
Soft-Opening Garnet Coastview Mall & Apartment.
"Pemirsa, kami saat ini meliput langsung dari lokasi soft-opening proyek one stop living yang diprakarsai oleh Garnet Property, anak usaha dari Garnet Grup, yaitu Garnet Coastview Mall & Apartment dimana saat ini tampaknya occupancy tenant untuk Mall telah mencapai 100% dan seluruh apartemen telah soldout, tidak terpengaruh oleh pemberitaan mengenai kemiringan gedung tempo hari. Menurut General Operational Manager Wilayah Barat, Trevor Michael Bataragunadi, saat ini renovasi gedung telah selesai dan publikasi Feasibility Studies dari Rekanan Kontraktor mereka, bisa di download secara umum di..."
Sebastian membaca salinan kontrak Garnet Mining Rusia sambil mendengarkan berita update mengenai acara yang akan dihadirinya, melalui tv satelit di dalam mobil. Ia kini dalam perjalanan menuju soft opening Garnet Coastview dan ia dalam kondisi yang kurang bersemangat.
Kesehatannya semakin menurun, apalagi ditambah dengan kenyataan kalau ia sebentar lagi akan berhadapan dengan banyak wartawan.
Ia menuju ke lokasi tidak sendiri. Iring-iringan kendaraannya membawa sekitar 20 orang pengawal dan sekitar 100 orang bersiaga di lokasi, siap memblokade wartawan yang mengambil fotonya tanpa izin.
Ini baru soft-opening, yang notabene hanya dihadiri oleh pihak-pihak terkait, perwakilan tenant dan para investor. Belum Grand Openingnya yang akan mengundang khalayak ramai dan bisa dihadiri orang umum. Tapi acara saat ini saja sudah dirancang dengan begitu megah...
"5 menit lagi tiba di lokasi Pak." sahut Sapto, driver pribadinya.
"Iya." jawab Sebastian sambil melepas kacamata bacanya dan mengantonginya di jas bagian dalam.
Ia bersedia datang hanya karena Milady mengundangnya.
Dulu...saat mereka belum bertemu, tidak ada satupun acara Garnet Property yang ia hadiri. Ia percaya sepenuhnya kepada Trevor dan Bram untuk menghandle semuanya.
Bukan hanya Garnet Property... Namun seluruh acara perusahaannya.
Ia lebih memilih mengamati dari liputan di televisi atau internet, dari ruang kerja di rumah, atau dari ruangan kantornya.
Publikasi yang berlebihan tidak baik untuk kariernya. Ia seharusnya adalah tokoh di balik layar, kemunculannya ke publik akan menimbulkan banyak kontroversi karena... Kiprahnya di dunia ekonomi dan politik tidak bisa dianggap remeh dan sangat berkaitan terhadap kestabilan seluruh aspek.
Ada beberapa elit ekonomi dan politik seperti dirinya di negara ini. Dan saat ini, para elit yang membawa nama negara di kancah international urutan 5 Top Gainer di pasar bursa, selain dirinya, adalah Beaufort.Co dan Jarvas.Pte.Ltd.
Terdapat beberapa isu yang cukup santer bahwa ia dan Beaufort adalah mafia ekonomi. Tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar.
Mereka disebut 'Mafia Berkeley' versi Milenial. Walaupun ia tidak pernah bersekolah di University Of California ataupun di FEUI. Namun dukungannya untuk Jajaran Kabinet terpilih, sangat krusial. Saat pemerintah mulai membuat polah dengan menghabiskan uang besar-besaran untuk berbagai proyek, menambah hutang luar negeri, mencapai defisit anggaran, Para pengusaha seperti dirinya dan Alex memperbaikinya dengan melakukan deregulasi, berusaha menurunkan inflasi serta menyeimbangkan anggaran.
Di balik layar, tentunya.
Dan memakai segala cara, baik legal maupun ilegal, halal atau haram, cara sportif atau curang.
Jadi kemunculan seorang legenda seperti dirinya di publik akan membuat viral media.
Itu sebabnya Alex juga tidak menyukai publikasi.
Semua pengusaha besar tidak menyukai publikasi karena rasa ingin tahu masyarakat dalam menyebar ke ranah kehidupan pribadi... Semakin media ikut campur ke dalam kehidupan pribadi mereka, semakin banyak rahasia negara yang akan tercuat ke permukaan, dan semakin terancam keamanan keluarganya.
Dan hal itu akan mengakibatkan keresahan massal.
Sebuah negara dibangun dengan darah dan air mata.
Itu bukanlah kiasan.
Untuk Alex dan Gerald, owner Beaufort dan Jarvas, mereka hanya meneruskan perjuangan ayah-ayah mereka, yang sudah lebih dulu memiliki nama di dunia ekonomi politik.
Baskara Beaufort, Ayah Alex Beaufort, adalah sosok legendaris di dunia politik luar negeri, banyak yang bilang ia sebenarnya antek Eropa untuk diam-diam menguasai kekayaan negara ini. Tapi aksinya malah menunjukan sebaliknya. Justru ia memanfaatkan koneksinya dari Eropa untuk memperbesar pengaruh negara ini di dunia.
Sedangkan Gerald Bagaswirya, walaupun lahir dan tinggal di Jerman, namun keluarga besarnya adalah aset negara. Buyutnya, Ghandes Bagaswirya, adalah relik hidup pemegang rahasia terbentuknya negara dari hubungannya dengan keraton dan kesultanan nusantara. Ia keturunan langsung Aki Tiren, pendiri kerajaan Tarumanegara, dan ia menurunkan warisan pengetahuannya hanya kepada Gerald yang menurutnya ia percaya.
Dan setelah Gerald mengetahui seluruhnya, bocah itu malah kabur ke tanah kelahirannya, Jerman, karena ketakutan.
Baru-baru ini ia ditarik paksa kembali ke negara ini, karena Ghandes sudah berusia lebih dari 200 tahun dan seringkali mengomel karena kuatir umurnya tidak lama lagi. Sejak Gerald kembali, Jarvas Pte.Ltd langsung menjadi top three di pasar bursa.
Keduanya, Alex dan Gerald, adalah penerus.
Namun Sebastian... Adalah Pionir.
Ia belum memiliki penerus, setidaknya yang ia anggap pantas sebagai penerusnya.
Trevor terlalu manja, dan Dimas belum menjadi menantu.
Namun Sebastian tidak khawatir. Semua sudah digariskan sesuai takdir. Walaupun ia seandainya meninggal tanpa memiliki penerus, akan ada banyak orang yang bisa menggantikannya. Malah mungkin, akan ada banyak orang yang merasa lega karena rahasia mereka juga terkubur tanah.
"Sudah sampai, Pak..." sahut Sapto sambil menghentikan mobil.
Terlihat wartawan langsung mengerubungi Bugattinya. Namun para pengawalnya menghalau dengan sangat baik.
Dari kejauhan, ia bisa melihat Trevor menghampirinya.
Dasar anak tengil!
Omel Sebastian kesal.
Bisa-bisanya dia menyeringai selebar itu setelah berhari-hari kabur dari rumah.
"Malam Pak." Sapa Trevor sambil membukakan pintu mobil untuk Sebastian.
"Anda siapa yah?" desis Sebastian.
"Ayah ih, masa ngambek di saat-saat begini sih?" Mereka berjalan berdampingan di selusur karpet merah dengan lampu flash mengiringi gerak-gerik mereka.
"Bukannya kamu yang ngambek. Ayah kan cuma tanya alamat..." kata Sebastian.
"Nanya ke Ayu ting-ting..." timpal Trevor.
"Ngga usah. Sudah dapat kok..." sahut Sebastian.
Trevor membelalakan matanya. "Dapat dari mana?"
"Intel... Enoshima, kan?!"
"Sial..." dengus Trevor.
Lalu terlihat Trevor tertegun sambil berjalan mengiringinya.
Yang tahu alamat baru Ayumi hanya Milady. Tapi setahu Trevor, hubungan Sebastian dan Milady sedang dingin, dan Milady ada di pihaknya.
Kini ia dan Milady hanya berusaha menjalankan akting mesra sealami mungkin agar di mata Sebastian terlihat kalau mereka memang menikah bukan hanya settingan semata.
Trevor akan bertanya ke Milady pelan-pelan.
Wanita itu tidak pandai berbohong.
Pikir Trevor.
Ada suatu gerak-gerik tidak biasa yang akan keluar dari Milady saat sedang menyembunyikan sesuatu.
Namun sekarang...
Mari kita bekerja.
"Satu jepretan saja Pak, dari jauh tidak papa, asal wajah Bapak ke arah kami!"
terdengar keriuhan dari kejauhan.
Para pengawal Sebastian langsung memasang barikade untuk memblokade kerumunan.
"Ayo lah Pak, tampak seluruh badan dari depan. Bapak tidak sesuci itu sampai-sampai fotonya tidak boleh di publikasi kan?"
Sebastian berhenti,
Lalu menghela napas karena kesal.
Siapa tadi yang bicara begitu? Bikin naik pitam saja... maki Sebastian dalam hati.
Hampir saja Sebastian datang menghampiri wartawan untuk melayangkan bogem mentah, Yazaki Eiichi datang entah dari mana untuk menghampiri wartawan yang tadi berteriak.
"Mohon maaf..." desis Eiichi dengan Bahasa Indonesia aksen Jepang yang kental. "Kalau boleh saya tahu, nantinya foto itu akan dijual ke situs Penipuan yang mana? Boss saya bukan artis, bukan selebritis, bukan pemain sinetron, bukan orang pemerintah, bukan pesohor atau pun anggota partai. Jadi anda butuh foto beliau untuk apa? Untuk keuntungan macam apa?"
Semua terdiam...
Sesaat suasana langsung hening,
"Coba anda ikut kami, saya ingin mengobrol sedikit..." desis Eiichi sambil memberi kode ke beberapa pengawal lain untuk membawa salah satu wartawan ke ruangan khusus.
"Ayo jalan... kamu ngapain bengong di situ." sahut Sebastian melanjutkan langkahnya ke dalam auditorium.
Trevor masih terkesima melihat kinerja Eiichi.
"Ayah, Eiichi itu sebenarnya bukan karyawan biasa kan? Ayah yang merekomendasikan dia secara langsung untuk menjadi asisten aku, tapi kenapa tingkahnya luwes sekali seperti sudah terbiasa menghadapi masalah pengamanan?" Trevor mencecar Sebastian sambil mensejajari langkah Sebastian dan menoleh ke Eiichi yang kini menggiring salah satu wartawan ke 'tempat aman'.
"Dia sebelum kerja di Indonesia, jadi host di Kabukicho."
"Hah? Dia dulu host?!"
"Iya... Nomor satu di clubnya... Katanya. Tapi saya dapat portfolionya kok. Istrinya Kabuki populer juga."
"Apa gara-gara hal itu dia pintar bicara?"
"Mungkin... Host dan Kabuki kan dilatih untuk pintar merayu dan memanipulasi klien. Supaya menghabiskan berjuta-juta untuk tips dan makanan di club. Tapi setahu saya Yazaki orang berpendidikan. Ia dulu satu almamater dengan Milady. Bedanya Yazaki di fakultas teknik kelas internasional."
"Iya, dia dapat title insinyur dari sana. Aku juga bisa baca CV, Ayah..." dengus Trevor. "Yang mau kutanyakan, bagaimana dia kenal ayah."
Sebastian menghentikan langkahnya dan menatap Trevor.
Dengan sinis.
Lalu menepuk bahu anaknya itu dengan keras dan tekanan mengancam.
Sampai-sampai Trevor mengernyit.
"Kamu ini... Bisa ngga sih sekali saja ngga curiga sama ayah kamu sendiri..."
"Ya kalo begitu berhenti bertingkah mencurigakan doooong..." sahut Trevor dengan memasang senyum palsu karena orang-orang mulai berkerumun di sekitar mereka.
"Ayah biasa-biasa saja kok. Kamu saja yang terlalu insecure..." sahut Sebastian.
Trevor tidak melanjutkan perdebatannya karena kerumunan investor langsung menghampiri mereka dan melakukan penyambutan.
Berdebat dengan ayahnya hanya akan membuang-buang waktu, karena pasti Sebastian akan meladeninya sampai pagi, bahkan sampai hari berikutnya. Tinggal siapa yang menyerah kalah, dan biasanya selama ini Sebastian selalu memenangkan perdebatan. Termasuk ke kakeknya, Hans.
Jadi Trevor memutuskan mengalah, seperti yang biasa ia lakukan. Diam dan mengalah, dari pada jadi gila sendiri.
Kilatan lampu flash mengiringi setiap pergerakan mereka. Terutama ke arah Sebastian.
Trevor dan Bram sudah biasa jadi sorotan. Namun ini pertama kalinya Sebastian menghadiri acara terbuka.
Sudah pasti akan menjadi promosi yang bagus bagi Coastview.
Masyarakat akan mengira kalau ada keistimewaan di mall baru ini, sampai Sebastian mau menghadiri soft-openingnya.
Di dalam auditorium hanya ada media rekanan mereka. Mereka diizinkan melakukan pengambilan foto, namun secara candid.
Nantinya foto-foto itu masih akan disortir lagi oleh tim publikasi dari Garnet.
Trevor sudah menyerah dari lama untuk meminta ayahnya berfoto secara normal di atas podium. Atau mengakalinya dengan mengajaknya memberikan kata sambutan, namun Sebastian selalu menghindar.
"Sudah cukup." sahut Eiichi mengarahkan para photografer untuk berhenti dengan kilatan lampu flash mereka.
Darimana dia muncul... Dengus Trevor lagi.
Apa Eiichi jadi semacam bodyguard dadakan? Postur dan wajahnya lebih cocok jadi model catwalk dibanding pasukan pengawal. Pikir Trevor.
"Trev..."
Milady datang dari arah ruangan dalam.
Selama beberapa saat suasana yang tadinya berisik dan heboh menjadi senyap beberapa detik.
Semua mata menikmati Milady.
Menikmati gerakan tubuh wanita itu, senyumnya, binar matanya, kecantikan wajahnya...
Semua seakan terhipnotis, sampai-sampai wartawan lupa untuk memencet tombol kameranya.
"Ah, Selamat datang Pak Sebastian. Silahkan kalau berkenan berfoto sejenak bersama para investor kami di atas podium." Sahut Milady lugas.
Sebastian tampak menaikkan alisnya.
Lalu pria itu menurut, naik ke atas podium.
Trevor ternganga.
"Bagaimana..." ia tidak sempat melanjutkan kalimatnya karena Milady langsung mendorongnya untuk ikut berpose di samping Sebastian.
Semua wartawan langsung heboh melayangkan kameranya.
Trevor berdiri di sebelah ayahnya masih dengan kening berkerut menatap ayahnya meminta penjelasan.
"Sekali-kali." desis Sebastian pendek.
Walaupun ayahnya itu sama sekali tidak tersenyum, bahkan cenderung suram dan menebarkan aura tidak senang, namun saat ini wartawan sedang berpesta pora merayakan hari kemerdekaannya.