
"Bagaimana sih awalnya bisa terselip ucapan itu dari ayah?" Tanya Trevor sambil mengelus punggung Milady, memberi semangat agar kesedihan wanita itu mereda.
Milady itu masih terduduk lesu sambil sesekali terisak.
"Yah...mungkin salahku juga... Aku hanya ingin menyindirnya...dia itu cemburu sekali dengan Dimas, soalnya." isak Milady
"Kenapa dia sampai cemburu?"
"Dimas mencium pipiku."
"Bukannya sudah biasa?" tanya Trevor.
"Mungkin untuknya, itu tidak biasa. Ayah kamu kan kolot."
"Apakah ada kata-kata kamu yang menyinggungnya? Coba diingat-ingat... siapa tahu masih bisa diperbaiki sebelum terlalu lama..."
"Hm..." Milady mencoba mengingat kata-kata yang ia utarakan.
Lalu...
Kalau tidak salah Sebastian meradang setelah Milady bilang kalau...
'sekalian saja seranjang bertiga dengan Trevor'
Milady terpekik menyadari.
Astaga!! teriaknya dalam hati.
Aku benar-benar bilang kalimat itu ke Sebastian?!
Bagaimana mungkin mulutku ini mengucapkan kata sevulgar itu?!
Milady menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
Dia menyadari kalau hal itu sebenarnya adalah salahnya sendiri sepenuhnya.
Aku bahkan sudah menyiram Sebastian! Dan melakukannya di muka umum!!
Seru Milady dalam hati.
"Jadi?" sahutan Trevor menyadarkan Milady dari perang batinnya.
"Errr.... Ngga jadi." Desis Milady merasa malu.
"Hah?"
Milady tertegun.
Lalu wajahnya memerah.
Bodoh sekali aku! Keluhnya dalam hati.
Memalukan...
Kamu memang pantas diisebut wanita murahan Milady...
Ia memaki dirinya sendiri.
"Trev... Bisa bantu aku?"
"Yaaa?"
Milady mengutak-atik ponselnya. Lalu memposisikan seakan kamera itu candid dari orang lain.
Dan menyibakkan rambutnya ke belakang, menghadap Trevor.
"Cium aku." Desis Milady.
"Hah?"
"Cium aku. Di bibir... Aku setting waktunya 3 detik." Ulang Milady
"Di sini?"
"Iya." Milady mengangguk yakin.
"Di depan Bram?!" Bisik Trevor
Milady menoleh ke Bram.
Bram masih dalam sambungan video call dengan Trevor, kini pria itu menyeringai sambil mengelus dagunya, tanda kalau ia tertarik dengan suasana yang terjadi.
"Kamu ngga keberatan kan?" Tanya Milady.
"It's fine... " Bram menaikkan bahunya. "Walaupun aku ngga ngerti masalahnya, cemburu siapa dengan siapa, apa hubungan dengan Pak Sebastian dan... lainnya lagi... tapi it's okay kalo ngga mau cerita denganku..." sindir Bram.
Trevor menyeringai tidak enak ke Bram, sambil melirik Milady, memberi tahu Bram dengan pandangan matanya kalau mau tahu cerita lengkapnya harus seizin Milady.
"Sori Bram, nanti kuceritakan. Hari ini aku belum siap..." desis Milady. Lalu ia menatap Trevor lagi, kali ini dengan pandangan memohon.
Trevor menghela napas.
Ia enggan.
Tapi Trevor tahu tujuan Milady untuk apa.
Jadi...
"Sebentar..." Ia merogoh tasnya, mencari obat antidepresannya dan menegaknya 2 butir.
"Lo minum apa Bro? Obat kuat?" Tanya Bram.
Bram tidak tahu mengenai penyakit mental Trevor.
"Vitamin... Buat ketenangan hati!" Dengus Trevor.
Bram terbahak mengejeknya sekilas. Lalu kembali serius menonton tingkah laku dua orang sahabatnya itu.
"Cium nih?" Trevor meminta konfirmasi ulang. Dia berharap Milady berubah pikiran.
Milady mensetting ponselnya.
Lalu buru-buru menghambur ke pelukan Trevor dan menaikkan dagunya.
Trevor menghela napas berat.
Mimpi apa aku semalam sampai harus terjebak dalam rencana bidadari...pikir Trevor.
Dan ia mencium Milady.
Sekilas, namun setting waktunya sangat pas dengan suara 'klik' di ponsel Milady.
Milady melepas ciumannya.
Lalu tersenyum.
"Laporan harian... " desis wanita itu.
"Hm... Buat Big Booss yah... itu namanya Profesionalisme..." Desis Trevor, ia menegak air mineral di atas mejanya.
Ia berharap air yang mengalir di ternggorokannya dapat meredakan sakit kepalanya yang langsung menyerang.
"Oke, sekarang tinggal pasang di media sosialku..." desis Milady.
"Untuk apa?"
"Untuk mengukuhkan hubungan kita agar lebih meyakinkan. Setelah dipasang di Insta**gram biasanya berita cepat menyebar..."
"Foto seakan candid, tapi dipasang di ig sendiri... Yah... Terserah lah..." Trevor menggaruk kepalanya. "Asal ayahku ngga meradang aja..."
Dan dia terdiam.
Dia lupa ada Bram, masih terhubung ke video callnya.
"Ck...." Terdengar decakan Milady.
"Dan lagi sekarang satu kantor sudah akan menggosipkan kita, kamu datang-datang maen peluk aja. Aku ngga sempat tutup pintu, tadi." Omel Trevor.
"Memang siapa yang berani ngomongin kamu?"
"Hmmm...di depan, ngga ada. Di belakang... Paling kamu yang jadi kambing hitam. Fans ku lumayan banyak soalnya... Selamat Yah My Lady Love..." Trevor membungkuk menghormat.
"Yah... Kita kan memang mau menikah..." Gumam Milady sambil sibuk mengetik kata-kata 'mutiara' di media sosialnya
"Aku perlu bertanya kelanjutannya, penyebab ayahku mengata-katain kamu ngga?" Desis Trevor.
"Hm..." Milady mengangkat wajahnya, menghadap Trevor.
"Aku tiba-tiba malas membahasnya. Kayaknya aku yang salah, sih..." Jawab wanita itu.
Trevor berdecak.
Wanita...
Memang sulit dimengerti.
Sedetik lalu menangis minta kita mendengarkan curhatannya, detik berikutnya dia bilang 'tiba-tiba malas cerita'...
Badan lagi pegal-pegal, tambah makin mangkel sekarang... keluh Trevor dalam hati.
*****
Jadi, sore itu Milady tampak mondar-mandir di sebuah toko pakaian pria.
Ia izin pulang tepat waktu tadi. Beberapa rekan kerja yang hendak meminta konfirmasi mengenai adegan mesranya dengan Trevor, ia indahkan dulu.
Ia mau minta maaf ke Sebastian.
Ia masih merasa malu karena tidak bisa mengerem tindakannya tadi.
Mudah mudahan dengan hadiahnya bisa meredakan emosi Sebastian... dan pria itu mau memaafkannya.
Lalu pilihannya jatuh ke pin dasi dari emas.
"Hm..." Milady mengamati pin itu dengan seksama.
Ada aksen berliannya dan terlihat sederhana, namun berkelas dan elegan.
Harganya...
Seratus jutaan.
Milady berdecak...
Kenapa mahal sekali, sih...!
Menghabiskan 6 bulan gajiku sekaligus...
Keluhnya.
Akhirnya setelah mengucapkan doa, dia membeli pin itu.
*****
Sebastian duduk di ujung meja segi empat raksasa, di kursi 'kerajaannya' yang dibalut kulit sapi berkualitas tinggi.
Ia hanya diam sambil menatap para ekselutifnya berdebat sendiri.
Saat ini mereka sedang meeting membahas suatu pekerjaan yang...
Yah... menurut Sebastian sih antara penting dan tidak.
Ia menyangga kepalanya dengan tangannya, dan tangannya yang satu lagi mengetuk-ngetuk meja.
Apa sih salahnya...
Keluhnya.
Di mata Milady, aku selalu saja salah...
Wajar dong aku cemburu pada Dimas?
Sebastian hanya tak ingin wanita kesayangannya disentuh orang lain.
Lalu ia mengomel lagi.
Bukankah reaksiku ini wajar? Mengingat kami adalah sepasang...
Hm... Tunggu...
Sebastian menghentikan derak kukunya di meja.
Tunggu...
Sepasang...
Sepasang apa?
Kekasih?
Bukan... Mereka bukan sepasang kekasih Walaupun mereka memang saling mencintai.
Kalau begitu...
Apa hubunganku dengan Milady?
Dibilang selingkuhan... Juga bukan.
Dibilang pacaran...
Tidak juga...
Lalu apa hak ku mengata-ngatainya wanita nakal?
Sebenarnya apa pun yang ia lakukan, itu sekehendak dia.
Sebastian menghela napas,lalu memijat dahinya.
Astaga... Batin Sebastian.
Kali ini aku keterlaluan.
Wajar Milady marah...
Sepertinya bingkisan kali ini harus barang yang paling Milady suka untuk meredakan amarahnya...
Lalu Sebastian menyambar teleponnya.
"Arman... hubungi rekanan kita di Dubai untuk pengadaan kalung berlian biru."
"Eh... baik Pak. Maksudnya untuk bingkisan yah Pak? Kalau tidak salah mereka juga menyediakan jasa liontin nama. Mau pesan juga Pak?" tanya Arman
"Ya boleh. Tulisan namanya Milady Adara."
"Oh... untuk... Mbak Milady... anuuuu paaaakkk."
"Bilang pesanannya urgent yah."
"Paaak tunggu duluuu paaaak... iniiii"
"Cepetan ngomong, saya lagi meeting ngga penting!"
"Mbak Milady ada di depan saya... hehe."
Pusing Sebastian seketika langsung hilang.