Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Rencana baru



Milady memarkir mobilnya di garasi rumahnya.


Lalu menghela napas.


Dan memeriksa lehernya.


Terdapat bekas kemerahan tanda 'sayang' dari rubah tua.


"Benar-benar deh..." keluhnya.


Lalu duduk menenangkan diri...


Hm... Wangi ini...


Dari jaket Sebastian.


Lalu ia tersenyum sendiri.


Serasa dipeluk dia...


Hangat dan nyaman...


Milady memeluk dirinya sendiri.


Berikutnya...


Tinggal membuat Sebastian sering cemburu.


Agar pria itu tidak jadi menikahkannya dengan Trevor.


Dalam hal ini, dibutuhkan kerjasama yang intens dari Trevor.


Kalau perlu, beradegan mesra...


Para orang suruhan Sebastian yang ada di sekeliling Trevor jadi media gratis untuk mempromosikan kemesraannya dengan Trevor.


Tapi saat ini...


Milady menghela napas lagi.


Lalu air matanya menetes ke pipinya.


Ia sangat senang!


Hal yang hanya ada di bayangannya selama ini, menjadi kenyataan.


Ciuman Arran dan Dimas terasa tidak ada artinya! Semua sudah terhapus oleh ciuman Sebastian...


Akhirnya...


Lalu ada pesan singkat ke ponselnya.


"Ketemu jam 4 saja yah, aku mau tidur dulu."


Dari Trevor.


"Udah berapa lama kamu ngga tidur?" Balas Milady.


Gara-gara Trevor ngambek dan menghindari Sebastian, pria itu tidur di kantor.


Di ruangannya memang disediakan sofa bentuk L yang nyaman, tapi yang namanya tidur di kantor tetap saja tidak nyenyak.


"Ngga bisa tidur enak intinya... Paling sejam lagi aku bangun, aku nanti malam juga mau makan sama Ayah."


"Bagaimana kalau kita bareng saja makan sama-sama? Atau ada pembicaraan khusus?"


"Sebenarnya tidak ada, aku hanya ingin merayunya untuk memperlihatkan semua data penyelidikannya tentang ayumi."


"Kamu makan dulu saja sama aku, habis itu aku tinggal. Kalian butuh bicara berdua saja seebagai ayah dan anak."


Lalu Milady masuk ke rumah.


"Dari mana kamu?!"


Ibunya ada di ruang tamu.


"Tadi ke rumah Pak Trevor di darmawangsa sebentar, ada undangan sarapan." sahut Milady.


"Pakai baju begitu?"


Oh...gawat!


Ia masih mengenakan jaket sebastian dan baju casual. Tanpa bra pula!


Alasan apa yang kira-kira masuk akal... Coba cari di otaknya...


"Iya. Mereka bilang aku pakai baju santai saja. Tapi di tengah acara aku kedinginan karena AC... Pak Sebastian meminjamkan jaketnya."


"Itu jaket Pak Sebastian?!" seru ibunya.


"Eh...iya..."


"Ya Ampuun! Kamu itu malu-maluin!! Kok bisa-bisanya kedinginan?! Habis dipakai serahkan ke ibu, biar ibu laundry yang wangi! Kamu ini...!!" ibunya mengomel. Milady menghela napas dan menyeringai.


"Aku nanti sore mau keluar, da pertemuan dengan klien. Ibu mau dibawakan apa?"


"Tidak usah! Kamu nih kerjaannya makan di luar, ibu di rumah juga masak buat kamu, buat ayah, kamu malah ngga pernah makan di rumah. Apa masakan ibu kurang enak? Kurang sedap? Ibu memang tidak pakai penyedap agar semua sehat-sehat, tapi malah begini perlakuan kamu ke ibu!"


Milady menghela napas.


Lalu tersenyum lembut.


Dari perlakuan ibunya lah senyum palsunya berasal. Yori mungkin tidak bisa seperti Milady, dia lebih memilih menghindar. Tapi Milady merasa, ibunya juga butuh kasih sayang. Butuh kehadiran anak-anaknya.


Sejak ia divonis dengan penyakit kejiwaan setelah surat penyitaan rumah dari Bank datang, walaupun tidak parah, tapi emosinya meledak-ledak dan bicaranya sering melantur.


Tapi Milady tahu, ia tidak bermaksud menyakiti.


Hanya, semua terjadi tanpa bisa ia kontrol.


"Ibu ini, bercanda terus... apa aku harus pulang setiap jam makan siang di kantor? perjalanan pulang setengah jam, ke kantor lagi setengah jam, bisa habis dong jam istirahatku tanpa bisa makan masakan ibu... bukankah lebih baik ibu membawakan aku bekal saja?"


"Bawa bekal? Memang kamu tidak bisa membuat sendiri?! Kamu pikir ibu ini pembantu kamu..."


Lalu ia melempar serbet yang tadi dipegangnya ke meja makan.


Bagaimana sih ini?


Tapi Milady memutuskan untuk tidak memasukkan tingkah laku ibunya ke dalam hati.


Sekarang ada yang lebih penting...


*****


Trevor melipat kaki panjangnya sambil mengutak-atik ponselnya. Ia sedang mengobrol dengan Bram dan Dimas di grup chat. Bram menanyakan mengenai perjodohan dan Dimas mengomel karena gara-gara itu dia sampai putus dengan tante Trevor, Meilinda.


"Kalo ada sapi betina single, mungkin bakalan dijodohin juga sama gue!" ketik Trevor saat gibah hari itu.


"Macam Selena, dijodohin... Bakalan kabur ke kutub utara dia, kalo perlu." sahutnya lagi.


"Sampe sekarang gue didiemin...ya sama dia, ya Meli... Dark banget dah hari ini..." keluh Dimas. "Salah makan apa gue kemaren."


"Lo makan rejeki orang kali kemaren." balas Trevor.


"Ya Tuhanku... Jangan sampe deh gue mendzolimi orang laen...mending ambil aje kegantengan gue..." sahut Dimas.


"Kaga ada hubungannya, cantique..." desis Trevor.


Lalu Bram...


Daritadi dia hanya diam...


"Gimana Bram?" ketik Trevor.


Agak lama muncul balasannya.


"Aku maju terus. Thank's infonya gengs..."


Itu saja?


Hm... Yah sudah. Kalau begitu Trevor bisa beranggapan kalau tidak ada masalah lagi.


Trevor melirik jam pada ponselnya.


Pukul lima tepat.


Lalu melirik pintu masuk.


Ia menunggu kedatangan Milady.


Akhir-akhir ini mereka jarang bertemu. Seakan Milady agak menghindarinya.


Tapi kadang kalau sedang galau begini, ia butuh wanita itu untuk mencurahkan isi hati.


Dari dulu, kalau di depan Milady, semua kegalauan yang ia rasakan meluncur begitu saja dari mulutnya, mengalir bagai air. Kalau ia curhat sama Bram, saking bijaksananya sikap Bram, jatuhnya ia malah merasa jadi anak kecil yang merengek. Kalau dengan Dimas, yang ada malah bercanda terus.


"Hei Trev..." terdengar suara lembut yang ia tunggu.


Trevor menoleh dan mengernyit.


Milady hari ini berdandan sangat cantik!


Ia mengenakan blus berenda warna putih dengan kerah sampai ke leher, jeans hitam dan sepatu stiletto. Rambutnya ia ikat sebagian.


Sangat anggun dan berkelas.


"Hm... ada acara apa?" tanya Trevor sambil menatap Milady dari atas ke bawah.


Milady mengangkat alisnya. "Bukannya kamu yang minta aku datang? Kalau ngga butuh aku, aku balik nih..."


"Iya butuh lah..." Trevor menarik lengan Milady. "Kan aku cuma tanya..."


Milady terkikik dan duduk di sebelah Trevor.


"Baju baru?" Trevor memiringkan kepalanya.


"Bagus?" Milady mengangguk.


Trevor menggangguk sambil mencibir. "Kamu berpakaian seperti itu ke kantor pasti langsung bisa bikin sekte pemujaan My Lady Love Fansclub."


Milady tertawa. "Berlebihan kamu..."


Trevor tersenyum menaikan sebelah bibirnya. Ia melirik sekitarnya.


Milady mungkin tidak tahu beberapa pria mengikutinya tadi, dari luar sampai ke dalam cafe. Dan mereka kini duduk di kursi kosong di dekat Milady, berusaha memesan sesuatu tapi nyatanya hanya ingin menatap keindahan seorang Milady.


Sedangkan para pria yang sudah ada di dalam cafe, pandangan mereka juga teralihkan dari kegiatan mereka dan sibuk menoleh berkali-kali ke arah Milady, mengagumi kecantikan wanita itu.


Terus terang, sebagai seorang pria normal, Trevor juga tergoda dengan penampilan wanita itu saat ini. Tidak vulgar, malah bisa dibilang tertutup dan sopan, tapi elegan dan memikat.


Matanya tidak lepas dari penampilan Milady.


Untunglah phobianya menyelamatkannya. Ia tidak terlalu terpaku pada Milady.


Tapi...


Karena dadanya berdesir...


Dan jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat...


Mungkin ia harus sering mengalihkan pandangan dari Milady saat ini.


Ia kini agak segan dengan Milady.


Semakin cantik wanita itu, semakin dia ketakutan.


Trevor melambaikan tangan pada seorang waitress.


"Kita santai aja yah, ayah kelihatannya mau datang agak malam. Ia sibuk banget kayaknya seharian di goa semedi."


Tenggorokan Milady terasa tercekat. Ia ingin batuk...


"Oke..." dan wanita itu memesan 5 macam cake, 1 pasta dan satu pitcher air putih.


"Pelampiasan? Kamu bisa habiskan? Di sini satu slicenya ukurannya lumayan besar, loh..." desis Trevor.


"Ngga habis ya... Aku take away buat persiapan mabar nanti malam." sahut Milady.


Trevor terkekeh.


"Dimas ngajak aku mabar. Kayaknya dia stress banget." Kata Milady.


"Dia langsung dijauhi soalnya. Di kantor dia butuh Selena untuk jadi asisten. Gara-gara kejahilan ayah, Selena malah marah ke Dimas."


"Iya, Selena kirim whatsap ke aku..." Milady memperlihatkan pesan singkat dari Selena.


Tulisannya :


"Sampai sekarang aku masih beranggapan, itu semua salah Pak Dimas. Aku ngga ngapa-ngapain, Lady! Oke lah pas kita berdua dinas ke Solo kita memang satu kamar di hotel, itu salahku yang sengaja booking hotel mewah padahal budget dari kantor pas-pasan, jadi untuk berhemat kita sekamar. Wajar kalau Meilinda curiga sama aku. Tapi dari awal Pak Dimas sudah tahu berhubungan dengan wanita macam apa, seharusnya dia memperlakukan Meilinda dengan hati-hati! Kalau telepon pas lagi jauh ya diangkat dong, atau sering-seringlah dia video call kek, whatsap, kek, ini Meilinda sampai miscall 45 kali dianya ngga angkat karena tepar habis minum 20 sloki! Coba salah siapa?!"


Trevor meringis saat membaca pesan singkat yang... tidak bisa dibilang singkat, dari Selena.


"Jadi gara-gara ini tanteku minta supaya Selena dijauhkan dari Dimas, dan akhirnya ayahku lagi-lagi jahilnya kumat ingin menjodohkan aku dengan Selena?" cibir Trevor.


"Yah...mungkin karena kita berempat sering jalan bareng, jadi dia beranggapan kalau kamu juga dekat dengan Selena."


Trevor mengernyit.


Mialdy tidak tahu kalau saat itu, pas ada kesempatan, Trevor merogoh obat antidepresannya setiap satu jam sekali diam-diam.


"Jadi, apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Milady.


"Aku... Butuh seluruh data dokumentasi penyelidikan ayah." desis Trevor.


"Untuk apa?"


"Untuk analisa."


"Dan kegunaan dari analisa itu adalah...?"


Trevor terdiam.


Ia bahkan tidak tahu untuk apa.


"Trev... Semua akan jelas kalau kamu memberanikan diri konfirmasi ke Ayumi. Kamu hanya belum siap menghadapi kenyataan kalau dunia kamu akan hancur kalau kamu lakukan itu..." sahut Milady.


Trevor langsung menatap wanita itu lekat-lekat.


"Bagaimana...." desis pria itu.


Wanita ini...


Bagaimana caranya Milady bisa sangat memahami Trevor?!


Milady meliriknya sambil tersenyum tipis.


"Tapi... Kita harus melaluinya... Mau ngga mau." gumam wanita itu. "...sekarang tergantung perasaan kamu ke Ayumi. Sesiap apa kamu ditinggalkan olehnya, dengan segala perjuangan yang telah kalian lalui...? Sejauh apa kamu bisa memaafkannya...?" tanya Milady.


Trevor terdiam.


"Adegan yang manapun... Aku akan ada di pihak kamu, aku selalu ada. Kamu tidak sendirian melaluinya. Jadi, tenang saja..." tambah Milady.


Pria itu terpaku mendengar penuturan Milady.


Ini yang ia butuhkan.


Dukungan semacam ini.


Milady melakukannya dengan sangat halus. Perlahan tapi pasti merengkuh Trevor dengan kata-kata manis. Mendorong punggungnya dengan lembut untuk melewati jembatan berapi.


"Iya. Kamu benar... Aku tidak butuh data itu." desis Trevor.


"Tapi, kamu sudah tepat untuk melakukan pendekatan ke ayah kamu. Kamu tahu, dia sebenarnya sangat kuatir dengan kamu."


"Iya, aku tahu."


"Kalian biasa makan berdua seperti ini?"


"Aku lebih sering makan dengan kakekku, tapi sebenarnya hubunganku dengan ayah masih akrab. Tidak seperti di drama korea yang ayah dan anak adalah rival sekaligus musuh..." jelas Trevor.


Milady terkekeh.


"Aku lihat kamu lebih banyak menurut." kata Milady


"Iya... Apa yang kulakukan tidak sebanding dengan usahanya untuk melindungiku dari ibuku." Trevor mengangkat bahunya. "Aku upayakan berbakti semaksimal mungkin, kecuali untuk urusan Ayumi."


"Ayah kamu itu... Apakah dia sekeraskepala itu?"


"Sepertinya masih bisa dibujuk, tapi dia butuh bukti konkret. Tapi sekarang... Rasanya sudah tidak mungkin karena kelakukan Ayumi. Aku benar-benar serba salah..."


Trevor menghela napas.


Pesanan Milady datang dan wanita itu langsung menyendok satu suapan besar ke mulutnya.


Trevor mengernyit melihatnya. Suapannya benar-benar besar.


"Kamu tuh kalau soal cake langsung melupakan semua kejaiman yah..." desis Trevor.


Milady mengacungkan ibu jarinya, tanda kalau cakenya sangat enak.


"Kalau nanti kita iparan sama Dimas, udah bisa dibayangin kalian akan jadi pelanggan tetap dapur... Dengan segala macam gula dan mixer..." desis Trevor lagi.


"Bukannya mereka putus...?"


"Hmph..." Trevor mendengus. "Kita semua tahu kalau Dimas sudah takluk sama tante Meli, ngga bakalan putus terlalu lama."


"Baguslah, Dimas jangan terlalu lama membujang... Bisa-bisa aku ngga kuat iman."


Trevor mengernyit.


"Hm... Kamu masih suka sama Dimas?"


"Aku tanya, siapa perempuan yang bisa menolaknya?" tantang Milady.


"Hm... Pada awalnya, tante Meli menolaknya..."


"Lalu?"


"Ya tapi masa sekelas kamu juga takluk sih?"


"Yah... Aku sih masih bisa tahan. Kecuali kalau dia memulai rayuannya... atau mungkin aku harus bersuami agar ada semacam 'pelindung' dari godaan..."


"Aku pastikan kalian berjauhan..." desis Trevor.


"Mulai cemburu yah sayang?" Milady tersenyum jahil sambil menorehkan krim ke pipi Trevor.


"Ish..." Trevor menghapus krim di pipinya dengan tisu.


"Sekarang, aku mau bahas mengenai hubungan kita." desis Trevor.


"Hm..." gumam Milady sambil menyambar piring cake keduanya.


"Apapun yang terjadi mengenai hubunganku dengan Ayumi, kita kan sudah komitment mau menikah. Walaupun pada akhirnya kita tidak tahu akan bertahan berapa lama..."


"Entahlah..."


"Entahlah?"


Milady menghentikan kunyahannya. "Aku masih ragu soal pernikahan. Kalau hasil akhirnya bercerai, bukankah sebaiknya merayu ayah kamu saja dulu agar merestui hubungan kamu dengan Ayumi?"


Trevor mengernyit.


"Kamu sudah menyetujuinya waktu itu..." sahut Pria itu.


Mialdy menghela napas.


Bagaimana ini...


"Iya aku tahu... Tapi aku juga bilang, kalau aku tidak yakin..." desis Milady.


Trevor menatapnya sambil menyatukan alisnya dan menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Ada apa? Apa yang membuat kamu mundur?"


"Kayaknya kita butuh rencana baru..." sahut Milady.


Ia menghentikan kunyahannya dan menegak air putih.


Lalu duduk dengan tegang sambil menghela napas.


"Milady?" tanya Trevor.


Pria itu mulai kuatir.


Di matanya, Milady yang sekarang terlihat lemah.


Terlihat rapuh.


Dan...


Entah bagaimana ia terlihat sangat cantik.


Seperti wanita yang sedang... jatuh cinta!


"Aku...kayaknya harus jujur sama kamu."