Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Saya Istri Sebastian



Setelah nastar bersih tandas sampai remahannya...


"Atika."


Atika mengangkat wajahnya mendengar namanya dipanggil.


"Saya baca, kamu pernah kuliah jurusan DKV walaupun tidak sampai selesai. Background kamu sudah cukup untuk bisa mengisi posisi di bagian desain produk. Kalau kamu bersedia, kamu bisa mulai bekerja di Garnet Retail minggu depan."


Atika tertegun.


"Bekerja Pak?"


Sebastian mengangguk.


"Maksudnya... Kerja kantoran, Pak?"


"Iya lah..."


Mata lentik Atika membesar.


Ia memang pernah bermimpi bisa menjadi wanita karier. Namun mimpi itu harus dipendamnya dalam-dalam seiring anak-anaknya mulai aktif.


"Tapi... Anak-anak saya..."


Atika tidak melanjutkan kata-katanya.


Apakah bisa diusahakan?


Ini mimpinya, bisa berdiri di atas kemampuannya sendiri. Untuk itulah ia berkuliah dulu...


Namun menjadi seorang ibu, juga penting dalam hidupnya, tugas dari Yang Maha Kuasa.


"Hm... Kalau begitu..." Sebastian menyambar teleponnya. Lalu menghubungi seseorang.


"Agustin, ini saya. Baby Day care kamu ada buka cabang di Gedung Garnet Retail? Belum? Kamu booking lot deh, modal dari saya. Hah?! Ini saya lagi baek iniiii mau kamu ambil ngga kesempatannya?! Iya anggap aja lagi gila... Udah berisik kamu, sana booking lot! Senin jadi ya!"


Semua bengong.


"Apa?!" tantang Sebastian.


"Ngga papa..." semua langsung serentak bilang begitu sambil mengalihkan pandangan.


"Masalah Atika sudah terpecahkan. Bagaimana? Kamu mau mulai kerja? Anak-anak satu gedung sama kamu, bisa kapan saja kamu tengokin mereka. Saya nanti minta diskon sama Agustin, pemiliknya."


"Mau Pak! Alhamdulillaaaah... Saya mau Pak!" Atika kegirangan. Air matanya malah jadi semakin deras daripada tadi.


Ia menangis terharu sambil memeluk bantal.


Mimpinya jadi kenyataan.


Wanita Karier sekaligus seorang ibu bisa ia wujudkan.


"Saya akan cari data itu sampai dapat! Walaupun saya harus mengancam Gunawan!" seru Atika.


"Saya juga Pak. Saya akan minta data Mbak Meli." sahut Mitha. "Kalau perlu saya akan pecat Gunawan dari Johan's Company! Biar melarat dia sekalian!"


Mitha dan Atika berpegangan tangan.


Tapi Maya bungkam.


"Mbak Maya?" tanya Mitha. Ia melihat wanita itu masih gundah.


"Mbak Mitha... Aku ngga bisa begitu saja menyingkirkan Gunawan..." desis Maya. "Kami menikah dengan dasar cinta. Walaupun memang kehidupan Gunawan terbagi untuk kalian, tapi selama ini... Selama ini ia sudah berusaha cukup banyak untuk kita. Nafkah selalu ada, perhatian juga ada walaupun terbatas tapi kalau dibutuhkan dia selalu datang... Walaupun setelah itu dia pergi lagi."


Mitha dan Atika tertegun.


Ah iya... Memang benar.


Lalu Mitha menghela napas.


"Kamu benar Mbak..." desisnya. "Karena itu, saya akan mengalah untuk kalian." sahutnya.


Ia melirik Trevor.


Trevor hanya menatapnya dengan lembut.


Sejak kapan?


Entahlah...


"Anu..." gumam Atika. "Saya mungkin juga akan melepaskannya. Saya masih muda. Saya bisa cari yang lain. Walaupun saya kesannya seperti berkhianat, mudah pindah ke lain hati... Tapi prinsip saya tidak ingin dimadu. Buat saya itu Selingkuh, walaupun dia akan berdalih itu Sunah Nabi atau apalah! Tapi saya tidak bisa membohongi hati kecil saya... Saya sudah terlanjur sakit hati Mbak!" sahut Atika.


"Membayangkan suami saya bercinta dengan wanita lain rasanya..." Atika mengernyit sambil memegangi dadanya yang langsung sesak.


"Saya tidak sekuat itu!" sahutnya lirih.


Suasana di dalam ruang meeting sedikit banyak memberi kesan bagi setiap individu di dalamnya. Hari ini tiga wanita bersatu untuk satu suara, para wanita tegar yang akan mulai berjuang dengan kakinya sendiri untuk keluarganya.


Mereka elegan, mereka pintar, dan mereka menjalani hidup dengan penuh ketulusan.


Satu lagi wanita anggun, melangkah ke dalam ruang meeting. Mencuri perhatian setiap manusia di sana.


Milady Adara.


"Selamat Pagi..." sapanya sambil menarik sudut bibirnya, dan memandang semuanya dengan akrab.


mengundang semuanya untuk membalas senyumnya.


Milady menatap satu persatu orang di ruangan itu.


"Maaf kalau saya terlambat, tapi saya sempat mendengar semuanya dari balik pintu." katanya.


dan semua orang mulai menarik napas tertahan saat ia ambil posisi di... pangkuan Sebastian.


Sebastian menyambut wanita itu dengan... seringai penuh kemenangan, ke arah Dimas tentunya.


yang disambut dengan decakan Dimas.


"Nama Saya Milady. Maaf baru bisa datang. Saya..." ia menatap Sebastian, meminta persetujuan suaminya untuk buka suara. Sebastian mengangguk perlahan.


"Saya Istri Sebastian."


"Ha?" sahut Trevor.


Meilinda bahkan sampai berdiri dari duduknya.


Bram sampai hampir saja menjatuhkan mug kopinya.


"Bagaimana bisa..." Bram menatap Trevor, dibalas dengan tatapan bingung Trevor yang bahkan tidak kalah terperajatnya.


Yang santai di sini hanya Dimas... Pria itu tampak menegak habis es tehnya dan mengisinya ulang karena bersemangat untuk mendengarkan drama keluarga yang sebentar lagi akan terjadi.


Problem Solver sudah datang, Pikirnya.


Dimas sangat menanti rencana Milady menaklukan pria yang lain, yaitu Gunawan.


Terus terang saja, Dimas kurang pandai kalau menyangkut Makhluk Tuhan yang namanya Wanita. Selain kurang pengalaman, ia juga sangat menghormati kaum itu, jadi ia lebih takut berbuat salah kalau ikut campur.


Makanya, dari tadi saat para istri berbincang, ia tidak ikut ambil bagian.


Yang bisa menyatukan mereka hanya sesama wanita.


Wanita yang bisa bersikap netral, dan bukan pihak yang berhubungan.


Fungsi Dimas kali ini hanya sebagai penggembira.


Terkadang orang menghakimi dari cover bukunya, kan...


yah... Dimas memang sekilas benar-benar seperti pria hidung belang dengan tingkahnya yang tebar pesona di sana-sini.


Tapi tahukah kalian, Padahal di habitat aslinya, buaya justru tergolong hewan yang setia. Buaya jantan bisa dibilang sebagai hewan paling setia dan cukup menyayangi pasangannya. Bila sang betinanya mati, buaya jantan tak akan mencari betina lain. Mereka lebih memilih menghabiskan sisa hidupnya sendirian.


Mungkin... Sebastian sudah bisa membaca sifat si Boyo yang sebenarnya, makanya julukan itu ia sematkan pada Dimas.


"Saya mungkin punya jalan keluar untuk kalian agar masalah ini bisa memuaskan kedua pihak. Win-win solution..." kata Milady.


*****


Satu jam setelahnya sesuai jadwal, Gunawan Ambrose berkunjung ke Gedung Garnet Grup dengan langkah tegas.


(Bagi yang sudah membaca Woman On Top, pasti mengetahui kalau ini adalah saat-saat paling menyebalkan dalam hidup Dimas. Namun disini, mari kita lihat dari sisi Sebastian.)


Dua jam yang membosankan...Pikir Sebastian.


Gunawan mungkin berpikir mengambil proses negosiasi bisa membuat semuanya senang. Namun tuntutannya benar-benar berat sebelah.


Memangnya dia pikir selama ini, 35 tahun ini, harta yang Sebastian dapatkan hasil dari pesugihan? Tahu-tahu hujan emas dari langit?!


Setiap peraknya adalah hasil kerja keras. Jatuh bangun dihujat tak kenal lelah sampai berulang kali hampir mati. Teror disana-sini sampai Sebastian berpikir kalau Tuhan sedang mengerjainya.


Hingga pada akhirnya dia berada di puncak rantai makanan sebagai bagian dari kaum predator Sebastian baru bisa belajar bahwa menyalahi perjanjian adalah sikap fatal yang dampaknya mengorbankan pekerjaan 35 tahunnya.


Setiap kontrak dibangun dengan satu tujuan.


Nurturing Trust


Memelihara Kepercayaan


Sesuatu yang Sebastian tahu, sangat mahal harganya dalam bisnis.


Dan saat ini, ia sangat bangga pada Trevor. Anaknya itu tetap pada pendiriannya untuk tidak menyalahi kontrak yang Garnet Mining bangun dengan Pemerintah negara setempat.


Walaupun Sebastian tahu, Petrovite, mineral langka yang tim Gunawan temukan sangat mahal harganya dan sangat berharga, apalagi ditambah Carbonado yang mereka capai tahun ini... Kalau mau menyalahi kontrak pasti mereka sudah akan kaya raya.


Namun sampai kapan pesta poranya berlanjut?


Sudah pasti mereka menyalahi aturan, menyalahi perjanjian, dan tidak akan ada lagi kerjasama harmonis yang akan bertahan setelahnya.


Jadi...


Sebastian membiarkan Gunawan mengoceh bagaikan marketing kartu kredit.


Dan menolak semua usulnya setelahnya.


Setelah dua jam berkoar-koar akhirnya Gunawan kehabisan amunisi bujuk rayunya, dan mulailah transaksi yang sebenarnya...