Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Hukuman



"Arman..." Sebastian duduk di kursi kulit berwarna putih yang terlihat mahal di ujung meja ruang meeting.


Kakinya ia angkat ke atas meja dengan santai, sepatu kulit buaya dari desainer seharga ratusan juta terlihat mentereng, sangat cocok dengan sosok Sebastian yang mencolok.


Kepulan asap dari cerutu havananya menghiasi udara di sekitarnya, perlahan tersedot ke atas ke arah blower.


"... Apa saja sih kerja kamu akhir-akhir ini...?" Sambung Pria berusia lebih dari setengah abad itu.


Arman menghela napas sambil menatap lantai.


Ia tidak berani membantah.


"Perasaan saya... Badan Asse ngga kecil-kecil amat sih, sampai bisa lolos dari pengamatan kamu. Kalau kamu mulai jenuh dengan pekerjaan kamu, bilang saja sejujurnya." Kata Sebastian.


-Karya ini adalah karya original milik Septira Wihartanti.-


Sebastian memanggil Ayumi dengan sebutan Asse, singkatan dari AS, inisial nama Ayumi. Karena ia terlalu muak memanggil nama kecil wanita itu.


Arman hanya diam menunduk.


Ia sudah minta maaf berkali-kali tadi. Tapi ia tahu, tidak mungkin cukup hanya dengan maaf.


Duh... Udara di sini sesak sekali. Keluh Arman dalam hati.


Bukan ACnya...


Tapi tatapan Sebastian yang melihatnya dengan pandangan kesal.


"Apa tadi, yang dia minta, coba ingatkan saya..." Desis Sebastian.


"Anu... Ehem!..." Arman berdehem dan menelan ludah.


Tenggorokannya kering.


"Dia... Minta perlindungan. Karena Yamaguci sedang memburunya."


"Kenapa tiba-tiba senjata makan tuan begitu?"


Arman berusaha mengingat kejadian tadi malam, lalu menceritakannya.


Sebastian mengetuk-ngetuk ujung meja dengan jemarinya saat mendengar cerita Arman.


Dulu...


Ayumi juga pernah berkata kepadanya hal yang persis sama.


"Saya tidak tahu... Saya tidak kira efeknya akan separah itu. Saya pikir itu obat penenang biasa..."


Kalimat itu...


"Sekarang, ada dimana dia?"


"Saya tempatkan di salah satu hotel kita. Dengan penjagaan." kata Arman


Sebastian mengelus janggutnya. Lalu menyeringai.


Untuk membunuh ular, dia butuh anjing.


Anjing penjaga dengan insting hewan buas.


Yamaguci berusaha membunuh Ayumi, sedikit banyak ada yang Ayumi ketahui dari sana.


Dan kalau dia ditempatkan di hotel dengan penjagaan maksimal, sampai berapa lama?


Akan memakan banyak biaya...


Sebastian tidak ingin membuang-buang uangnya untuk orang yang telah menyakiti anaknya, dan lebih parah, orang yang ingin sekali mencabut nyawanya.


Trevor tidak boleh bertemu Ayumi, Sebastian tidak ingin anaknya tersiksa lebih dalam.


Semua sudah mulai membaik sekarang, tidak ada yang boleh menghancurkan kebahagiaannya.


Lalu tersirat ide itu.


Dan ia tersenyum licik.


Saatnya untuk memberi Arman hukuman karena telah bertindak ceroboh.


Ia menghubungi seseorang lewat ponselnya.


"Pak Bara..." Sapanya ke seseorang di seberang telepon. "Gelang yang jenisnya sama dengan yang milik Milady, masih ada? Warna putih? Oke... Lalu, bisa diberi sensor peledak kalau melebihi jarak aman? Ah, tidak... Ledakan kecil saja tapi cukup untuk melukai. Bisa? Oke... Kapan jadi? Besok? Boleh... canggih sekali yah... Besok sore Arman kesana untuk ambil barangnya ya Pak. Baik, terima kasih."


Lalu Sebastian menutup teleponnya.


"Arman..."


"Ya Pak." Sahut Arman. Ia benar-benar merasakan hal yang mengancam. Perasaannya langsung tidak enak.


"Bukan hanya satu dua kali kamu begini... Kualitas kamu menurun. Saya akan berikan kamu mood booster untuk lebih semangat bekerja." Sebastian tersenyum licik.


Mata Arman yang biasanya malas-malasan, memandang sayu dan terkesan meremehkan lawan, kini tegang dan waspada.


"Kamu... Ingat senior di Agency yang bernama Mitha?"


"Saksi kunci..."


"Iya. Saksi Kunci Diptar Handal, ketua parlemen yang terbukti korupsi dan..."


"...mengeksekusi kedua orang tua angkat saya, dengan alasan mereka adalah cucu anggota PKI." sambung Arman. Darahnya langsung bergejolak. Diptar Handal... Mendengar namanya saja Arman langsung dipenuhi kemarahan. Walaupun orang itu sudah mati terkena peluru yang ditembakkan Arman tepat di dahinya, namun bayangan mengenai kepala orangtuanya menggelinding di lantai masih jelas terbayang.


"Mitha saya pekerjakan kembali. Untuk kasus yang lain. Kamu bisa belajar banyak darinya... Atau, kamu bisa mengajarinya hal-hal yang baru. Dia sudah terlalu lama pensiun."


"Dia dipekerjakan kembali? Apa bisa ibu-ibu dengan tiga anak tembak-tembakan dan fokus dengan..."


"Kamu itu terlalu meremehkan kemampuan orang lain...." potong Sebastian. "Sudah pasti Mitha tidak akan menyentuh senpi, yang bagian itu urusan kamu. Dia akan bekerja untuk kasus yang lain. Saya hire untuk jadi pegawai seperti kamu. Kalian tidak pernah bertemu, dia keluar saat kamu mulai masuk... Tapi kamu harus mulai diajarkan hal yang baru, cara mengendalikan anger management dan memimpin perusahaan."


"Saya tidak ada masalah dengan anger management."


"Iya, begitu yang pesakitan bilang tentang diri mereka sendiri."


"Pak Sebastian sendiri memangnya sudah bisa mengendalikan anger management..."


"Sssh... Saya punya Milady, kamu ngga punya yang seperti dia..."


"Ck..." Arman berdecak.


"Kamu belajar dari Mitha untuk mengendalikan amarah. Lalu... Untuk Asse... Saya yakin Yamaguci sekarang sedang memburunya. Asse mengetahui sesuatu, sehingga Yamaguci ingin membunuhnya."


"Tempatkan dia di apartemen kamu."


Arman langsung merasa pendengarannya terganggu.


"Ha?" desahnya meminta pengulangan kalimat.


Sebastian berdiri dan tersenyum puas, ia mensejajari Arman.


Sebastian sangat tinggi, Arman sedikit mendongak saat menatap matanya.


"Tempatkan Asse di apartemen kamu. Tidak akan ada yang menyangka kalau dia ada di tempat kamu, kan? Dia minta perlindungan... Tapi saya tidak ingin dia di property saya. Simpan dia sampai kamu bisa menghandle Yamaguci. Saya yakin Asse menyimpan informasi berharga yang bisa saya manfaatkan sewaktu-waktu."


Arman langsung lemas.


"Saya tidak pernah membawa wanita ke apartemen saya."


"Orang seperti kamu, tidak pernah membawa wanita masuk?"


"Apartemen saya tipe studio, tidak ada kamar kosong. Nanti disangka kumpul kebo."


"Kamu kan bisa atur surat-surat palsu seakan dia istri kamu."


"Yah, tapi pak..."


"Mau terima atau tidak?" Sebastian mulai kesal.


"Oke." jawab Arman cepat.


Sebastian mengangguk puas. "Berikan Asse sensor buatan Pak Bara. Dan... Selamat yah, dia akan jadi wanita pertama yang masuk apartemen kamu. Kalau kamu benar-benar merasa bersalah terhadap pekerjaan kamu. Ini akan jadi hukuman yang setimpal." Sebastian terkekeh sambil meninggalkan ruang meeting.


Tinggal Arman yang menggebrak meja karena geram.


*****


Mitha menghela napas saat melihat bangunan di depannya.


Gedung Garnet Grup.


Lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di sini. Dulu... Sekitar 10-11 tahun yang lalu, saat gedung ini baru berdiri, Mitha bahkan hapal dimana saja mereka memasang cctv, dimana saja pengelola meletakkan apar, pintu kamar mandi mana saja yang kuncinya agak keras.


Dulu Garnet Security Agency berkantor di sini... Mitha salah satu penggagasnya, sekaligus agen senior. Pekerjaan mereka meliputi banyak hal. Bodyguard selebritis dan pejabat, pasukan pengamanan, para security mall, Private Investigator, dan pekerjaan di balik layar.


Latar belakang Mitha bisa dibilang cukup bervariasi. Setelah lulus SMA, ia masuk ke IPDN. Tadinya ia berharap meneruskan pendidikannya untuk mengabdi kepada negara, dengan bekerja di kantor pemerintahan. Namun suatu kasus mengantarkannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Dan disana ia bertemu Sebastian.


Status Sebastian waktu itu sebagai saksi.


Mitha sebagai pekerja magang, bersama beberapa seniornya, diserahi tugas mengawasi Sebastian untuk beberapa hari.


Mengawasi... Iblis berwujud manusia.


Saat itu Mitha masih naif akan watak dunia sebenarnya.


Tidak menyadari kalau Komisi Pemberantasan Korupsi bukan hanya sekedar nama organisasi, namun sebagai pengingat bahwa hampir setiap manusia berbuat dosa merugikan manusia lain, dari hal kecil yang dianggap biasa, sampai hal besar yang dianggap prestasi.


Dari sekedar korupsi waktu istirahat makan siang lebih lama saat sudah waktunya bekerja, sampai menggunakan dana sosial bencana alam untuk kepentingan pribadi.


Selama masih ada manusia, korupsi akan tetap ada.


Lembaganya hanya mampu memberi peringatan, bukan memberantas seperti namanya.


Kasus besar diperlihatkan ke masyarakat setiap minggu, sebagai pengingat.


Akhirnya karena saking banyaknya, masyarakat bosan. Dan akhirnya melakukan hal yang sama dengan tersangka-tersangka yang mereka cela di televisi. Karena mereka beranggapan, tersangka hanya dihukum sebentar...


Setelah itu Mitha menjadi saksi kunci kasus korupsi bernilai triliunan yang dilakukan salah satu ketua parlemen di era itu.


Akibat pengakuannya, nyawanya dan keluarganya terancam.


Dan ia meminta perlindungan kepada Iblis.


Sebastian memberinya pelajaran berharga.


Seperti pada lagu Lily-nya Alan Walker.


Pria itu memberinya sesuatu yang ia inginkan.


Ilmu tentang dunia.


Pengakuan atas kerja kerasnya.


Dan... Keamanan dirinya.


Sebagai gantinya, ia harus bekerja untuk Sebastian dan mengikutinya kemanapun pria itu pergi.


Follow everywhere I go


Top over the mountains or valley low


Give you everything you've been dreaming of


Just let me in


Everything you want in gold, I'll be the magic story you've been told


And you'll be safe under my control


Just let me in


Jadilah Mitha boneka Sebastian.


Sampai ia bertemu Gunawan di suatu acara, lalu menikah.


Mitha pun mengundurkan diri.


Ia sadar tidak bisa sepenuhnya lepas dari sebastian.


Ia hanya di non aktifkan. Tombol On/Off akan selalu ada, tinggal masalah waktu baterainya dimasukan kembali.


Mungkin sekaranglah waktunya...


Raka agak bosan di kereta bayinya. Anak bungsunya yang berusia 11 bulan itu masih menyusui, belum bisa ia tinggal seperti kedua kakaknya.


Jadi dengan langkah tegas dan tekad bulat, ia melangkah ke dalam lobi Gedung Garnet Grup sambil mendorong kereta bayinya.