Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Lesti Ke Johor



"Ini kapan mainnya?" tanya Dirga.


"Belum lengkap pemainnya." sahut Dimas.


Leon berdecak sambil menyulut rokoknya.


"Assalamu'alaikum bapak-bapak... Anak kuliahan mau ikutan tanding Rizky."


"Shalom. Datang tuh primadona..." desis Leon sambil menegak birnya.


"Tanding Rizky tuh apa si?" tanya Dimas.


"Tanding Biliard..." jawab Ipang.


"Ngga ada joke yang lebih garing?" dengus Leon.


"Ada. Kota apa yang banyak bapak-bapaknya?" tanya Ipang.


"PurwoDaddy. Basi." jawab Leon.


"Laah... Kenapa dia tahu joke basi?! Apa karena udah bapak-bapak yak..." balas Ipang. "Lanjut, siapa nama istri Kalajengking?"


"Gue mau jawab ntar dituduh bapak-bapak..." ujar Leon.


"KalajengQueen?" Jawab Arman. Lalu dia menyadari kesalahannya. "Astaga gue kena jebak!" umpat Arman sambil memegang dahinya.


"Ngga tahan jawab yah Paaakk...duileee... Dasar Bapak-bapak!" goda Ipang.


"Ini efek habis diomelin BigBoss..." balas Arman.


"Ya udah terakhir... Orang apa yang ditembak, ditabrak, ditusuk, ngga mati?" tanya Ipang.


Semua diam.


"Pada diem karena emang ngga pingin dituduh udah bapak-bapak atau karena ngga tau?" tanya Ipang.


"Emang ngga tau." sahut Dimas.


"Pasti jawabannya bukan karena punya ilmu kebal, kan?"


"Bukan." jawab Ipang. "Orang... Ngga kena."


Semua menghela napas.


"Lo tuh cuma pingin ngebanyak-banyakin kata di episod ini ye... Biar jadi 1000 kata..."


"Gue disuruh Author."


Dan munculah primadona satu lagi dari belakang Ipang.


Susan.


Yang begitu datang langsung mengecup bibir Ipang.


"Bentar. Gue baru aja mau nanya, ini kunyuk tuh sapa? Dateng-dateng sok akrab..." desis Dirga. "Nah, malah dateng Natasya Romanov disana, pake cium-ciuman pula..." tambah Dirga.


"Itu jawabannya... Pacarnya Black Widow." desis Arman.


"Bukannya adeknya Dimas? Tingkahnya mirip."


"Mungkin... Kita juga curiga."


"Ck..."Decak Leon saat melihat tingkah Susan. "Awas dibohongin... Kerjanya kan penyamaran, udah biasa akting."


Susan langsung menatap Leon dengan pandangan waspada.


Leon menegak habis birnya lalu berdiri menantangnya.


"Lu masih punya dosa sama gue, harusnya lo bayar sampe lunas dengan pengabdian." sahut Leon.


"Kan saya sudah bilang, Pak... Saya itu diminta Pak Baskara. Segala protes layangkan ke dia."


"Iya masalahnya dia udah ngga ada. Gara-gara elo..."


"Gara-gara saya, Pak Leon bisa mendapatkan calon istri selain Bu Bianca. Ya Kan?!Ataaaauuu... Masih memendam cinta ke Bu Bianca? Kenapa ngga rebut saja dari Pak Alex?"


Leon langsung mencengkeram kerah kaos Susan dengan emosi.


"Mulai lagi..." desis Arman, herannya matanya berkilat semangat.


"Denger yah Pe**cun... jangan lo kira gue bakalan diem aja ngebiarin napi macam lo berkeliaran di Negara gue. Kalo elo sampe..."


"Pak Leon tahu sendiri kan untuk siapa saya sekarang bekerja."


"Oooh udah bisa ngancem yah... Berapa lama Pak Sebastian akan mempertahankan kerajaannya di usia yang udah uzur, hah? Sampe lo balik lagi ke Beaufort, Lo bakalan habis di tangan gue..."


"Hei, Bro!" Ipang mencengkeram lengan Leon. "Gue ngga mau cari ribut, tapi plis lo lupain aja masa lalu... semua udah berakhir."


"Anak kecil diem aja..." geram Leon.


"Kalo sampe lo ngga lepasin dia, gue bakalan cari ribut. Apa jadinya CEO Beaufort Mining berantem gara-gara cewek, hah? Kemana harga diri lo main kasar begini?"


"Dia bukan cewek biasa, lo dibego-begoin sama dia, kunyuk..."


"Gue tahu dan gue udah terima dia apa adanya." Ipang semakin mempererat cengkeramannya. "Sekarang lepasin aja, Lo salah karena udah tergoda, Susan juga ngga bisa menghindar karena suruhan langsung. Lo maklumin aja kerjaannya, lo kan juga pasti juga pernah ngerasain ada di posisi Susan." Kata Ipang.


Leon mengernyit.


"Lu tuh sok tahu banget ya..." Leon melepaskan cengkeramannya dan ganti menantang Ipang. "Mau jadi hero di depan pacar lo ato gimana nih?"


"Ya udah pasti IYA lah..." sahut Ipang.


"Koh Awu..."


Ipang juga Diam


Semua menoleh ke arah pintu.


Farah Inaya, Ex Number Seven, Asisten Direktur Utama di Beaufort Mining, sudah datang...


"Makasih Ya Tuhan..." desis Dimas.


"Wih... makin seru..." Arman menegakkan duduknya.


"Mana yang katanya mantan kamu, Koh?" Farah melangkah dengan gaya seksinya sambil tersenyum sinis.


Leon hanya menatap gaya berpakaiannya.


Kenapa ni cewek dateng cuma pake baju renang ?! desisnya mengernyit.


Ya seksi, sih... cakep, provokatif... tapi Leon berharap hanya dia yang melihat penampilan Farah saat itu, bukannya para penyamun yang kini lagi ngiler di pojokan sana.


Susan yang merasa terpanggil maju dan menatap Farah dari atas ke bawah dengan sinis.


"Hoo... kamu..." desis Farah sambil menantang Susan.


"Saya sudah ngga ada hati sama Leon, dirimu ngga usah ikut cari masalah..." desis Susan.


Dada mereka saling menempel dengan erat, pun mata mereka beradu saling menantang.


"Ngga cari masalah kok, cuma mau lihat sehebat apa orang yang pernah 'hamil' sama Leon." tantang Farah


"Itu kan cuma settingan, Bego..." Balas Susan


"Ya tapi kan tetep pernah dibolak-balik. Kok kuat yah padahal gendut begini..." Ejek Farah


"Bukannya lo yang pengidap bulimia?!" Susan tak mau kalah.


"Udah tanding aja Nine Ball, yang menang gue cium..." canda Dimas.


"Oke." sahut keduanya cepat.


"Haaaahhh!!" seru Dimas tak menyangka.


"Yang menang, ngga ganggu-ganggu lagi seumur hidup dan dapat ciuman dari Pak Dimas. Gimana?!" Ujar Farah.


"Ooh Boleeeh!!" Susan menghampiri barisan tongkat biliar dan mmelempar salah satunya ke Farah. "Deal yah! Awas lo nangis-nangis!"


"Ngga bakal!!" balas Farah.


"Kok mereka yang tanding, gue yang emosi, yah..." sahut Leon sambil memicingkan mata ke Dimas.


"Siapapun yang menang tetep aja gue rugi kali bro!! Ngga ada cium-ciuman ah!!" seru Ipang.


"Diem Lo!!!" jerit Susan dan Farah berbarengan.


"Laaah gue diomelin..." Ipang langsung sembunyi di belakang Leon. "Bro... Bujukin brooo..." dia merajuk mendorong-dorong Leon.


"Ngga bisa, gue... Kalo cewek udah emosi." desis Leon. "Eh, kupret, cium pipi yah, awas lo melipir ke bibir, gue sodok pake tongkat biliar!" ancam Leon ke Dimas.


"Lusa gue akad bisa-bisa hilang fokus disodok... Gue kan cuma bercanda!" keluh Dimas.


"Bodo..." gerutu Leon.


"Gue pilih Susan..." desis Arman sambil menaruh 3 lembar uang 100 ribu di atas meja.


"Gue Farah..." sahut Dirga sambil ikut meletakkan 6 lembar 50 ribuan.


"Oke, Nine Ball!" desis Susan sambil pasang posisi pertama di samping meja biliar sambil menunduk.


"Issh... Beneran mabohay..." desis Dimas sambil terpaku menatap bokong Susan.


"Pantesan setaraf Leon bisa terpikat." sambungnya.


Leon berdecak dan berdiri di samping Arman.


"Waktu itu khilaf sebentar. Tapi dampaknya sampai panjang." sahut Leon.


"Ya bagus, dong... Gara-gara itu, Pak Leon jadi bisa ketemu Bu Farah." timpal Arman.


"Saya tahu Farah sudah lama, sejak dia jadi Seven. Tapi ngga nyangka ternyata kita satu panti asuhan. Tahunya waktu Farah mulai jadi asisten saya." Leon menyelipkan rokok di bibirnya.


"Pak Arman sendiri..." Ipang berdiri di samping Dimas, mensejajari mereka, menonton pertandingan Susan VS Farah.


"... Sudah lama kenal Susan, ngga ada percikan-percikan petasan?!" pancing Ipang.


"Kayaknya pertanyaannya terpendam cukup lama..." sindir Leon ke Ipang sambil menyeringai penuh kesinisan.


"Hm... Bokong gede bukan type saya. Mentok soalnya." jawab Arman asal.


"Ya gaya depan dooong... Pura-pura bego, lagi." balas Ipang.


"Hadap belakang teriaknya lebih kencang..." Arman ngga mau kalah.


"Angkat aja kali." sahut Ipang.


"HuuASU!!" Dirga pura-pura bersin. "Obrolannya udah bukan level gue. Melipir makan gorengan ah..." dia berlalu ke arah kasir pemesanan makanan.


"Gue ikutan Ga..." desis Dimas. Tapi dia tertahan karena kerahnya ditarik Leon.


"Lo tetap di sini... Lusa kan mau nikah, dengerin tuh ajaran para suhu cinta."


"Suhu cinta sukanya gaya dibolak-balik kaya goreng rengginang. Gue level telor ceplok, goreng satu sisi mateng semua..." keluh Dimas.