
"Mohon maaf Pak kami akan segera memperbaiki regulasi..." lirih Pak Januar.
"Hm..." Sebastian mengangguk-angguk puas. "Saya sudah hapalkan yah nama mereka... Deni, Toro dan Ari ketua regunya, yah."
Orang dengan nama yang disebut menunduk lebih dalam dan lebih pucat.
"Saya akan pastikan mereka semua dipecat pak." sahut Pak Januar.
Milady menghela napas karena berusaha sabar.
"Hm?" dengus Sebastian. "Saya malah tidak ingin mereka dipecat. Kerja mereka sudah bagus kok. Mereka tidak mengizinkan masuk orang yang tidak memiliki identitas seperti saya..."
Semua mengangkat wajahnya menatap Sebastian dengan kaget.
Para security saling bertatapan satu sama lain.
"Malah seharusnya yang pantas dipecat tuh kamu... Januar. Apa sih kerja kamu dan tim sampai security saja tidak mendapat pelatihan? Training dan lainnya kan tinggal hubungi konsultan rekanan. Memang anggarannya ngga ada? Bulan kemarin saya baru tambah modal 100miliar loh untuk Garnet Property. Dananya dikemanain membayar training security saja tidak bisa..." Sahut Sebastian sambil berkacak pinggang. "Lalu... itu kenapa kontraktor rekanan kamu untuk Coastview malah bikin gedung kita miring? Arran sampai harus nombok 280persen dari budget awal!" Omel Sebastian. "Untung saja Trevor dan Milady sigap langsung pesan finwall... Rekanan kamu suruh menghadap saya besok jam 10 pagi, saya mau kenal!"
Milady menyeringai.
Para Security menghela napas lega.
"Hei, Ari..." panggil Sebastian
"Siap Pak!" salah satu security pose menghormat.
"Laporkan ke saya langsung, kalau kamu dan regu kamu belum dapat pelatihan sampai minggu depan, yah! Kamu bisa hubungi saya lewat... Milady."
"Baik Pak! Terimakasih Pak!!"
"Sudah sana jaga pos lagi..." Sebastian melambaikan tangannya mengusir mereka.
"Pak Sebastian... Ada yang bisa kami bantu?" akhirnya Wakil Dirut angkat bicara untuk mengatasi ketegangan yang terjadi.
"Saya sih kesini cuma mau jemput Milady..." Sebastian menoleh ke arah Milady sambil tersenyum licik.
Orang-orang langsung menatap Milady sambil bertanya-tanya.
"...Ngga saya sangka ketemu Arran di bawah dan membaca laporan budget. Kamu bertiga besok ke kantor pusat, meeting sama rekanan rekomendasi si Januar. Saya juga akan undang Trevor dan... Milady, kamu bisa ikut?"
Milady meliriknya.
Kenapa Sebastian bertanya?
Pikir wanita itu.
Biasanya dia main tunjuk saja, tidak mau tahu kesibukan orang lain.
Untuk Milady, dia bertanya bisa ikut meeting atau tidak...
Mencolok sekali kelihatannya.
Milady kurang suka perlakuan istimewa...
"Kalau Bapak membutuhkan saya, saya pasti ikut." Akhirnya Milady menjawab secara diplomatis.
"Saya pasti butuh kamu, kan kamu dan Arran yang tahu angkanya. Saya malah heran kenapa kamu ngga lapor ke saya. Kalau saya ngga sengaja lihat tadi, saya bahkan ngga tahu berapa besar kerugian saya..."
"Maaf Pak... Perkiraan saya dan Pak Trevor, pembengkakan budget sekitar 350persen, sudah termasuk kerugian investor akibat jadwal launching yang mundur. Karena itu kami berupaya untuk menutupinya dengan proyek lain yang jauh lebih menguntungkan."
"Proyek Jepang itu?"
"Ya Pak... Kami hanya... Tidak ingin membebani Pak Sebastian dengan remeh temeh seperti ini..."
"Hm..." Sebastian mengangguk sambil menatap Milady.
Milady kalau cerdasnya sudah keluar... Ingin rasanya kuikat di ranjang... Pikir Sebastian.
Terlihat kilatan di matanya saat menelanjangi Milady dengan tatapannya.
"Kamu dan Trevor benar-benar kolaborasi yang manis yah... Seperti pasangan bulu tangkis. Saling melengkapi..." sindir Sebastian.
Kenapa dia jadi cemburu...? Pikir Milady.
"Wah, Pak... Jangan bilang hal-hal yang bisa mengukuhkan saya dan Pak Trevor seakan pasangan dong, nanti gosip mengenai kami berdua semakin santer... Sampai digosipkan tindakan asusila segala ini loh Pak..."
Milady menatap Pak Januar dengan sinis.
Pak Januar membalas tatapannya dengan penuh dendam.
"Asusila? Maksudnya? Memang kalian bercinta di kantor?" tembak Sebastian.
Semua diam.
Gamblang sekali yah Sebastian mengucapkan kata itu... Umpat Milady dalam hati.
"Tidak separah itu Pak... Saya cuma memeluknya. Di depan orang-orang..." Milady menatap Sebastian sambil memicingkan mata. "Sambil menangis karena waktu itu ada yang mengata-ngatai saya wanita nakal..." gumam Milady.
Nada suaranya dibuat agar tidak terlalu bisa terdengar oleh Pak Januar tapi masih bisa didengarkan oleh Sebastian.
Sebastian tertegun.
Beberapa detik setelah ia diam, akhirnya ia menghela napas.
"Hanya peluk saja bukankah wajar diantara sahabat lama? Apalagi yang sudah seperti saudara seperti kalian berdua? Kamu juga sering memeluk Bram, kan...?" Sebastian mencoba membela Milady. "Siapa yang menuduh kamu berbuat asusila? Perlu saya sewakan pengacara untuk kamu ngga?"
"Eh, Pengacara?" Pak Januar langsung kembali panik.
"Saya punya jajaran Pengacara terbaik. Tuduhan pemfitnahan tidak bisa dibenarkan di kondisi apapun..." sahut Sebastian.
Namun ia berusaha tetap kalem.
"Tidak perlu pak. Semua sudah terkendali."
"Benarkah?" sahut Sebastian tak yakin.
"Ya Pak... Bapak tidak perlu merepotkan diri dengan mengurusi hal yang tidak jelas..." sahut Milady.
Wajahnya tersenyum, namun Sebastian bisa melihat kesedihan dan perasaan sakit hati di matanya.
"Oke... " Pria itu mengangguk. "Karena sudah semakin sore, ayo kita jalan lagi. Januar, kamu sudah tidak ada urusan lain dengan Milady, kan? Saya mau pinjam dia."
"Eh? Eeeeeer... Sil... Silaahkaan Paaak..." Pak Januar tergagap.
Padahal dia memang belum selesai dengan Milady.
Tapi daripada masa depannya hancur, lebih baik ia melepaskan Milady.
*****
Sebastian berjalan ke arah mobilnya dengan dikawal oleh Toro dan Ari. Para security yang kini jadi memujanya.
Mereka berpapasan dengan Arran.
"Pak Sebastian..." Arran menunduk sambil menyeringai.
"Hm... Besok kamu ikut meting budget dan perkenalan dengan kontraktor baru di kantor pusat jam 10. Saya kok ngga yakin mereka bagus..." sahut Sebastian sambil mengelus janggut putihnya.
"Saya juga sependapat pak. Besok sebelum meeting saya akan jelaskan keganjilan yang saya dan Mbak Lady temukan..." Arran menoleh dan menatap Milady dengan... Pandangan mendamba.
Terlihat sekali kalau ia belum bisa melupakan perasaannya terhadap Milady.
Namun, jauh di dalam hatinya, ia memiliki semacam insting mengenai hubungan Milady dengan Sebastian bukanlah hubungan atasan dan karyawan biasa.
Karena itu Arran memutuskan untuk menjaga jarak terhadap Milady.
Mudah-mudahan masa lalunya yang penuh kesalahan terhadap Milady, hanya diketahui oleh mereka berdua.
Jelas terlihat sikap Sebastian terhadap Milady begitu protektif.
Arran tidak sanggup membayangkan seandainya Sebastian mengetahuinya.
Mungkin nyawanya bisa dalam bahaya.
Sebastian mengulurkan tangannya menjabat tangan Arran.
Arran sampai menyeringai bangga. Sebastian tidak terlalu suka menjabat tangan orang lain... Tapi ia memilih Arran.
"Sampai ketemu besok..." sahut Sebastian ke Arran sambil beranjak dan menarik pinggang Milady supaya wanita itu tidak berlama-lama di depan Arran.
Karena entah bagaimana, Sebastian kurang suka dengan pandangan Arran terhadap Milady.
"Iih, lepasin nanti dilihat orang..." bisik Milady mengeluh sambil menepis tangan Sebastian di pinggangnya.
"Kamu ini ternyata ngeliat yang ganteng dikit langsung terpaku yah..." sungut Sebastian.
"Hah? Aku? Maksud kamu?!" Milady sewot.
"Ngga Dimas, Alex, Leon... sekarang Arran..."
"Hah? Ih kamu kali yang kelewat posesif!" dengus Milady sambjl berjalan mendahului Sebastian.
"Hei, cantik... Mobilnya di sini." seru Sebastian melihat Milady berjalan ke arah parkiran dan bukan ke Maybach Sebastian.
"Aku ngga mau naik mobil kamu lagi! Aku malu diperhatiin sama orang-orang! Apalagi macet-macetan..." dengus Milady.
"Hah... Ini mobil mahal loh iniiii... Nilainya bisa ditukar sama bangunan satu kantor."
"Siapa yang mau beli kemahalan begitu... Aku naik ojol aja!"
"Kamu lebih memilih ojol dibandingkan Maybach?!"
"Aku mau ambil mobilku di kantor Beaufort..."
"Milady..." sungut Sebastian.
"Eh, Pak Sebastian. Sore, Pak..." Bram muncul.
Sebastian menatap Bram.
"Kamu naik mobil apa, Bram?" tanya Sebastian.
"Eh...Ng...Rover..."
"Sini kuncinya..." Sebastian menengadahkan tangan meminta kunci mobil Bram.
Bram dengan ragu menyerahkan kuncinya.
"Kalau naik Rover, gimana?" tanya Sebastian ke Milady.
"Yah masih lebih baik deh dibanding kereta kencana Bapak..." sahut Milady sambil menyeringai.
"Saya pinjam mobil kamu. Nanti saya suruh Sapto antarkan mobil kamu ke kantor..." desis Sebastian ke Bram.
"Ehhh... Iya deh Pak..." sahut Bram sambil berpikir...
Ada apa lagi sih ini...