Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
the plan



"...kita akhiri saja rapat sampai di sini..." Sahut Sebastian sambil beranjak dari duduknya.


Semua langsung heboh.


"Boss... Serius? Kita nih lagi bahas kasus yang kemarin viral, yang Garnet Medical diprotes anggota DPR Fraksi AA itu loh..." Bisik James mengingatkan.


"Yang saya dengar dari tadi kalian berdebat sendiri..." Desis Sebastian.


Lalu ia terlihat mengutak-atik ponselnya.


Dan mulai menghubungi seseorang.


Dering pertama...


Dering kedua...


"Mana atasan kamu? Kenapa kamu yang angkat teleponnya?" Hardiknya saat orang dari seberang teleponnya mengangkat panggilan darinya.


"Bilang sama dia, kalau ada masalah sama saya, face to face, ngga usah main media! Mau saya obrak-abrik kantor kalian, hah? Sekalian aja saya sebarin aibnya biar tahu semua... Hapus semua pemberitaan, atau mulutnya saya jahit besok! Ngerti?!"


Lalu Sebastian mengakhiri sambungan teleponnya.


"Sudah ya, masalah selesai. Bikin ribut saja..." Desis Sebastian sambil mengancingkan jasnya dan meninggalkan ruang meeting.


Disertai dengan seringai orang-orang yang ada di sana.


*****


Milady menegakkan duduknya dan melipat kakinya.


Ia berusaha terlihat santai, tapi dia sebenarnya sangat gugup.


Berkali-kali dia berkaca di jendela yang menampakkan bias sosoknya.


Penampilannya sempurna, menurutnya. Dengan makeup natural dan pakaian sederhana.


Namun ia tetap kuatir akan yang terjadi selanjutnya, yang tidak dapat ia deteksi.


Yah...


Mungkin ia harus membatasi pergaulannya dengan lawan jenis, agar lebih bersahaja dan elegan.


Menurutnya selama ini ia masih dalam batasan kesopanan.


Walaupun Sebastian memang tidak berhak marah karena pria itu 'bukan siapa-siapanya', namun Milady juga tidak akan tahan apabila Sebastian yang dicium wanita lain...


Milady mengernyit saat membayangkannya.


Tidak...


Jangan sampai...


Aku akan sangat terganggu dengan pemandangan Sebastian dengan wanita lain.


Pikirnya.


Dan ia penasaran...


Ada berapa banyak wanita dalam kehidupan Sebastian selama ini?


Apakah setelah mereka berpisah, Sebastian juga menyewa escort lain?


Milady sangat penasaran, namun memutuskan lebih baik ia tidak mencari tahu


Sekarang, ia memilih menunggu di ruang tunggu.


Arman memang mempersilahkannya untuk masuk ke ruangan Sebastian, namun sepertinya tidak etis ia menyelonong masuk karena tidak ada izin dari pemilik ruangan.


"Milady..."


Milady menoleh ke arah pemilik suara. Sebastian di sana, menatapnya yang ekspresi.


Milady bahkan tidak tahu kalimat apa yang akan ia ucapkan di awal.


Maaf karena telah bertindak lancang?


Maaf karena tidak berpikir panjang?


Maaf karena ucapannya sangat kurang ajar?


Maaf karena perbuatannya tidak sopan?


Maaf karena telah mempermalukan Sebastian di tempat umum...?


Ah, semuanya benar!


"Anuu..." Desis Milady. Ia merasa tenggorokannya tiba-tiba kering.


"Aku minta maaf." Sahut Sebastian cepat.


Loh?


Eh?


"Untuk..." Gumam Milady.


Sebastian menghela napas.


"Ucapanku ke kamu benar-benar kasar. Maaf yah." Sahut pria itu.


Milady terbengong-bengong.


Padahal ia kesini untuk minta maaf juga.


"Aku juga kesini mau bilang itu." Gumam Milady sambil menunduk.


"Ohya?" Desis Sebastian.


Pria itu masih berdiri di depannya.


"Maaf yah... Ucapanku memang pantas dibilang nakal. Apalagi aku udah bikin seluruh badan kamu lengket karena siraman teh ku."


Belum ada respon dari Sebastian.


Beberapa detik kemudian terdengar kekehan pria itu.


"Astaga..." Desis Sebastian sambil menerima kotak yang disodorkan Milady.


"Kita bicara di ruanganku saja yah..." Desisnya.


Milady mengangguk sambil mengikuti Sebastian.


*****


Yamaguci Gindo.


Pemimpin salah satu klan Yakuza di Kanagawa, menatap pemandangan dari jendela salah satu penginapan mewah yang dikelolanya.


Lautan terbentang luas dengan Gunung Fuji di kejauhan...


Ia sedang menunggu seseorang.


Seorang wanita, lebih tepatnya.


Anak kenalannya...


Yang tadinya termasuk salah satu pemasok narkotika di jajaran orang-orang pemerintahan di seluruh dunia.


Pembeli potensialnya...


Namun sekarang sudah bunuh diri...


Bunuh diri di penjara karena sakau.


Yamaguci menghembuskan asap rokoknya ke udara.


"Yama-dono..." Tedengar suara lembut dari arah pintu masuk.


(Percakapan berikut ini dalam bahasa Jepang)


"Masuk... Duduk di situ." Desis Yamaguci sambil menunjuk kursi depannya dengan telapak tangannya.


Ayumi Sakurazaka duduk di sana, dengan senyuman sinis menghiasi wajahnya.


"Kamu hamil?" Tanya Yamaguci, menanyainya langsung.


"Saya tidak seceroboh itu." Sahut Ayumi.


"Baguslah... Jadi akting kamu terlalu hebat bagi informan Sebastian."


"Dia mencoba membuat saya hamil dengan mengirimkan 'orang-orangnya'... Tapi yang mengerjai saya, Eiichi-san, sempat mabuk berat karena... Obat dari Yama-dono berfungsi baik." Ayumi menyeringai.


Yamaguci sama sekali tidak tersenyum.


"Sebastian masih curiga sama kamu. Feelingnya sangat tajam."


"Betul... saya sempat kewalahan. Tapi, Mikaeru gampang sekali dibodohi. Dia terlalu mencintai saya..."


"Dengar..." Yamaguci mencondongkan tubuhnya. "Bahan baku untuk crystal meth yang paling baik, berasal dari racikan laboratorium yang dimiliki Sebastian. Dia jual 3x lipat kepada saya, dalam bentuk mentah, lebih mahal daripada yang ia jual kepada orang lain karena dia belum percaya kalau saya sudah berhenti membuat narkotika. Dia berani jual ke saya karena saat ini perusahaan saya adalah pemegang lisensi untuk merk dagang obat influenza, saya memang mennandatangani kontrak perjanjian kalau bahan itu untuk obat influenza ." Sahut Yamaguci.


"Jadi, kamu usahakan Trevor tetap dalam kendali kamu." sambung pria itu.


"Sebastian merancang perjodohan untuk Mika. Namun... Sepertinya itu bukan masalah. Saya juga berteman baik dengan calon istrinya..."


"Kamu mengerti tugas kamu, bukan?!"


"Yah... Mendapatkan formula bahan racikan mungkin hal yang mudah. calon istrinya menjanjikan saya pekerjaan apabila perhatian Sebastian untuk saya mengendur. Hal itu bisa terjadi kalau mereka menikah, Mika dan Rady-san. Yama-dono tinggal membuatkan sertifikat palsu kalau saya pernah mendapat lisensi sebagai tenaga medis. Saya pasti dicarikan pekerjaan di area Garnet Medical."


"Akting hamil itu juga termasuk rencana kamu?"


Ayumi mengangguk.


"Dengan saya hamil yang dikira anak ini adalah anak Eiichi-san, Sebastian akan mengendurkan pengawasannya terhadap saya. Karena dia pikir saya sudah berhasil disingkirkan. Yama -dono juga harus kasih imbal balik ke saya."


"Nyawa Sebastian, kalau kamu berhasil mendapatkan racikan itu."


Ayumi tersenyum dingin.


"Itu sangat bagus... Sebagai ganti nyawa orang tua saya..."


Lalu Ayumi Sakurazaka meninggalkan ruangan Yamaguci dengan hati puas.


Sekarang, tinggal berpura-pura untuk menerima tawaran Yuki agar mau menjadi istrinya. Lalu merayu Mikaeru habis-habisan agar semakin luluh padanya.


Hm...


Dimana ia bisa mengadopsi bayi? Karena ia tidak sedang hamil sekarang...


Dan ia perlu tidak bertemu Mikaeru sekitar 6 bulan lamanya... agar pria itu tidak curiga saat perutnya tidak membesar.


Mungkin ia akan bilang kalau perlu sendiri dulu.


ia sering ditinggal berbulan-bulan...menurutnya 6 bulan tidak bertemu bukan hal yang sulit untuk ia dan Mikaeru. Untuk foto dan video bisa ia samarkan dengan perut palsu dari silikon.


Dan...


Rady-san...


hehe...


Perempuan bodoh.


Hatinya sangat polos dan baik hati.


Membuat gerak Ayumi semakin mudah.