Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Hitam atau Putih



Hansel Bataragunadi, 85 tahun, Biasa dipanggil Pak Hans.


Dulunya adalah politikus zaman Orde Lama dengan ideologinya mengenai Presiden Pertama negara ini yang penuh kontroversi, juga berani mengkritik pemerintahan zaman Orde Baru di saat petrus berkeliaran. Lidahnya terhadap pemerintahan negara memang tajam... namun ketajamannya nyatanya hanya membuat anak-anaknya sengsara, dan istrinya tersiksa.


Di saat terjadi kericuhan karena mulutnya tidak bisa di rem, istrinya ditarik paksa keluarga, kembali ke Turki. Ia ditekan untuk membatalkan pernikahannya, saat Meilinda masih 4 tahun. Selang tiga tahun kemudian, Sebastian dipenjara karena tuduhan mencuri.


Tuduhan yang dibuat-buat untuk membuat Hans jera, karena sepengetahuannya mencuri sebungkus mie instan tidak mungkin dipenjara selama itu. Apalagi saat Sebastian di penjara, Baskara Beaufort datang ke rumah Hans, menghapuskan semua 'dosa-dosa' nya dan memberinya sejumlah dana di rekening agar Meilinda bisa melanjutkan sekolahnya.


Ia bilang, Sebastian sedang melanjutkan sekolahnya... Pelajaran mengenai hidup.


Di dalam penjara saat itu, penuh dengan 'relasi' politikus dan wartawan yang ditangkap. Semua dengan daya intelektual tinggi dan pemikiran yang bisa membuat negara menjadi maju di mata dunia.


Namun mereka tidak ingin bergerak... tidak ingin maju... karena belum saatnya.


Akhirnya Hans hanya bisa menyerah dengan keadaan. Sesuai dengan instruksi Baskara, ia mendirikan perusahaan kecil-kecilan, sambil menunggu Sebastian bebas.


Pun saat Sebastian bebas dan anak itu memutuskan untuk berkuliah di Amerika sambil menjalankan bisnisnya, Hans membantu mengawasi perusahaan Sebastian. Ia kini sepenuhnya menarik diri dari dunia politik.


Sebastian memang menanamkan investasi di beberapa perusahaan atas namanya, namun Hans belum berniat menarik manfaatnya.


Ia kini sudah merasa berkecukupan.


Hans meraih handuk yang biasa tersampir di lehernya dan melap keringatnya.


Matahari terik di atas langit, tanpa awan.


Duduk di kursi taman sambil menikmati sepiring kue cubit dan teh manis.


Ia suka menikmati kudapan pinggir jalan...


dulu, saat bersama Kayla, istrinya, mereka sering berjalan berdua menyusuri pasar, membeli jajanan... jajanan sederhana semacam ini, namun dinikmati berdua dengan orang yang dicintai. Bagaikan makanan mewah...


Ia menunggu si Joker datang.


Orang yang 'mencuri' hati si Putri Raja. Meilinda.


Orang yang berhasil menarik perhatian Sang Raja. Sebastian.


Si Joker berteman bagai saudara dengan Sang Ksatria, Cucunya, Trevor.


Kini Sang Ratu tertarik berkenalan, Hans adalah Ratu... sesuai dengan tingkat otorita di keluarganya.


Ia akan melihat, siapa si Joker ini.


Apakah Pion Putih atau Pion Hitam


Tidak lama, ia melihat pemuda tampan memasuki gerbang, dan melewati taman.


Hans menyeringai sambil menenteng ember penuh air


*****


Trevor memandangi foto Ayumi di ponselnya.


Di dalam benaknya masih ada kata : Kenapa...


Walaupun 'kenapa' itu ia sendiri sudah tahu jawabannya.


Banyak 'kenapa' dalam benaknya...


Selama ini...


Sangat lama, seperempat hidupnya.


Mereka berdua, ia dan Ayumi, menjalani semua rintangan dengan sabar.


Apakah sebegitu besarnya dendam Ayumi...?


Trevor sudah berjanji akan selalu di samping wanita ini. Wanita yang menderita karena keluarganya.


Ayumi berpendidikan, kenapa harus berbelok ke sindikat?


Banyak pertanyaan.


Satu jawaban...


Ayahnya adalah jawaban semuanya.


Kini, ayahnya sedang mondar-mandir di ruang kerjanya. Ia sangat marah.


Tekanan darah tantenya sudah mulai normal setelah mendapat infus vitamin. Tapi ayahnya masih meradang.


Dua samsak rusak berhamburan, salah satu tongkat golf patah saat ayahnya mencoba menghibur diri dengan mini golf di dalam ruang kerjanya.


Kini daripada seluruh furniture jadi korban, ayahnya memilih mondar-mandir tanpa menyentuh apapun.


Ia selalu posesif kalau sudah menyangkut Tante Meilinda.


Dan... Trevor agak kuatir terjadi hal yang tidak diinginkan.


Maka ia mengganti layar ponselnya dengan barisan nomor kontak.


Dan memberi pesan singkat ke Milady.


*****


"Sini Nduk..." Malik Adara duduk di sofa empuknya sambil menepuk sebelahnya, menyuruh Milady duduk.


Ia memanggil Milady, untuk berkunjung ke rumah.


Milady duduk di depannya dengan senyum yang biasa, gerakan anggun yang biasa, penguasaan diri yang tegas yang biasa ia tampilkan.


Sebagai seorang ayah yang melihat proses tumbuh kembang mereka setiap hari, ia tahu ini bukan sosok sebenarnya Milady.


Anak keduanya memiliki kelebihan daya pikir yang berbeda daripada anak-anak sebayanya.


sejak Milady sudah bisa berbicara di umur 10 bulan, Malik sudah mengetahui hal itu.


Dan...


Selama ini anak-anaknya berdiri sendiri dengan sedikit sekali bantuan darinya.


Milady adalah anak yang misterius.


Malik pikir dengan membiarkan senyum di wajah anak-anaknya, ia tidak akan bertanya macam-macam lagi.


Namun ternyata hal itu salah...


Anak-anaknya ternyata... haus akan kasih sayang orang tua, tidak ada yang meraih mereka, mereka berdiri tanpa pijakan.


"Lady... Ayah kesini memanggil kamu untuk membicarakan pernikahan kamu. Ayah tahu ini pernikahan kedua kamu. Kita sudah pernah melakukan prosesi seperti ini, pembicaraan Ayah-Anak ini. Tapi... kali ini..." Malik menghela napas. Kenapa rasanya saat ini adalah saat penentuan hidup putrinya? Mungkin benar... inilah saatnya ia berperan menjadi orang tua, setelah bertahun-tahun...


"... kali ini berbeda dengan saat pertama."


"Ya Ayah... sebenarnya semua sudah dirancang, sudah 90% siap dan..."


"Ayah mau bicara mengenai diri kamu." potong Malik.


Milady menegakkan tubuhnya.


Menatapnya dengan serius.


"Kali ini ayah tidak akan bertanya seperti dulu. Bukan pertanyaan mengenai apakah kamu menyukai calon suami kamu atau apakah kamu yakin akan menikah. Bukan itu yang mau ayah tanyakan." Malik menatap putrinya dengan getir.


"Tapi..." lanjut Malik. "...Milady... apakah selama ini kamu bahagia?"


Terdengar tarikan napas dari Milady.


*****


Sebastian menatap laki-laki di depannya sambil melempar-lempar bola golfnya. Ia duduk di kursi kerjanya sambil mengangkat kakinya.


orang ini...


Dimas Tanurahardja.


Pacar adiknya...


Bisa-bisanya ia percaya diri menjadi pacar adiknya...


Namun... yang membuat Sebastian selama ini membebaskan pergerakan si Bocah gendeng ini, si Boyokethek ini, adalah kemampuannya.


Sebastian mengenal Dimas sebagai adik Bram. Orang kepercayaannya di anak usaha properti. Bram meraih kesuksesan menjadi manager operasional dengan kemampuannya bernegosiasi. Sekitar beberapa tahun lalu... mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun lalu, Sebastian sangat menginginkan tanah lapang di daerah Surabaya untuk dijadikan mega-mall. Waktu itu Usaha Propertinya baru beberapa tahun berdiri. Dan ia mendapatkan laporan dari supervisor lapangan kalau pemilik tanah belum mau melepaskan tanahnya di harga yang ditawarkan. Negosiasi berjalan alot.


Akhirnya setelah melakukan penghitungan ulang mengenai untung ruginya, Sebastian memutuskan untuk membeli tanah itu dengan harga yang diajukan penjual tanah. Ia masih untung, namun tidak sebanyak proyeksi pertama.


Ia sangat terkejut setelah menyadari kalau yang selama ini bernegosiasi dengannya adalah seorang anak muda berusia 20an, mengalahkan para direktur dan para manajernya yang berpendidikan lebih tinggi. Tanah itu adalah tanah warisan orang tuanya.


Sebastian langsung menginstruksikan Direktur Personalia untuk menawari anak muda itu pekerjaan di Garnet Propery.


itu saat ia mengenal Bramantyo.