Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Let The Game Begin (4)



"Pak Arm... an..." Janet tadinya senang melihat Arman di dalam lift. Namun langsung diam saat melihat ada wanita di sebelah Arman.


Yani masuk lift mengikuti Janet sambil menatap lekat-lekat Ayumi yang sedang bersandar di dinding baja sambil balas memperhatikannya.


Mereka berdua berdiri di sebelah Arman dengan jengah.


Ayumi mencibir saat menyadari kalau wangi parfum Janet adalah wangi yang sering ada di kemeja kerja Arman.


"Reny udah ke atas?" tanya Arman santai ke Yani.


"Ah, Iya! Pak Arman, kenapa harus Reny yang ke atas? Kami kan juga memiliki kapabilitas untuk jadi sekdir." sahut Yani.


"Request khusus dari Pak James. Dia belum punya sekretaris dan ruangannya dekat dengan ruangan Boss."


"Request khusus? Jangan-jangan..." Yani melirik Janet dengan pandangan nyinyir.


"Ngga mungkin, James kan agak melambai..." bisik Janet.


"Pak James bukan gay, loh... Dia pernah punya pacar. Beberapa kali kalau ngga salah, tapi bukan orang kantor..." kata Arman.


"Ah! Serius?!" seru kedua wanita itu.


Mata Janet dan Yani membesar lalu terkikik satu sama lain.


"Jadi ini kerjaan kamu di kantor? membicarakan orang lain?" sindir Ayumi.


Arman hanya berdecak.


Lift terbuka.


Sandra Ellen Bagaswirya, CEO Lüster Schon Jewelry milik Jarvas.Co di lantai 25, masuk sambil menenteng tas ratusan jutanya dan tumbler kopi dari cafe terkenal.


Seperti biasa, mata hijau sayu wanita itu terlihat malas, biasanya ia tutupi dengan kacamata hitam, namun kali ini sunglassesnya bertengger di atas rambut pirangnya.


Dandanan khas sosialitanya semakin mencolok karena ras kaukasiannya.


Dia adik Gerald Bagaswirya.


"Arman, Wie geht es Ihnen?" (Apa kabar?) tanya Sandra sambil menekan tombol tujuan lift.


"Hm... Ziemlich gut. Und Ihnen?" (Saya agak baik, dan Anda?)


"Ziemlich?" (Agak?) Sandra terkekeh. "War es wegen der Japanerin neben dir?" (apakah itu gara-gara wanita Jepang di sebelah kamu?)


"Ck..." Arman mendecak. "Mehr oder weniger so." (kira-kira begitulah.)


"Dōshite anata wa doitsugo to Roshiago ni tan'nō de, nihongo sae hanasenai nodesu ka? ! Anata no shigoto wa omoni Nihon to kankei ga arimasen ka?!" (Bagaimana bisa kamu sangat fasih berbahasa Jerman dan Rusia, sedangkan kamu bahkan tidak bisa berbahasa Jepang?! Bukankah pekerjaan kamu lebih banyak yang berhubungan dengan Jepang?! ) Ayumi agak sewot dengan percakapan mereka.


Arman menatap Ayumi dengan pandangan kosong.


"Dōshite? Anata wa ima motto chūi o motomete imasu ka?!" (Kenapa? Kamu mau minta perhatian lebih?!) sahut Arman. "Mimpi saja dulu..." sambungnya.


Ayumi terpekik tak percaya.


"Kamu bisa bahasa Jepang ternyata selama ini?!" sahut Ayumi.


"Sedikit, yang kira-kira teksnya ada di JAV aja..." gumam Arman.


Ayumi menarik napas kesal.


"Ah, Bu Sandra... terimakasih sudah bekerjasama dengan kami untuk..." Arman mengangkat tangannya yang terborgol dengan tangan Ayumi, memperlihatkan gelang berlian yang mengelilingi pergelangan kurus Ayumi.


"Hm... Bagus kan desain saya? Ngga mudah loh menciptakan desain agar terlihat tetap elegan dan berkelas padahal di dalamnya ada... Begitulah." desis Sandra.


"Bagus... Kalau yang pakai bukan medusa." desis Arman. Ayumi hanya menghela napas kesal.


"Justru... saya khusus mendesainnya untuk wanita ini." Sandra mendekati Ayumi dan mengelus dagu Ayumi sambil tersenyum penuh arti. Ayumi mengernyit dan menepis tangan Sandra.


"Sekali lihat fotonya, sudah langsung terbayang ukiran seperti apa. Kamu wanita yang sangat berani dan tangguh, tegar dan kuat. Dari luar kamu terlihat lemah lembut seakan tidak bersalah, sasaran empuk para pendosa. Namun di dalam... Kamu akan meracuni yang mengancammu... Desain yang cocok untuk kamu, adalah motif Azalea. Indah, namun mematikan..."


Ayumi menatap Sandra dengan waspada. "Kamu siapa?" tanya Ayumi.


"Hmph..." Sandra mendengus.


"Arman... Arman... Dari sekian banyak wanita yang pernah berhubungan sama kamu... " Sandra melirik Janet dan Yani dengan pandangan meremehkan. "...Yang ini paling cocok untuk meredakan..." Sandra mengerling ke Arman. "Obsesi kamu akan orgas*me. Hehehehe..."


"Bu Sandra suka bercanda yah..." sungut Arman.


Ting!


Lift berhenti di lantai 25.


"Saya permisi... Hehehehe..." kikik Sandra sambil keluar melenggang dari lift.


"Ck..." decak Janet.


"Sok cantik banget sih tuh bule..." sungutnya.


"Gue juga bisa kalo jadi simpenan Om-Om... kayak..."


"Sst..."


Yani menyenggol-nyenggol lengan Janet, memperingatkannya supaya tutup mulut karena melihat Arman sudah langsung menatap mereka dengan tajam.


"...Seperti siapa? Kok ngobrolnya ngga dilanjut? Yang jadi simpenan Om-Om...?" desis Arman. Nada suaranya seakan memperingatkan Janet dan Yani agar menjaga lidah mereka, atau berikutnya mereka akan kehilangan lidah.


Suasana di dalam lift langsung berubah mencekam.


"A...anu... Pak Arman..." panggil Janet dengan ragu, untuk mengalihkan perhatian. "Kok tangannya di..."


Ia menunjuk borgol yang melilit tangan Arman dan Ayumi.


"Iya... Biar dia ngga kabur." jawab Arman.


"Memang dia siapa?"


"Calon istri."


Janet dan Yani mendengus. "Calon istri... Nanti kita kena dibohongi lagi seperti waktu itu Pak Arman dan Bu Milady."


"Saya kan waktu itu belum selesai bicara, waktu itu maksud saya mau ngomong 'Lagi sama istri Pak Sebastian'..."


"Terus kalau yang ini...?"


"Kalau yang ini beneran calon istri saya. Kita nikah seminggu lagi." Arman mengucapkannya tanpa antusias.


Entah kenapa semakin mendekati lantai dimana Sebastian berada, hatinya menjadi semakin tidak tenang.


Lift terbuka di lantai 50 dan terlihat wajah Eiichi dan Moses yang tegang menyambut mereka


"Boss-Kun..." sapa Eiichi. Ia melirik Ayumi dengan sinis sebelum menyingkir memberi mereka jalan untuk keluar dari lift.


"Bapak di mana?" tanya Arman.


Eiichi dan Moses mengikuti langkah Arman dengan tegang.


"Di ruang meeting besar." jawab Eiichi.


"Mbak Lady?"


"Rady-Chan sedang bertemu mantan suaminya."


"Mantan suami? Latief Ali? Dimana?"


"Di cafe bunga di Garnet Mall..."


"Siapa yang jaga?"


"Rady-Chan melarang kami berjaga karena tidak ingin privasinya terganggu. Mantan suaminya kurang suka keramaian."


Arman menghentikan langkahnya.


"Satu pun tidak ada yang berjaga?!" desisnya.


"Dia biasa ke cafe bunga sendirian. Lagipula itu tempat Yori..."


"Dia sudah jadi istri Boss kamu, seharusnya ada satu-dua orang yang mendampinginya. Kamu baca protokol, tidak?!" sembur Arman.


Eiichi menipiskan bibirnya.


"Cari keberadaannya, kirim dua orang untuk menjaganya dengan diam-diam. Jangan lengah, Big Boss kamu banyak musuhnya..." desis Arman sambil melanjutkan langkahnya.


"Baik Boss-Kun." Eiichi setengah berlari ke arah lift untuk turun ke lantai B2, kantor Garnet Security Agency.


"Tadi kamu menyebut nama Ratif Ari..." gumam Ayumi.


"Kenapa?"


"Dia siapanya Rady-San?"


"Kenapa kamu mau tau?"


"Jawab saja."


Arman menghela napas. "Mantan suami."


Ayumi mendengus. "Sepertinya setelah ini kamu akan sangat sibuk..."


"Maksud kamu?!"


Namun Ayumi belum sempat menjawab, mereka telah tiba di ruang meeting besar.


*****