
"Tapi kamu masih mendalami taekwondo?" tanya Ipang sambil menuangkan secangkir teh untuk Susan.
Cara duduk Susan kini menjadi lebih tegang.
"Aku berhenti di Merah strip hitam dua karena menekuni Krav Maga." kata Susan.
(Tingkatan sabuk dalam olahraga beladiri Taekwondo memiliki 10 tahap (Geup) dan 1 tahap Guru/Sabeum. Tahap 10 adalah tahap awal - Sabuk Putih dan tahap 1 adalah tahap Sabuk Merah. Selanjutnya tahap Guru/Sabeum adalah pemegang Sabuk Hitam.
Ipang saat ini telah mencapai Geup 4, tingkatan Sabuk Biru Strip Merah. Pada tingkatan ini, para Taekwondoin akan diajarkan satu jurus tambahan atau yang biasa disebut taegeuk V. Dan pada tingkatan ini, juga diajarkan teknik menghadapi lawan dengan berbagai variasi.
Sedangkan Susan telah mencapai Geup 1 yaitu pemegang Sabuk Merah Strip Hitam Dua, pada tingkatan ini para taekwondoin tinggal mempelajari sisa-sisa ilmu taekwondo yang belum dipelajari.)
Ipang menyesap tehnya sambil memperhatikan Susan dengan serius.
"Aku dulu juga sempat berhenti beberapa tahun waktu sabuk hijau... Saat ujian kelulusan, lawanku, seniorku juga, mematahkan beberapa tulang rusukku sehingga aku dirawat dan pemulihan lumayan lama. Selama tiga tahun aku ngga bisa bersentuhan sama dunia beladiri" desis Ipang. Wajahnya terlihat kesal saat mengingat masa lalu.
"Tapi kamu ngga nyerah yah... Sampai sekarang kamu masih mendalami. Ngga kayak aku yang berhenti."
"Iya... Karena kalau jadi atlit, siapa tahu ketemu lagi sama senior yang matahin tulangku." Ipang menyeringai.
"Kamu ini... Bela diri bukan untuk balas dendam." ujar Susan.
"Itu namanya motivasi." kata Ipang
"Itu namanya balas dendam." sahut Susan tak mau kalah. "Atau... Jangan-jangan senior kamu cewek, terus kamu kesengsem karena bisa dikalahin cewek? Kan suka ada cowok yang punya fetish tertentu..."
Susan tidak melanjutkan ucapannya karena raut wajah Ipang berubah.
Pipinya menjadi kemerahan.
Lalu wanita itu terbahak.
"Astagaaaa aku benaaar!" seru Susan.
Ipang mencibir.
"Eh, mungkin saja dia sudah berkeluarga. Dulu itu dia udah lumayan lebih tua dari aku. Dia dulu Sabuk hijau strip biru. Habis itu dia juga berhenti latihan katanya. Aku sih udah lupa tampangnya. Yang aku ingat dia punya tato merpati di atas dadanya, aku lihat waktu ngga sengaja narik seragamnya..." kata Ipang.
Susan terdiam.
"Tato...merpatinya... seperti apa?" Desisnya perlahan.
"Hm..." Ipang mengernyit mengingat. "Sayapnya terbentang dan ada tanda hati di dada merpatinya."
"Seperti ini?"
Susan membuka kancing gaunnya dan memperlihatkan tato merpati di atas branya.
"Eh..." Ipang terpaku. "Iya..."
Cowok itu menatap Susan sambil tertegun. Bergantian antara tato dan mata hijau terang Susan yang kini seakan redup.
"Ini Mas Ipang, pesanannya..." Sahutan Bu Dewi mencairkan suasana yang tegang.
Susan langsung menutupi dadanya sambil mengalihkan pandangan ke sudut lain.
Ipang masih tertegun di tempatnya.
"Mas Ipang, kata Bu Yori dia mau pergi dulu ke Coastview untuk mentata dekorasi softopening besok. Mas Ipang dititipi kunci dan dia bilang tolong periksa persediaan dapur." kata Bu Dewi.
Ipang tersadar dan langsung bereaksi.
"Saya Bu?" tanya Ipang.
"Iya, situ." balas Bu Dewi.
"Loh? Kan ada Mbak Sam? Mas Aria? Mas Dennis?"
"Semua ke Coastview sih mas. Yang tinggal cuma saya, tapi saya harus pulang tepat waktu karena anak saya besok ujian."
"Lahhh!! Sejak kapan itu jadi kerjaan Sayaaa!!" Protes Ipang
"Kata Bu Yori, nanti menu hari ini digratisin, ngga jadi potong jajan."
Ipang menyeringai sambil bilang : "siap Bu Dewi!!"
Menjelang malam...
Ipang membolak-balik kertas yang terjepit di papan alas sambil mengerutkan dahi dan menuliskan stok yang tersisa malam itu.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 23 dan Cafe sudah sepi. Cleaning service juga sudah menyelesaikan tugas bersih-bersihnya dan saat itu hanya ada Ipang, dan... Susan.
Ipang bisa mendengar ponsel Susan berdering. Wanita itu mengangkatnya dan berbicara ke penelepon.
Ipang menguping pembicaraan sambil melanjutkan stock opname.
"Ya Pak. Sudah ada Eagle two di dalam, jadi keadaan Diamond dipastikan aman."
Lalu hening.
Dan Susan berbicara lagi.
"Kanagawa... Daerah itu tidak tersentuh kami Pak. Mungkin Bapak bisa hubungi orang dalam."
Dan hening lagi.
"Maksud bapak... Zhang Jiangwu? Bapak mengerti kondisi saya kan? Saat Koh Jiangwu bertemu saya dan tahu bahwa saya adalah..." kata-katanya terpotong.
Lalu tampak Susan menghela napas seakan sedang menanggung beban berat.
"Baik Pak, saya mengerti."
Lalu Susan menutup teleponnya. Dan berkacak pinggang sambil menghembuskan napas berat, dan menengadahkan kepalanya ke atas.
"Tough day?" tanya Ipang sambil meneruskan pekerjaannya.
"Setiap hari adalah hari yang penuh tantangan bagiku." Sahut Susan.
"Kenapa ngga berhenti saja?"
"Bayarannya besar."
"Buat apa bayaran besar kalau kamu ngga bisa menikmati? Atau bisa jadi kamu mati tanpa ada yang mengenang kamu sebelum kamu bisa menikmati bayaran dan... Berkeluarga."
"Hei..." desis Susan. Wanita itu menganggap Ipang sudah terlalu jauh menginterupsinya kali ini. "That's not your business." Sahutnya merasa terganggu.
"Loh...kamu kan pacarku, jadi sudah sepantasnya dong aku memperingatkan kamu mengenai hal-hal yang menurutku baik."
"Sejak... Kamu mencegatku." kata Ipang sambil menyeringai.
"Perbedaan umur kita terlalu jauh."
"Anggap saja kamu ganti biaya rumah sakitku dengan berpacaran."
"Pacar kontrak begitu? Ini bukan novel romantis."
"Loh, memang novel romantis kok... Kurang romantis apa coba cincin pinggir jalan dariku?"
"Sudah kubuang."
Ipang berlagak pasang tampang kecewa.
"Kok dibuang? Kamu ngga mau jadi pacarku?" Ipang mendekat dan mendesak Susan sehingga wanita itu mundur dan merapat ke konter dapur.
"Bukan begitu..." Susan memalingkan wajahnya karena malu terlalu dekat.
Namun Ipang menahannya di konter dengan kedua tangan cowok itu mengunci tubuhnya di konter.
"Jadi, mau jadi pacarku dong?" desis Ipang sambil menyeringai.
"Aku ngga bilang begitu juga." Sahut Susan.
"Loh, tadi bilangnya bukan begitu..."
"Kamu nih pantasnya jadi pengacara yah, suka membolak-balik pernyataan..." keluh Susan.
Namun Susan tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena Ipang sudah membungkamnya dengan bibir cowok itu.
Satu ciuman ringan.
Dilepaskan dengan kekehan cowok itu dan tatapan sayunya.
"Kamu..." desis Susan kaget, namun rasanya otaknya langsung tidak dapat berpikir jernih.
Barusan aku mau bicara apa? Batin Susan.
Belum sempat ia mengingat, bibirnya sudah direnggut kembali oleh cowok berbahaya di depannya ini.
Satu lagi, menempel dengan lembut.
Namun tidak lama...
Sekali lagi...
dua kali lagi... ciuman ringan.
Dan dilanjutkan dengan jilatan lembut di sepanjang bibir tipis Susan.
Membuat wanita itu mendesah.
Dan kali ini, ciuman yang sesungguhnya.
Ipang ******* bibirnya dengan sedikit kasar. Mendesaknya supaya menerimanya.
Tidak beretika... Tapi entah bagaimana Susan menyukainya.
Bahkan cowok itu tidak perlu bersusah payah meminta izinnya untuk meremas bokong wanita itu.
Sial!
Desis Susan dalam hati.
Kenapa rasanya nikmat sekali! Keluhnya.
Lidah cowok itu melilit lidahnya, bagai tidak bertemu air selama 3 hari, dan melepas dahaga sepuasnya saat bertemu Susan.
Susan meremas bahu Ipang meminta kelonggaran, namun yang ada pria itu malah semakin menekannya.
Membuat Susan memekik pelan dan akhirnya ia hanya bisa pasrah saat jemari Ipang mengerjainya di bawah sana.
Pekikannya semakin kencang saat ia merasakan sesuatu memasuki tubuhnya.
Astaga...!!
Astaga!! Sejak kapan posisi mereka jadi...
Bahkan mereka belum membuka pakaian mereka dan bibir mereka masih berpanggut!
Susan melepaskan bibirnya dan memekik menahan nikmat saat Ipang bergerak semakin cepat.
Siapa nama cowok ini... Pikir Susan.
Ia bahkan tidak ingat!
Yang ia ingat hanya berteriak sekencang mungkin saat ia mencapai puncaknya dengan cepat.
*****
Ayumi mengernyit saat mengintip keluar jendela.
Suasana Penginapan tempatnya berada sekarang seharusnya tidak seramai ini.
Ia sekarang berada di salah satu hotel di pinggir pantai Enoshima, pulau kecil dengan luas sekitar 4 kilometer di Kota Fujisawa Prefektur Kanagawa. Saat matahari menyinari, dari kejauhan bisa terlihat siluet gunung Fuji.
Jadi, karena pulau ini tidak terlalu luas, Ayumi bisa melihat beberapa orang yang berlalu lalang dan tidak dikenalinya.
Banyak wajah baru... Pikir Ayumi.
Apakah itu mata-mata Sebastian?
Seharusnya ia tidak bisa dilacak... Apa Trevor yang memberitahu Sebastian?
Dari gerakan orang-orang asing yang berlalu lalang itu, sepertinya mereka juga sedang mencari kepastian keberadaan Ayumi.
Padahal Ayumi memilih tempat ini karena ini adalah daerah kekuasaan Yamaguci-dono. Salah satu Klan Yakuza dengan spesialisasi perdagangan Narkotika dan obat bius.
(Yamaguci-dono. Panggilan -dono ini merupakan sebutan gelar kehormatan di Jepang ya! Biasanya panggilan -dono ini digunakan oleh para samurai untuk memanggil tuan tanah tempat mereka mengabdi.)
(Sedangkan untuk Sebastian, dia biasa dipanggil Boss-sama. Panggilan -sama ini untuk memanggil orang yang derajatnya jauh lebih tinggi dari kita, seperti tuhan, atasan atau dewa.)
Yamaguci memiliki perusahaan legal, dengan merk dagang obat influenza yang sudah terdaftar di Kementrian Kesehatan dan Pangan Jepang, memudahkannya untuk memasok bahan baku kimia baru ke dalam komunitas ilegal dengan lebih leluasa.
"Sial..." desis Ayumi. Tampaknya ia harus mencari tempat berlindung baru. Mungkin saat Yamaguci-dono kembali, Ayumi akan menemuinya lagi.