
"Kok kamu tahu aku ada di Bank?" Itu pertanyaan pertama Milady saat mereka duduk berhadapan di restoran.
Sebastian, dengan muka muramnya, membaca buku menu sambil cemberut.
"Kamu tahu lokasiku dari gelang yang kupakai yah?" Tebak Milady sambil menggoyang-goyangkan gelang safir pemberian Sebastian di pergelangan tangannya.
Pria itu hanya melirik Milady dengan sinis. Ia bahkan tidak menjawab Milady.
Kenapa lagi, ini? Pikir Milady sambil mengernyit.
"Sebast..."
"Hubungan kamu dengan Dimas sedekat apa?" Potong Sebastian.
Oooh... Ya ampun, dari tadi tuh dia cemberut karena masalah itu...
Pikir Milady sambil mencibir.
"Hm... Dekat. Seperti adik-kakak..." Desis Milady.
"Adik-kakak?!" Sudut bibir Sebastian terangkat. Sinis luar biasa.
Milady memutuskan untuk bersikap tenang. Ia mengangguk.
"Iya, adik-kakak... Toh nanti mau beneran jadi ipar kan kalau dia menikah dengan Meilinda dan aku menikah sama kamu..."
Sebastian tertegun. Lalu mengangkat sebelah alisnya.
Namun ia masih menjaga wibawanya.
"Eh, salah..." Milady menutup mulutnya sambil tersenyum simpul. "...menikah sama Trevor, maksudnya."
"Dimas sudah putus dengan Meilinda." Kata Sebastian.
"Waah... Jadi dia available dong sekarang... Hm..." Milady menggoda Sebastian dengan pura-pura tertarik pada Dimas.
Sebastian hanya menatapnya dengan muram.
"Dimas sih lebih seksi daripada Trevor. Apa aku batalkan saja yah perjodohanku dengan Trevor dan kembali ke..."
Brakk!!
Sebastian meletakkan gelas ke meja dengan kasar.
Milady terdiam.
Semua pengunjung memperhatikan mereka.
"Aku serius." Desis Sebastian dengan suara rendah dan dalam.
Milady menghela napas.
"Sensitif banget deh. Apa untungnya sih kamu tahu hubunganku dengan Dimas. Trevor saja yang MAU JADI SUAMIKU tidak mempermasalahkannya kok..." Sahut Milady sambil memperbesar volume suara pada kata 'mau jadi suamiku'.
"Lalu, sejauh apa hubungan kamu dengan Dimas?" Tanya Sebastian lagi, ia mengulangi pertanyaannya, tidak mengindahkan sindiran Milady barusan.
Milady menghela napas menahan sabar.
"Hubungan kami bisa dikatakan hampir saja berpacaran. Dimas menyatakan cinta ke aku. Bahkan kami sudah berciuman... Tapi..." Milady menatap Sebastian dengan sinis. "Hubungan kami tidak berlanjut karena ternyata aku tidak bisa menghapus bayangan 'cinta pertama' ku dari hati. Setiap Dimas mau cium aku, seperti ada perasaan berselingkuh... Padahal aku single. Yah begitulah gambarannya..."
Milady menyesap teh cammomilenya.
Lalu merasa lidahnya tiba-tiba pahit dan ia menambahkan lagi madu ke cangkirnya.
Masa dalam satu waktu tehnya berubah jadi pahit?! Mungkinkah menyesuaikan dengan keadaannya saat ini yang tidak menentu?!
Kuku Sebastian terdengar mengetuk-ngetuk pinggiran meja.
"Jadi bisa dibilang kalian sudah putus yah..." Desis pria itu... Tapi masih menatap Milady dengan curiga. "Lalu kenapa masih cium pipi?"
Milady berdecak.
Dasar kolot... umpat wanita itu dalam hati.
"Cium pipi karena terbiasa begitu... Kalau kamu mau kamu juga boleh banget loh cium pipiku... Yah, AYAH MERTUA... Sekalian saja nanti seranjang bertiga dengan Trevor..." Sindir Milady.
Raut wajah Sebastian semakin muram.
"Oh, begini kamu yang asli...? Pada akhirnya kamu sama saja dengan wanita lain. Nakal..."
BYURR!!
Lemparan air mengenai wajah Sebastian.
Milady melempar tehnya ke Sebastian, dengan amarah yang tidak tertahankan lagi. Wanita itu terengah-engah karena emosinya memuncak ke kepala.
"Wanita Nakal, hah? Jadi... Jodohku Pria hidung belang. Begitukan...? Tuan besar yang terhormat, yang paling suci dari semua manusia di bumi..." Geram Milady dengan suara rendah sambil membereskan isi tasnya dan pergi dari situ.
Meninggalkan Sebastian dalam diamnya...
*****
Trevor merengangkan otot lehernya.
Ke kiri, ke kanan, bunyi derak tulangnya terdengar renyah.
Lalu dia mengeluh dan menggeliat.
Setelah pulang dari Jepang harus konferensi pers untuk acara di Garnet Hotel, rasanya badan mau remuk! Keluh Trevor.
Untung saja acara yang seharusnya seharian bisa dipotong jadi setengah hari... Pikir Trevor lagi.
Lalu Trevor teringat belum mengobrol berhari-hari dengan Bram, jadi dia menghubungi Bram dengan Video Call...
"Jangan ganggu aku, sudah aku bilang..." Sapa Bram di dering kedua.
Wajah pria dengan kumis dan janggut tertata sempurna ala model majalah Italy itu sedikit serius. Mungkin akibat proyek yang mangkrak dan mengalami kendala pembangunan.
Trevor menyeringai.
"Kan aku kangen sama kamu sayaaaannngggg..." Desis Trevor sambil memajukan bibirnya berpura-pura mencium layar ponselnya.
"Jadi, kamu butuh bantuan apa bro?" Tanya Trevor sambil bersandar ke konter, menghadap layar ponsel yang dipasang berdiri di atas meja kerjanya.
"Sampe kantor, minta pijetin." Desis Bram.
"Ntar aku minta tolong sama Notaris Elvy yah buat pijet-pijetan."
"Pijetin... Bukan pijet-pijetan. Gendeng..." Umpat Bram.
"Apa sih masalahnya duuh kamu nih bikin abang meriang teruuusss..." Keluh Trevor.
"Mereka itu ngakunya udah tinggal di sana turun temurun sejak 40 tahun lalu, lah sertifikatnya dikeluarin 15 tahun lalu..."
"Hehe... Ketahuan ngibul. Heboh dong disana..."
"Lah iyo.. Tak acungken golok piye?" Tanya Bram.
"Janganlah.. Kasihan. Goloknya... Nanti dia kegores kebencian masyarakat..."
"Nanti mungkin akan muncul yah di acara berita di tv. Biasa... Akan ada bumbu-bumbu seakan kita yang salah."
"Bodo amat... Data berbicara. Biar pengadilan yang putuskan."
"Ya itu..."
Brakk!!
Pintu ruang kerja Trevor dibuka dengan keras.
Milady, menghambur masuk ke ruangan Trevor.
Sambil menangis...
"He? Kamu kenap..."
Dan Milady langsung memeluk Trevor.
"Loh? Loh??" desis Trevor kaget.
Para karyawan di depan ruangan Trevor yang memang baru saja kembali dari makan siang langsung memasang perhatian mereka ke suasana di dalam ruangan Trevor.
Trevor langsung melirik mereka dengan pandangan angker dan menutup pintu ruangannya.
"Kamu kenapa?" tanya Trevor sambil mendorong Milady perlahan. Ia mendongakkan kepala wanita itu dan menghapus air mata Milady.
Trevor melirik ponselnya masih terhubung ke video call Bram.
Bram sedang mengelus-elus dagunya memperhatikan Milady di pelukan Trevor.
"Milady?"
Milady hanya bisa terisak.
"Sini...sini...duduk dulu..." Trevor membimbing Milady untuk duduk di sofa dan memberinya air dari kulkas.
"Aku lagi terhubung dengan Bram... dia bisa ikut dengar atau perlu kuputuskan dulu koneksinya?" tanya Trevoor dengan suara rendah.
"Ayah kamu benar-benar keterlaluan..." geram Milady sambil terisak.
"Hah?"
"Dia bilang... aku wanita nakal." ujar Milady sambil gemetaran karena amarah.
"Ya Ampun..." desis Trevor.
*****
Sebastian...
Dasar bodoh...
Sebastian mengomeli dirinya sendiri. Ia kini dalam perjalanan menuju kantornya di Gedung Garnet Grup.
Duduk di kursi penumpang di belakang, menaikan pembatas antara ia dan drivernya, dan menyandarkan lehernya ke sandaran kursi mobil mewahnya sambil memejamkan mata.
Apa yang terjadi denganku tadi...
Kenapa aku bisa begitu tidak berdaya...?
Itu hanya cium pipi... Anggap saja antara adik dan kakak, atau antar sepupu, atau antar teman akrab.
Kalau di luar negeri hal seperti itu sudah biasa, bukan?
Sebastian terus menerus mengomeli dirinya sendiri.
Kenapa belakangan ini aku sering sekali merasa cemburu...pikir Sebastian.
Perasaan ini sama seperti saat melihat laporan hasil penyelidikan PI.
Video serta foto Trevor dan Milady, sedang beradegan mesra di kegelapan malam, hanya disinari cahaya lampu temaram hotel...
Padahal Aku sendiri yang menyepakatinya, aku sendiri yang menjodohkan mereka.
Saat rencanaku sudah hampir terlaksana, kenapa aku malah jadi sering emosi?
Rasanya...
Tidak rela melihat Milady berada di pelukan laki-laki lain...
Batin Sebastian.
Sebastian memeriksa ponselnya dan mengernyit.
Foto Milady...
Dengan senyum khasnya yang manis...
Sekarang, apa yang harus kulakukan?
Aku sudah membuat wanita yang paling berpengaruh dalam hidupku menangis...