Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
The Prince



Pangeran Adara...


Tampan, masih muda, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa, dan bisa cari duit sendiri dari link Yutubnya yang sudah 5juta subscriber.


Setidaknya satu kalimat itu bisa meningkatkan kepercayaan dirinya saat ini. Ia sedang menguatkan dirinya sendiri karena... memiliki dua kakak perempuan dengan kemampuan setingkat laki-laki, bisa segalanya, itu tidak mudah. Apalagi ia anak bungsu, selalu dianggap... anak-anak.


Bahkan kalau ia sudah berusia 40 tahun, ia akan selalu dianggap anak-anak... pikirnya.


Kini Ipang berjalan menyusuri koridor apartemen Milady sambil memutar-mutar kunci mobil ayahnya. Sesekali langkahnya yang ceria mengikuti alunan lagu yang ia siulkan sendiri.


"Clap along if you feel like happiness is the truth..."


Desisnya menyanyikan lirik lagu Farrel Williams.


Lagu lama, tapi menurutnya tetap asik.


Dan lagi, sangat sesuai dengan suasana hatinya yang sebentar lagi mau kencan sama cewek latino.


Namun senyumnya sirna saat ia melihat...


Dimas dan beberapa temannya berkumpul di depan pintu unit Milady.


"Ah, kenapa pada ngumpul pas gue lagi pingin suasana syahdu, sih..." keluhnya.


"Hoi Bro! Kakak lo kemana, gue bel ngga dibuka-bukain nih..." sapa Dimas.


Ipang melirik unit di sebelah kirinya... 303.


Ngga jadi belok deh gueeeee... keluh Ipang dalam hati.


"BroDim... Lo tau ngga lagu yang tepat untuk menggambarkan suasana hati gue saat ini?" tanya Ipang.


"Ha? Mellow amat sih lo... Apa?"


"Gugur bungaku di taman bakti, Di haribaan pertiwi, Harum semerbak menambahkan sari,Tanah air jaya sakti..." Ipang bernyanyi lirih.


Dimas mengepalkan tangannya ke atas. "Merdeka, Bro...Merdeka!"


"Ck, ah! Ga asik lo!" Umpat Ipang.


"Lah, kenapa lo sensitip? Lagi PMS?!" omel Dimas.


"Kak Lady kayaknya lagi ke swalayan di bawah, beli snack. Katanya temen-temennya bapak-bapak suka ngemil... Palingan bentar lagi nyampe." sahut Ipang.


Lalu ia menatap satu per satu teman-teman Dimas.


Wow... Jajaran para selebritis atau gimana nih? Kok ganteng-ganteng banget... pikirnya.


Ipang diam-diam merasa langsung down, karena jiper.


Dimas menyadari tatapan Ipang yang bertanya-tanya.


"Ah iya, kenalin nih... Temen-temen mabar kakak lo! Hari ini kita mau tanding buat Final score, sekalian perayaan kecil buat apartemen barunya..."


"Jadi ini semua gamers yah...?"


Semua menyeringai.


Gamers bertampang selebrity... Pikir Ipang.


"Tunggu... Kayaknya gue kok kenal yah..."


Ipang menatap lurus ke... Leonard Zhang.


Lalu pemuda itu memicingkan mata dan mencondongkan tubuhnya. "Lu seleb ya? Tampang lu kayak pemain drakor..." gumamnya.


Leon menunjuk dahi Ipang dan mendorongnya dengan telunjuknya.


Lalu menoyornya...


"Jangan deket-deket... risih gue." dengus Leon.


"Terus... Yang ini juga sering liat kayaknya..." Ipang menatap Alex yang sedang berdiri bersandar ke dinding dengan malas sambil makan choki-choki.


Alex menatap Ipang dari atas ke bawah. Lalu menyeringai licik.


"Lo youtuber yah... Yang suka ngomong 'Pangeran Kuda Hitam On The spot Gaeeessss' " tiru Alex dengan mencibir.


Ipang mundur dan ikutan mencibir. Ternyata ia sudah dikenali.


Dimas terkekeh.


"Ya ampun... Ternyata adeknya Ladystar anak yutub..." ejek Leon.


"Emangnya dosa jadi youtuber..." gerutu Ipang


"Enggak sih. Tingkah lo doang alay..." seru mereka bertiga serempak.


"Gue jadi pingin tau nickname lo bertiga... sama absurbnya sama Kak Lady apa enggak..." sahut Ipang.


Dimas langsung terbatuk.


*****


Sebastian dengan kacamata dan piyama. Duduk di atas ranjang.


Ia lebih banyak mengernyit.


Ayumi masih menghilang,


Laboratorium Garnet Med. dipersoalkan anggota DPR karena memproduksi obat antidepresan dengan tumbuhan yang mereka bilang 'mencurigakan' sebagai pengganti narkotika,


Yamaguci meminta bonus tambahan bahan baku obat influenzanya dengan harga fantastis,


Laporan Keuangan yang timpang di tambang Rusia,


Tekanan darahnya tinggi 170/100 dokter menyarankannya untuk istirahat total atau rawat inap.


Dan...


Milady masih mengacuhkannya.


Yang terpenting adalah yang terakhir.


Bulan depan adalah pernikahan Milady dan Trevor...


Trevor sudah menunjukan konsep undangan yang membuat kepalanya sakit hingga ia tidak bisa memposisikan bibirnya untuk tersenyum.


Lalu tempat undangannya di Garnet Hotel Yogya. Hotel yang baru saja diresmikan, dengan konsep theme park di areanya.


Kemana anak itu?


Belakangan ia sering menginap di apartemen baru Milady.


Membuat hati Sebastian semakin...


Pria itu menghela napas.


Lalu ia menghighlight klausula kontrak antara Garnet Mining dengan pemerintah Rusia yang menurutnya bisa disusupi karena lemah dari segi legalitas.


Gunawan Ambrose, orang kepercayaannya di Rusia... Tampaknya sudah tidak bisa dipercaya lagi.


Rusia adalah daerah dibawah yuridiksi Trevor, dan anaknya itu malah tidak bisa menghubungi Gunawan.


Trevor sudah menerjunkan badan investigator ke Rusia. Namun Sebastian harus berjaga-jaga untuk backup seandainya usaha Trevor gagal


Siapa yang bisa ia hubungi...


Siapa yang berhutang padanya...


Ah...Mitha Saraswati.


Istri pertama Gunawan yang juga adalah mantan agennya yang telah pensiun sejak Sebastian kenalkan ke Gunawan dan menikah.


"Tidak ada istilah mantan kalau sekali terjun ke dunia hitam, Mitha..." Gumam Sebastian sambil tersenyum licik, dan menghubungi nomor pribadi Mitha.


"Assalamu'alaikum."sapa Mitha.


"Salam. Kamu tahu kalau suami kamu punya banyak istri siri kan?" tembak Sebastian tanpa tedeng aling-aling.


Terdengar Mitha menghela napas dari seberang telepon.


"Kamu tidak ingin cari tahu kebenaraannya?" tanya Sebastian.


"Buat apa pak, saya punya tiga anak darinya..." keluh Mitha.


"Dimana dia?"


"Katanya di Amerika."


"Katanya..." sindir Sebastian. Bahkan Mitha saja tidak tahu persis dimana Gunawan berada.


"Kamu tahu salah satu korbannya adalah adik saya?" sambungg Sebastian.


"Adik Bapak? Astaga... sejujurnya tidak karena... yah... saya berusaha..."


"Kamu berusaha tutup mata karena menjaga keutuhan keluarga kamu." tebak Sebastian. Mitha tidak menjawab. "Memangnya kamu ngga bisa lepas dari Gunawan? Berdiri sendiri, begitu?!"


"Bukan itu konsep sebuah keluarga, pak... Yang saya kuatirkan adalah mental anak-anak... kalau berpisah mudah saja bagi saya, bagi kami, toh saya tidak kehilangan apa pun. Tapi bagaimana dengan mental anak-anak..." sahut Mitha.


"Jadi, bapak mau apa?"


"Ada kemungkinan akan terjadi kudeta di perusahan saya yang di Rusia. Penanggungjawabnya adalah Gunawan... dan kami tidak bisa menghubunginya. Laporan keuangan tambang saya, dia manipulasi. Kalau laporannya sampai ke federasi Rusia, tambang saya akan ditarik izinnya. Saya ingin kamu terjun lagi..."


"Pak, saya sudah pensiun jadi agen. Kan sudah ada Susan... lagipula kalau saya bekerja kembali, siapa yang mengurus anak-anak saya? Pak Yan tahu sendiri kalau saya tidak percaya babysitter sejak... yah sejak kasus itu..."


"Kamu bukan terjun sebagai agen, tapi sebagai karyawan Garnet. Tapi... saya perlu kamu untuk mencari tahu dimana Gunawan berada. Setelah itu biarkan saya yang bekerja..."


Sesaat keadaan hening.


"Pak, terus terang, berat bagi saya untuk bekerja kembali, kecuali ada reward eksklusif untuk saya." wanita itu mencoba memancing Sebastian.


"Semua akan dijamin Garnet." desis Sebastian.


"Hm... itu berarti semua pendidikan anak-anak saya..."


"Sampai pekerjaan mereka nanti setelah dewasa akan saya jamin." sambung Sebastian. "Selama saya masih hidup, tentunya..."


Terdengar kekehan Mitha dari seberang telepon.