Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Rayuan Si Perayu



Sudahlah... Masuk saja!


Desis Arman dalam hati, walaupun ia sepenuhnya waspada terhadap kemungkinan terjadinya kejutan.


Ayumi duduk di tengah ranjang, sebelah kakinya diluruskan, sebelahnya lagi sedikit diangkat memperlihatkan bagian dalam pahanya.


Arman meletakkan botol kaca Chateau-nya dan menghampiri Ayumi.


Lalu duduk di pinggir ranjang.


Dan menatap Ayumi.


"Katanya kamu seorang perayu..." desis Ayumi sambil tersenyum manis. "Coba perlihatkan padaku."


Arman mendengus sinis.


"Sebelum itu, kamu bicara dulu mengenai maksud kamu menemuiku."


"Hm..." Ayumi mengelus gelang berlian berukir Azalea-nya sambil berpikir mengenai kalimat dengan bahasa Indonesia agar tidak menyinggung Arman.


"Aku... Memikirkan nasibku setelah ini."


"Lalu?" Arman mengambil anak rambut yang ada di dahi Ayumi lalu menyampirkannya ke samping agar tidak menutupi wajah manisnya.


Ayumi melirik Arman sambil berpikir.


Oh, sudah mulai rayuannya...


Baik, aku ladeni... Kita lihat siapa yang kuat.


Sementara Arman berpikir mengenai...


'Cari bini gue sampe dapat atau lo semua gue pecat!'


Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya.


Kurang ajar si Moses, dapet wangsit dari mana sampai sempat-sempatnya merekam suaraku!


Umpat Arman.


Lagipula... Kenapa waktu itu aku menyebut Ayumi dengan... 'Bini Gue'...?!


Astaga... Lagi kesambet kali aku!


Arman meniru pose Ayumi, bersandar santai dengan meluruskan kakinya.


Ayumi meliriknya waspada.


"Kalau kamu ber..." Ayumi mengernyit sambil melambai-lambaikan pergelangan tangannya, berusaha mengingat kata-kata dalam bahasa Indonesia yang sudah ia pelajari. "Hm...berkenan? Kupikir... Usul kamu mengenai pernikahan adalah jalan termudah untukku hidup di negara ini, jauh dari ancaman. Kalau kamu tidak keberatan, mohon bekerja sama denganku untuk merancang suatu ikatan..." desis Ayumi.


"Perasaan baru tadi siang kamu menawar, minta alternatif lain." Sindir Arman.


"Yaaa...h karena menurutku pernikahan adalah jalan yang sakral. Bukan untuk permainan... sedangkan kamu tipe laki-laki yang menganggap wanita adalah permainan."


"Oh." Gumam Arman. "Hm...wanita adalah permainan, jadi... hidup ini juga permainan. Karena wanita adalah bagian dari kehidupan." sambung Arman.


Begitukah yang orang lain pikirkan mengenai diriku?


Sejak kapan aku menganggap hidupku sebuah permainan?


Batin Arman.


"Aku...sekian lama memikirkan pernikahan dengan Mikaeru. Sangat banyak yang harus diurus, seperti menyatukan keyakinan dan meminta restu Sebastian... juga administrasi dan yang paling sulit adalah menerima pasangan kita apa-adanya."


"Hm..." gumam Arman. Pria itu masih bergulat dengan pikiran di benaknya mengenai hidup.


"Termasuk berkali-kali aku berpikir mengenai...apakah aku bisa hidup selamanya, sampai maut memisahkan, hanya dengan 'orang ini'? Padahal aku tidak mencintainya... apakah aku harus...bersandiwara selama sisa hidupku? Menjadi 'Yamato Nadeshiko' baginya, dan yang lebih parah, bagi anak-anakku kelak..."


"Hm..." Arman menyandarkan kepalanya ke bantal, melipat kedua tangan di dadanya.


"Tapi... saat itu yang terpenting adalah orang tuaku. Dan...dendamku. Semua terasa kabur karena diselimuti emosi." sahut Ayumi.


"Kalau sekarang?"


"Aku sudah capek..."


"Karena itu kamu tidak ingin bertemu Trevor walaupun dia satu bangunan denganmu?"


"Aku sudah berjanji kepada Sebastian untuk tidak mengganggunya."


"Oh iya." sahut Arman sambil menyeringai sinis. Tampak sekali ia meragukan sikap Ayumi.


Ayumi mendecak.


"Dan kini kamu terjebak bersamaku..." desis Arman.


"Aku memilih untuk bersama kamu."


"Wooow..." Arman menjauhkan pundaknya sambil mengernyit menatap Ayumi. "Itu intim sekali, sayang..."


Ayumi mendecak lagi. "Hanya karena aku mau menuntut kata maaf dari kamu, yah..."


"Maaf? Untuk apa?"


"Kamu meninggalkanku sendirian."


"Ada Heksa dan Moses waktu itu."


"Dalam keadaan terikat dan luka-luka lebih banyak dari Rady-San..."


"Dia pingsan dan sedang hamil, dan dia target operasi!"


"Ada Heksa dan Moses yang bisa menggotongnya juga."


"Aku Komandannya."


"Cih..."


hening...


"Kamu barusan bilang 'cih' ya? itu maksudnya apa?" kernyit Arman


"Apa yang namanya 'perayu ulung'... bisanya cuma bikin sakit hati. Dasar Fakboi..."


"Hei hei hei... kamu harus berhenti bergaul sama Moses, kosa kata kamu semakin amburadul!"


Hening lagi...


Lalu terdengar Arman menghela napas.


"Aku pikir... sudahlah..." gumam pria itu.


Dia sedang berkutat dengan flashback ingatannya saat dia kehilangan Ayumi. Entah kenapa moment itu sangat menakutkan baginya.


"Apa?" Ayumi bertanya.


"Ngga papa."


"Curang... aku sudah mencurahkan emosiku padamu barusan, kamu-nya masih bersikap dingin."


"Kamu itu ternyata bawel banget ya..."


"Terserah..." desis Ayumi sambil beranjak dari ranjang.


"Mau tidur."


"Kamu bisa tidur di sini."


"Bersama kamu?"


"Iya."


"Bisa jadi apa aku? Mau menambahkan luka? Aku sudah luka di sekujur badan, lalu mau bikin luka hatiku juga?"


Arman tertegun.


Luka hati...?


Kenapa jadi bawa-bawa hati segala?!


Kenapa dengan wanita ini?!


Ia tiba-tiba menyadari sesuatu...


Hal sederhana, dari seorang wanita...


seharusnya Arman yang mengenal banyak jenis wanita seumur hidupnya, mengerti dari awal.


Kalau...


Ayumi sedang cemburu.


Cemburu dengan Milady yang diprioritaskan oleh Arman.


dan Pria itu merasakan desir di dadanya semakin meluas.


Ia seketika menangkap tangan Ayumi.


Tangan dengan perban tebal melingkar.


"Apa?" tanya Ayumi tidak sabar, wanita itu menghentikan langkahnya.


Arman menengadahkan telapak tangan Ayumi.


Terasa begitu... ringkih.


Kelingkingnya kehilangan kuku, beberapa patah dan darah kering masih berada di sela-selanya.


Lalu mata Arman menelusuri lengan Ayumi.


Banyak goresan dan luka. Juga lebam-lebam keunguan...


Pain killer jenis apa yang disuntikkan Dokter ke tubuh dengan luka sebanyak ini, namun masih bisa berdebat dengan Arman? Mungkin sejenis morfin.


Wanita ini... sudah banyak menderita.


"Maaf..." desis Arman.


Ia menyadari kalau Ayumi sedang menahan sakitnya.


"Sakit?" tanya Arman lagi.


"Sakit..." sahut Ayumi sambil membuang muka. "Sakit sekali..."


Arman hanya bisa diam.


Entah yang dimaksud Ayumi adalah sakit di sekujur tubuhnya, atau hatinya.


Mungkin juga termasuk... sakit hati yang dipendamnya bertahun-tahun lamanya. Kematian kedua orang tuanya, perlakuan Yamaguci Ito padanya, juga dendamnya...


"Aku minta maaf..." desis Arman. Dia mengangkat tangan Ayumi ke arah wajahnya, lalu menciumnya punggung tangan wanita itu.


"Aku tahu rasanya, setiap sakit yang kamu derita. Karena aku juga mengalaminya. Seharusnya aku lebih peka..." kata Arman pelan.


Ayumi tidak membalas ucapannya dan hanya memperhatikan Arman.


"Aku juga sangat... Panik... saat kamu tiba-tiba tidak bisa kutemukan." tambah Arman.


Ayumi menarik napas lalu memalingkan wajahnya lagi.


Terasa jemari Arman menyisir pipinya. Terasa hangat di udara sedingin ini.


Lalu jemari itu berhenti di dagu Ayumi.


"Tetaplah bersamaku malam ini."


Ya Ampun...


Batin Ayumi.


Darahnya langsung terasa mengalir.


Ayumi menyadari kalau Arman sedang berusaha merayunya untuk menghabiskan malam bersamanya.


Seharusnya ia menghindar karena kondisi tubuhnya sedang lemah.


Tapi...


Ayumi menatap mata Arman.


Pria itu juga sedang menatapnya.


Dalam dan sayu, dengan pandangan menghujam relung hatinya.


Hipnotis manis menembus pertahanan.


Dinding perasaan Ayumi sedang didobrak...


Pria ini tidak lembut


Cenderung kasar dan egois


Ditambah dia sangat kurang ajar


Ia bahkan tidak menawarkan apa pun


Bahkan tidak menawarkan cinta


Juga tidak mengiming-imingi materi.


Ayumi juga tahu, hanya se ks yang pria ini incar darinya.


Yang sebenarnya bisa didapatkannya dengan banyak wanita yang jauh lebih cantik dari Ayumi.


Tapi kenapa...


Tentang Cinta yang datang perlahan


membuatku takut kehilangan


kutitipkan cahaya terang


tak padam didera goda dan masa.


(Tentang Rasa. Astrid 2010)