
Dengan berapi-api Selena menceritakan kronologis bagaimana ia bisa dituduh macam-macam dengan Dimas. Saat itu mereka sambil creambath.
"Jadi begini, lo tahu kan kita suka minta ke bagian umum tiket pesawat dan booking hotel kalau mau dinas?"
"Yep." desis Milady.
"Nah, gue kan pegawai baru yah waktu itu. Kalo ngga salah baru seminggu gue kerja di Bank, dan gue langsung diajak dinas. Lo tau ngga sih gue kaget banget begitu di lokasi, gak ada yang jemput dari cabang, gue harus sewa mobil sendiri, dan kita belum booking hotel!"
"Oooh... Terus?"
"Katanya karena kedatangan kita ke sana tidak boleh sepengetahuan objek. Karena tujuan kita kesana untuk memergoki kasus fraud. Itu alasannya."
"Ookeee... Masuk akal."
"Tadinya gue pikir sama kayak lo, masuk akal, tapi setelah itu Pak Dimas ngaku sendiri kalo dia LUPA booking hotel, dia baru kepikiran pas di pesawat, Ladyyyyyy!!"
"Hahahahaha!! Ya Ampuuunn... khas Dimas bangeeettt!!"
"Dan konyolnya, gue masa ngga tau kalo dia itu adiknya Bram! Sekian lama gue kenal elo, Trevor dan Bram, gue baru kali itu kenal sama makhluk yang namanya Dimas! Padahal lo sering ngomongin dia!!"
"Iyaaa... Nama Dimas kan jutaan di Indonesia..."
"Nah, gue pikir ini Dimas yang lain. Ternyata Dimas yang sama. Anyway, dia bilang gue bebas pilih hotel karena gue yang nyetir."
"Lo yang nyetir mobil?!"
"Iya gue yang nyetir, karena dia sibuk sama game-nya. Udah level ke 1400berapa lah..."
"Hahahahahaha!! Ya Ampuun dia terobsesi ngalahin level gueeeee. Pasti can**dy crush ya!"
"Iya, yang ada permen-permen bisa meledak itu."
"Iyaaaa" Milady kembali terbahak.
"Ah! Sial banget gue!!" gerutu Selena. "Lanjut, karena dia bilang terserah gue, ya udah gue pilih dong yang gue suka, gue berhentilah di parkiran Al**a Hotel... Kan hotel mevvah tuh! Pas sampai resepsionis gue udah bayar biaya booking, dia baru nyadar kalo budgetnya ngga cukup!!"
Milady terbahak lagi. Sepertinya dia benar-benar terhibur dengan cerita Selena.
Segala kegalauannya langsung hilang.
Dimas versus Selena ternyata benar-benar seru.
"Ya udah akhirnya karena booking hotel ngga bisa dikembalikan, udah terlanjur, nekatlah kita sekamar buat berhemat!"
"Apa yang terjadi saat kalian sekamar?" Tanya Milady memancing.
Selena menghela napas.
"Yah... Sejujurnya..." lalu dia diam. "Kayaknya Dimas itu level biksu."
"Hahahahahaha!!!" Milady terbahak lagi, kali ini lebih kencang, sampai air matanya mengalir.
"Baru kali ini gue nemu cowok yang ngga tergoda sama kecantikan gue. Bram aja mengakui kalo dia suka sama gue dari awal pertemuan. Tapi yang ini... Astaga Ladyyyyy gue padahal udah telanjang di depan dia!"
"Waduh...hebat juga Dimas!!"
"Ngga tahu lah apa yang udah Bu Meilinda sodorin sampai Dimas langsung takluk, padahal dia udah tante-tante! Kekayaan Bataragunadi kali embel-embelnya!"
Milady terdiam.
Kalau ia ketahuan...
Dengan Sebastian...
Apakah ia juga akan dicap seperti Dimas?
Pengeruk kekayaan Bataragunadi?
Hal ini sudah pernah dibahas waktu itu, kalau bukan harta yang membuat Dimas terpikat dengan Meilinda. Tapi memang pribadi wanita itu yang dianggap unik sama Dimas.
Tapi apakah masyarakat akan percaya hal itu?
"Tapi Len... Bu Meilinda hebat juga loh. Coba pikir... Dia umurnya sudah 40tahunan kan? Tapi tubuhnya sangat terawat dan masih kencang seperti kita yang belum 30..." Kata Milady mengalihkan perbincangan.
Selena terdiam, dia tampak berpikir.
"Iya juga sih ya... Gimana yah cara dia merawat tubuhnya biar tetap sintal. Gue juga pingin umur 40an sekencang dia." kata Selena.
"Bijak? Huh! Boro-boro..." dengus Selena. "Bu Meilinda itu mulutnya kayak toa, baweeelll banget, lo salah sedikit omelannya bisa kedengaran sampai beda lantai!"
"Hahahahaha masa sih!! Kalo ketemu sama gue sih lembut..."
"Iya karena ngga ada yang bisa diomelin dari diri lo..." dengus Selena.
"Yah, nanti kalo gue nikah juga serumah, bisa tahu sifat aslinya..."
"Heh? Serumah? Maksudnya?"
Milady tertegun.
Ya Ampun...
Dia lupa bilang ke Selena...
"O... Oh... iya Len..." Milady menarik napas panjang. Mudah-mudahan Selena tidak marah karena ia lupa cerita.
"Maksudnya apa?"
"Gini..." Milady berusaha mengumpulkan kata-kata yang pas dan tidak menyinggung Selena. "Jadi, sebenarnya yang mau dijodohin sama Trevor itu, bukan elo. Lo itu cuma korban kejahilan Pak Sebastian karena dia kesal sama Trevor, dan juga sebagai back up kalo gue menolak perjodohan..."
"Back up elo... apa?"
"Back up kalau...gue menolak dijodohin sama Trevor."
"LO DIJODOHIN JUGA SAMA TREVOR???!"
Selena benar-benar berteriak.
Milady sampai menutup telinganya, padahal sudah ada handuk yang menutupinya.
Teriakannya sampai terdengar keluar salon.
"Le... Len..." desis Milady memperingatkannya.
"Terus? Kegalauan gue selama ini cuma karena ada konglomerat iseng, begitu?!"
"Yah..." Milady merasa tak enak, tapi itulah yang terjadi.
"Dan elo..." Selena menarik lengan Milady agar mendekat. "Kenapa lo ngga cerita kalo lo dijodohin sama Trevor? Hah?! Lo beneran mau nikah sama dia?!"
"Eh... sakit Len...yah gitu deh..."
"Lady!!! Lo tuh keterlaluan !! Haduuhh!!"
"Sori... Gue lupa karena banyak yang terjadi belakangan ini..."
"Kenapa akhir-akhir ini banyak yang minta maaf ke gue sih?! Ah kacau! Semuanya ternyata gara-gara elo yah!!"
Milady menghela napas.
"Gue mau cerita tapi lo tenang dulu..." desis Milady.
"I'm listening..." desis Selena. Ia duduk menghadap Milady.
"Yah... Pernikahan settingan, sebenarnya. Lo diam-diam aja. Tapi Bram tahu sih rencana gue dan Trevor... Jadi gini Len... Bokap gue tuh temen SMAnya Pak Sebastian. Bokap gue, bokap lo, sama Pak Jago yang di Dubai itu segenk sama Pak Sebastian. Lo kan tahu kalo gue baru cerai sama Latief... Nah, jadilah gue awalnya dikenalin. Dan yang kagetnya, ternyata yang mau dikenalin ke gue itu adalah Trevor."
"Iya. Terus?"
"Udah dong marahnya..." rayu Milady.
"Gue ngga marah, gue kesel. Lanjut ceritanya..."
Milady mencibir. Lalu ia melanjutkan ceritanya ke sahabatnya itu. "Tadinya gue mau tolak perjodohan itu. Tapiiiii... Trevor sampai mohon-mohon ke gue supaya nerima perjodohan. Biar kalo kita udah nikah, dia bebas ketemu pacarnya di Jepang. Dan dia juga bakalan ngebolehin gue ketemu sama orang yang gue suka. Jadi intinya... Menikah itu jalan satu-satunya untuk menuju kebebasan kita berdua. Lo kan tahu Ayumi ngga direstuin sama Pak Sebastian. Tujuannya mungkin akses ke aset keluarga... Jadi kalo Trevor nikah sama gue, walaupun dia bebas ketemu Ayumi, tetap aja Ayumi ngga bakal pegang akses ke aset, kan gue yang berhak, gue yang pegang, sah menurut akta gono-gini, jadi semua peluang Ayumi bakalan tertutup..."
"Pak Yan tuh masih merasa kalau Ayumi mau balas dendam yah."
"Iya. Ada motif tersembunyi lah... Diharapkan, saat itu terjadi, Ayumi akan merasa Trevor sudah tidak berguna dan akan mengakhiri hubungan mereka. Itu menurut Pak Sebastian yah... Sementara Trevor beranggapan sebaliknya. Dia masih merasa cintanya dengan Ayumi itu tulus. Siapapun yang pegang aset Bataragunadi, Ayumi dan dia akan tetap saling mencintai. Sehingga Trevor ingin Pak Sebastian melihat hal itu dan luluh lalu memberikan restunya. Saat itu gue bakal dicerai lagi, dan bebas..."
"Ribet banget sih hidup lo..."
Milady berdecak.
Selena tidak tahu kalau hidupnya yang sebenarnya jauh lebih rumit dari pada yang dia ceritakan.