Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Mobil Emas



Milady mengikuti Sebastian masuk ke ruangan kerja pria itu.


Roll Royce klasik bersepuh emas menyambut mereka.


"Aku ingat film yang ada mobil emas seperti ini..." Sahut Milady


"Iya...Tower Heist. Memang inspirasinya dari situ." Kata Sebastian sambil mengetuk bumper mobil itu dengan buku jarinya.


Pintu masuk di belakang mereka tertutup otomatis.


"Tapi ini bukan hasil korupsi seperti di film kan?" Tanya Milady berusaha memancing.


Sebastian menyeringai.


"Mobil ini... Ada di sini sebagai pengingat, berapa besar aku membayar pajak bagi negara lewat semua perusahaanku. Sepertinya, sebentar lagi akan ada unit keduanya..."


"Hm... Lumayan sarkasme yah kamu..."


"Kalau kamu pengusaha, kamu akan sebal sendiri saat kamu berhadapan dengan laporan pajak..." Desis Sebastian sambil duduk bersandar di kap mobilnya.


"Kubuka yah..." Desis Sebastian sambil mengangkat kotak dari Milady.


Milady menyeringai.


Sebastian menarik tangan wanita itu supaya lebih mendekat, lalu membalik tubuh Milady supaya membelakanginya, dan memeluknya dari belakang sambil tetap duduk di kap Roll Royce emasnya.


Milady terkikik sambil bergerak menuruti Sebastian.


"Aku belum siapin apa-apa buat kamu..." Sebastian mencium pipi Milady.


Milady menengadahkan kepalanya sambil mencium leher Sebastian.


"Kali ini aku yang salah... Jadi kamu tidak perlu mempersiapkan apapun."


"Hm..." Gumam Sebastian. "Aku ngga terlalu suka kamu dekat sama Dimas."


"Kenapa? Karena logo Cassanova di dahinya?!"


"Karena tingkah kamu kalau ada dia kayak cacing kepanasan."


Milady terbahak.


"Yah... Bagaimana... kekuatan charmingnya terlalu kuat untuk kuindahkan. Eh, tapi aku pernah nolak dia loh..."


"Nolak gimana?"


"Jadi... Dia tembak aku saat kami mulai dekat. Lalu dia menciumku. Tapi sekitar setengah jam kemudian, aku menolaknya untuk pacaran."


"Karena...?"


"Karena tiba-tiba aku teringat kamu."


"Aku?"


"Iya, kamu."


"Maksudnya?"


"Jadi bisa dibilang, aku menolak Dimas karena kamu ngga bisa hilang dari benakku."


Terdengar kekehan Sebastian.


Sepertinya...


Sebastian merasa sangat puas karena menang dari Dimas.


"Walaupun aku yang memang menjauhkan diri dari kamu, tapi terus terang... Sepertinya aku sudah sangat mencintai kamu sampai tidak bisa lupa."


"Kamu tidak mencariku?"


"Bagaimana bisa? Kalau kamu sesekali muncul di media atau TV mungkin aku akan tahu lokasi kamu... Kamu kan anti publikasi."


"Iya demi keamanan, aku banyak musuhnya soalnya. Aku juga cari kamu tapi tidak ketemu. Dan orang bank ngga mau kasih data kamu."


"Ooh... Transaksi kita yang terakhir yah, yang dua milyar?"


"Kelihatannya kamu salah nama yah..."


"Iya. Kartu pelajarku salah ketik, jadi orang bank patokannya dari situ. Dan bukan Garnet Bank."


"Seandainya itu Beaufort Bank aku masih bisa lacak. Tapi ini Bank yang lain."


"Tapi kan sekarang kita sudah bertemu..." Milady mencubit pipi Sebastian.


Pria itu membuka kotak dari Milady dan menyeringai.


"Ini ngga ada GPSnya kan?" Desis Sebastian.


"Aku ngga perlu GPS buat cari kamu. Aku tinggal cari Dimas..."


"Maksudnya?"


"Iya." Desis Milady. "Soalnya kuperhatikan kamu sering ada di sekitarnya."


Sebastian mendengus sebal.


Milady terkekeh.


"Suka pinnya?" Tanya wanita itu.


"Suka."


"Cuma itu? Suka karena dari aku, atau suka karena kamu memang butuh?"


"Suka karena dari kamu."


"Dipakai sering-sering yah..."


"Hm..."


Sebastian mencium bibir Milady.


Lalu tangan pria itu mulai menjelajah.


Jemarinya yang tadinya bertengger di pinggang Milady mulai merambat ke atas, ke arah dada Milady dan meremasnya lembut.


Milady mendesah di sela-sela permainan lidah mereka. Kali ini wanita itu tidak menolak dan malah menangkup punggung tangan Sebastian untuk berbuat lebih jauh.


"Kali ini, giliran kamu ya." Desis Sebastian.


Tangannya menjauh dari dada Milady dan turun ke bawah, ke area sensitif diantara jepitan paha wanita itu.


"Sejak kapan jadi shift-shiftan?" Sahut Milady.


"Sejak kamu mulai punya prinsip... tapi juga ingin merasakan." Ejek Sebastian.


"Bagus dong kalau aku punya prinsip..." Milady tidak melanjutkan kata-katanya karena jemari Sebastian mulai menyelusup ke selipan segitiga tipisnya. Kalimatnya digantikan dengan desahan dan tarikan napas.


Berikutnya Milady tidak bisa mengingat apapun selain bagaimana cara jemari Sebastian memuaskannya.


Ia bahkan tidak menyadari kalau ia meneriakan nama Sebastian berulang-ulang disela-sela desahannya.


*****


Sambil menghela napas Milady memegangi dahinya dengan duduk bersandar di sofa.


Ya ampun... ia tidak mengira kalau permainan Sebastian begitu...


Milady hanya meliriknya sekilas, mencibir, lalu kembali memejamkan matanya untuk beristirahat, menguasai diri.


Sebastian duduk di sebelahnya.


"Kamu ngga papa kan?" Tanya Sebastian. Nadanya masih terdengar seakan menggoda Milady.


"Aku bisa kasih kamu yang lebih..."


"Bawel, ih..." Desis Milady cepat, memutuskan untuk tidak ingin terpancing, walaupun ia sangat ingin direngkuh oleh pemilik rambut putih ini.


Terdengar kekehan Sebastian untuk yang kesekian kali hari itu. Sepertinya ia suka melihat Milady tidak berdaya.


"Ya sudah..." Sahut Sebastian. "Kalau ngga mau..."


"Kamu tahu kalau aku juga ingin." sahut Milady.


"Hm... Aku nikahin siri aja gimana. Sampai hari pernikahan kamu? Kapan sih kalian menikah?"


"Enak saja nikah siri... Enak di kamu itu sih!" Dengus Milady.


"Hm... Ya udah, bertahan aja pakai yang ada, yang jalan lain menuju... Surga Dunia? Bukan Roma lagi yah..." Kekeh Sebastian.


"Awas kamu yah..." Sungut Milady.


Sebastian terkekeh lagi.


Dalam hatinya ia berpikir untuk tidak akan menjual Roll Royce emasnya karena telah terpatri kenangan penuh gairah disana. Milady yang meneriakan namanya ternyata sangat seksi...


Terdengar dering telepon di meja kerja Sebastian.


"Pak, ada Pak Leonard Zhang di ruang meeting prioritas..." Terdengar suara Arman dari sana.


"Oke, Bilang Leon saya akan segera datang." Desis Sebastian.


Milady tampak berpikir.


Leon...


Leonard Zhang...


Sepertinya dia familiar dengan nama itu...


Belum selesai Milady mengingat, Sebastian sudah mendongakkan kepala Milady dan menciumnya dari atas dengan gemas. Milady sampai terpekik kaget.


"Aku meeting dulu. Kamu kalau capek ada..."


"Aku mau pulang. Sudah malam..." Rajuk Milady.


"Perlu diantar driver? Mobil kamu diparkir di sini saja. Besok kalau mau ke kantor, aku jemput..."


"Ngga usah. Terlalu mencurigakan. Arman saja sudah curiga aku kesini..."


"Dia sudah di sumpah ngga sesumbar."


"Yang namanya manusia..." Gumam Milady sambil berusaha berdiri.


Area perut dan bagian sensitifnya masih berkedut menyesuaikan diri.


*****


Milady mengikuti Sebastian menuju ke arah ruang meeting prioritas yang sejalan dengan lift menuju lantai lobi.


"Pak Yan." Sapa seseorang.


Milady mengamati pria yang menyapa Sebastian dengan akrab. Pria itu masih muda, mungkin seumuran Trevor, lebih tua sedikit. Dengan wajah oriental yang tampan dan guratan yang menandakan keras hidupnya.


"Leon. Apa kabar?" Sebastian menjabat tangan pria itu.


"Sehat Pak. Bapak juga kelihatannya segar bugar."


"Kalau mau dikasih bisnis, otomatis badan saya segar sendiri." Sahut Sebastian.


Leon terkekeh. "Yah, kalau itu sih Boss saya Pak Alex. Badan saya segar kalau dia lagi di luar kantor. Hahaha!"


"Oh, ngga ganggu-ganggu kamu yah!"


"Iya, kantor rasanya tenang."


Dan mereka tertawa berbarengan.


Milady menghentikan langkahnya menuju lift. Leon dan Alex... Perpaduan nama yang familiar.


Lalu bagaikan mendapat inspirasi, Milady mendekat. Kalau pria yang bernama Leon ini benar Leon yang ia kenal, pasti dia menengok. Kalau bukan, paling ia akan bertanya dan Milady bisa berdalih kalau salah orang.


"Yah, komik One Piecenya ketinggalan di rumah..." Gumam Milady.


Leon langsung menatap Milady dan tertegun.


Sebastian menoleh. "Kenapa? Ada yang ketinggalan?" Tanyanya ke Milady.


"Hm... Ngga jadi. Aku duluan yah..."


"Lady-star92." Gumam Leon.


Milady menyeringai. Pria itu menyebut nick name Milady di game online.


"hoo... benar Awuman_Singa yaaa..." Milady menyebut nickname Leon.


Leon terkekeh.


Pria itu menghampiri Milady. "Gimana Jepang? Seru yah kayaknya..."


"Hm... Lumayan seru. Kamu aku istimewakan loh, disempet-sempetin saat terakhir ke bandara. Dimas aja ngga kukasih apa-apa..."


"Wih... Baguslah. Jadi, aku dapat bonus apa dari Oda Sensei."


"Ada figure yang di tandatangani. Ditujukan ke kamu tuh dia tulis sendiri."


Leon menggesekkan kedua tangannya.


"Rumah kamu di mana? Aku ambil deh habis meeting nanti." Desisnya tak sabar.


Milady menyeringai.


Sebastian mengerutkan kening.


"Sepertinya kalian saling kenal..." Desis Sebastian.


Milady memicingkan mata.


Jangan bilang kalau Sebastian cemburu lagi...


"Kami teman main game, Pak. Sebelum ke Jepang sempat mabar, battle satu kelompok, champion berkali-kali." Jelas Leon.


Sebastian menaikkan alisnya sambil menatap Milady.


"Hehe... Nanti paket kamu aku antar aja ke Beaufort besok pagi pakai kurir, oke Leon." Daripada Sebastian ngambek karena ada pria lain ke rumahnya mendingan ia antar saja sendiri besok.


"Eh, nanti malam ada push rank...kamu ikut kan?" tanya Leon.


"Hm... Oke. Nanti ketemu di lobby dungeon aja. Aku tunggu sampai nama kamu muncul. Dimas kelihatannya ngga main, dia nginap di kantor karena lagi Rapat Kinerja."


"Baguslah ngga ada dia. Berisik soalnya..."


"Daah Leooon. Eh, mari Pak Sebastian saya pamit... hehe." Milady menundukkan kepalanya dan kabur secepat mungkin dari sana, sebelum Sebastian bertanya macam-macam.