Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Hantaman



Kalau tidak salah, Trevor pernah bilang padanya mau memasukan adik Bram ke Garnet Bank. Bram juga sudah minta izin ke Sebastian.


Saat itu Sebastian tidak terlalu menaruh perhatian.


Menurutnya kalau memang orang itu memiliki kemampuan, boleh-boleh saja ditempatkan di perusahaannya. Apalagi ini atas rekomendasi orang kepercayaannya.


Sebastian baru menaruh perhatian saat...


Waktu itu pukul 4 pagi, Sebastian bersiap-siap melaksanakan shalat dan mendapati Meilinda dengan galau mondar-mandir di area dapur. Beberapa chef dan art mengelilinginya.


Tadinya ia pikir Meilinda akan mengadakan arisan di rumah.


Namun ia sangat terkejut begitu paginya yang datang adalah...


Bocah dengan gaya nyeleneh ini.


Kini mereka ada di ruang kerja Sebastian.


"Kamu tahu kenapa kamu saya panggil ke sini kan?" tanya Sebastian masam.


Dimas hanya menghela napas. Ia diam saja.


"Hei, jawab Boyo..." Sebastian melempar bola golfnya.


Mengenai pelipis Dimas.


Dimas tidak bergeming.


Namun mengangkat kepalanya menatap lurus ke Sebastian.


"Minta maaf pakai mulut bukan pakai mata..." sahut Sebastian.


Ia berpikir akan langsung menonjok Dimas kalau berani buka mulut.


Tapi Dimas hanya menatapnya.


Laki-laki ini tidak terpancing ancamannya.


membuat Sebastian semakin panas.


Sebastian berdiri mensejajari Dimas, mereka saling bertatapan.


Sebastian menggelengkan kepalanya. "Sepertinya... dosa-dosa saya selama ini besar sekali yah sampai saya harus bertemu sama kamu..."


*****


Duakk!!!


Dimas tersungkur menabrak rak buku jati dibelakangnya, beberapa buku tebal jatuh ke lantai menandai kerasnya pukulan yang dilayangkan padanya.


Hantaman demi hantaman dari Sebastian, entah sudah berapa kali yang ia terima...


Dimas tidak membalas karena merasa pantas menerimanya.


Ia bahkan ingin memukul dirinya sendiri karena kebodohannya.


Ia rela dijadikan samsak hidup dari seorang Sebastian yang begitu kecewa akan dirinya.


Sudah berapa lama Dimas mengenal Sebastian?


Baru saja... baru beberapa bulan lalu, dalam hari-harinya yang dipenuhi senyuman Meilinda untuk mewarnai segala kegiatannya.


Dimas di masa puncak kejayaannya, jatuh hati secara langsung ke dalam pesona wanita itu.


Yang selalu menatap lembut dirinya dan memaklumi segala kekonyolannya.


Dimas tahu sedang bermain di genangan lumpur hisap.


Namun ia tetap terjun ke dalamnya...


"Saya tahu suatu saat kamu akan bikin masalah, tapi saya tidak menyangka kamu bertindak keterlaluan..." Desis Sebastian.


"... Yang menjaganya dari lahir saat ibu saya pergi, itu saya. Bukan ayah saya, bukan yang lain. Dalam satu waktu kamu sia-siakan perjuangan saya begitu saja... Harusnya kamu mati hari ini!!"


Sambungnya dengan teriakan emosi.


Dimas terbatuk karena sesak di ulu hatinya, Laki-laki yang sudah babak belur itu sedang berusaha berdiri dengan bantuan siku.


Sebastian berteriak, "Ayo balas!! Sampai mana kamu bisa tahan pukulan saya!!"


Namun menurut Dimas itu tidak menuntaskan masalah.


Kalau dibalas, itu akan memperlihatkan betapa pengecutnya dia. Pantas dipukul namun malah membela diri.


Biar saja sampai babak belur aku lakoni, memang aku pantasnya sekarat kok. Pikir Dimas dalam hati.


Dimas bisa mengerti kegundahan Sebastian saat ini, dia juga merasa begitu, terasa sakit saat melihat Meilinda terbaring lemah di tempat tidurnya dengan infus di tangan.


Kalau hantaman ini bisa membayar segala tingkah laku konyolku, aku akan dengan senang hati menerimanya. Batin Dimas


Dimas tidak mudah dijatuhkan, Sebastian mengakui kalau laki-laki ini sangat kuat.


Sebastian baru kali ini turun tangan sendiri melumpuhkan orang lain, biasanya diwakili oleh Arman atau meminta bantuan dari Beaufort.


Sebastian mengambil tongkat golfnya sambil menghampiri Dimas.


Dan menempelkan ujung tongkat golf yang dingin ke dahi Dimas.


Lalu tongkat itu bergeser ke rahang.


"Disini bisa tuli dan buta..."


Ke dada.


"Disini bisa sesak napas dan kejang-kejang..."


Ke kaki.


"Disini bisa lumpuh..."


Lalu naik kembali ke bawah perut.


"Apa disini saja? Yang sering bikin masalah kan bagian ini yah..."


"Oke..." lalu ia bersiap untuk memposisikan tubuhnya seakan Dimas adalah bola golf.


Sebastian tidak merasakan apapun... hanya ada kekalutan dan emosi


Lalu...


Sebuah kekehan.


Entahlah kenapa Dimas tertawa.


Mungkin juga Otaknya langsung terganggu akibat terlalu banyak menerima pukulan.


"Masih bisa ketawa, heh?! Hebat juga kamu...kalau begitu langsung saja lah ke kepala, biar kamu gegar otak sekalian." kata Sebastian.


Untuk ukuran pria dengan usia sepertinya, tenaganya masih bisa diandalkan. Dia tidak terengah memukuli Dimas, tidak nampak berkeringat juga, seakan sudah terbiasa melakukan hal seperti ini.


"Kalo mati, kan, udah ngga bisa ngomong yah siapa yang mukulin kamu?" bisiknya ke telinga Dimas.


Dasar psikopat...maki Dimas dalam hati. Namun Dimas juga tidak berniat menghindar.


Jangan-jangan malah aku yang psycho, lagi dipukulin masih sempat ketawa. Pikir Dimas lagi.


"Sudah cukup."


Terdengar suara Bram.


Sebastian menghal anaps tidak sabar, lalu menoleh ke belakangnya.


"Ngapain kamu disini..." dengus Sebastian, lebih ke nada umpatan.


"Ayah..." Trevor muncul di belakang Bram dengan tatapan meratapnya. Ia yang mengundang Bram kesini.


Sebastian menghela napas.


Sebastian juga melihat Selena di belakang Bram.


Ia mendecak.


Aku dikelilingi bocah-bocah kurang ajar... makinya dalam hati.


"Kamu jangan lupa yah Bram, usaha yang diberikan Garnet Grup kepada kamu, dan keluarga kamu! Kamu dikasih keringanan bisa bekerja sambil sekolah, bahkan sekarang di posisi manajer, semua karena kami!" Hardik Sebastian, mengingatkan Bram untuk tidak ikut campur, walaupun Dimas adalah adiknya.


terdengar dengusan daei mulut Bram.


"Mohin maaf sebelumnya, Pak... Saya tidak ingat pernah mengemis untuk jadi di posisi sekarang! Yang saya ingat saya juga memberikan semua yang saya punya untuk Garnet, sehingga bisa di posisi sekarang." balas Bram.


Seperti yang diingat Sebastian akan diri Bram, adalah, pria ini memiliki nyali.


Karena itu Sebastian tenang-tenang saja menyerahkan otorisasi kepadanya.


Namun kali ini adalah hal lain...


Ranah pribadi yang terbawa-bawa karena perasaan frustasi dan stress yang bertumpuk.


"Oke..." desis Sebastian. "...Karena kamu sudah diposisi melawan... Selena."


Selena menarik napas karena mendengar namanya dipanggil.


"...Kalau kamu bersikeras menikah dengan Bram, saya akan putuskan kontrak kerja dengan ayah kamu, itu berarti Garnet Hotel tidak akan pakai usaha ayah kamu untuk pasokan perabot lagi!" Kata Sebastian.


Selena memekik tak percaya.


Sebastian bertindak drama, kekanak-kanakan sekali! Umpat wanita itu.


"Lalu kamu, Bram..." lanjut Sebastian. "...Yang merasa berkuasa atas segalanya, kamu akan dipecat! Hah! Mau apa kamu sekarang?!"


Bram menghella napas berat.


"Fine, kalau itu keputusan Anda. Saya ambil Dimas sekarang!"


Bram melewati Sebastian, lalu mengangkat tubuh Dimas yang kini sudah tak sadarkan diri.


"Ayah... kok jadi begini..." keluh Trevor.


"Kamu diam saja..." Ancam Sebastian. Ia memanggil Farid Al Farouq, ayah Selena, juga teman SMAnya... mereka satu geng dengan Malik juga.


"Gue mau batalin kontrak Garnet. " sahutnya lewat sambungan telepon.