Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
The Data



WARNING!!


Mengandung keseksian seorang Arman.


Bisa mengakibatkan halu tingkat tinggi. Saat mengalami efek samping, Author tidak bisa bertanggungjawab.


*****


Ayumi melemparkan pisau besar ke arah Arman. Namun karena tidak terbiasa dengan benda tajam, pisau itu malah meleset jauh.


Arman menatap pisau yang jatuh menabrak televisi dengan dengusan geli.


"Itu maksudnya mau melemparku dengan itu, begitu?" desis Arman.


Ayumi mencibir menatapnya.


"Bukankah lebih efektif kalau kamu acungkan saja daripada di lempar?" kata Arman.


Ayumi mengernyit, lalu ia tampak berpikir.


Selanjutnya mengambil pisau lain dari laci, dan mengacungkannya di depan dadanya.


"Oke..." desis wanita itu tegang.


Arman menengadahkan kepalanya sambil menggeram. "Mencoba melucu ya?!" dengusnya sambil menatap sayu ke arah Ayumi.


"Jangan mendekat, Ares!" Ancam Ayumi.


Arman tertegun dan menyipitkan matanya.


"Darimana kamu tahu namaku?" tanya pria itu.


"Dari banyak piagam di dalam lemari."


"Lemarinya pakai kode."


"Kodenya tanggal ulang tahun kamu."


Arman mengerang.


"Darimana juga kamu tahu tanggal ulang tahunku, Medusa?!" serunya tak sabar.


"Dari ID kamu di dalam dompet."


"Ya Ampun..." dengus Arman sambil menggelengkan kepala. "Iya ya, Aku lupa kalau kamu bisa menganggap rumahku adalah rumah kamu. Sudah pasti kamu geledah sampai ke sudut-sudutnya..." sindirnya sambil mendekat.


"Menjauh..." geram Ayumi sambil mempererat genggaman pisaunya.


Trang!!


Pisau di tangan Ayumi terlempar ke... Entah kemana.


Ayumi terperangah. Ia tidak melihat gerakan Arman sama sekali. Begitu cepat dan mudahnya pria itu menepis tangan Ayumi. Yang tersisa kini hanya rasa perih di jemari Ayumi yang terkena tepisan.


Ayumi terpekik dan menarik tangannya mendekap dadanya.


Arman menarik lengannya dengan keras lalu menekan wanita itu menghadap ke dinding.


"Ares hentikan!!" jerit Ayumi.


Arman tidak menanggapinya. Tangan pria itu sibuk membuka resleting celananya.


Tangan Ayumi tertahan di belakang punggungnya, dicengkeram Arman. Rasanya tulang-tulangnya hampir copot karena tekanan pria itu sangat besar.


Berikutnya wanita itu menarik napasnya karena merasakan jemari pria itu memainkan kewanitaannya.


Ayumi mengge*linjang merasa geli dan nikmat menjadi satu.


Arman melakukannya beberapa detik sampai Pria itu merasa kalau Ayumi telah siap.


Dan selanjutnya wanita itu merasakan sesuatu yang panas dan keras mendesak tubuhnya.


Dan berikutnya...


Rasa sakit!


"Aahh!!" jerit Ayumi.


Ia kenal rasa ini.


Namun berbeda dengan yang dulu.


Yang ini sangat kasar dan penuh!


"Gila..." ia bisa mendengar gumaman Arman. "Kamu bukannya sering sama Trevor ya... Kok sempit banget..."


Entah itu keluhan atau pujian.


Yang jelas detik berikutnya bagaikan neraka sekaligus surga bagi Ayumi.


Dia tak berdaya, hanya bisa mengeluh lemah, seringkali berteriak namun tidak jelas dengan tujuan apa.


Apalagi saat Arman menarik tubuhnya, lalu menjatuhkannya di ranjang, menarik seluruh pakaiannya, merentangkan kakinya dengan paksa lebar-lebar.


Lalu memasuki tubuhnya kembali.


Tidak jelas... Baik itu lenguhannya, tarikan napasnya, pandangan mata Ayumi yang terbelalak.


Tidak jelas untuk apa...


Lenguhannya itu bukan keluhan, tarikan napasnya bukan rasa kaget, dan belalakan matanya bukan karena melihat sesuatu yang mengerikan.


Dan saat Arman mempercepat gerakannya dengan kecepatan yang menurut Ayumi tidak masuk akal, Ayumi mulai merasa hilang kesadaran.


Ia mencapai puncak berkali-kali.


Entahlah ia kelelahan atau mati rasa.


Yang jelas,


Ayumi sangat mengantuk, seakan usai berlari berpuluh-puluh kilometer, lalu melambung tinggi lebih dari awan dan dihempaskan ke dalam palung dalam satu waktu.


"Ares..." hanya itu yang mampu ia ucapkan.


Lalu semua menjadi gelap.


******


Arman mondar-mandir di depan tv sambil menegak sebotol Guiness.


Ia belum mengenakan pakaiannya.


Tubuhnya penuh darah karena lukanya terbuka dan gerakannya sepanjang hari lumayan dinamis.


Dan bagian yang itu belum sepenuhnya tidur karena adrenalinnya masih terpacu.


Darah menodai seprainya, dan selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuh Ayumi yang lunglai bagaikan selendang tipis teronggok.


Tarikan napas lemah dari wanita itu membuat Arman lega. Setidaknya Ayumi masih hidup untuk interogasi lanjutan.


Ada dimana benda itu...


Arman sudah mencari ke setiap sudut ruangan, ke setiap sela barang-barang Ayumi, bahkan setiap helai rambutnya dan di dalam... Itu.


Nihil...


Ia harus meminjam alat pemindai logam, atau mungkin ia akan membawa Ayumi ke rumah sakit untuk dirontgen.


Arman melirik jam dinding.


Pukul 7 malam.


Lalu menelpon Sebastian.


"Halo?" suara Milady.


"Bapak ada, Mbak?"


"Dia sedang sholat Isya."


Arman menghela napas. "Lama ngga?"


"Baru mulai, sepertinya dia juga akan mengaji setelah itu. Nazarnya kalau Mbak Meli menikah, dia akan menyelesaikan satu juz yang ayatnya paling banyak malam ini. Ada masalah?"


"Berapa lama itu?"


Arman menghela napas.


Dosa ngga sih kalau dia interupsi...


"Chipnya ngga ada di mana-mana..." kata Arman. "Biasanya kalau perempuan menyembunyikan barang penting di mana?"


"Hm... " Milady berpikir. "Ayumi jenis yang... manipulatif, Mas. Mungkin saya juga tidak bisa membayangkannya dia simpan di mana. Tapi worth to try, coba periksa di dalam lipstik, di dalam kaitan kawat bra, di dalam renda panty, atau ditempel di bawah gelang, atau dimasukan ke dalam itu."


"Sudah semua saya periksa."


"Sudah semua? Apa itu termasuk yang di..."


"Iya."


"Mas Arman maniak juga ya."


"Menghina atau memuji."


"Ya menghina dong Mas... Itu kan harga diri wanita."


"Saya ngga punya pilihan, Mbak... dia itu penjahat."


"Penjahat karena keadaan, juga punya hati loh Mas, dia itu manusia bukan robot kayak dirimu."


"Sebenarnya kamu dukung siapa sih, Mbak?!"


"Atau... bisa jadi di bawah sesuatu yang menempel seperti stiker..." sambung Milady mengalihkan perhatian.


"Hm?"


"Hm..."


"Sebentar..."


Arman menghampiri Ayumi yang terkulai lemas di atas ranjang, menyibakkan selimutnya dan merentangkan pahanya.


Terlihat kewanitaan Ayumi sedikit memerah dan bengkak.


Arman menghela napas merasa bersalah.


Besok pagi saja ia akan membawa Ayumi ke dokter. Karena sensor peledak juga harus dimatikan.


Lalu ia melihat sebuah band Aid, hansaplas, tertempel di bagian dalam paha Ayumi.


Lalu mengelupasnya.


Dan tersenyum puas.


"Mbak Milady memang jenius ya..." sahutnya.


"Itu menghina atau memuji?" tanya Milady.


"Itu pujian." Kata Arman sambil membawa lempengan logam itu ke laptopnya.


"Wah wah wah... Dipuji Mas Arman tuh ternyata rasanya beda ya. Muka saya sampai panas loh ini..." sahut Milady.


"Ah iya, Jangan lupa Ayumi diantiseptik, ya... Kasihan kalau dia sampai demam gara-gara diforsir. Saya tuh sebenarnya ngga setuju sama tindakan kamu, walaupun Ayumi rival, kami ini wanita juga punya..."


"Makasih Mbak, Daag..." Arman memotong ceramah Milady dengan memutuskan sambungan teleponnya.


*****


"Wow..." desis Arman saat melihat layar laptopnya.


dengan seringai takjudnya ia membaca satu per satu nama yang tadinya tersimpan di lempengan tembaga.


Lalu melirik tubuh Ayumi di ranjang. "Pantas mereka ingin bunuh kamu... Isinya bisa bikin heboh dua negara..." desis Arman sambil menaikan salah satu sudut bibirnya.


Ia mencari nama Alex 'Sialan' Beaufort di ponselnya. Niatnya ingin menghubungi pria itu mengenai kepastian daftar nama.


Namun...


Arman mematikan ponselnya.


Batas waktunya satu minggu kan?


Diulur saja sampai dateline. Biar Alex badmood sepanjang minggu... Lalu biasanya pelampiasannya akan ke Leon.


Hehe...


Arman dan pikiran jahilnya.


Mengcopy data dan menegak Guinessnya sampai habis.


Lalu Ia menuju ranjang, memeriksa keadaan Ayumi.


Napas wanita itu teratur.


Dan Arman menghela napas.


Ayumi menjadi berharga berkat datanya... Kalau data itu sudah diketahui, sudah tidak ada gunanya pihak Sebastian memberinya perlindungan. Sudah bukan kepentingan mereka...


Jadi Ayumi kemungkinan akan dilepas saja, berusaha sendiri bertahan hidup.


Lalu...


Apa yang akan terjadi selanjutnya...?


Jadi, Arman mencabut chip itu dari card reader laptopnya, memasukannya kembali ke plastik, menyelipkannya di dalam hansaplast dan menempelkannya lagi di paha Ayumi.


Harta wanita ini untuk bertahan hidup.


Selama seminggu.


Kenapa sih belakangan aku sering berbuat hal yang merepotkan?! Keluh Arman dalam hati.


*****


Ayumi bergumam...


Dan menggeliat lemah.


"Uuhh..." keluhnya saat menyadari kalau sekujur tubuhnya seakan luluh lantak.


Sakit dan nyeri...


Ia bahkan tidak sanggup mengubah posisi tubuhnya.


Selanjutnya ia mengeluh lebih keras, menyadari kalau bagian bawah tubuhnya terasa perih saat ia menahan perutnya.


"Sshh..." keluhnya lagi sambil menelungkupkan kepalanya ke bantal.


"Aku udah balurin antiseptik di sekelilingnya ya... Tapi sepertinya kita harus ke dokter besok pagi. Takutnya infeksi..."


Suara yang Ayumi benci, selain Sebastian.


Lalu matanya terbuka lebar.


Ia teringat sesuatu yang penting.


Chipnya?!


Ia melirik Arman yang sedang membelakanginya sambil membebat luka di pinggang.


Lalu membuka pahanya.


Chipnya masih di sana...


Dan Ayumi menghela napas lega.


Lalu menjatuhkan kembali tubuhnya diatas ranjang.


"Hey..." sahut Arman sambil duduk di pinggir ranjang. Ayumi menatapnya waspada, terutama ke bagian tubuh yang sudah membuat miliknya bengkak.


Pantas saja... Kalau menegang ukurannya sebesar itu. Cibir wanita itu.


"Kita nikah seminggu lagi." kata Arman.


Ayumi membulatkan matanya, terperangah.


Apa lagi ini?! Batinnya.


"Kalau kamu jadi istriku, paling tidak, hidup di sini di bawah pengawasanku akan lebih baik dan tidak harus pulang ke Jepang. Sampai Yamaguci dan Hari Fadil tertangkap. Setelah itu, terserah kamu."