
"Lady?" Trevor meletakkan tas kerjanya di atas sofa dan membuka jalinan dasinya sambil berjalan ke arah kamar Milady.
Ia mendapati wanita itu sedang mencoba gaun barunya.
Tampak Milady tersenyum ke arahnya dari pantulan cermin di depannya.
Sinar berkerlip yang berasal dari jajaran permata di gaunnya menambah pesona wanita itu.
Dengan sendirinya bibir Trevor tersenyum mengagumi kecantikan Milady.
Namun...
Di saat kondisi normal, Trevor akan menjauhi wanita secantik Milady.
Akan tetapi, entah bagaimana, wanita ini malah menariknya mendekat.
Ada rasa tercekat di dadanya saat Milady dalam kondisi secantik ini... Dan percayalah, wanita ini pernah lebih cantik lagi.
"Hei... Kamu lembur lumayan larut." sapa Milady. Saat ini sudah pukul 20.
Trevor berdiri bersandar di tepi pintu kamar Milady.
"Itu baju yang akan kamu pakai di acara besok?" tanya Trevor.
Milady mengangguk.
"Bagus?" Tanya Milady.
Trevor tidak menjawab.
Pria itu hanya menatap Milady dengan seksama. Menganalisa setiap inchi tubuh wanita itu, dan menilai kekurangannya.
Tidak...
Tidak ada kekurangan apapun...
Gaun itu begitu pas di tubuh Milady, seakan memang dijahit khusus untuk wanita itu.
"Dari siapa?" tanya Trevor sambil tersenyum penuh arti.
Milady membalas senyumannya dengan tatapan getir.
"Kamu tahu..." gumam Milady. "Bisa saja aku beli sendiri kan?"
"Aku kan selalu memperhatikan kamu. Kamu belum pernah beli baju yang modelnya semewah dan... Seksi seperti itu." sahut Trevor sambil melepas kancing kemejanya.
"Kamu pikir ini terlalu seksi?" Milady mengernyit merasa aneh karena dianggap seksi, karena Gaun itu menutupi tubuhnya dari leher sampai ke mata kaki.
"Lekuk tubuh kamu terbentuk jelas." sahut Trevor. "Gaun dengan model seperti itu biasanya buatan penjahit khusus agar pas dipakai. Atau... Pemesannya sudah tahu persis bentuk badan kamu."
Senyum Trevor yang jahil membuat Milady mencibir.
"Paling tidak, modelnya senada dengan jas kamu..." Milady mencoba mengalihkan perhatian Trevor. "Kamu menginap lagi di sini?"
"Iya... Ayah sedang... agak rese." desis Trevor sambil berlalu dari kamar Milady.
Milady melepas gaunnya dan mendengarkan keluh kesah Trevor dari kamarnya sedangkan pria itu berbicara dari ruang tamu.
"Memang apa yang dia lakukan?" tanya Milady.
"Ngga ada."
"Ngga ada?"
"Dia ngga melakukan apa pun. Hanya mengurung diri di ruang kerjanya, dan menebarkan aura hitam. Lalu memaksaku memberi tahu dimana Ayumi, dan mengirimkan banyak PI ke Jepang." Sahut Trevor.
Lalu Pria itu menghilang masuk ke kamar mandi.
Milady menatap resi pengiriman barang ke daerah Kanagawa di meja riasnya.
Ia baru saja mengirimkan foto ke Sebastian.
Harga untuk alamat ini... Apa kira-kira yang akan ia minta dari Sebastian.
Milady mengelus dagunya sambil berpikir.
*****
"Hei..."
Ipang mengarahkan pandangannya ke atas saat mendengar suara serak merdu seorang wanita di depannya.
Raut wajahnya yang tadinya serius karena sedang fokus mengedit video untuk ia posting di chanelnya, berubah menjadi sumringah.
"Hai, Susanto eh, Susanti... Hehehehe..." sapa Ipang sambil berdiri dan menarik kursi yang terletak di sebelahnya, lalu mempersilahkan Susan untuk duduk.
"Namaku Susan, tidak usah ditambah-tambahi..." dengus wanita itu.
"Oke, Dewi... Eeeh... Salah lagi." sahut Ipang sambil terkekeh.
Ipang menutup laptopnya dan membereskannya dengan memasukkan pernak-perniknya2 ke ranselnya di bawah meja.
"Mas Ipang..." Bu Dewi, manajer toko, datang dengan seteko teh.
"Ya Bu Dewi..." sahut Ipang. Lalu ia melirik Susan. "Yang ini namanya beneran Bu Dewi, bukannya aku mau ngegodain..." sahutnya cepat.
Susan menatap Ipang sambil bertopang dagu dan tersenyum sinis.
"Gimana, saya keluarkan saja semua pesanannya sekarang?" tanya Bu Dewi.
"Oke buuu, keluarkaaan..." desis Ipang ceria.
Susan menatap Ipang dengan lekat. Wanita itu tersenyum lembut ke arahnya. Ia tidak biasanya menatap laki-laki seperti saat ini, namun cowok di depannya ini, memikatnya dengan cara tertentu.
Susan sudah berkeliling ke seluruh dunia. Dan menurutnya pendekatan ala cowok Indonesia macam yang Ipang sering lakukan padanya adalah yang paling membuat hatinya berdesir.
Dan cowok tampan di depannya ini, bukannya salah tingkah diperhatikan, malah ikut bertopang dagu dan mencodongkan tubuhnya ke arah Susan.
Susan langsung berpikiran kalau Ipang sudah sering mengeluarkan rayuan ke banyak wanita.
Ia harus hati-hati memperlakukannya.
Terlebih...
Karena lewat Ipang, Susan akan bisa mendekati Milady sehingga mempermudah 'pekerjaannya'.
"Jadi...kamu siapa?" tanya Ipang.
"Aku? Hm... Apa yang kamu mau tahu?"
"Kamu ngga nyesel nanya aku mau tahu apa? Itu aku anggap izin dari kamu soalnya aku mau nanya-nanya banyak loh..."
"Kayaknya kita punya banyak waktu di sini..." desis Susan.
Karena Trevor sudah pulang ke apartemen Milady, jadi Susan anggap kalau dirinya boleh bernapas sejenak untuk lebih menikmati kehidupan pribadinya.
"Aku bisa-bisa tanya-tanya terus sampai besok pagi, loh..." sahut Ipang.
"Cafe tutup jam 10 malam... Apa itu berarti kamu akan mengajakku ke tempat lain yang buka sampai pagi? Atau sekalian saja kita ke apartemenku agar lebih leluasa."
Ipang tertegun.
Tengkuknya langsung merinding.
Wanita ini... tampaknya sudah terbiasa berkencan dengan banyak laki-laki, dan mungkin banyak urusannya yang berakhir di ranjang.
Pikir Ipang.
Aku harus lebih luwes memperlakukannya, agar aku tahu alasannya memata-matai kak Lady seintens itu.
Jangan-jangan...
Dia mantannya Mas Trevor atau semacamnya... Terus cari cara untuk balas dendam ke Kak Lady?
"Jangan langsung ngajak rebahan di hari kedua jadian dong, ah... Biasanya yang begitu putusnya cepet." desis Ipang.
"Biasanya... Kayaknya kamu udah terbiasa banget nih..." pancing Susan.
"Bukannya kamu ya, yang lebih pengalaman, yang minta cepet-cepet." balas Ipang.
"Kamu ngajak berantem atau gimana nih?" tantang Susan.
"Kalo masalah berantem kayaknya kamu udah lebih jago yah, aku baru aja dapet sabuk biru strip merah soalnya... Jadi bisa pilih berantem cara lain ngga?"
"Sabuk biru... Kamu Taekwondoin yah , jadi kamu udah Taegeuk V dong?" tanya Susan.
"Tinggal pendalaman sedikit. Naik agak lambat soalnya sibuk sama endorsan jadi waktunya agak sulit dicari..." sahut Ipang.
"Aku kalau taekwondo sudah sabuk merah strip hitam dua. Sekarang lagi sambil mendalami Krav Maga soalnya Bossku yang suruh..."
"Kamu atlit juga?"
"Dulu aku taekwondoin juga. Iya... Terus yah... Aku dapat pekerjaan ini, jadi aku pindah negara. Untuk bertarung lebih mantap kalau pakai Krav maga karena..."
"Di dalam Krav Maga ngga ada aturan. Dan itu bukan bela diri, tapi jurus untuk membunuh." sahut Ipang. Wajah cowok itu berubah suram.
"Iya... Karena kalau ngga membunuh ya dibunuh."
"Itu pekerjaan kamu?"
Susan menghela napas dan diam.
Dia langsung sadar kalau sudah berbicara terlalu banyak.
Cowok ini...
Sangat halus menguak rahasianya, caranya begitu lembut sehingga Susan tidak sadar kalau sedang diinterogasi.