Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Rencana Balas Dendam



Sudah kangen lagi...


Hanya itu isi pesan singkat dari Milady.


Membuat Sebastian tersenyum tipis.


Senyum pertama di dua hari yang penuh keributan dan kekacauan, dengan berbagai masalah hidup dan pekerjaannya.


Ingatan Sebastian melalang buana ke tadi malam.


(Flashback On)


Sebastian menghubungi Trevor setelah berhasil menguasai dirinya.


"Kamu dan Bram jemput ayah di penthouse sekarang. Kita ke Garnet Bank malam ini. Ayah mau diskusi tentang Gunawan. Nanti Ayah ceritakan di mobil."


Lalu menutup teleponnya dan memijat dahinya.


Milady menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


"Kamu yakin harus sekarang? Tidak harus memaksakan diri, Sayang..." kata Milady lirih.


Wanita itu menatapnya dengan pandangan penuh kekhawatiran.


Harapan agar Sebastian menangkan dirinya sehingga bisa lebih jernih berpikir.


Sebastian mungkin sudah tahu dari lama tingkah laku Meilinda dibelakangnya. Bisa jadi adiknya itu yang bercerita sendiri.


Namun tetap saja, saat melihatnya langsung, perasaan terpukul menimpanya.


"Aku tidak bisa memberikan Gunawan kesempatan untuk berdalih. Semua harus dilakukan dengan cepat. Sebentar lagi Meilinda akan menikah, aku tidak ingin pernikahan itu hancur karena ulah satu orang. Mereka berhak bahagia..." desis Sebastian sambil menyatukan tangannya dan menyangga dagunya.


Lalu ia menghela napas.


"Apa yang bisa kubantu, sayang? Apapun..." desis Milady. Ia sangat tahu Sebastian sebenarnya sudah kehabisan tenaga. Tidak pernah ia melihat Sebastian limbung seperti tadi, walaupun dalam kondisi sedang sakit pun, suaminya selalu berjalan tegak dengan dagu terangkat.


Milady harap, hanya dia yang melihat kondisi itu.


Hanya dia yang melihat Sebastian dalam kondisi paling lemah.


Sebastian tidak menjawab pertanyaannya, pandangannya lurus ke depan dan tampak kalau pria itu sedang menahan kegeramannya.


Milady menghela napas.


Lalu jemari lentiknya menyentuh pipi Sebastian dan mengarahkan kepala pria itu supaya menghadapnya, menatap matanya.


Tatapan lelah...


Tatapan hampir menyerah.


Milady mencium bibir Sebastian.


Ciuman ringan, namun penuh makna.


"Kamu kuat, sayang..." bisik Milady.


Ia mencium Sebastian lagi. Kali ini lebih lama.


"Ikhlaskan semuanya... Kamu bisa bangkit seperti biasanya." bisik wanita itu lagi.


Lalu ia memeluk Suaminya dan mencium lehernya.


Memeluk sambil mengelus rambut putih Sebastian.


"Aku sayang kamu..." desis Milady. "Aku sangat sayang kamu..."


Sebastian tidak membalas kalimatnya.


Hanya...


Air mata mulai turun dari pelupuk mata pria itu.


Ia melepaskan segalanya.


Peluh dan kekesalan yang sudah lama ditahannya.


Di pelukan Milady...


*****


Setengah jam setelahnya, Sebastian sudah dengan Trevor dan Bram menuju Garnet Bank.


Dimas dan Meilinda sudah menanti di sana.


"Saya sudah panggil Mitha untuk datang. Ia bersedia." desis Dimas.


"Oh ya? Kamu menyuruhnya datang?" Sebastian tampak terkejut.


Dimas mengangguk.


"Apa yang kamu janjikan padanya?" Sebastian penasaran.


"Tidak ada. Saya hanya bilang kalau sudah waktunya dia berbuat kebaikan untuk dirinya sendiri. Setelah sekian lama dia membuat orang lain senang... Dia berhak untuk itu. Untuk menikmati hidup." Kata Dimas.


Sebastian hanya diam.


Ia memang menyuruh Mitha untuk muncul ke permukaan, dengan sedikit pemanis, perjanjian.


Namun Dimas bisa membujuk Mitha dengan lebih masuk akal ternyata...


Itu yang Sebastian tidak punya.


Rasa empati.


Baginya, semua bisa dia perintah-perintah dengan iming-iming. Take and give, Demand and Supply, sebab akibat.


Namun...


Anak muda ini...


Bisa melakukan porsi Sebastian dengan lebih luwes ternyata.


Anak Sulastri Ningsih.


Seorang guru ekonomi dari Kebumen, mampu melatih seorang pemimpin dari sejak dini.


Anak-anak yang hebat, yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang.


Sebastian harus mengakui Dimas, namun saat ini bukan waktu yang tepat untuk memuji bocah ini...


Meilinda masih terisak di pelukan Dimas. Ia merasa sangat malu karena foto vulgarnya sudah sampai ke tangan kakaknya.


Pemandangan yang sangat miris, sampai-sampai Trevor ikut menguatkan hati Meilinda dengan mengelus punggungnya.


Sedikit lagi tangisannya tidak berhenti, bisa-bisa adiknya itu sesak napas.


"Meli..." panggil Sebastian.


"Ya Kak..."


"Kami akan melindungi kamu sekuat tenaga. Yang sudah terjadi tidak perlu dipermasalahkan. Yang penting si boyo... hm... Yang Dipertuan Agung Dimas Tanurahardja bin Emilio Sandro biang heboh ini ada di sebelah kamu terus." Sindir Sebastian.


"Persis ibuku, kalo lagi ngomel sama aku dia teriak pake nama lengkapku..." gumam Dimas ke Meli. "Katanya : Dimas Tanurahadja! Awas kamu hamilin anak orang!... Teriaknya didepan rumah, satu erte denger..." sungutnya.


Meilinda yang sedang terisak akhirnya malah terkekeh di tengah isakannya.


"Kok mau kamu, sama terduga siluman buaya ngepet..." balas Sebastian ke Meilinda. "Asal gesek-gesek badan ke tembok rumah orang, hilang keperawanan."


"Silumannya udah tobat gesek-gesek, Pak. Lecet soalnya..." sahut Dimas.


Semua terkekeh.


Beberapa saat yang tenang. Membiarkan suasana tanpa suara.


Tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Beberapa saat kemudian,


"Panggil dua orang istrinya kesini sekarang, ketemu saya. Saya suruh asisten saya untuk melacak, nanti kamu hubungi, sanggup Boyo?" tanya Sebastian ke Dimas.


Dimas mengangguk.


"Saya panggil Mitha juga, kalau perlu."


"Ayah, aku mau hubungi orang kita di Rusia, disana masih sekitar jam 4 sore, mungkin masih sempat." sahut Trevor.


"Oke, kamu dan Bram kembali ke kantor. Di sini Ayah dan Dimas saja. Meli, kamu kalau ngga kuat..."


"Aku masih kuat, kak." sahut Meilinda. Kali ini wanita itu menegakkkan postur tubuhnya. Ia tampak lebih bersemangat dari beberapa menit yang lalu.


Setelah hanya ada mereka bertiga diruangan Meilinda, Sebastian merasa suatu perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.


Sebuah keluarga.


Berkumpul di satu ruangan.


Tanpa ada urusan pekerjaan.


Dan Pria berusia di penghujung 54 tahun itu menghela napas dan duduk setengah bersandar di meja kerja jati.


"Gunawan... Saya kenal dari ipar ayah saya. Keluarga Ambrose cukup terhormat di masyarakat sekitarnya, dengan latar belakang baik. Saat itu ia baru saja mengambil program disertasinya di Singapura. Ia punya 6 orang adik dan ayahnya baru saja meninggal dunia. Otomatis sekarang semua beban ada di punggungnya. Saya berinisiatif untuk kembali mengangkat derajat mereka di masyarakat..." Sebastian memulai ceritanya.


"Proyek tambang berlian di Yakutia adalah proyek pertama yang Trevor pegang. Namun dia masih belum berpengalaman karena baru saja lulus dari Stanford. Jadi diputuskan bahwa Trevor menjabat sebagai Komisaris, dan Gunawan sebagai Direktur Utama, berperan sebagai pelaksana dan manajemen. Lalu... Sekitar 9 tahun yang lalu, ia terpikat dengan salah satu karyawan yang memang suka saya tugaskan ke Rusia. Namanya Mitha Saraswati. Mereka meminta izin saya untuk menikah sekaligus Mitha meminta resign, namun pernikahan mereka diadakan sangat sederhana karena kabarnya keluarnya Ambrose tidak merestui. Mitha bukan dari kalangan keluarga berada, dan Gunawan sudah dijodohkan dengan putri seorang pengusaha. Mereka nekat menikah tanpa restu pihak Gunawan. Sampai akhirnya keluarga Ambrose akhirnya mengakui Mitha saat dia hamil anak pertama, itupun saya bikin Mitha jadi kaya dulu... Saya buat tunjangannya jadi milyaran, dia pamer ke keluarga Ambrose, lalu baru mereka merestui. Dasar ribet..." Sebastian sedikit bersungut-sungut mengenal masa lalunya. "Ya walaupun akhirnya duitnya dikembalikan, tapi masa mau saya terima recehan begitu, kesannya kan saya ngga ikhlas."


"Bilang aja yang jujur kalo mau mengembalikan tuh sama bunganya dong... Gitu kan?!" tembak Dimas.


"Ck..." balas Sebastian. Tapi ia tidak mengakui kalau Dimas tepat sasaran. "Saya tahu sampai di situ saja. Bagaimana versi Meli?"


Sebastian dan Dimas langsung menatap Meilinda, meminta konfirmasinya.


"Eh... Aku... Sebenarnya simple, kak..." Meilinda menghela napas. Ia merasa enggan untuk bercerita karena sudah masa lalunya, namun karena saat ini mereka sedang dalam kondisi mencari solusi, jadi cerita sesederhana apapun dibutuhkan. Siapa tahu bisa menjadi bahan inspirasi untuk jalan keluar terbaik.


"Jadi... Ingat tidak kak, waktu acara keluarga di Surabaya sekitar 5-6 bulan lalu, saat itu kalau tidak salah merayakan graduation Yudhis dari Illinois? Disana aku ketemu dia... Jujur aku belum pernah lihat wajahnya. Aku kan tidak terlalu ikut campur ke pekerjaan kakak... Karena kakak tidak bisa datang, jadi aku mewakilkan kakak dan ayah untuk datang."


"Iya, seharusnya Trevor, tapi dia lagi kabur ke Jepang." gerutu Sebastian.


"Iya, biasanya Trevor yang datang. Namun kali ini aku yang datang. Semua heboh waktu itu sih, karena aku kan memang jarang keluar kecuali ke kantor. Apalagi, kabar terakhirku adalah aku baru selesai masa iddah. Jadilah semua kandidat bachelor mengelilingiku waktu itu. Gunawan hanya sebentar menemuiku... Tidak seperti yang lain yang keukeuh ajak ngobrol banyak, tidak... Dia hanya menyapaku, ngobrol sebentar, tukeran nomor untuk kepentingan bisnis, dan selesai."


"Iya karena dia sudah beristri, jadi dia tidak ingin terlihat tertarik sama kamu. Dasar akal bulus..." gumam Sebastian.


"Jadi intinya adalah nomor telepon kamu." sambung Dimas.


"Iya... dari telepon, dia perlahan mendekat."


"Hanya itu? Kamu ada kasih dia sesuatu selain foto atau video?"


"Seingatku tidak ada lagi, kak. Dia sempat mengeluh mengenai pekerjaannya, sekilas. Mengenai Carbonado dan Petrovite... Dia bilang kalau dia menemukan hasil tambang sebesar itu namun tidak ada apresiasi dari perusahaan dan Pemerintah Rusia."


"Iya memang begitu ketentuannya. " desis Sebastian. "Semua hasil bumi di luar kontrak adalah milik Pemerintah Rusia."


"Intinya Gunawan merasa berjasa, padahal tidak." sahut Dimas.


"Tidak ada pihak yang berjasa dalam bisnis. Adanya hanya pihak yang memanfaatkan dan dimanfaatkan. Titik." kata Sebastian. "Kalau mau dapat piagam penghargaan, jadi atlit atau tentara saja sekalian..." sungutnya.


"Ini sih sudah salah kaprah..." Dimas terkekeh.


Lalu ponsel Sebastian berdering.


"Pak... Alamat juga nomor telepon Atika dan Maya sudah saya dapatkan." terdengar suara Arman dari seberang.


"Oke, Good..."


Hampir saja Sebastian menutup teleponnya saat Arman...


"Anu...Pak... Ada satu lagi masalah." menyambung laporannya.


"Apa lagi?"


"Saya boleh minta maaf duluan ngga?"


"Enggak."


Terdengar gumaman umpatan dari seberang.


Sebastian menunggu dengan sabar.


Terkadang Arman berbuat kebodohan yang diluar nalar Sebastian, jadi dia biarkan saja sekretarisnya itu mengumpat sesukanya.


"Begini... Saya ada di Garnet Property sekarang. Karena Yazaki-San mengabari saya kalau Ayumi ada di sini."


Hening...


"Coba ulangi?" desis Sebastian.


"Ehm... Ayumi Sakurazaka ada di Indonesia, di sini, di depan saya, tepatnya."


Sebastian diam lagi.


"Bercanda yang ngga lucu Kamfred..." dengus Sebastian.


"Bercandaan saya lebih bonafit Pak. Yang ini serius."


"Hidup kamu itu penuh lelucon, dari dulu sampai sekarang. Saya ini lagi banyak masalah malah kamu tambah-tambahi..."


"Kapan sih ngga punya masalah..." gumam Arman.


"Hei, bego!!" Sebastian langsung teriak. "Bagaimana bisa virus sebesar itu tahu-tahu muncul, hah?! Kamu tiba-tiba buta atau saya yang salah dengar?!"


Rasanya kepala Sebastian langsung mendidih.


"Maaf Pak..."


"Ngga bakalan cukup maaf kamu sampai sujud!! Kamu itu kebanyakan *piip *piip sama cewek jadinya otak kamu pindah ke *piiiiip !!"


Terdengar Arman berdehem.


"Ya Pak..."


"Segera pindahkan dia dari sana secepat mungkin!! Trevor dan Bram sedang menuju ke sana untuk membereskan kasus Gunawan! Jangan sampai Trevor ketemu sama wanita ular!! Dan besok kamu harus masuk! Awas kamu, jangan kabur!!" seru Sebastian.


"Ya Pak." dan Arman langsung menutup teleponnya.


Sebastian terengah-engah sambil berkacak pinggang setelah membanting ponselnya ke lantai.


Astaga...


Bodoh sekali...


Kenapa bisa Ayumi tiba-tiba muncul.


Saking marahnya dia sampai lupa bertanya penyebab kemunculan Ayumi. Sudahlah, itu urusan besok.


Dimas dan Meilinda menatap Sebastian dengan Tegang.


"Hm... Kak?" Meilinda ragu-ragu memanggilnya.


"Boyo, saya sudah dapat nomor telepon dua istri Gunawan. Atika dan Maya. Tugas kamu untuk mengundang mereka besok. Kita beri mereka imbalan kalau mau bekerja sama dengan kepala dingin. Kita dealing sesuatu untuk membuat Gunawan jera sebelum dia datang ke kantor."


"Issh..." desis Dimas. "Ya Pak... Minum dulu gih sambil nungguin saya telepon mereka yah... Ceile sampai beruap itu uban..." sahut Dimas.