu walaupun telat satu setengah bulaaannn!!"
Ayumi ternganga melihatnya.
Darimana mmereka semua tahu ulang tahunnya?
Ia reflek menatap suaminya yang ternyata sedang menyunggingkan senyum simpul sambil mengangkat-angkat alisnya ke arahnya.
Lalu matanya mulai berkaca-kaca.
"Yah kan si Mbak Mitha ah! Nangis lagi dia!" Seru Dimas. "Hayoo looo!"
Milady langsung menghampiri Ayumi dan mencium pipi wanita yang sedang terisak-isak itu dengan gemas.
"Ini hadiahnya, hasil patungan kami bertiga. Aku, Milady dan Mitha." Meilinda menyerahkan kotak dengan pita pink ke depan Ayumi.
Ayumi menyeringai haru sambil menerima kotaknya.
"Semoga kebahagiaan ini bisa berlangsung lama ya." Sahut Milady.
Ayumi mengangguk masih sambil terisak.
"Eh, minumnya masih di konter loh." Sahut Milady sambil beranjak dari duduknya.
Dan...
Bresshh!!
Cairan bening langsung merembes keluar dari sela-sela bajunya sampai membasahi lantai.
Semua diam.
Keadaan berubah tegang, tidak ada yang bergerak.
Milady juga diam.
Beberapa detik kemudian dia berkata :
"Harusnya bulan depan."
Tapi masih tidak beranjak dari posisinya.
"Saya ambil mobil." Arman langsung beranjak berlari ke garasi.
"Aku bikin teh manis buat tenaga ngeden. Mas Trevor ambil koper Mbak Lady di kamar, yang warna putih. Baju-baju udah disiapin di dalamnya." Mitha dengan sigap ke dapur.
"Arjuna, hubungi dokter kandungan Milady, sediakan kamar. Ketuban sudah pecah, tanpa mulas." Sebastian menghubungi Dokter Arjuna.
"Pelan-pelan jalannya." Dimas dan Meilinda memapah Milady berjalan perlahan ke arah luar.
Lalu Milady berhenti.
"Astaga." Dia mengernyit. "Astaga, sakit banget. Dia melesak minta keluar."
Dimas terpekik panik.
"Jangan jongkok dulu! Lurusin badannya...dikit lagi sampai pintu!!" Serunya.
"Dimas jangan panik dong! Kamu bikin Lady stress!" Sahut Meilinda.
"Aku ngga panik. Aku cuma teriak, Meli."
"Itu tandanya panik."
"Aduh... Aduh!! Sakit banget!!" Seru Milady sambil
"Rahwana entar dulu dong! Ini belom sampe pintu keluar!" Seru Dimas.
"Pada ribut amat sih." dengus Sebastian. "Milady, janin kemungkinan baru sampai pinggul, kamu kuatkan jalan ke mobil. Arman sudah di depan."
"Mas..." Milady istighfar. "Sakit, Mas." Istighfar lagi.
*****
Pangeran Adara vs Malik Adara
Keduanya duduk berhadapan, Man to Man, di ruang tamu.
Dengan ibu, istri Malik Adara, orang yang melahirkan Ipang (iya lah) mengomel tak henti sudah satu jam mengkomentari Susan, sebagai latar belakang saat mereka berbicara lewat mata mereka.
Menelisik maksud masing-masing,
Berprasangka buruk satu sama lain,
Juga...
Mengembalikan ingatan mereka ke masa lalu, saat semua masih baik-baik saja, saat hubungan mereka masih harmonis, antara ayah dan anak yang saling bercengkrama dengan riang.
Kini, sedikit banyak, seriring berjalannya waktu, yang ada hanya saling meremehkan, saling membenci, dan saling mengkhawatirkan keadaan satu sama lain.
"Kita bicara sebagai laki-laki, blak-blakan." Sahut Malik.
"Di depan Ibu?!" Tanya Ipang.
"Di depan Ibu. Lagipula dia tidak akan dengar, dia sedang sibuk mengomeli Susan."
Mereka berdua melirik ke arah Susan.
Wanita itu sibuk dengan ponselnya.
Seperti kata Dimas, kalau lagi galau, mendingan push rank.
Nah itulah yang sedang dilakukan Susan.
Sementara Ibu Ipang mondar-mandir di depan Susan, duduk, bangun lagi, berdiri lagi, duduk lagi, berkali-kali, sambil mengomel mengenai gaya berpakaian Susan yang provokatif, juga dada Susan yang besar disangkanya hasil pasang implan, kulit Susan yang kecoklatan dia bilang hasil cat di Salon, dan dia menaksir harga skin care Susan yang diprediksi mahal dan akan menghabiskan uang gaji Ipang.
"Oke Yah. Silahkan, Ayah duluan. Keluarkan uneg-uneg Ayah." Kata Ipang.
Malik mengangguk.
"Siapa dia?" Tanya Malik Langsung.
"Namanya hanya Susan."
"Pekerjaan? Orang tua? Rumah tinggal? Hal-hal lain?"
"Agen rahasia karyawan Garnet Security Agency, asalnya dari Spanyol, Dulu anak asuh Baskara Beaufort, sepeninggal beliau, Pak Sebastian merekrutnya menjadi pegawai."
"Anak asuh Baskara Beaufort terkenal dengan kegiatan gangster dan sindikat berbahaya."
"Iya. Dia sedang diburu Pemerintah Spanyol sampai 10 tahun baru kasusnya dipetikemaskan, karena dia kabur dari penjara, masalah sindikat juga. Aku ngga begitu ikuti masalahnya, karena Susan tidak terlalu mau membahasnya. Dia yang bikin aku pingsan gara-gara taekwondo waktu itu, ayah."
"Dia wanita berbahaya. Sangat berbahaya... Semua yang bergabung di Garnet Agency bukan orang sembarangan!"
"Iyaaaaaa... Semua memiliki banyak identitas. Satu orang minimal dua identitas. Kehidupan di balik layar mereka cukup... seru."
"Kamu magang di Garnet, untuk apa?"
"Ayah tidak setuju kamu kerja sama Susan dan bekerja untuk Sebastian."
"Kenapa? Ayah naksir Susan? Aku tahu loh kelakuan Ayah di belakang Ibu."
Malik terdiam.
Besar kemungkinan Ipang juga tahu masalahnya dengan Ratna dan Sebastian.
"Jangan sampai kamu jadi durhaka, Ipang." Ancam Malik
"Ayah, urusan aku bukan dengan ayah, tapi sebenrnya dengan ibu. Aku tidak butuh restu siapapun kalau untuk menikah secara hukum. Tapi surga aku tetap terletak di kaki ibu. Makanya aku izin. Malah ayah gerecokin aku, pakai naksir Susan segala... Bukannya bantuin meredakan kemarahan ibu." sungut Ipang.
Lalu mereka menoleh ke samping karena melihat...
Susan sudah cekikikan dengan Ibu sambil melihat layar ponsel.
"Kenapa jadi akrab?" Tanya mereka berdua.
Susan menengadahkan kepalanya.
"Aku perlihatkan drama Korea yang Ayumi suka tonton. Eh, ibu ternyata juga suka."
"Hush ini adegan dia dipeluk di depan pohon natal!" Sahut ibunya sambil fokus ke layar ponsel.
"Loh! Dia kan bukan suka sama yang itu?! Lee Dong Wook kan masih di rumah!"
"Nah itu lah! Ini cewek kayak galau, mau suka sama yang mana!" Sahut Ibu.
Dan mereka kembali fokus ke layar ponsel.
Hm...
Drakor pemersatu wanita.
Lalu Ipang beralih ke ayahnya.
"Ayah mau apa sekarang?!" Tantangnya. "Sudah direstui tuh sama Ibu."
"Tetap ayah mau pastikan keselamatan kamu. Sudah sejauh apa hubungan kamu sama dia?!"
"Ayah, ngga mungkin cewek secantik itu, aku cuekin. Aku ngga sekalem itu. Aku anak ayah!"
"Usianya 15 tahun lebih tua dari kamu."
"Memangnya ada yang tahu?!"
"Yaaa tidak sih. Ayah baca biodata."
Lalu ponsel mereka berdering berbarengan.
Ipang dan Malik juga mengangkatnya berbarengan.
"Milady melahirkan." Sahut Sebastian ke Malik.
"Lady mau Final Stage Bro! Bentar lagi Champion kayaknya!!" Seru Dimas ala gamers ke Ipang.
"Ya Ampun." Desis Ipang dan Malik.
*****
"Pak Dimas ngga usah mondar-mandir kayak Gasing Setan, saya jadi senewen." Sahut Arman.
Terdengar teriakan Milady dari dalam.
"Ternyata jarak saya ke ujung sana 15 langkah, tapi kalo saya balik arah, jadi 14 langkah, Pak Arman." Sahut Dimas.
Dia sudah gila.
Karena stress jadi menghitung ubin ruang tunggu.
Batin Arman.
Sementara Arman, karena mengetahui sifat Milady yang pantang menyerah, dia tenang-tenang saja.
Terdengar teriakan lagi.
"Bakayarou... Sepertinya sebentar lagi keluarga Rady-Chan datang. Apa tidak terlalu banyak orang disini?" Ayumi menghampirinya.
"Sekali-kali panggil aku pakai panggilan 'suamiku sayang' kenapa sih Mbak Ayu?! Aku kan juga ingin seperti orang normal." Kata Arman sambil beranjak.
"Pak Dimas, ayo ngopi, daripada menuh-menuhin ruang tunggu. Bu Meli dan Mbak Mitha sudah shoping di lantai bawah tuh!" sahut Arman ke Dimas.
"Trevor, lo ikut sini! Daripada berdiri di situ sambil pucet!" Seru Dimas.
"Milady 1 anak aja udah teriak-teriak begitu! Gimana Mitha yang 3 orang!?" Sahut Trevor panik. "Apa ngga kapok kesakitan hampir mati begitu?!"
Semua diam.
"Gimana? Jadi makin sayang sama Mbak Mitha? Selamat deh saya, istri saya aman jadinya." Sahut Arman sambil merangkul pinggang Ayumi dan jalan duluan.
Trevor mencibir ke arah Arman.
"Gimana Ayumi di kantor?" Tanya Dimas sambil menyenggol sikut Trevor.
"Overall baik, proses sih, dia banyak tanya tapi juga banyak kerja. Gue optimis dia bisa menyamai Milady dalam waktu singkat. Ya gue ngga heran, prestasinya di kampus juga lumayan."
"Maksud gue... Gimana kerja bareng mantan pacar?! Ah, elo sok polos..."
Trevor meringis.
"Aneh bro. Tampilannya beda, sifatnya juga beda, tapi dia tahu semua masa lalu gue, borok-boroknya gue. Jadi gue susah jelasinnya." Trevor menggaruk kepalanya.
*****
Sekitar Dua setengah jam kemudian.
Milady berbaring sambil menyusui Rahwana.
Rahwana Bataragunadi.
Astaga nama anak ini berkarakter sekali!
Pikir wanita itu.
Juga... Wajahnya mirip sekali dengan Sebastian.
Wajah ganteng tapi bengal, masih bayi usia sejam sudah bisa senyum sinis. Entah itu reflek atau memang kecerdasannya diatas rata-rata.
Milady mengernyit.
Nyeri di bagian bawah tubuhnya karena jahitan.
Tapi ternyata tidak sesakit yang dibayangkannya.
Beruntung staminanya bagus, proses melahirkan juga mudah. Dan bayinya lahir dengan berat badan cukup, anggota tubuh lengkap dan kemampuan motorik yang bagus.
Sebastian mengacungkan potongan cake ke depan mulut Milady. Wanita itu melahapnya sekali raupan.
Setelah melahirkan tiba-tiba ia lapar sekali.
Dari tadi sudah menghabiskan 2 slice cake.
"Udah tidur lagi tuh." Desis Sebastian ke arah Rahwana.
Milady mengangguk.
"Bisa minta tolong, Mas?" Tanya Milady.
Sebastian meletakan piring cakenya di nakas dan menggendong Rahwana.
Luwes sekali gerakannya.
Pikir Milady merasa iri.
Pria itu tampak tersenyum sambil menimang perlahan Rahwana yang menguap.
Ckrekk!
Milady sigap memfotonya.
"Hei, hubungi manajerku dulu kalau mau ambil foto." Goda Sebastian.
"Wah, perlu dicetak bingkai ini..." Milady menyeringai melihat hasil fotonya.
"Nanti orang-orang salah paham, dikiranya itu cucuku." Kata Sebastian.
"Hehe."
Dan Milady menshare foto itu ke Pak Hans.
Berikutnya, para tamu pun dipersilahkan masuk, saat Rahwana sudah masuk ke bednya di ruang suster untuk perawatan lebih lanjut, sebelum nanti malam kembali ke kamar Milady.
Entah apa saja yang mereka obrolkan, yang pasti semua berakhir bahagia.
Milady merasa sangat beruntung bertemu Sebastian dengan segala kontroversinya.
Sebastian pun merasa bersyukur bisa bertemu Milady dengan segala permasalahannya.
Juga orang-orang yang dengan tulus berinteraksi dengan mereka tanpa pamrih, menerima segala kekurangan satu sama lain, dan saling membantu.
Seperti quotes dari Sujiwo Tejo mengenai kehidupan,
Naskah sutradara kita tahu di depan, naskah Tuhan kita tahu di belakang.
Jadi, Milady bertekad akan hidup melangkah maju, demi keluarganya, demi dirinya, tanpa memikirkan kenapa Tuhan membuatku begini dan begitu.
Toh, pada akhirnya, manusia menghadapi ujiannya masing-masing.
The End.
*****
Kisah Milady Adara, wanita bersahaja yang bisa melembutkan hati Pria arogan, Sebastian Bataragunadi, Author akhiri di sini.
Namun, masih memungkinkan untuk diadakan season seterusnya. Jadi mohon jangan dihapus dari Favorit yaaa.
Karya ini dibuat oleh Author untuk mengingatkan dan mengedukasi kalau hidup tidak semulus khayalan, dan menjadi pemimpin di sebuah perusahaan tidak semudah main perintah.
Seringkali seorang pengusaha harus menghadapi ancaman dari pihak lain yang berimbas kepada keluarganya, dimungkinkan bisa terjadi.
Jangan lupa baca juga novel Author yang lain. Yang lagi Update sekarang adalah
Der Deibe Mein Herz (Si Pencuri Hatiku).
Sedikit bocoran, karena banyak request pembaca, Arman akan hadir lagi di sana.
Sampai bertemu lagi, Readers Tercintaaa.
With Love,
Septira W