
Milady mengikuti Sebastian masuk ke dalam rumah.
Sambil berjalan di belakang Sebastian, Ia memperhatikan gaya berpakaian pria itu.
Kimono kain bermotif batik, di dalamnya ada setelan piyama. Lalu sandal hotel yang masih ada Logo Garnet Hotel Yogya. Kacamata baca, dan rambutnya yang agak panjang diikat asal-asalan ke atas.
Dia juga mengikat janggut putihnya, membuat Milady ingin tertawa geli.
Ya Ampun... Gaya busana yang mengundang perhatian... Pikir Milady.
Berbeda sekali dengan Sebastian yang selalu berdandan rapi dan highclass.
Sebastian ke arah dapur dan membuka kulkas. Ia mengambil beberapa botol kaca berisi air kelapa.
Milady duduk di salah satu kursi makan sambil kembali menyesap tehnya. Lalu membuka toples berisi kue kering yang berada di tengah meja.
Hm... Enak.
Tapi lebih enak buatan Dimas, pikirnya.
Walaupun begitu akhirnya dia jadi menggigit beberapa potong.
Sebastian duduk di sebelahnya sambil menuang air kelapa ke gelas kaca.
"Ada apa?" tanya Sebastian.
"Hm... Kamu sudah menemukan Ayumi?" tanya Milady.
"Dari mana kamu tahu kalau aku sedang mencarinya?"
"Aku tidak tahu. Makanya aku tanya dulu barusan..." sahut Milady.
Sebastian menghela napas. "Belum. Dia pindah lagi, dan Trevor menghindariku."
Milady mengangguk.
"Iya, karena dia dua minggu ini menginap di apartemenku." sahut Milady.
"Hm..."
Membayangkan Trevor di apartemen Milady saja membuat kepalanya makin sakit...
Sebastian menegak air kelapanya.
"Aku kesini mau minta alat pemindai yang seperti di gelangku." sahut Milady.
"Untuk?"
"Aku mau mengirimkan beberapa tas yang sudah tidak terpakai ke Ayumi."
Sebastian menatapnya lekat-lekat.
"Kamu..." desisnya.
Milady mengangkat bahunya.
"Trevor tidak curiga padaku. Dia pikir aku dan Ayumi berteman baik. Aku membiarkan mereka berpikiran begitu, untuk bisa bergerak dengan lebih leluasa." sahut Milady.
Sebastian menarik napas panjang sambil tersenyum salut.
Ia saat ini ingin sekali memeluk Milady karena senang.
"Kamu ada foto tas yang akan kamu kirimkan, aku akan buat alat pemindai seperti logo tasnya." Sahut Sebastian.
Milady mengirimkan foto lewat pesan singkat.
Pesan singkat dari Milady, yang pertama setelah sebulan silent.
"Bagaimana hubungan kamu dan Trevor?" tanya Sebastian.
Milady menyesap tehnya sambil melirik Sebastian.
Serius dia tanya itu?
Serius dia mau tahu hal itu?
Pikir Milady.
Wanita itu akhirnya tidak menjawabnya dan malah menatap Sebastian.
"Terima kasih karangan bunganya. Mencolok sekali. Aku sampai dicurigai macam-macam..." Milady tersenyum sinis.
Sebastian mengelus janggutnya yang diikat.
"Baru kali ini ada wanita ngga suka dikirimi bunga berlapis emas."
"Aku ngga suka jadi pusat perhatian." sahut Milady.
"Kembalikan saja kalau tidak suka..." desis Sebastian.
"Sudah kubagi-bagi kuntumnya."
"Kamu... Apakan?!" Sebastian tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya
"Itu milikku kan? Terserah aku dong mau kuapain..."
Sebastian menopang dagunya dengan tangan.
Entahlah dia harus kesal atau sedih.
Yang jelas dia tidak senang.
Tapi ya Milady benar. Itu miliknya.
Terserah dia mau diapakan.
"Itu benar cerita Ayah kamu? Dia masak sup rumput?!" tanya Milady
"Hm..."
"Memang bisa dimakan?"
"Jelas tidak... Bahaya sebenarnya."
"Makanya kamu mencuri?"
"Saat dia ngga lihat, daripada Meilinda sakit perut, aku gulingkan pancinya, lalu aku jual apapun yang bisa kujual untuk makan. Tapi setiap hari dia masak itu karena mengira kami suka dan menghabiskannya... Saat tidak ada lagi yang bisa kujual, aku ambil mie instan di salah satu rumah mewah..."
"Ngga mungkin lah aku ambil cuma sebungkus..."
"Jadi?"
"Aku juga ambil perkamen keramat... Masih kusimpan tuh. Jaminan kalau keluargaku kenapa-napa..."
Milady ternganga.
"Hah?" sahut wanita itu.
Sebastian menyeringai.
"Isinya..." desis Milady.
"Yakin mau tahu?"
"Engga jadi..." sahut Milady sambil membuang muka.
"Akan kuberi tahu kalau kira-kira aku menjelang ajal. Soalnya lebih baik kamu ngga tahu..." Pria itu menyeringai licik.
"Sampai saat ini bukti kalau aku yang mencuri tidak ada. Makanya aku dipenjara karena saat itu orang asing yang masuk ke rumah itu hanya aku." Desis Sebastian.
"Jangan beritahu aku apapun..." desis Milady.
"Hm... perkamen itu milik seorang jenderal perang dari Inggris dan isinya bisa membuat heboh banyak negara adidaya..." kata Sebastian.
"Kalau begitu... Lebih baik aku ngga tahu." Milady mengangkat bahunya. "Lagipula... Untuk apa kamu beritahu aku? Aku kan bukan siapa-siapa kamu..."
Sebastian terdiam.
Lalu menegak air kelapanya.
"Kalau begitu, karena tujuanku kesini sudah terlaksana, aku mau kembali ke kantor. Besok soft-opening Coastview... Kamu datang kan? Wartawan sudah kesenangan ingin berebut ambil foto kamu..." Milady beranjak untuk pergi dari situ.
"Sebentar..."
Sebastian meraih tangan Milady...
"Ada apa lagi?" tanya Milady sambil menepis tangan Sebastian.
"Aku minta maaf..." desis Sebastian.
Milady menarik napas menahan sabar.
"Sudah kumaafkan sejak lama." gumam wanita itu. "Namun... Tidak bisa kembali seperti dulu. Seperti... Ada bagian yang hilang."
Sebastian hanya diam sambil melepaskan tangan Milady
*****
"Doyan apa laper?!" Yori menepuk bahu adiknya dengan buku menu.
"Ini namanya 'tidak menyia-nyiakan peluang', Kak! Kunci kesuksesan... katanya. Katanya si... entah siapa lah." sahut Ipang dengan mulut penuh pasta.
Piring ketiganya...
"Mau mukbang jangan disini, yang ada kakak yang tekor!" Omel Yori.
"Ceile kak! Ini bakalan masuk chanelku loooh!"
"Pangeran kuda hitam on the spot gaeeesss... kakak ngga bayar endorse kan? Promo Gratisan loh!" Yori mencibir sambil menirukan opening theme adiknya.
"Lama-lama gue ganti juga itu opening, sering jadi bahan ejekan..." dengus Ipang.
"Kalo subscriber kamu nambah, bikin meet n greetnya di cafe bunga yah..."
"Yang di coastview bukannya besok softlaunch kak?"
"Softopening, mancuuung... Iya, kita jadi cateringnya looooh... Ih seneng banget deh!" Yori cekikikan.
Ipang mengernyit mendengar kakaknya cekikikan.
Kenapa sekarang Kak Yori yang tomboy dan maskulin bisa jadi lebih feminin?
"Kak Yori..."
"Hm...?"
"Kakak udah punya..."
"Ipaaaaaannngggg ya Ampuuunnnn!!" Sebuah pelukan menyerang Ipang sampai cowok itu hampir jatuh dari kursinya. Membuatnya tidak jadi bertanya ke Yori.
"Haduuuh Yoriiii, kalau aku belum nikah udah ku-uyel-uyel adik kamu niiihhh." sahut Samantha sambil mencubit kedua pipi Ipang dengan gemas.
"Sindrom anak bungsu..." desis Yori.
"Mau udah nikah atau belum, kayaknya Mbak Sam sama aja tingkahnya..." gerutu Ipang dengan mulut penuh dan pipi memerah karena cubitan bertubi-tubi Samantha.
"Jadi adikku aja, mau ngga?" tawar Samantha.
"Enggak..." sahut Ipang cepat sambil menghindar dengan piring pastanya, lalu kabur ke balkon.
"Ipaaaang kok kaaamu dingiiiinnn..." rajuk Samantha dari kejauhan.
"Takut kebablasan..." balas Ipang. "Kak Yori, teh manis!"
"Ngga ada. Adanya Ice Tea..." Yori menyeringai.
"Pake bahasa Inggris biar harganya bisa lebih mahal dari es teh ya? Dasar marketing... Siniin dong aku haus!"
"Ambil sendiri, enak saja..."
"Suruh Mbak Sam minggir dulu... Bisa-bisa babak belur aku kesana..."
Samantha hanya terbahak mendengarnya.
Ipang mengambil meja di balkon yang menghadap ke arah taman sambil menghabiskan pastanya dengan gaya santai. Ia juga mengupdate status insta**gramnya sambil senyum-senyum.
Di cafe bunga milik kakaknya ini, dia bisa fokus mengerjakan tugas kuliah ataupun mengedit video, karena kalau dirumah ada omelan ibunya, dan di kampus pasti diganggu teman-temannya. Terlebih lagi, Cafe Bunga memiliki menu yang harganya jarang bisa diakses oleh uang saku seorang mahasiswa sepertinya, jadi sudah pasti tidak ada teman-temannya yang datang kesini.
Hari ini, dia mengundang seseorang.
Karena kemarin mereka gagal bertemu gara-gara teman-teman Milady, Dimas dan perkumpulan selebritis misteriusnya, jadi tadi pagi sebelum ke kampus, Ipang menyelipkan pesan ke sela pintu apartemen Susan, undangan makan malam di Cafe Bunga.
Mudah-mudahan Susan menerima pesannya...