Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Aku Merindukanmu



Mari kita kembali ke masa kini.


Desember 20xx


Sebastian dan cerutunya, menatap Arman yang duduk di kap mobil emasnya sambil memperhatikan pemandangan di luar jendela kaca besar.


Arman sedang menceritakan kemungkinan terburuk ia akan kembali ke Indonesia dalam waktu yang tidak dapat diprediksi.


"Saya jadi merasa seperti sedang membaca novel tahun 80an." Sahut Sebastian. Ia mengangkat kakinya ke atas meja, memperlihatkan sepatu mewah berkulit buaya albino, berwarna senada dengan celana dan vest-nya.


-Karya ini adalah karya original milik Septira Wihartanti-


"Saat tidak ada henpon, tidak ada Shareloc, tidak ada GPS, dan pacar kamu kemungkinan wajahnya sudah berubah. Armaaan Armaan, ini sih namanya karma! Dulu ngerjain cewek, sekarang malah dikerjain cewek." Sebastian meringis.


Sepertinya ia senang melihat Arman frustasi.


"Orang dari kedutaan bungkam. Hanya bilang kemungkinan Ayumi mengungsi di Shizuoka." Arman menoleh menatap Sebastian.


"Kemungkinan, katanya. Kemungkinan itu, berarti tidak pasti. Ada dasar apa dia bilang 'kemungkinan' ada di Shizuoka?! Apa memang petugas diberitahu secara gamblang atau memang mengetahui dari desas-desus yang beredar?! Aargh... Bikin kesal saja!" Gerutu Arman.


Sebastian kembali menyeringai. Kali ini lebih lebar dari yang tadi.


"Ya sudah, terima saja penebusan dosa kamu. Kalau saya sih akan sering bolak-balik Jepang. Kamu pamitan lah sama anak-anak Agency. Juga sama pacar-pacar kamu."


Arman menghampiri meja Sebastian dan berdiri di depannya.


"Kode autentifikasi untuk 'Uang Arman' 171703 ya pak."


"Ha? Berapa?" Bukannya Sebastian tidak dengar, tapi angka itu adalah 'angka keramat' baginya.


"171703. Biar... Bapak ngga lupa seumur hidup." Arman menyeringai.


"Sialan kamu. Tahu dari mana mengenai artinya?!"


"Ck, ah... Ngga penting saya tahu dari mana. Sekarang 'Uang Arman' saya serah terima ya, isinya masih 50 milyar. Besok berubah jadi 'Uang Ipang', kayaknya." sahut Arman mengerlingkan matanya, sambil berbalik berlalu keluar dari ruangan.


('Uang Arman' yang dimaksud di sini adalah Dana Operasional Kesekretariatan, yang sering disingkat Sebastian karena namanya terlalu panjang.)


*****


Dan sampailah ia di sini.


Prefektur Shizuoka, Jepang.


Total wilayah kota adalah 1,411.90 km², kota ini memiliki perkiraan populasi 690,013 jiwa.


Dan Arman hanya mencari satu orang, yang bahkan belum pasti ada di sini.


Namun, Arman bertekad mencari.


Ia sudah berjanji.


Dan lagi, ia sudah bosan berbulan-bulan merasa hampa tanpa keberadaannya.


Tanpa keberadaan Ayumi.


Ayumi hanya tinggal bersamanya kurang dari satu minggu, tapi kenapa rasanya seperti sudah bertahun-tahun mereka tinggal bersama?!


Sejak Ayumi tidak ada... Hari-harinya dijalankan secara forsir.


Persis seperti Sebastian saat Milady tidak ada.


Mencari kemanapun, yang ada hanya jalan buntu.


Akhirnya harus melakukan aktivitas bekerja keras sesibuk mungkin, agar bisa lupa.


Dan Arman merasakannya saat ini.


Tidak, kurang tepat anggapan baru mengenalnya seminggu.


Nyatanya, ia mengetahui sosok Ayumi memang sudah lama.


Bertahun-tahun? Betul... Bertahun-tahun ia memperhatikan Ayumi, mengintainya, menganalisa getak-geriknya, karena Ayumi pacar Trevor yang tidak direstui Sebastian.


Arman merogoh kantong jasnya.


Case dari kulit, seukuran dompet kecil.


Sandra Ellen memberikannya saat melepasnya di Bandara Soetta kemarin malam.


Isinya cincin.


Pasangan gelang bermotif Azalea yang dikenakan Ayumi.


Dan hebatnya, Sandra Ellen juga membuatkan cincin versi pria dengan ukiran yang sama.


Yang kini dikenakan Arman di jari manis tangan kanannya.


Mellow banget. Batin Arman sambil membelai cincin putih bermata berlian itu.


Tapi...


Apakah Ayumi masih mengenakan gelangnya?


Apakah Ayumi masih menunggunya?


Dan...


Apakah Ayumi masih mencintainya?


Pertanyaan yang membuat dirinya frustasi.


Menemani hari-harinya selama ini.


Dan saat ia merasa semua pekerjaannya sia-sia, tidak bisa membuatnya tenang.


Mimpinya yang ia kira tujuan akhir hidupnya, nyatanya bukan mimpi yang sebenarnya.


Aku ingin hidup bahagia.


Itu keinginan Ayumi.


Arman masih mengingatnya.


Bahagia, versi Ayumi.


Arman menghela napas. Lalu menatap sekitarnya.


Pertama ia akan mencari apartemen untuk tempat tinggalnya.


Lalu makan siang.


Dan memulai pencarian di titik-titik pusat keramaian di Shizuoka.


*****


"Mas Yan Sayang... Ini apa?"


Milady masuk ke ruang kerja Sebastian saat pria itu sedang membaca buku di sofa malasnya.


Sebastian mengintipnya dari atas kacamata baca.


Map biru bertuliskan "The Work of a Nation. The Center of Intelligence."


Lalu ada lambang emblem biru dengan kepala burung elang.


Sebastian menyeringai.


"Padahal udah kusembunyikan di brankas, loh." Sahut pria itu.


"Aku memang buka brankas untuk cari gelang safirku. Dan ada ini di dalamnya."


"Buat apa cari gelang safir?"


Milady menghampiri Sebastian dan duduk di sebelahnya. Wanita itu mengelus perutnya yang membesar.


"Sudah saatnya aku mengenakannya kembali. Aku perlu berjaga-jaga. HPL sebentar lagi, antara Januari dan Februari. Dan gelang itu ada GPSnya, juga elegan dan mewah." Kata Milady.


"Katanya bukan benda favorit kamu?" Sindir Sebastian.


"Memang bukan kesukaanku sih mengenakan barang mewah mentereng begitu, tapi masih lebih baik daripada kemana-mana dikawal. Eiichi benar-benar trauma soal aku diculik waktu itu. Sekarang dia benar-benar protektif terhadapku."


"Kamu tetap harus dikawal."


"Ya, tapi kuharap dengan adanya gelang ini, mereka bisa memperhatikan aku dari jauh. Dari-jauh, Sebastian. Aku bukan orang penting, aku tidak ingin belanja di pasar bawa-bawa bodyguard."


"Kamu orang paling penting bagiku. Dan aku termasuk orang penting di negara ini. Bodyguardku ngga pakai suit, mereka pakai sendal jepit, celana pendek dan kaos kw. Apa masalahnya?"


"Maaas..." Milady mulai merajuk.


Sebastian menghela napas.


"Tidak sayang. Kehilangan kamu akan menjadi tragedi semua orang. Yang bisa membuatmu hilang harus hanya Tuhan. Bukan manusia."


Milady mengerang.


Berniat ngambek.


Tapi lalu ia merasa menggerutu dan merasa kesal sepanjang hari malah akan membuat bayi di perutnya rewel. Tendangan Rahwana semakin kuat. Akhir-akhir ini, kadang Milady Sampai mengaduh.


Jadi Milady akan berusaha bernegosiasi dengan Sebastian.


"Oke. Seorang saja boleh? Jangan bertiga atau berempat seperti selama ini. Aku janji akan selalu pakai gelangnya." Tawar Milady.


"Hm. Oke." Gumam Sebastian akhirnya.


"Lalu, ini apa? Kenapa kamu simpan di brankas rumah?"


"Oh. Itu..." Sebastian menutup buulnya dan melepas kacamata bacanya. "Identitas Tadashi Sakurazaka."


Milady menatapnya dengan mata terbelalak.


"Kamu serius mas?"


Sebastian mengangguk sekilas.


"Dia CIA?!" Seru Milady kaget.


Sebastian kembali mengangguk. "Itu sebabnya Ayumi kembali ke Jepang."


"Ah! Kata kamu dia ke Jepang karena saksi kasus Yamaguci Ito?!" Kata Milady.


"Hm...aku sih inginnya kamu ngga tahu, tadinya. Kamu sedang hamil dan kasus seperti ini lumayan berat untuk beban pikiran kamu."


"Intinya saja, Sayang. Aku ingin tahu."


Sebastian menghela napas.


"Tadashi... Anggota CIA yang akhirnya terjebak targetnya sendiri. Ia ditugaskan CIA untuk memata-matai Yamaguci Ito, itu berarti dia harus menyusup masuk. Saat menjadi anggota Yamaguci, ia diserahi tugas oleh Yamaguci untuk memata-mataiku. Karena itu Tadashi menyusup ke perusahaanku. Yah tapi, Takdir berkata lain. Dia malah..."


Sebastian mengusap wajahnya.


"Dia malah ketahuan Yamaguci. Dan saat anggota CIA ketahuan, agency tidak akan mengakuinya, sesuai dengan perjanjian awal mereka. Dilain pihak ia mendapatkan ancaman pembunuhan."


"Maksud kamu, Tadashi dan Tomoko meninggal bukan karena Kamu. Tapi karena..."


"Tadashi dibunuh di dalam penjara agar tidak bisa memberi kesaksian di pengadilan. Menurut pengakuan Hari Fadil."


"Astaga, Ayumi..." Milady tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Betapa ia sangat bersimpati terhadap Ayumi.


"Hidup kami tidak sesederhana orang biasa. Aku sudah terlanjur terjun bebas ke dalam lubang hitam. Untuk merangkak naik sendirian, lumayan susah. Begitupun wanita itu, Ayumi Sakurazaka. Namun aku baru sadar di saat terakhir kalau hidupnya menyedihkan. Tapi kamu..." Sebastian mendengus.


"...kamu malah sukarela ikut denganku."


Milady tersenyum sambil mengelus rambut putih Sebastian.


"Aku sayang kamu." Sahut Milady. "Dan aku cinta kamu. Mana mungkin aku tidak ingin bersama kamu kalau perasaanku sekuat ini."


"Walaupun aku kotor?"


"Permasalahan lain bukan prioritasku. Yang utama adalah perasaan kamu terhadapku, Mas. Hal itu sudah cukup bagiku untuk menjalani hidup. Ada atau tidak ragamu di sampingku. "


Sebastian tersenyum, ia mencium punggung tangan Milady.


"My Lady." Gumam Sebastian.


"My Love." Sambung pria itu.


*****


Ayumi masih dengan ponsel Agency di tangannya.


Matanya menerawang.


Ia menimbang banyak hal.


Lebih tepatnya.


Ia merindukan seseorang.


Wanita itu mengambil gelas kristal berisi wine di nakas samping sofa.


Lalu menyesapnya seteguk.


Dan meresapi rasa manis dan aroma wangi memabukkannya.


Sama seperti rasa ciuman Arman saat di Vila itu.


"Ares..." Gumam Ayumi.


Lalu air matanya menetes.


Ulang tahunnya hari ini.


Tahun lalu masih dirayakannya bersama Trevor.


Namun yang Ayumi ingat hanya rasa senang palsu dan percintaan yang hambar. Setelahnya hanya ada rasa mual dan sesak.


Mungkin malah lebih baik ia merayakannya sendiri seperti sekarang.


Tapi kenapa...


Ia sangat merindukan pria itu.


Sampai-sampai ia berdandan saat ini, memakai gaunnya yang paling indah, memakai sepatu yang paling ia suka, bahkan mengenakan parfum.


Apa yang ia tunggu?


"Aku rindu. Dasar Bakayarou... Bisanya membuatku sakit hati." Gumamnya dengan bahasa Indonesia.


Sudah lama ia tidak mengucapkan bahasa Indonesia.


Lalu ia belajar bahasa baru saat di safe house.


Sedikit bahasa Rusia.


"Счастье мое..." (Cintaku)


(Pengucapan : SHAStye maYO)


Lalu wanita itu menghela napas.


Seketika, ia tidak peduli lagi akan keselamatannya.


Ia begitu rindu.


Sampai-sampai tidak dapat menahan diri.


"Aargh! Kore ga tsudzukeba watashi wa tada shinudeshou!" (sama saja aku mati kalau begini terus!) Erang Ayumi.


Dan ia mengaktifkan ponsel itu.


*****