Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Puisi Cinta



Bukan maksud Milady mau menyembunyikan pernikahan dari Kakaknya, namun keadaan mengharuskan demikian.


Saat itu semua terjadi dengan tiba-tiba, dengan posisi pengawalan belum terlalu kuat.


Bahkan konferensi persnya saja sudah membuat Arman terluka. Padahal saat itu dalam posisi semua pihak sudah siap sedia...


Milady hanya diam mendengarkan curahan hati Yori.


Kakaknya itu menangis kesal.


Kapan terakhir kali ia melihat Yori menangis?


Dulu sekali...


Saat Yori lulus kuliah, memutuskan untuk tinggal sendiri.


Terpisah dari ibu, daripada setiap hari bertengkar.


Yori tidak tahan untuk mendengarkan sumpah serapah ibu, yang seringkali diucapkan tanpa alasan.


Bukannya tidak mengerti keadaan ibu, tapi Yori tidak tahan harus selalu emosi. Baginya, merasa kesal kepada orang tua sudah termasuk durhaka. Jadi daripada berlarut-larut, ia pergi dari rumah dan tinggal sendiri.


Ibu sama sekali tidak mencari Yori.


Hanya ayah yang sesekali menengok anak sulungnya ini.


Jadi, Milady tidak akan menceritakan mengenai hubungan Malik Adara dengan Ratna, mantan istri Sebastian.


Pun akan tutup mulut mengenai dalang dibalik kebangkrutan keluarganya.


Yori dan Ipang tidak perlu tahu...


"Kamu jangan diam saja! Kamu anggap aku ini apa sebenarnya?!" teriak Yori.


Hanya itu yang masuk ke telinga Milady. Entah bagaimana sedari tadi pikirannya sibuk menelusuri masa lalu dan memperhatikan air mata Yori.


Jadi, Milady menghela napas dan... berjalan ke arah komputer Sebastian.


Isi layarnya adalah rekaman CCTV dari kegiatan seputar pesta.


"Kak Yori, Mas Arran... ini Aku." Milady menunjuk dirinya di layar komputer sedang berjalan keluar dari toilet di Gedung Barat. "Tolong perhatikan baik-baik, ini berkaitan dengan alasanku menyembunyikan pernikahanku. Ini Aku sebelum konferensi pers..."


Lalu telunjuk Milady pindah ke atas layar.


"Lihat orang ini? Ini Yakuza... khusus datang dari Jepang untuk membunuhku."


Yori terbahak. "Ya Ampun, bohongnya tingkat tinggi... sudah kehabisan ide? Dulu kamu bohong mengenai asal uang kamu dari main game, mana ada game yang menghasilkan uang segitu besar? Sekarang kamu pikir Kakak percaya dengan cerita yakuza-yakuza'an kamu?"


Milady tidak menggubrisnya, ia tetap tenang.


"Ini, Mas Arman... Ajudan Utama Mas Yan, Mas Arran pasti kenal." Milady menoleh ke arah Arran.


Pria itu hanya mengangguk sekilas.


Tapi wajahnya tetap muram.


Jadi Milady melanjutkan kalimatnya. "...Mas Arman datang dari arah belakang, sambil berlari ke arahku." Jari Milady mengikuti gerak Arman.


Lalu,


Arman jatuh!


Tampak Yakuza di sudut atas layar mengacungkan pistol ke arah Milady, dan Arman berusaha melindungi Milady dan tertembak.


Yori terpekik tertahan sambil melongo.


Arran langsung tegang sambil menahan napasnya.


"Kak Yori pasti kenal ini... datang dari arah Yakuza yang tadi."


Seorang wanita datang dari sudut atas memgejar si Yakuza.


"Ini pacar Ipang... Ini Susan." gumam Yori sambil gemetaran.


Tampak Susan menerjang si Yakuza, lalu sempat berkelahi sebentar. Diakhiri dengan wanita Spanyol itu membenturkan kepala si Yakuza ke dinding sampai pingsan.


"Lalu, ada satu lagi datang dari arah Susan... tampaknya menyusul temannya." sahut Milady sambil menunjuk pria lain yang datang saat Susan sedang menahan kepala si Yakuza ke dinding.


Terlihat, Arman bangkit dari jatuhnya.


Menarik Tokalev dari pinggangnya.


Lalu menembak Yakuza yang baru datang di area bahu.


"Mas Arman sudah berusaha agar tidak semakin banyak korban yang tewas... saat ini sudah ada 5 mayat di ruang Garnet Security, semuanya preman dan Yakuza kiriman rival Sebastian. Kalau tidak percaya, mari kita ke basecamp mereka." Milady berdiri dan berjalan ke arah pintu.


Yori menahan lengan adiknya.


"Tidak usah..." wajah kakak sulungnya itu pucat pasi, dengan bibir gemetaran.


Milady menghela napas.


"Ada tiga orang yang ditugaskan untuk menjaga Kak Yori. Dua orang bekerja dengan Event Organizer, dan Susan di bagian pantry, dekat dengan Kak Yori. Ipang juga di Pantry, memudahkan Susan untuk sekaligus menjaga kalian berdua. Ayah dan Ibu dijaga oleh beberapa orang Sebastian yang mengelilingi mereka. Ipang aku beritahu lebih awal karena saat ini dia magang di Garnet Grup sebagai anak buah Mas Arman."


"Ipang magang?"


"Iya... dia harus memperbaiki IPKnya yang jeblok. Magang di perusahaan besar macam Garnet bisa menaikkan kreditnya 1 angka..."


"Itu anak... pacaran terus, sih..."


"Aku udah cubit 2 kali mewakili Kak Yori juga, silahkan kalau mau ditambah..."


Lalu mereka terdiam.


Dan...


Yori pun terkekeh.


"Dasar Ipang..." dengusnya disela-sela tawanya.


Milady juga ikut terkekeh.


"Astaga Lady..." Yori menggelengkan kepalanya. "Aku sebal sama kamu..."


"Maaf Kak..." desis Milady.


Yori menghela napas, lalu membela pipi adiknya.


Dan mereka berdua berpelukan, dengan isakan keduanya menghiasi suasana.


"Kamu pasti sangat takut..." isak Yori.


"Iya Kak... Tapi aku lebih kuatir akan keselamatan Sebastian dan kalian. Ayah, Ibu, kakak dan Ipang..." desis Milady.


Yori menghela napas.


"Pernikahan kalian... Kapan?"


"Sudah terjadi sekitar... Hampir sebulan lalu. Tapi kami sebenarnya sudah lama saling mengenal. Jauh sebelum perjodohanku dengan Trevor terjadi. Namun... Kami berpisah 10 tahun lamanya. Sampai kupikir menyerah saja... Jadi aku menikah dengan Latief. Untuk melupakan beliau. Namun malah berujung perceraian..."


"Kamu pasti... Sudah mengalami banyak hal saat bertemu Pak Sebastian kembali."


"Ya... Banyak..." Milady menatap Arran.


"Kehidupan Sebastian..." Milady menggeleng sambil menghela napas. "Sangat rumit. Bukan kehidupan kaum awam, bahkan hampir seperti potongan film... Sampai-sampai rasanya terasa drama."


"Bukan hal mudah bagi Pak Sebastian untuk mencapai titik tertinggi di hidupnya. Kakak harap kamu juga mendampinginya saat ia jatuh..." sahut Yori.


Milady mengangguk.


"Aku sedang hamil, kak..."


Yori terpekik kaget.


"Astaga, Lady!!" Ia tampak senang.


Arran memejamkan matanya.


Lalu pria itu menunduk.


Bahkan saat Yori memeluk Milady dengan antusias, pria itu hanya menunduk.


Milady memutuskan untuk tidak bertanya apa pun ke Arran.


Ia berpikir, Arran pasti butuh sendiri dulu.


"Kamu butuh istirahat... Kakak sepertinya harus kembali dulu. Pesta akan sampai pagi, shift istirahat kakak cuma 3 jam, sekarang penjagaan cafe sedang digantikan oleh Samantha dan Aria. Semakin malam tamunya semakin luar biasa... Ada beberapa Pangeran Arab dalam perjalanan kemari." Yori cerita dengan antusias.


Ya Ampun Sebastian... Pikir Milady.


Di benaknya terbayang betapa capeknya Dimas menangani keegoisan suaminya ini. Semua tamunya adalah kenalan Sebastian...


Tapi mungkin ini awal yang bagus untuk kepemimpinan Dimas nantinya.


Yori berjalan terlebih dahulu ke arah pintu keluar.


Di belakang Yori, Milady menatap Arran.


Pria itu hanya membalas tatapannya dengan senyum getir, tanda kesedihan dan kekecewaannya. Lalu mengelus pipi Milady dengan rasa sesal yang tiada tara.


Dan Arran mengikuti Yori keluar dari unit penthouse.


*****


Milady berjalan ke arah komputer Sebastian dan mengamati rekaman cctv kembali. Lalu mempelajari setiap adegan yang dilaluinya.


Ia sudah menontonnya 5 kali...


Benar-benar mengerikan!


Terlebih karena ia melihat darah Arman mengalir deras membasahi kemeja pria itu.


Darah sungguhan...!


Dan bisa saja itu darah Milady kalau Arman terlambat sedetik.


Lalu Milady menunduk sambil mengelus kedua lengannya yang merinding.


Hidupnya berubah drastis, demi cintanya...


Saat itu, Milady melihat secarik kertas di dalam buku agenda hitam dari kulit yang diletakkan Sebastian di sebelah layar komputer.


Tumben Sebastian tidak rapi... Pikirnya.


Ia penasaran dan menarik kertas itu.


Tulisan tangan yang terkesan klasik. Huruf sambung model tempo dulu, dengan banyak coretan di sana-sini...


Milady mengenali gaya tulisan Sebastian yang unik dan sangat berkarakter.


-Karya ini adalah karya original milik Septira Wihartanti.-


Tampaknya seperti sebuah puisi...


Judulnya...


Untuk Milady.


"Oh...wow..." desis Milady.


Puisi ini untuknya?


Milady membacanya.


Milady My Lady


Kirana dengan senyuman mentari


Duduk di tahta permaisuri


Bersedia menjadi maharani


Dari candala semacam aku ini


Sungguh, terlihat sangat tak serasi


Entah sejak kapan mulai kala


Aku bagai Bentala merindukan Jumantara


Aku kehilangan asa, Tapi Tuhan punya kuasa


Kesempatan kedua...


Kutekadkan karsa terlaksana


Nayanika Nirmala


Aku tidak akan melepasmu


Kupantaskan diriku menjadi Raja


Agar senada dengan Sang Ratu


Menjadi gentleman-nya gentlemen


Agar Lady selayaknya Lady


Di sisa umurku yang temaram


Asmaraloka bukan elegi


SB


"Ya, Ampun Sebastian..." Milady tersenyum malu sambil menutupi wajahnya yang merona.


Keromantisan suaminya...


Manis sekali...


Membuatnya tubuhnya terasa ringan melambung tinggi.


"Kamu lihat Papa kamu nih... Bikin mama semakin cinta..." Milady mengelus perutnya.


*****