Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Back To The Love Scene



Sebastian menerima telepon dari Kapolri sekitar satu jam kemudian.


Pria itu berdiri di sebelah jendela dengan satu tangannya memegang ponselnya dan sebelah tangan lain dimasukan ke saku celananya.


Milady memperhatikannya sambil memainkan garpu cakenya. Pastry yang tadi dibawa Sebastian untuk sesi 'berbaikan' baru saja habis dia lahap, tinggal potongan kecil suapan terakhir ia sisakan.


Wajah Sebastian sumringah.


Dan gerakannya lebih santai.


Sepertinya beban di punggungnya sudah usai.


Milady berharap, setelah ini tidak ada lagi yang tersakiti.


"Oke, terima kasih untuk kerjasama yang baik. Langkah selanjutnya kami ikuti ketentuan dari pihak bapak saja." kata Sebastian mengakhiri sambungan teleponnya


Dan Pria itu pun mematikan ponselnya.


Lalu menoleh ke Milady.


Milady mengangkat suapan terakhir pastry yang bertengger di garpunya ke Sebastian.


Pria itu membuka mulutnya dan memasukan potongan manis tepung dan gula itu ke mulutnya.


"Am..." gumam Sebastian. "Kepolisian berhasil menangkap Hari Fadil. Masyarakat sekitar sangat koperatif."


"Kamu dipanggil untuk bersaksi?" tanya Milady.


"Iya, dan kasus lainnya..."


"Hidup kamu penuh adrenalin ya... sebelum ketemu aku juga begini?"


"Ini hasil lanjutan dari sebelum ketemu kamu."


"Jadi dulu lebih parah dong?!"


Sebastian menepuk perutnya yang rata dengan bangga.


"Sekarang kamu tahu sendiri dari mana otot di sini berasal..." Pria itu menyeringai.


"Terlalu keras buatku, ngga bisa kugigit." Milady menjulurkan lidahnya.


"Sekarang udah penuh bekas cakaran sih..." Sebastian mengerling menggoda.


"Kamu main mata cuma denganku saja loh yaaa..." Milady mencubit pipi Sebastian dengan Gemas.


"Yang menebar senyum ke pria lain selama ini bukan aku." balas Sebastian menyindir Milady.


"Itu untuk promosi produk kamu. " sahut wanita itu. "Ah... ngomong-ngomong, Kita harus bicara..." Sahut Milady.


"Hm..."


"Aku serius, Mas..."


"Iya..."


Sebastian menarik Milady dengan lembut ke arah ranjang dan ia duduk di tengah, tangannya menepuk-nepuk area di depannya.


Milady menghela napas, maklum dengan tingkah suaminya, dan duduk di depan pria itu.


Sebastian memeluknya dari belakang.


Dari jendela kaca raksasa di depannya, terlihat hujan mulai turun kembali dengan deras.


Langit sangat gelap.


Awan mendung dan petir menghiasi cakrawala.


Milady menoleh ke samping meminta perhatian.


Sebastian mengecup pipinya dengan lembut.


Berkali-kali.


Satu lagi, dan lagi...


Sampai akhirnya Milady tak tahan untuk tidak tertawa.


Wanita itu terkekeh karena janggut putih Suaminya mulai menggelitik lehernya.


"Dasar labil..." Sahut Milady. "Aku bosan bertengkar terus..."


"Tapi kan baikannya cepet..."


"Iya tapi... Duh Mas Yan... Aku lagi hamil, dan kamu hampir lansia. Masa kita tarik urat terus..."


"Terus maunya gimana, sayang?"


"Hm..." Milady mengecup leher suaminya. "Inginnya kamu pensiun aja... Masih banyak yang bisa meneruskan bisnis kamu. Kamu tinggal mengendalikan dari jauh..."


"Anak-anak belum siap, Sayang... Si Boyo baru saja serah terima jadi CEO Garnet Bank, aku perlu melihat kemampuan memimpinnya dulu. Trevor belum RUPS, Arman juga mau diambil kepolisian."


"Hah?"


"Hm?"


"Mas Arman? Kamu yakin?"


"Yakin apanya?"


"Kamu yakin bisa hidup tanpa dia?"


Sebastian mengernyit.


"Dia baru ikut aku 9 tahun terakhir... Memang kamu pikir sebelum ada dia, bagaimana aku memimpin perusahaan?!"


"Sebelum ada dia, Pak Baskara masih hidup..."


"Kamu bisa banget ya berdalih." Sungut Sebastian.


"Loh, aku benar dooong..."


"Jadi ngga mood nih... Tidur duluan ah." Sebastian mematikan lampu utama.


"Ih gimana sih Mas, aku belum ngomong ini looh..."


"Besok pagi aja... Besok kan weekend, aku mau ke Kebun Binatang , mau survey... Sahamnya mau kubeli."


"Eh... Aku ikut dooong..."


"Ngga bisa, kamu kan habis diculik. Istirahat aja di rumah sama Rahwana." Sebastian berbalik ke samping memunggungi Milady.


"Aku ikut sayaaaang..." Milady mulai merajuk.


"Aku udah lama ngga kesana, terakhir SD waktu darmawisata... Ya? Ya? Ya?"


"Iyaaa... Tapi jangan bawel, jangan protes, jangan kumat egoisnya."


"Ih! Kapan aku egois?! Kamu kali tuh!"


"Hussh... Mau ikut ngga?"


"Eh, maaauuu... Hehehe.... Horee..."


"Pijetin dulu... Pegel nih... Faktor U..." Sebastian tidur terlungkup.


"Astaga... Bayi gede..."


"Ngga ada bayi punya jenggot."


"Terus aja kita berdebat sampai besok pagi Mas..."


"Sshh..." Sebastian menepuk-nepuk punggungnya.


*****


"Sakeet Medusa!! Pelan-pelan!! Kau kira badanku ni kayak gatot kaca?!!" Seru Arman.


"Siapa itu gotuto kasha?" Tanya Ayumi sambil cuek menorehkan obat oles ke luka Arman.


"Pain killer mana pain killer..."


"Tidak... Itu jatahku. Dasar manja..."


"Apa? Manja?!" Seru Arman Sewot sambil membalikkan tubuhnya ke arah Ayumi.


"Sush...! Jangan gerak-gerak nanti obatnya geser-geser."


"Ngasihnya itu ditotol bukan ditetesin woyy!!"


"Haduuuh bawel banget sih kamu, Ares! Kalau tidak tahan sakit, tidak usah sok berkelahi!!


"Ck... Pelan-pelan dasar kelinci afrika..." Geram Arman.


"Apa pula itu..." Decak Ayumi.


"Afrika...Aku Frustasi sama Kamu..." sungut Arman.


"Hem..." Trevor menatap pemandangan di depannya dengan bersungut-sungut.


Bukan...


Bukannya ia tidak ingin menginterupsi.


Hanya...


Mitha ada di sebelahnya, sedang serius dengan antiseptiknya, mengobati pelipis Trevor.


"Jatoh dimana toh Mas Trevor, kok lukanya bervariasi begini?" Tanya Mitha.


"Hm... dari jurang..." Jawab Trevor malas.


"Jatohnya pelukan toh sama Mas Arman? Sama kayak kamu, luka-luka juga. Kalian berdua itu mesra tapi ngenes ya..."


"Hm..."


"Memang kalo sahabatan itu suka klop, sampai ada yang bisa sehidup-semati, loh!"


"Ogah..."


"Saya bikinin jamu aja gimana? Biar pegal-pegalnya cepet hilang!"


"Boleh..."


"Apa situ mau saya urut juga? Siapa tahu ada yang sengklek..."


"Ngga usah..."


Mitha terdiam.


Lalu memperhatikan Trevor lebih seksama.


Dan memperhatikan pasangan A2.


Dan ke Trevor lagi.


Lalu mencibir.


"Jadi yang menang sopo?" Tanya Mitha memancing Trevor.


Trevor meliriknya sambil mencibir.


"Ck... udah ah... Mau pulang... Mau maen sama Raka, daripada di sini..." Gerutu Trevor sambil berdiri.


"Loh loh loh... Gitu aja mutung..."


"Mbak Mitha kenapa ada di sini?"


"Mas Arman telpon aku, minta bantuan untuk ngobatin Mas Trevor." Kata Mitha.


Trevor memicingkan mata, lalu menoleh ke Arman dengan sinis.


Trevor berbalik dan berjalan ke arah Arman.


"Eh? Ngga jadi pulang Mas?" Tanya Mitha.


"Sebentar ya Mbak, ada sedikit urusan..." Sahut Trevor.


Arman menghela napas malas saat Trevor sudah ada di depannya.


"Mau apa lagi, Boss Mika..." Gerutunya.


"Boleh ngomong...?"


"Sama siapa? Saya? Mbak Ayu?"


"Sama kamu..." Trevor menatap lurus ke arah Arman.


Ayumi merasa jengah, lalu membereskan kotak obatnya.


"Bicara di atas saja ya Pak... Sekalian mau taruh ini." Sahut Arman sambil beranjak dan menenteng tas senjatanya.


"Mbak Ayu! Mbak Ayu!" Mitha mengibaskan tangannya memanggil Ayumi supaya mendekat. "Aku bawa martabak ini, tadi kata Mas Arman situ belum pernah nyoba martabak kan?! Ayo kita makan sambil ngeteh cantik! Biar bapak-bapak ngobrol sendiri..."


Ayumi otomatis menghampiri Mitha karena aroma martabak manis langsung mengetuk lambungnya.