Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
One Day With Arman (1 of 3)



Sebelum kita melanjutkan ke cerita utama, marilah kita sekedar berhalusinasi secara flashback.


Ini adalah cerita saat Arman BELUM BERTEMU AYUMI.


Saat masih bisa merasakan hari-hari penuh kedamaian yang setiap hari ia lalui.


Hari-hari tanpa adegan berbahaya yang mengancam hidup.


Judul episode ini adalah :


One Day With Arman.


*****


Tet tet tet tet!


Pukul 4 pagi.


"Hhmh..." Keluhan dari Arman, sambil mengulurkan tangannya dari balik selimut ke arah jam meja dan mematikan setting alarmnya.


Lalu Pria itu kembali berada di balik selimut, dan kembali tertidur.


Beberapa menit kemudian, sayup-sayup terdengar suara adzan subuh dari kejauhan. Ia pun membuka selimutnya.


Kenapa ia masih saja menyalakan set alarm walaupun adzan subuh adalah alarmnya yang sebenarnya?


Mungkin berkaitan dengan kebiasaan. Walaupun keyakinannya berbeda, namun entah bagaimana ia selalu suka lantunan yang timbul dari speaker masjid.


Lalu pria itu pun duduk di tepi ranjangnya, sambil tertegun menunduk menatap lantai.


Berusaha mengumpulkan kekuatannya.


Mengumpulkan tenaganya.


Mengingat-ingat mengenai jadwal hari ini.


Dan yang paling penting, mengingat untuk tujuan apa ia hidup sampai hari ini.


Sebentar lagi ada alarm ketiga, jadi sepertinya ia harus membuat kopi sebelum semuanya menjadi berantakan.


Arman menyingkirkan selimutnya dan berdiri.


Tubuhnya tanpa pakaian, ia tidak terbiasa tidur dengan ketatnya pakaian yang membuat aliran darahnya tidak lancar.


Dengan lunglai ia mengambil air dari kulkas, lalu menegaknya sambil berpikir.


Enaknya hari ini membuat kopi dari mesin kopi, atau manual dengan ceret air.


Tunggu.


Ini hari apa?


Ah. Hari Rabu.


Waktunya meeting pagi, dan nanti sore juga ada presentasi.


Jadi yang pas adalah kopi yang rasanya segar, mungkin sedikit beraroma citrus dan bercitarasa lembut untuk mengembalikan moodnya.


Yang tepat adalah Kopi Kintamani.


Jadi Arman menyalakan mesin kopinya dan mengeluarkan kemasan kopi dari konter dapur.


Lalu menyalakan tv sambil memeriksa ponselnya yang di-charge semalaman.


Tak lama saat kopinya sudah hampir selesai diproses, ponsel Arman berdering.


Alarm ketiganya.


Di layar ponselnya tertera nama,


Sebastian Bataragunadi.


Arman berdehem untuk membasahi tenggorokannya agar suaranya lebih jernih.


"Pagi Pak." Sapanya.


"Surat dari DP3KK sudah direspon?" Tanya Sebastian.


"Sudah Pak." jawab Arman.


"Letter of Agreement untuk Bank?"


"Belum, menunggu rekomendasi dari Pak James dan Pak Stephen."


Arman menuang kopi ke mugnya.


Ia menguap melepaskan oksigen dari otaknya.


Lalu melemaskan otot lehernya, dan duduk di kursi makan dengan santai.


"Pihak Bank ingin surat itu ada jam 10 hari ini." Sebastian bersuara dengan nada rendah.


"Nanti saya push Pak James." Desis Arman.


"Oke. Lalu..."


Arman menunggu Sebastian berbicara lebih jauh sambil kembali menyeruput kopinya. Ia juga sembari membaca berita mengenai keadaan negaranya lewat tablet.


Alunan suara anchor di televisi membuatnya melirik sekilas ke arah depan.


"Kamu bisa mencari cara untuk meredakan kemarahan seorang wanita?" Tanya Sebastian.


Arman diam.


Masalah apa lagi ini?! Pikir pria itu sambil meletakkan mug kopinya.


Sudah beberapa hari ini, sejak acara perjodohan Sang Putra Mahkota, BigBoss bertingkah laku seperti abege.


Ia kerap minta dikirimkan hampers dan hadiah-hadiah untuk seorang wanita dengan nama Milady.


"Tergantung tingkat kemarahannya Pak. Apakah parah atau masih bisa dimaafkan." Sahut Arman.


"Menurut saya sudah dalam taraf tersinggung."


"Apakah dia wanita kelas atas atau wanita biasa saja, atau usianya lebih tua atau lebih muda?"


"Kamu banyak sekali pertanyaan yah." Gerutu Sebastian.


"Pak, yang namanya wanita, harus dimengerti. Saya tidak mungkin mengirimkan rangkaian bunga warna-warni ke seorang nenek-nenek, bisa-bisa ia misuh-misuh, bilang kalau 'rangkaian bunga hanya membuang-buang uang, lebih baik membelikan saya batik'. Dan saya juga tidak mungkin memberikan seorang sosialita sebuah bingkisan yang nilainya lebih rendah daripada harga sepatunya, bisa-bisa dia mengira kita ngga ikhlas." Begitu penjelasan Arman.


Belum ada suara dari seberang.


Arman menunggu Sebastian berpikir sambil kembali menyeruput kopinya.


Suara anchor sedang memberitakan mengenai kasus korupsi salah satu anggota dewan. Arman mengenal si tersangka.


Lalu tersenyum tipis penuh arti.


"Oke. Begini. Berikan sesuatu agar perhatian wanita itu teralihkan ke saya. Saya harus bicara dengannya." gerutu Sebastian.


Jadi Arman harus meraba-raba mengenai permasalahannya.


"Maksudnya, bapak punya saingan cinta?" Tanya Arman lugas.


Sebastian diam


Arman langsung tersenyum licik.


Astaga. Kisah cinta di usianya yang ke 54 tahun. Epic sekali Pak Bataragunadi.


Batin Arman sedikit menyindir.


"Oke, saya tahu bingkisan yang tepat." sahut Arman.


"Pokoknya, saya harus bicara dengannya. Usahakan, hadiahnya, yang membuat ia jadi bersedia bertemu saya." cecar Sebastian.


"Siap Pak." Lalu Arman menyeringai licik. "Hadiah akan meluncur di atas meja Milady Adara besok pagi." Sebenarnya Arman mengucapkan nama itu asal tebak saja.


Terdengar decakan Sebastian.


Tanda tebakan Arman sangat tepat.


Ini akan jadi sangat seru.


Batin Arman.


*****


Lalu setelah perbincangan pagi yang menurutnya menyenangkan dari Atasannya,


Boss dari segala Boss di perusahaannya,


otak dari semua strategi bisnis yang mereka jalankan,


dan bisa jadi merupakan makhluk setengah manusia setengah dewa,


Yang Mulia Sebastian Bataragunadi,


Beliau memang biasa menelpon Arman setelah sholat subuh untuk membicarakan jadwal. Kadang malah bisa lebih pagi lagi karena takut terlupa.


Maklum sudah umur. Sering lupa. Dan jam tidur sedikit.


Arman lalu menyambar handuknya dan masuk ke kamar mandi.


Sekitar beberapa menit kemudian, Arman keluar dari kamar mandi dan menuju wastafel, bercukur dan mengenakan lotion wajah.


Yah, laki-laki juga perlu berdandan, bukan?


Namun yang membuatnya lama di depan wastafel adalah menata rambutnya.


Sekitar 15 menit bisa lebih... Itu termasuk berkutat dengan hair dryer dan pomade.


Setelah dirasa wajahnya sudah sempurna menurut versinya. Arman menghela napas lega.


Lalu menyambar kopinya dan menegaknya seteguk.


Dan saatnya menuju lemari pakaiannya.


Ia membuka kantong laundry yang berisi baju-baju bersih.


Arman menggunakan deterjen khusus yang wanginya senada dengan parfumnya agar bisa bertahan sampai malam.


Ia tidak perlu susah payah memilih setelan karena untuk Divisinya, Corporate Secretary, mereka diberikan setelan seragam khusus.


Setiap karyawan diberikan 4 setelan yang terdiri dari kemeja putih, celana kain berwarna abu-abu dengan motif garis, dasi dan vest bermotif senada, dan suit yang elegan.


Bahan yang dipilih berkualitas tinggi sehingga tidak membuat gerah.


Khusus untuk Arman yang menjabat sebagai Kepala Divisi diberikan bros khusus. Ia biasa menyematkannya diantara kerah kemaja dan bagian atas dasinya.


Dan khusus hari Jumat karyawan bisa bebas memakai baju casual.


Arman menyemprotkan parfum, mengenakan kemeja, celana dan ikat pinggangnya, lalu memilih sepatu di rak.


Tampaknya hari ini akan sibuk, jadi ia memilih sepatu yang bobotnya enteng.


ART datang jam 10 sampai jam 12 untuk bersih-bersih apartemennya. Walaupun tidak banyak yang harus dibersihkan, tapi Arman lebih suka melihat keadaan rapi saat ia pulang kerja. ARTnya pun ia sewa secara khusus karena banyak benda-benda berbahaya di dalam unitnya, seperti koleksi senjata dan kadang kemeja berlumuran darah.


Seperti yang kita tahu, Arman juga berprofesi sebagai Komandan di Satuan Pengamanan Khusus milik Garnet Security Agency.


Dan orang yang harus ia kawal adalah makhluk yang paling diharapkan harus mati cepat-cepat bagi sebagian besar orang berpengaruh.


Lalu setelah ia merasa sosoknya sudah tampan tak terkalahkan, ia mencari tasnya dan memeriksa isinya.


Memikirkan barang apa saja yang harus ia bawa, memikirkan senjata model apa yang harus diselipkan di vestnya, juga...


Kenapa ada bra di dalam tasnya?


Ia mengeluarkan bra coklat dengan permata berkilau di tengahnya.


Lalu membentangkannya.


Wangi bunga dan sedikit rempah.


Ukuran ini...?


"Beatrice." Ia mengucapkan satu nama. Asisten CEO salah satu tenant di Gedung Garnet Grup, cantik dan berkelas dengan gaya bercinta yang liar.


Dan Arman tersenyum.


Tidak mungkin benda mewah seperti ini tidak sengaja terselip, lagipula bukankah akan terasa kalau tidak pakai.


Kecuali saat itu Beatrice sedang mabuk berat.


Namun Arman ingat dengan jelas tadi malam, saat mereka melakukannya di apartemen Beatrice, mereka sepenuhnya dalam keadaan sadar.


Jadi pria itu melemparkan bra milik salah satu 'pacarnya' ke kantong laundry untuk dicuci.


Lalu memasukkan benda-benda lain ke dalam tas, mengenakan jam tangannya, memasukan dompetnya di saku belakang celana, menyambar jaket bombernya.


Dan...


Menghabiskan kopinya.


Sambil bergumam.


"Bapa di surga, kalau dirimu memang sedang di sana. Berkatilah pekerjaanku hari ini. Pekerjaan saja. Tidak usah aktivitas yang lain. Semoga aku bisa pulang kembali ke sini tanpa banyak beban pikiran. Amen."


Ia berdoa dengan kalimat sedikit nyeleneh.


Ia tahu aktivitas yang lain, selain pekerjaan, sudah pasti harus masuk ke dalam bilik pengakuan dosa.


Tidak cukup hanya dengan doa.


Lalu ia menyambar kunci mobil sportnya, mematikan semua lampu dan listrik, lalu keluar dari unitnya.


*****