Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Taring 5



"Dan... sini kamu." Arman melambaikan tangan padanya, menyuruh Ayumi mendekat.


Ayumi mendekat dengan malas.


"Ini GPS..." Arman mengangkat serangkai gelang dengan berlian berkilau di tangannya. Cantik sekali, berwarna putih. "Kamu hanya diizinkan keluar dari area apartemen sejauh 100 meter. Lewat dari itu, sensor akan menyala dan dia akan BUMM!!"


Ayumi tersentak kaget dan mundur selangkah ke belakang.


"...meledak. Mengerti?" tambah Arman.


Ayumi menghela napas.


Gelang berlian itu dibuat pas dengan pergelangan tangan Ayumi. Setiap kaitannya rantainya menggunakan password. "Kalau rantainya lepas, dalam waktu 3 detik, dia juga akan meledak. Jadi kalau kamu tiba-tiba diculik dan rantainya terlepas... ya paling tidak dalam waktu 3 detik kamu cari tempat berlindung."


Sensor berwarna hijau menyala.


"Gelang bisa dilepas dengan menggunakan sensor, servernya di gedung lain. Untuk melepaskannya juga dengan otorisasi beberapa orang..."


"Jadi, kalau saya diculik dan dibawa lebih dari 100 meter dengan keadaan gelang itu kokoh melingkar di tangan saya, Bum juga?"


"Yah, itu sialnya kamu..." Arman menyeringai.


"Terserah..." gumam Ayumi.


"Becanda... sensor hanya akan berbunyi. Kami yang menentukan akan diledakan atau tidak."


"Kan saya bilang terserah..."


Arman berdecak dan mengangkat dagu Ayumi, supaya wanita itu menatap matanya.


sayu dan capek, terlihat di manik cokelatnya.


"Kamu ngga usah pura-pura tersiksa. Saya tidak akan terpancing. Saya sudah melakukan pengamatan terhadap kamu sejak dulu, saat kamu masih bersama Pak Trevor. Kamu tidak selalu dikurung, kamu memang menipu anak buah saya karena sering menyamar menjadi orang lain seakan penghuni apartemen lain keluar dari sana, tapi saya tidak akan tertipu." Kata Arman.


Ayumi mendengus sinis.


"Oh, jadi kamu ya Secret Admirer saya..." katanya menantang Arman.


"Hoo... Sudah keluar taringnya yah. Sudah lama saya tahu kamu bukan wanita berperilaku manis. Kamu juga jenis yang tersenyum untuk bertahan hidup..." Arman menyentak dagu Ayumi. "Pak Trevor tertipu mentah-mentah. Kasihan sekali, dia terlalu polos... Dibesarkan dengan perlindungan Ayahnya terus sih..." Arman mengutak-atik sebuah ponsel.


"Nih ponsel cadangan. Ponsel kamu saya amankan karena ada kemungkinan bisa dilacak, makanya mereka langsung tahu kamu di hotel waktu itu."


Ayumi menerimanya.


Bahkan ponsel cadangannya terlihat lebih canggih daripada ponselnya sendiri.


"Kamu pesan online makanan dan kebutuhan sehari-hari dari situ. Jangan boros, itu pakai gaji saya. Dan gaji saya tidak sebesar Pak Trevor, jadi plis gunakan sebijak mungkin..."


Ayumi menghela napas.


"Saya juga punya tabungan di Bank Nippon, kartunya tertinggal di apartemen..."


"Kamu akses, kamu mati. Mereka bisa melacak kamu dari situ..."


"Jumlahnya bisa jutaan yen."


"Makanya doakan misi ini berhasil biar kamu bisa pulang... Jangan malah berdoa yang jelek-jelek..."


"Ck..." terdengar decakan Ayumi. "Saya tidak punya pilihan."


"Betul..."


Arman membuka lemarinya dan melepas pakaiannya. Ia kini menggunakan suit rapi karena akan menjemput beberapa tamu pejabat dari luar negeri.


"Ada acara penting?" penasaran Ayumi bertanya.


"Kamu bisa lihat dari tv acara apa yang kami adakan besok."


Ayumi berjalan ke arah koper besar yang diletakan Arman di lantai depan meja makan.


Baju...


Modelnya cantik-cantik.


Kebanyakan baju tidur dengan model one piece dan...


Menerawang...


Ayumi mengangkat salah satunya dan mengangkat alisnya.


Mau tidak mau Arman juga menoleh.


Sampai-sampai pria itu tertegun.


"Yang benar saja..." gumam Arman.


"Apa ada pakaian yang lebih tertutup, Pak Bodyguard?" tanya Ayumi sambil menatap Arman dengan pandangan menyindir.


Ayumi mengangkat gstring, bra dengan bahan tipis menerawang, sampai-sampai rasanya terlihat tidak berguna sebagai penutup aurat, banyak baju dengan model provokatif dan banyak tali.


"Rasanya lebih sopan kalau saya hanya melilitkan handuk..." tambah Ayumi.


Arman menghela napas menahan sabar.


Lalu menyelipkan senpinya ke balik rompi.


"Pakai saja dulu yang ada. Nanti kamu pesan online yang lebih pantas..." desis Arman.


Ya sudahlah...


Pikir Ayumi.


Jadi wanita itu membuka kimono handuknya yang sudah bernoda antiseptik dan darah, lalu mulai memilih beberapa pakaian.


Arman memperhatikannya.


Lalu menghampirinya.


"Bagaimana sih cara kamu menorehkan antiseptik? Kok ngga kering-kering lukanya?"


Sekujur punggung Ayumi masih kemerahan dan belum kering benar. Dengan beberapa luka lebam...


Ia bahkan tidak mengenakan pakaian dalam karena terlalu perih.


"Terlalu sakit... Nanti juga kering sendiri." Sahut Ayumi. Tapi kimono handuknya lembab.


Arman menghela napas dan langsung menyambar antiseptik dan beberapa perban.


"Duduk..." perintahnya.


Ayumi duduk di depannyya, membelakangi pria itu. Lalu mengernyit menahan perih saat Arman mengobati luka goresannya satu demi satu.


"Dua hari ini, jangan kena air. Dan kenapa cuma luka di paha kamu saja yang pakai hansaplast? Harusnya yang di lengan dan pinggul juga dong..."


Ayumi tidak menjawab.


Karena disana ada luka irisan, di dalamnya ada chip... Tapi ia belum mau membuka mulut perihal hal itu.


"Oke... Done. Sekarang, saya minta kamu untuk..."


Ini dia... Sesi melayani. Pikir Ayumi. Ia rasanya ingin kabur saja dari situ.


"Bersih-bersih seluruh rumah, terutama di kolong-kolong. Saya udah ngga pakai pembantu karena operasional terpakai untuk biaya hidup kamu. Kalau bisa kamu juga belanja untuk masak... Sama beli kopi, saya suka yang jenis arabika atau kopi luwak. Belanja online saja. Kamu juga bebas mendekorasi apartemen soalnya saya jarang pulang. Yang penting buat saya ada tempat buat tidur. Jangan lupa bersihkan kamar mandi dan laundry. Oke?"


Ayumi tertegun.


Lalu mengangkat alisnya.


"Kamu ngga berpikir saya mau garap kamu kan? Terus terang kamu mau telanjang sangat terbuka saya juga ngga nafsu. Badan kamu kayak zombie penuh luka begitu, mana saya tega walaupun perilaku kamu kayak medusa..."


Medusa... Baru kali ini Ayumi dikata-katai secara gamblang.


Tapi paling tidak, selama beberapa saat wanita itu bisa istirahat dan memulihkan dirinya.


"Saya pergi agak lama. Kamu santai-santai saja di sini..." desis Arman.


Baik juga orang ini... Batin Ayumi. "Nama kamu siapa?" tanya wanita itu.


"Saya sudah bilang saat pertama."


"Lupa."


Arman mengangkat alisnya.


Baru kali ini ada wanita yang melupakan namanya.


Pria itu antara merasa terhina, tapi juga takjud.


"Ya sudah. Cari tahu saja sendiri..." dengus Arman. Ia meraih tas ranselnya yang terlihat berat. Lalu kembali mendekati Ayumi dan mengangkat dagu wanita itu "Saya pergi sekitar dua-tiga hari. Kamu jangan nakal..."


Dan wajahnya mendekat.


"Saya hanya berciuman dengan orang yang saya suka." sahut Ayumi sambil menepis tangan Arman dan memalingkan wajahnya.


Arman berdecak.


"Kamu bisa berciuman dengan Trevor, bahkan kamu sudah lama kehilangan rasa."


"Itu untuk tujuan tertentu."


"Yang ini juga kan, untuk bertahan hidup..." Arman sedang ingin bermain. Ia sudah bosan dengan Janet atau Yani dan lainnya. Mainan barunya ini jauh lebih menarik... Karena lebih berbahaya.


Arman kembali menarik dagu Ayumi.


Dan menciumnya.


Ayumi tidak membalas ciumannya dan merapatkan bibirnya.


"Buka..." Geram Arman sambil menahan pipi wanita itu.


Ayumi tetap bertahan.


Jadi Arman menyelipkan jemarinya ke dalam area sensitif wanita itu.


Ayumi langsung terpekik tertahan. Ia membuka mulutnya.


Dan Arman menciumnya kembali. Ia ******* mulut wanita itu sampai Ayumi kehabisan napas.


Lalu mendorong Ayumi menjauh dengan agak kasar.


"Masa cium aja harus dipancing sih..." desis Arman sambil mendengus sinis. Lalu menyambar tasnya dan berjalan keluar dari apartemen.


Ayumi terduduk sambil terisak.


Ia mengusap bibirnya kuat-kuat. Menghapus rasa Arman dari sana.